Naura itu capek hidup miskin! Mana dia suka di bully lagi! makannya mending cari Papa gula aja yang bisa bikin hidupnya lebih baik!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan malam
Karena saat malam hari Nathan tidak jadi bertemu dengan Michael, mengingat Michael punya kesibukan, akhirnya mereka memilih untuk bertemu pagi hari ini. Michael bilang akan datang setelah sarapan di rumahnya.
"Kamu jangan sering sering diem di kantor, jadinya kan Savana malah beli apartemen sendiri," Ucap Ibu Sri pada sang putra.
"Enggak kok, Eyang. Emang Savana yang mau soalnya sekarang mau fokus kuliah aja dulu."
"Kalau di sini emang gak bisa fokus? Daddy kamu bikin kamu pusing? Dia ganggu kamu mulu?"
"Gak gitu juga, Eyang." Merengek mencoba memberikan pengertian pada sosok itu.
Dimana Nathan ikut masuk ke dalam percakapan. "Savana itu lagi belajar mandiri, Bu. Yaudah biarin aja."
"Se mandiri mandirinya dia, tetep anak perempuan yang harus kamu awasi." Pria yang lebih tua mengatakannya.
Sarapan terasa mencekam untuk Savana, dia suka dengan kehidupannya sekarang juga. Daddy nya juga pasti butuh ruang karena sudah berpisah dengan Mommy nya. "Kan Daddy juga sering hubungin Savana, Eyang. Jadi gak usah khawatir."
"Ya gimana gak khawatir. Orang kamu satu satunya cucu." Kemudian pria itu menatap pada sang putra. "Nathan, kapan kamu mau nikah lagi?"
"Yah, gak ada pembahasan tentang itu. Nathan mau fokus aja buat Savana."
"Dengan kamu nikah, gak akan bikin kamu gak sayang sama Savana, gak akan ngurangin intensitas kamu sama dia. Bedanya, kamu jadi ada yang ngurus, punya temen cerita."
Karena saat menikah dengan Merry, Nathan tidak pernah bercerita. Jadi dia sudah terbiasa dengan hal ini. Semua keperluannya bisa dilakukan oleh pembantu, uangnya banyak jadi tidak usah khawatir.
"Tapi Savana gak mau ada Ibu tiri." Anak itu buka suara, bahkan dia menghentikan acara sarapannya
"Kenapa? Terlalu banyak nonton kartun nih kamu." Ibu Sri berucap seperti itu. "Jangan egois, Savana. Daddy kamu juga perlu seseorang di sisinya. Buat support dia, bantu dia. Eyang juga pengen tambahan cucu lagi. Kamu udah gede, udah mau nikah juga."
Pembahasan ini membuat Savana sedih, dan Nathan menyadari hal itu. "Oh iya, Bu. Katanya toko baju yang ada di pasar itu udah terjual ya? Ibu gak jadi buka cabang di sana dong?"
Mengalihkan pembicaraan dengan halus hingga akhirnya dua orang itu teralihkan dengan membicarakan hal lainnya.
Dan karena Savana harus pergi ke kampus, Nathan mengantarkannya sampai depan. "Udah pamitan sama Eyang?"
"Udah, Daddy ke kantornya siang ya?"
"Iya, soalnya mau nunggu Michael dulu."
"Salam buat Om Mike ya. Bilangin Savana kangen udah lama gak ketemu."
Nathan terkekeh dan memeluk sang anak. "Jangan khawatirkan apa yang dibilangin sama Eyang eyang kamu. Orang prioritas Daddy itu kamu."
Savana tersenyum. Dia tidak rela jika sang Daddy menikah lagi, takut dirinya tidak disayangi sebagaimana yang dilakukan sang Mommy padanya. Karena setelah menikah dan memiliki istri, pastilah semua perhatian Daddy nya akan terlimpah pada wanita itu. "Oke, udahan pelukannya. Savana mau berangkat dulu," Ucap anak itu melepaskan pelukan kemudian masuk ke dalam mobil.
Begitu mobil Savana pergi, Michael datang. "Sorry ya, istri gue sakit semalem. Makannya gue gak bisa datang."
"Santai aja, Bro." Berteman lama dengan Michael, keduanya memiliki rahasia masing masing yang diketahui oleh satu sama lain. "Bokap gue udah nunggu."
"Gimana keadaan semut lu?"
"Gak usah bahas itu. Bukannya dia lagi sama semut lu ya? Katanya maen ke kostan lama dia."
"Ah iya sih." Michael lupa lagi, dirinya terfokus pada keadaan sang istri.
***
Naura dan Chika langsung bersiap siap pergi ke mall setelah mereka mandi. Sarapan juga sekarang naik kelas, tidak lagi di nasi kuning keliling.
Tok tok tok. "Neng! Nasi kuning, Neng!" Teriaknya dari luar kamar.
Chika yang keluar lebih dulu dengan penampilannya yang berbeda dari biasanya. Bahkan membuat si bibi pedagang terpukau melihatnya. "Neng cantik banget dah. Ini beneran Neng Chika yang selalu minta bonus sambel ya?"
"Bi, tolong jangan ungkit ungkit." Chika mengeluarkan uang beberapa lembar ratus ribu dari dompetnya. "Nah, ini buat bibi ya. Gak usah ngasih dagangannya sama aku. Aku udah kaya, jadi mau sarapan di tempat lain."
"Minta satu lembar lagi dong, Neng."
Sebelum Chika menjawab, Naura lebih dulu keluar dari kamar kost. "Siapa?"
"Noh lu yang kasih ah." Memilih masuk lebih dulu ke dalam taksi yang sudah mereka pesan.
Dengan penuh keanggunanan, Naura mengeluarkan uang dari dompetnya. "Gini nih, Bi. Kalau aura orang kaya itu elegant."
"Elegant gimana? Inimah lelet, Neng."
Karena kenyataannya Naura memang melakukannya dengan sangat lambat.
Sampai sampai Chika berteriak dari dalam mobil. "Woy cepetan! Lu lelet amat heran!"
"Iya ini udah." Naura segera memberikan uang pada bibi pedagang dan pergi dari sana.
"Neng, besok bibi ke sini lagi ya."
"Gak usah, Bi. Besok gak akan ada di sini. Mau di apartemen." Dengan bangga mengatakan hal demikian
Naura dan Chika sama sama tertawa ketika sudah berada di dalam mobil. "Pokoknya gue mau sarapan yang enak enak deh. Kita seneng seneng habisin waktu sama duit."
Naura mengangguk setuju. "Lagian yang punya kampus itu Om Nathan, jadi gue mah bisa nyantai. Paling nanti dinyinyirin sama anaknya."
"Semoga dia lekas taubat ya."
Benar benar mengambil waktu untuk diri sendiri. Naura maupun Chika bersenang senang di sana. Namun yang lebih membahagiakan untuk Naura adalah saat dirinya mendapatkan telpon dari Nathan. Dimana Naura langsung memberi isyarat pada Chika untuk berhenti bicara. "Laki gue nelpon," Ucapnya demikian dan langsung mengangkatnya. "Hallo, Om? Gimana?"
"Kamu belum pulang? Saya di apartemen ini."
"Belum, ini sama Chika lagi di mall dulu. Mau belanja. Om butuh sesuatu?"
"Ya gak juga sih. Cuma pengen aja ketemu sama kamu."
Naura tersipu malu, dia bahkan sengaja menaikan volume supaya Chika bisa mendengarnya dan membuat temannya itu iri. "Kangen ya, Om?"
"Nanti malem jangan kemana mana ya. Kamu siap siap. Sekarang lagi di mall kan? Beli baju seksi ya, Nau."
"Iya siap, Daddy ku sayang."
Chika sampai memutar bola mata mendengar kalimat itu. "Daddy mau apa lagi?"
"Mau kamu siap aja nanti malem."
"Iya, Daddy." Begitu ucapnya dengan penuh rasa bahagia.
Menutup panggilan kemudian menatap Chika. "Lu gak ditelpon sama Papa Gula lu?"
"Kagak." Menatap miris pada ponselnya.
"Telpon aja duluan."
"Sama aja kayak gue bunuh diri. Tapi malem ini, gue bakalan bikin dia gak pulang ke rumah," Ucapnya dengan penuh tekad. "Yok kita belanja baju seksi."
"Gasss!"