Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2
Riven Daylon Chamron, pria berusia 29 tahun yang akrab dipanggil Riven, memiliki tinggi badan 182cm. Banyak orang menganggapnya sebagai sosok yang nyaris sempurna.
Wajah tampannya mewarisi garis keturunan sang ibu, Hellary Chamron, dengan hidung mancung, mata tajam yang berwibawa, serta garis rahang tegas yang memancarkan kharisma seorang pemimpin.
Riven adalah putra sulung dari Thomas Chamron dan Hellary Chamron, pasangan yang dikenal sebagai pemilik salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di dunia, dan ia memiliki seorang adik perempuan bernama Elena Ruby Chamron.
Meski keluarga Chamron bukan pengendali roda ekonomi global, kekayaan, koneksi, dan pengaruh mereka menjadikan nama Chamron disegani oleh para pengusaha, politikus, hingga kalangan elite internasional.
Sejak kecil, Riven telah dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab besar sebagai penerus keluarga.
Dua tahun terakhir, ia hidup jauh dari tanah kelahirannya. Atas keputusan sang ayah, Riven dikirim ke Jepang untuk melanjutkan pendidikan sekaligus memperdalam ilmu bisnis secara langsung di lapangan.
Namun keberangkatannya ke Negeri Sakura bukanlah sebuah hadiah.
Itu adalah ujian.
Thomas Chamron tidak pernah memperlakukan putra sulungnya dengan istimewa. Sebaliknya, ia memberikan tekanan dan tuntutan yang jauh lebih besar dibandingkan yang diterima orang lain. Riven harus belajar mengelola perusahaan, memahami pasar internasional, menghadapi persaingan bisnis yang kejam, serta mengambil keputusan-keputusan besar yang dapat menentukan masa depan perusahaan keluarga.
Hari-harinya dipenuhi rapat, laporan keuangan, negosiasi, dan target yang tidak pernah berhenti meningkat.
Berkali-kali ia jatuh.
Berkali-kali pula ia dipaksa bangkit.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada jalan pintas.
Hanya kerja keras, disiplin, dan ketekunan yang menjadi teman setianya.
Namun semua pengorbanan itu akhirnya membuahkan hasil.
Di usia 29 tahun, Riven berhasil membuktikan kemampuannya. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan cabang keluarga Chamron di Jepang berkembang pesat dan mencatat pencapaian yang melampaui ekspektasi banyak pihak.
Namanya mulai diperhitungkan di kalangan pebisnis internasional.
Bahkan para petinggi perusahaan yang sempat meragukan kemampuannya kini terpaksa mengakui bahwa Riven bukan sekadar pewaris keluarga kaya.
Ia adalah seorang pemimpin yang lahir dari kerja keras dan kemampuan nyata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Thomas Chamron memberikan pengakuan secara langsung kepada putra sulungnya.
Sebuah pengakuan yang selama ini selalu dinantikan Riven.
“Mulai hari ini, kau siap menjadi pewaris utama keluarga Chamron.”
Kalimat sederhana itu menjadi bukti bahwa seluruh perjuangan, tekanan, dan pengorbanan selama dua tahun terakhir tidaklah sia-sia.
Dan setelah sekian lama hidup di negeri orang, akhirnya Riven mendapatkan izin untuk pulang.
Pulang ke tanah kelahirannya. Kota New Y. Kota megapolitan global.
Pulang untuk mengambil tempat yang memang telah dipersiapkan untuknya sejak lahir.
Namun Riven tidak pernah menyangka bahwa kepulangannya kali ini tidak hanya akan mengubah masa depannya sebagai pewaris keluarga Chamron.
Melainkan juga menghancurkan kehidupannya, cintanya, bahkan kekuasaannya di dalam roda bisnis keluarga, yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
————
Pesawat menderu keras saat rodanya menyentuh landasan pacu. Suara decitan ban dan asap mengepul, karena ban yang bergesekan dengan aspal memecah udara, pasti suara itu cukup memekakkan telinga bagi siapa pun yang berada di luar sana. Jika saja itu di perbolehkan. Nyatanya bandara bukan di peruntukkan untuk orang-orang yang sekedar hanya ingin melihat-lihat.
Di dalam kabin, Riven duduk dengan santai. Sebelum pesawat mendarat, ia sudah menghubungi seseorang untuk menyiapkan mobil pribadinya.
Tak lama kemudian, pesawat berhenti dengan sempurna di area parkir. Riven berdiri dan melangkah keluar.
Pria itu menuruni tangga pesawat dengan wibawa yang begitu kuat. Tubuhnya yang tinggi menjulang dibalut setelan jas biru navy yang pas di badan. Sebuah kacamata hitam menutupi sebagian wajah tampannya, menambah kesan dingin dan berkelas yang selalu melekat padanya.
Perlahan Riven menghirup napas dalam-dalam merasakn aroma tanah kelahirannya yang pekat akan kenangan masa lalu yang ia rindukan.
Saat pria itu berdiri sejenak untuk menikmati moment kebebasan itu. Siapa pun yang melihatnya tak bisa menahan decak kagum. Riven Daylon Chamron memang memiliki pesona yang sulit diabaikan.
Di area lounge khusus, seorang pria paruh baya telah menunggunya. Oakley, sekretaris pribadi Thomas Chamron yang sudah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk keluarga Chamron. Rambutnya sudah memutih sebagian. Dengan balutan jas rapi dan di temani beberapa orang pengawal dengan pakaian jas lengkap di sekitarnya.
Begitu Riven mendekat, Oakley segera menundukkan kepala dengan hormat.
“Selamat pulang kembali Tuan Riven.”
“Mobil?” tanya Riven singkat tanpa melepas kacamata hitamnya.
“Sudah saya siapkan, Tuan,” jawab Oakley. “Tuan Thomas, Nyonya Hellary, dan Nona Elena juga sedang menunggu kedatangan Anda di kediaman utama.”
Riven hanya mengangguk pelan.
“Oke.” Jawab Riven singkat.
Tanpa berkata lebih banyak, ia berjalan keluar menuju mobil BMW seri M kesayangannya yang telah terparkir rapi di depan longe. Mobil itu lebih sering menghabiskan waktu di garasi mansion daripada melaju di jalan raya, seolah dibeli hanya sebagai pajangan.
Oakley mengikuti dari belakang sambil memperhatikan Riven masuk ke dalam mobil.
Saat Riven mulai menyalakan mobilnya, Oakley pun juga memasuki mobilnya bersama para pengawal.
Mobil BMW melaju perlahan. Diikuti mobil Volvo milik pengawal di belakang.
Awalnya Oakley mengira Riven akan langsung menuju kediaman utama untuk menemui keluarganya yang sudah menunggu.
Namun beberapa detik kemudian, kening Oakley berkerut.
Mesin BMW itu meraung halus sebelum melesat meninggalkan area bandara.
Dan yang membuatnya terkejut, arah mobil tersebut sama sekali bukan menuju kediaman keluarga Chamron. Riven justru menginjak pedal gas lebih dalam dan keluar bandara membawa mobilnya ke arah yang berlawanan.
Oakley memijat keningnya dan berusaha menghubungi Riven.
Panggilan sedang berlangsung.
Riven menginjak pedal gas lebih dalam. BMW itu melaju membelah jalanan dengan mulus, menghadirkan sensasi yang sudah lama ia rindukan.
Sudah terlalu lama Riven tidak mengendarai mobilnya sendiri. Kesibukan bisnis dan perjalanan ke berbagai negara membuatnya lebih sering menggunakan sopir pribadi atau kendaraan yang telah disiapkan untuknya. Karena itu, merasakan langsung getaran mesin di bawah kendalinya kembali membangkitkan adrenalin yang selama ini terasa hilang.
Sebuah panggilan masuk melalui perangkat handsfree mobilnya. Nama Oakley muncul di layar.
Riven menekan tombol jawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Tuan Riven, Anda seharusnya pulang lebih dulu ke kediaman utama,” ujar Oakley dengan nada hati-hati.
Riven tersenyum tipis.
“Sampaikan salamku kepada mereka. Aku akan menemui Nana terlebih dahulu.”
Nana adalah panggilan kesayangannya untuk sang nenek, satu-satunya orang yang selalu berhasil membuat Riven merasa seperti anak kecil meskipun kini ia telah menjadi pria dewasa yang disegani banyak orang.
“Baik, Tuan. Akan saya sampaikan kepada Tuan Thomas,” jawab Oakley.
“Terima kasih.”
Panggilan pun berakhir.
Sesaat kemudian, Riven kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Kakinya menekan pedal gas lebih dalam hingga suara mesin BMW itu meraung halus namun bertenaga.
Mobil mewah tersebut melesat dengan elegan di antara kendaraan lain, menarik perhatian banyak pengendara yang menoleh kagum saat melihatnya melintas.
Perjalanan menuju rumah Nana tidaklah dekat. Ia harus menempuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana.
Namun jarak itu sama sekali tidak terasa bagi Riven.
Meski baru saja menyelesaikan penerbangan panjang yang melelahkan, pulang ke tanah kelahirannya selalu memberikan perasaan yang berbeda. Ada kehangatan yang tak bisa ditemukan di negara mana pun, ada kenyamanan yang tak mampu dibeli oleh kekayaan sebesar apa pun.
Alih-alih merasa lelah, semangatnya justru semakin membuncah dan membara.
Sudah terlalu lama ia tidak menghirup udara kampung halamannya. Sudah terlalu lama pula ia tidak melihat wajah Nana yang selalu menunggunya pulang ketika Riven pulang sekolah dengan senyum penuh kasih.
Memikirkan hal itu membuat sudut bibir Riven terangkat.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berkutat dengan pekerjaan tanpa henti, ia benar-benar merasa sedang pulang ke rumah.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor