NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Setelah berhasil melepaskan diri dari rangkulan maut Xavier, Evren berjalan menuju kudanya yang berada di antara semak-semak. Untung saja kudanya hanya menyingkir ke sana, tidak kabur terlalu jauh saat terjadi keributan tadi. Ia mengelus leher kudanya lalu menariknya keluar dari semak-semak.

“ayo kita lanjut,” seru Evren yang langsung diangguki oleh dua pemuda lainnya.

Xavier melepaskan rangkulan tangannya di leher Si pirang.

“namamu siapa? kalau tidak menjawabnya juga, aku akan memanggilmu pirang seumur hidupku,” ancam Xavier yang tidak didengarkan oleh pemuda itu.

“baiklah, pirang pirang pirang pirang pirang pirang pirang pirang…”

“heh pirang, katakan saja namamu, telingaku sakit mendengar ocehannya,” ucap Evren yang memintanya untuk mengatakan apa yang diminta oleh Xavier. Meskipun sebenarnya ia juga penasaran dan menjadikan telinga sakit sebagai alasan.

Mendapat seruan dari Evren, akhirnya pemuda itu menghela nafasnya.

“Zephyrus Nyx,” ucapnya lirih.

“hah? siapa? Ulangi, aku tidak dengar!”

Xavier yang sejak tadi ribut tidak mendengar dengan jelas nama yang disebutkan oleh Zephyr. Akhirnya ia mendekatkan kepalanya ke Zephyr sambil memintanya untuk menyebutkan ulang.

“Zephyrus Nyx, aku yang berdiri di sini saja dengar. Masa kamu yang tepat di sebelahnya tidak dengar?” ucap Evren yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Sedangkan Xavier, dia berdiri tepat di samping Zephyr.

Xavier tidak mempedulikan apa kata Evren dan hanya fokus dengan nama si pirang.

“Zephyrus Nyx? hmm bagus bagus seperti nama di dalam buku cerita,” gumamnya, “kalau begitu dipanggilnya siapa?”

“terserah.”

“hmm,” Xavier memasang wajah berpikir lalu ia menjentikkan jarinya seolah-olah baru saja menemukan ide yang luar biasa.

Evren menatapnya lekat dan memasang telinganya baik-baik.

“Zephyr, aku akan memanggilmu Zephyr.”

Seketika Evren memutar bola matanya. Ia kira Xavier benar-benar sedang memikirkan sebuah nama panggilan yang luar biasa. Ternyata, ia hanya mengambil nama depannya.

Saat melewati mayat para pembunuh yang tergeletak di tanah, Evren sempat terpikir untuk mengambil pedang mereka. Masih ada satu rombongan lagi yang mengejarnya, dan kemungkinan kemampuan mereka jauh lebih tinggi dibanding kelompok yang barusan.

Namun mereka hanya tinggal sedikit lagi mencapai puncak pegunungan. Di balik pegunungan itulah benteng Draven berada. Jika mereka bergerak cepat dan tiba lebih dulu, ia tidak akan membutuhkan pedang-pedang itu. Lagi pula, statusnya saat ini masih sebagai tahanan. Datang tanpa prajurit yang mengawal saja sudah cukup mencurigakan, apalagi jika muncul sambil membawa pedang panjang. Bisa-bisa ia kembali diadili begitu menginjakkan kaki di benteng.

Baru beberapa langkah mereka berjalan.

Drap... drap... drap…

Derap langkah kaki terdengar dari kejauhan dan semakin lama semakin jelas.

Evren langsung menghentikan langkahnya.

Sial…

Firasatnya memang tidak pernah meleset.

“Apa mereka mendapat bantuan?” Tanya Evren pada dirinya sendiri. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang ia lihat di tepi sungai tadi.

Sebelum para pembunuh bayaran itu tiba di tempat mereka berdiri, Evren langsung mengambil dua bilah pedang panjang. Salah satunya ia sodorkan kepada Xavier. Xavier menerimanya dengan ragu. Tatapannya berpindah dari pedang itu ke wajah Evren, seolah bertanya mengapa benda itu diberikan kepadanya.

Sedangkan Zephyr menajamkan pendengaran dan penglihatannya. Ekspresinya yang selama ini nyaris tidak berubah kini tampak sedikit lebih serius. Beberapa saat kemudian, ia menyadari bahaya yang sedang mendekat.

Berlari sudah terlambat.

Mereka hanya bisa menghadapinya di sini.

“apa formasi sihir mu ada batasan waktunya?” tanya Evren pada Zephyr. Beberapa waktu sebelumnya, formasi sihir buatan Zephyr masih mampu memberi peringatan tentang keberadaan para pengejar. Kali ini, mereka muncul begitu saja di belakang tanpa tanda sedikit pun.

Evren kembali melepas kudanya lalu berjalan dan berdiri tepat di depan Zephyr. Memasang posisi siap dengan pedang yang mengacung ke depan. Sementara Xavier hanya menatap pedang di tangannya dengan bingung. Seumur hidupnya, baru kali ini ia memegang pedang sungguhan. Selama ini, pedang yang dikenalnya hanyalah pedang kayu untuk latihan bela diri.

Sedangkan Zephyr yang sejak tadi diam, akhirnya membuka mulutnya, “Formasi sihirku sudah diketahui. Mereka sengaja menghancurkannya.”

Evren mengangguk paham, lalu ia memfokuskan pandangannya ke depan. Tak lama kemudian, belasan sosok mulai bermunculan dari balik pepohonan. Beberapa wajah terasa begitu familiar, sementara sisanya benar-benar asing bagi Evren.

Mereka bergabung.

Dua kelompok pemburu kini menjadi satu.

Evren tidak langsung menerjang ke depan seperti sebelumnya. Selain jumlah yang tidak menguntungkan, medan kali ini juga tidak menguntungkan untuk mereka bertiga. Tempat ini terlalu luas untuk tiga orang yang dikepung oleh delapan belas musuh.

“Seluas apa sihir perlindunganmu?”

“sekarang ini terbatas, energiku sudah terkuras banyak di pertarungan tadi.”

Zephyr menunduk menatap kedua telapak tangannya. Hatinya terasa bergejolak seolah ada dorongan untuk membantu mereka berdua sekuat tenaga, namun energinya sudah hampir habis. Perasaan tidak berdaya yang baru pertama kali ia rasakan.

“kalau begitu fokus lindungi Xavier dan dirimu sendiri, lawan kali ini aku pun tidak yakin bisa menang,” ucap Evren membuat Xavier langsung menoleh ke arahnya.

Musuh bergerak maju secara serempak. Evren pun menyambut mereka, namun tetap menjaga jarak dengan Xavier dan Zephyr agar mereka tidak terpisah terlalu jauh. Sesuai dugaannya, kemampuan mereka jauh lebih tinggi daripada kelompok sebelumnya. Jika melawan dua atau tiga orang, ia masih yakin bisa menang. Namun, untuk melawan belasan orang itu sekaligus akan menjadi pertarungan yang sulit.

Pedang demi pedang terus menghantamnya dari berbagai arah. Evren dipaksa mundur beberapa langkah. Baru saja ia berhasil menangkis satu tebasan, pedang lain kembali menyambar dari sisi kirinya.

Di sisi lain, Xavier terus berteriak panik setiap kali ada pedang yang mengarah ke dirinya. Namun setiap kali bilah pedang hampir menyentuh tubuhnya, cahaya sihir Zephyr selalu muncul lebih dulu.

“AAAHHH…Tunggu! apa kalian tidak malu menyerang orang yang tidak bisa bela diri?” seru Xavier pada orang yang mengepungnya.

Tidak ada yang mempedulikan ucapannya. Mereka tetap menyerang tanpa ragu. Namun ternyata cukup sulit untuk bisa menyentuhnya. Xavier terus bergerak menghindar, sementara sihir perlindungan Zephyr menutup setiap celah yang gagal ia hindari.

“bukankah di buku silat dikatakan mereka tidak akan menyerang orang yang tidak bisa bela diri?” serunya lagi.

Sejenak para pembunuh itu benar-benar menatap Xavier dengan ekspresi bingung.

“itu hanya buku cerita!” teriak seorang musuh lalu mencoba menusuk Xavier namun pedangnya kembali ditahan oleh sebuah sihir.

“Serang penyihir itu!” teriak salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke arah Zephyr.

Lima orang langsung menerobos melewati Xavier dan menerjang Zephyr. Kelimanya mengayunkan senjata mereka bersiap menebas pemuda berjubah itu. Namun, tak satupun serangan berhasil menyentuhnya. Cahaya kuning tiba-tiba berpendar mengelilingi tubuh Zephyr, membentuk lapisan pelindung yang nyaris tak terlihat. Ledakan energi tiba-tiba terpancar dari tubuh Zephyr hingga kelima penyerang itu terpental beberapa meter.

Tatapan Zephyr berubah tajam.

“Evren! lindungi aku!” Serunya.

Evren langsung mundur dan berdiri di hadapan Zephyr, melindunginya di balik punggungnya. Xavier pun melakukan hal yang sama.

Zephyr mengambil sebilah pedang yang tergeletak tidak jauh darinya, lalu mengangkatnya tegak tepat di depan wajah. Matanya tertutup rapat dan perlahan udara di sekelilingnya mulai bergetar. Angin tiba-tiba berhembus kencang. Debu dan dedaunan beterbangan mengelilingi mereka.

Evren melirik sekilas ke belakang untuk melihat apa yang sedang pemuda pirang itu lakukan. Kemudian ia kembali fokus ke pertarungan di depan matanya.

Zephyr menempelkan dua jarinya pada bilah pedang, lalu mengusapnya perlahan dari pangkal hingga ke ujung. Bilah pedang itu perlahan memancarkan cahaya keemasan mengikuti gerakan jarinya.

Saat ia membuka matanya, iris matanya berubah menjadi kuning keemasan.

“EVREN!” teriak Zephyr sambil mengulurkan pedang di tangannya membuat Evren langsung mendekat dan mengambil alih pedang tersebut. Ia tahu pedang yang diberikan oleh Zephyr berbeda dari pedang biasa.

“atur nafas…” Tepat saat pedang itu berpindah ke tangannya, sebuah suara bergema di dalam kepala Evren.

Suara Zephyr.

“fokuskan kekuatanmu ke pedang di tanganmu, lalu… TEBAS!”

Evren menarik napas panjang lalu mengayunkan pedang itu sekuat tenaga.

Seketika gelombang tak kasatmata menyapu lurus ke depan.

Para pembunuh yang semula berlari menerjang tiba-tiba terpental ke belakang.

Pakaian mereka terkoyak, sementara puluhan luka sayatan muncul hampir bersamaan di sekujur tubuh mereka.

Dari luar, Evren hanya terlihat mengayunkan pedangnya sekali. Namun dalam sekejap, tubuh para pembunuh itu seolah dihantam puluhan bilah pedang yang tak terlihat. Kekuatan itu lebih dari cukup untuk melawan sekelompok pembunuh seperti mereka.

Keheningan kembali menyelimuti pegunungan.

Yang tersisa hanyalah suara napas berat mereka bertiga.

BRUK!

Lutut Zephyr menghantam tanah lebih dulu.

Tangannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Kepalanya tertunduk, sementara napasnya memburu tanpa henti.

KLANG!

Pedang di tangan Evren juga terlepas begitu saja dan jatuh menghantam tanah.

Evren menatap kedua telapak tangannya dengan nafas yang memburu.

Kulit telapak tangannya memerah, melepuh, seolah baru saja menggenggam besi yang dipanaskan hingga membara. Namun anehnya, ia hampir tidak merasakan sakit.

Sebaliknya, rasa kebas menjalar dari telapak tangan, melewati pergelangan, hingga ke lengan atas. Pembuluh darah yang semula samar kini membengkak dan berubah kehitaman, seolah ada sesuatu yang merayap di dalamnya.

Xavier berlari menghampiri Zephyr dan segera menopang tubuhnya agar tidak roboh sepenuhnya. Setelah itu ia menoleh ke arah Evren.

Ia sendiri kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya di situasi seperti ini.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!