Aku mencintaimu. Tapi, mencintaimu membuat aku menjadi wanita paling jahat di dunia.
-Aurora Lunaira Julisha Wijaya-
Tok … tok ….
Palu hakim terdengar keras di kuping Liz, hakim sudah memutuskan perceraiannya dengan suaminya. Pernikahannya yang baru berumur tiga bulan harus Liz pasrahkan, suaminya menalaknya.
“Liz, Papih masih butuh penjelasan kamu. Kenapa anak kurang ajar itu menceraikan kamu?” tanya Juan berang, Juan tidak terima anak kesayangannya diceraikan oleh suaminya.
Liz hanya tersenyum pada lelaki yang selalu mencintainya tanpa pamrih. “Liz nggak bisa jawab, Pih. Mungkin ini takdir Liz, Liz harus menjadi Janda di usia 25 tahun.”
Liz berlalu dari hadapan Juan, langkahnya gontain badannya sakit. Tapi, hatinya lebih sakit. Dia harus berpisah dengan suami yang Liz cintai dari usianya 18 tahun. Pacar, ciuman, dan pelukkan pertamanya.
“Sayang.”
Liz langsung membalikkan badannya dan mendapati mantan suaminya menatapnya dengan raut wajah sedih.
“Aku cinta kamu, kenapa kamu cerain aku?”tanya Liz pada suaminya.
“Maaf Sayang, aku juga cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Tapi, aku ingin kamu bahagia.”
Dengan membaca buku ini kamu sudah setuju menemani kehidupan Liz seorang janda yang meresahkan.
Xoxo Gallon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gallon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Wanita berdada Godzilla
Liz langsung mengalihkan pandangannya dan menyumpah serapahi Kafta. Tiba-tiba saja Liz merasa kesal dan dongkol melihat adegan pangku-pangkuan antara Kafta dan wanita berdada pepaya.
Otomatis Liz langsung melirik dadanya yang standar showroom. Ih … kesel, apa dia harus ke korea untuk operasi plastik? Jangan, bisa dimurkai papihnya kalau begitu.
“Richie, kita jadi kan jalan-jalan? Kita ke daerah Nusa dua aja,” ucap Liz sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan Richie yang asik melihat adegan 18++ antara Kafta dan wanita berdada godzila.
“Eh … iya ayo, kita ke sana,” ucap Richie sambil mengambil semua barang-barangnya secepat mungkin.
“Ayo … cepet!?” pinta Liz sambil menarik-narik lengan Richie dan mendelikkan matanya pada Kafta yang masih kewalahan terhimpit dada.
“Kafta, duluan.” Richie langsung mengikuti Liz yang sudah berjalan di depannya sambil menghentak-hentakkan kakinya entah karena apa. Mungkin, Liz ingin menjadi pasukan pengibar bendera pusaka, pikir Richie.
Setelah Liz dan Richie pergi, dengan cepat Kafta mencengkeram salah satu dada milik wanita yang sedang memeluknya dari belakang.
“Wow, Ren, dada kamu gede juga yah,” ucap Kafta santai sambil menekan-nekan dada wanita itu dan memainkannya sesuka hati Kafta dengan tenang.
“Enak kan? Gimana?” Wanita itu menjawab dengan suara tenornya dan malah membusungkan dadanya lebih maju lagi agar Kafta bisa menyentuh dadanya lebih leluasa.
“Eh … empuk loh,” jawab Kafta antusias dan dengan santainya memegang dada sebelahnya lagi, “Waw, sampai ke pucuknya juga enak. Keren lo, Ren. Gede.”
Wanita itu tersipu-sipu mendengar perkataan Kafta yang memuji buah dadanya yang sebesar semangka. “Ih … seneng deh, ***** nggak?”
Kafta menatap wajah wanita itu sebentar, sorot matanya menunjukkan kalau Kafta sedang berpikir keras apa yang harus dia jawab. “Gini loh masalahnya Ren.”
“Apa?” tanya wanita yang dipanggil Ren itu.
“Sumpah aku nappsu, nappsu banget. Apalagi aku lelaki pemuja dada, semua mantan pacar, gebetan, one night stand aku pasti abis dadanya aku acak-acak, cuman masalah utamanya itu ….”
Wanita yang dipanggil Ren itu menatap Kafta dengan tatapan penuh harapan, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kafta. “Apa, Kafta.”
“Kamu tuh cowo Rendra!? Lo robah semuanya juga di otak gue kamu cowok!? Geli aku bayangin transfusi darah putih ma kamu,” kekeh Kafta sambil melepaskan cengkeraman di dada Rendra.
“Hei … kamu, jangan kamu bilang nama aku Rendra lagi. Nama aku itu Brenda, Brenda manjalita.” Brenda mengibaskan rambutnya yang panjang menawan dan mempesona.
“Iya, malem Brenda siang tetep Rendra,” kekeh Kafta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena kesal melihat kelakuan teman SMA-nya itu.
“Hei, aku udah operasi ini dari atas ke bawah masih aja dipanggil Rendra, aku garuk kamu.” Brenda memutar bola matanya kesal dan duduk di samping Kafta.
Kafta hanya bisa menahan tawanya mendengar perkataan Brenda atau Rendra atau entahlah siapa dia akan memanggil sahabat SMA-nya ini. “Otak aku masih mikir kalau kita pernah pipis bersama saling mengintip batang kenikmatan yang menjulang.”
“Udah nggak ada itu batang!? Udah ilang!?” Brenda berkata dengan kesal sambil mendelik pada Kafta.
“Astaga ke mana? Udah di air kerasin?” canda Kafta sambil menatap bagian bawah Brenda (sebut Brenda aja lah yah).
“Aku udah sembah itu benda, sekalian aku buang ke tong sampah,” ucap Brenda sambil mengibaskan tangannya.
Tawa pun terdengar di sana memecahkan suasana yang ada. Setelah tawa mereka reda, Brenda pun menatap Kafta.
“Tadi, Liz kan?” tany Brenda yang ingat dengan Liz karena mereka sering bermain bersama waktu SMA.
“Iya, Liz kenapa? Makin cantik kan? Dadanya, beuh … pas,” ungkap Kafta sambil membayangkan tiap lekukkan dada Liz di tangannya. Pas.
“Dasar penyembah dada!?” hardik Brenda kesal. Kafta ini sepertinya dari bayi suka sekali dengan dada, besar dan kecil yang penting pas di tangannya. Sinting!?
“Kenyataan, pas. Nggak kaya punya kamu kegedean.”
“Astaga … kaca mana kaca, lupa? Hah … lupa kamu mantan pacar terakhir kamu dadanya sama kaya aku? Lupa?” tanya Brenda kesal karena merasa terhina. Kafta kurang ajar, dia sudah membayar mahal untuk dadanya kenapa malah di hina? Menyebalkan.
Kafta langsung mengingat Patricia, wanita cantik dangan dada menakjubkan yang sudah menjadi kekasihnya selama satu tahun dan dia putuskan beberapa bulan yang lalu karena Kafta malas mendengar rengekkannya yang memekkakan telinga.
“Makanya, karena kegedean itu jadi aku putusin,” jawab Kafta santai. “Tangan aku nggak muat.”
“Terserah kamu lah, nyebelin!?” maki Brenda kesal. “Eh itu Liz kenapa pergi sih?”
Kafta melihat ke arah Liz dan Richie pergi, melihat itu tiba-tiba membuat senyumannya berkembang. Melihat hal ini membuat Kafta yakin kalau Liz sudah mulai menyukai dirinya. Buktinya Liz pergi meninggalkan Kafta.
“Nggak tau, mau liat Nusa dua katanya.”
“Eh … ayo kita ke sana juga. Yuk ikut yuk,” ajak Brenda sambil berdiri dan menarik tangan Khafta.
Ide gila melinta di otak Kafta. “Baiklah, aku ikutin. Tapi, aku minta satu hal.”
“Apa? Ya … elah, jalan-jalan aja ada syarat dan ketentuan,” ungkap Brenda sambil mendelikkan matanya geram.
“Adalah, mau nggak? Kalau nggak mending aku tidur di kamar atau nonton video dewasa sekalian, memuaskan diri sendiri,” kelakar Kafta padahal dia sama sekali belum pernah melakukan hal itu. Dia lebih suka mencari wanita untuk memuaskan dirinya daripada melakukannya sendirian.
“Ih … ya udah apa?” Brenda hanya bisa menatap Kafta kesal bukan main. Brenda tau Kafta tidak akan mungkin memuaskan dirinya sendiri, pasti bule gila ini akan mencari teman wanita untuk memberikan kepuasan.
“Beneran mau?”
“Iya!?”
“Jadi ….”
•••
“Liz, pelan-pelan mau ke mana sih ini?” tanya Richie yang kewalahan mengikuti Liz. “Sebent—“
Bruk ….
“Astaga, Chie. Kamu nggak apa-apa?” tanya Liz kaget saat melihat Richie sedang menelungkup di lantai. “Kok bisa jatuh?”
Richie hanya bisa bangun dan duduk, “ Liz jangan narik gitu, kaki aku keserimpet ini. Sakit aku jatuh.”
“Maaf … maaf, abisnya aku gedek liat Kafta lagi peluk-pelukkan sama wanita berdada semangka.” Liz mengerucutkan bibirnya saking kesalnya karena mengingat adegan pelukkan wanita berdada semangka itu.
Amarah Liz makin besar karena saat tadi dia melirik ke belakang dia mendapati Kafta sedang memegang-megang dada wanita itu dengan asiknya. Bahkan memainkannya seperti bola, astaga … ahli sekali Kafta membuat dirinya kesal. Lelaki lucknut!?
“Liz cemburu?” tebak Richie.
Liz kaget mendengar perkataan Richie, cemburu? Sumpah demi apa pun untuk apa dia cemburu dengan bule mesum, tengil dan menyebalkan seperti Kafta. Nggak, nggak ada cerita dia cemburu dengan Kafta!? Mana dia harus bersaing dengan wanita berdada semangka? Oh tidak … tidak level!?
“Nggak!?”
“Yakin?” tanya Richie yang yakin kalau Liz cemburu berat pada wanita berdada sebesar godzilla itu.
“Yakin!? Udahlah tuk kita pergi,” ucap Liz sambil menarik tangan Richie.
“Liz.”
Dengan cepat Liz dan Richie melihat ke sumber suara, napas Liz memburu saat melihat Kafta yang mengejarnya sambil menggandeng wanita berdada semangka.
“Richie, itu dadanya bisa aku ledakkin nggak sih!?”
•••
Hai mau ketemu sama Brenda Manjalita? Si wanita berdada godzilla dan semangka?
Ini dia ….
Cantik yah 🤣🤣🤣🤣
Pertanyaannya :
Kapan Liz mengetahui kalau Brenda itu Rendra?
Next bab
Nanti aja lon, lucu liat Liz uring-uringan cemburu sama Kafta.
Nggak usah tau biarkan liz dan richie bersama selamanya dalam cinta kasih penuh peluh dan rindu *hilih 🤣🤣🤣
Xoxo Gallon yang Hobi Kellon.