WARNING!
INI NOVEL DEWASA!
~banyak kata umpatan
~banyak adegan kekerasan (menyebabkan ngilu, serangan panik, pingsan dan kepikiran author tidak bertanggungjawab)
~banyak adegan percintaan
~harap menanggapi kisah ini dengan bijak
***
Seorang wanita yang lupa ingatan. Lupa akan masa lalunya. Terperangkap dan terjerumus dalam kehidupan barunya sebagai seorang mafia kelas dunia.
Dilatih oleh para orang-orang buangan yang menaruh dendam kepada Pemerintah. Siapa sangka dirinya akan menjadi Ratu di Kerajaan Mafia.
Penyiksaan, penghianatan dan dendam praktis mengubah Lily yang dulunya ceria dan lemah lembut berubah menjadi wanita berdarah dingin yang kejam tanpa belas kasih.
Menyamar menjadi seorang bodyguard boyband terkenal asal Korea Selatan. Lily menemukan jalan ke masa lalunya.
Diburu Polisi dan Pemerintah seluruh dunia serta dianggap sebagai penjahat perang karena aksinya yang selalu melibatkan pihak militer.
Orang-orang dari masa lalunya datang mencoba mengembalikan Lily ke kehidupan lamanya setelah mengetahui dirinya menjadi seorang mafia.
Akankah Lily kembali ke kehidupan masa lalunya ataukah tetap memilih menjadi seorang mafia?
~Dan.. jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada penulis ya.
Karena ini masih novel pertama, maafkan jika ceritanya sedikit naif seperti penulisnya, hehe😁
Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komen postif agar penulis makin semangat dalam berkarya. Terima kasih😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Agen Colombia*
Pagi sudah menyingsing. Lily tidur terlelap dengan selimut masih menggulung tubuh rampingnya.
Tiba-tiba, ia merasa ada benda keras yang menempel di dahinya. Saat Lily perlahan membuka mata, dia melihat sebuah pistol ditodongkan ke wajahnya.
Seorang lelaki berstelan jas hitam dengan penutup wajah sedang menodongnya. Lily terkejut dan spontan melemparkan selimut yang menutupi tubuhnya ke arah lelaki itu.
Lily melompat ke tubuhnya hingga lelaki itu terjatuh dan segera diambilnya senjata tersebut.
Saat lelaki itu menyingkirkan selimut yang membelenggunya, Lily sudah mengarahkan senjata ke wajahnya.
Mereka berdua saling bertatapan, tiba-tiba lelaki itu menepak tangan Lily yang memegang senjata dengan kuat hingga senjatanya terjatuh. Segera lelaki itu berlari melarikan diri.
Lily terkejut dengan serangannya. Segera diambil senjata yang jatuh di lantai dan berlari mengejarnya.
Saat keluar dari pintu kamar, terlihat 3 orang sudah menunggunya. Berstelan jas, menutup wajah dan memegang senjata.
Sontak Lily segera putar arah kembali masuk ke kamar, dia merasa dalam bahaya.
Tiga lelaki tersebut masuk ke kamar Lily dengan senjata sudah diarahkan padanya. Lily bersembunyi di balik pintu.
Saat lelaki pertama akan memasuki kamar, dengan cepat Lily mendorong pintu kamarnya ke arah lelaki tersebut dengan keras sehingga dia terdorong keluar.
Lily segera berlari dan bersembunyi di samping almari besar saat lelaki kedua masuk perlahan memasuki kamar mencari keberadaannya dengan senjata laras panjang.
Lily menangkap moncong senjata itu dan memukul wajahnya dengan pistol di tangan kanannya. Seketika lelaki tersebut rubuh.
Lelaki ketiga yang berdiri di depan pintu terkejut melihat lelaki kedua roboh di depannya.
Segera Lily melemparkan senjata laras panjang yang diambil dari lelaki kedua ke wajah lelaki ketiga.
Lily segera menendang dada dan memukul tengkuk lehernya hingga roboh.
Mereka tidak tewas dalam kejadian ini. Lily berusaha untuk tidak membunuhnya karena berfikir untuk menginterogasinya terlebih dahulu.
Tiba-tiba, terdengar suara tepuk tangan dari lorong. Tuan Charles tersenyum lebar dengan cerutu di mulutnya. Lily bingung dengan kejadian ini.
"Jangan-jangan ini hanya tes?" pikir Lily.
Segera Lily melepas salah satu penutup wajah pada lelaki berjas itu. Betapa terkejutnya ternyata itu bodyguard D dengan senyum liciknya menyapa Lily.
Lelaki pertama dan kedua berdiri melepaskan penutupnya. Terlihat wajah bodyguard B dan A. Lily bertolak pinggang dengan kesal.
"Hampir saja aku menembaknya paman Charles!" pekik Lily sebal dengan bahasa Inggris.
"Kalaupun kau menembak, mereka juga tidak akan mati. Pelurunya kosong," jawab Tuan Charles sembari mendatangi Lily.
"He? Benarkah?" tanya Lily memastikan sembari mengamati pistol yang dipegangnya.
"Pantas rasanya ringan," batin Lily.
"Oia ... ngomong-ngomong ... bagaimana mengecek ada peluru atau tidak ya di pistol ini?" tanya Lily dengan wajah lugunya.
Sontak semua orang yang ada di sana kaget. Mereka tak menyangka ternyata Lily tidak tahu bagaimana cara mengisi peluru, mengkokang senjata dan melepaskan pengaman pada senjata api.
Lalu selama ini dia bertindak dengan senjata ditangannya hanya sebuah keberuntungan. Sebuah peluru mengenai sasaran atau tidak. Mereka semua terkejut tak habis pikir.
Tuan Charles yang menyadari hal ini berfikir untuk melakukan pelajaran pertama kepada Lily bagaimana memilih dan menggunakan senjata yang tepat.
Namun, ketika Tuan Charles mengamati ketiga bodyguard-nya, mereka mencuri-curi pandang ke arah Lily dengan tersipu.
Ternyata Lily yang hanya mengenakan piyama tidur tanpa memakai pakaian dalam. Membuat buah dadanya terlihat menonjol.
Tuan Charles pun segera meminta Lily masuk ke dalam kamar dan merapikan diri untuk turun dan sarapan.
"Apa yang kalian lihat? Cepat pergi!" bentak Tuan Charles.
Segera mereka bertiga meninggalkan tempat itu.
Seperti biasa, Lily terlihat modis dan cantik, tapi dia mulai khawatir karena stok bajunya mulai habis. Hanya tersisa rok pendek dan gaun.
"Masa iya selama latihan gua pake gaun? Haduhh .." ucap Lily lirih di kamarnya yang sedang bersiap.
Namun, Lily tak mau memikirkannya. Segera dia menuju ke bawah untuk sarapan. Ternyata sudah ada 9 agen, Tuan Ho dan Tuan Charles di ruang makan.
Lily hanya wanita seorang diri di ruangan tersebut. Mereka berbicara dalam bahasa Spanyol.
"Bienvenida señorita Lily," ucap Tuan Charles.
"Gracias señor Charles. Hola a todos," ucap Lily sembari melambaikan tangan kepada semua orang di sana.
Semua orang yang ada di sana menganggukkan kepala.
Meskipun Lily hanya seorang nona muda dan masih baru terjun dalam dunia mafia, tapi kemampuannya sudah diatas rata-rata. Sudah banyak orang mengakui kehebatannya.
Bahkan Tuan Charles sudah memperediksi suatu saat nanti Lily akan menjadi orang nomor satu di kerajaan mafia.
Lily duduk di samping Tuan Charles. Acara sarapan pagi pun segera dimulai. Para pelayan sudah menyajikan hasil masakan mereka di meja makan dengan teratur. Tuan Charles mempersilakan kepada semua orang untuk makan.
Tuan Ho duduk di seberang Tuan Charles. Dia memandangi Lily sedari tadi yang asik mengobrol dengan pamannya. Bahkan sesekali pamannya menyentuh tangannya.
Sepertinya Tuan Charles sedang mengisahkan hal hebat kepada Lily dilihat dari rona dan cara Lily menatap wajah pamannya. Tuan Ho mulai bicara dalam bahasa Spanyol.
"Paman. Jika kau ada hal yang menarik bukankah seharusnya kau menceritakan kepada kami semua. Kenapa kau pilih kasih hanya bercerita kepada nona Lily saja?" ucap Ho tanpa melihat pamannya dan asik dengan pasta dipiringnya.
"Oh ... aku sudah pernah mengisahkan cerita ini padamu. Sedang yang lain aku rasa tidak keberatan jika aku tidak menceritakan kepada mereka. Benar 'kan saudara-saudara?" tanya Tuan Charles sembari melirik tajam ke arah 9 agen.
"Ya ya tentu saja. Kami tidak masalah," jawab para agen itu dengan wajah takut.
"Baik. Aku akan mulai saja. Kalian tetap lanjutkan saja makannya. Selama nanti di Colombia, nama asli kalian tidak akan digunakan. Kalian akan diberi nama sesuai huruf alfabet. Ini untuk mengamankan jati diri kalian dan huruf alfabet lebih mudah untuk diingat," ucap Tuan Charles memberikan arahan.
"Hanya saja, pengecualian untuk nona Lily. Bagaimana pun dia adalah anak Komandan Zeno, namanya tetap Lily. Selama di sana kalian juga harus memanggilnya nona Lily. Dia tidak akan kuberikan seragam agen seperti kalian," ucap Tuan Charles tegas.
"Di sana Lily akan bertugas sebagai kepala pengatur semua kegiatan yang berhubungan dengan bisnis narkoba dan ganja milik Ho. Dan kalian ke 9 agen, sebagai asisten nona Lily dan Tuan Ho. Kalian harus melindungi nona Lily dan Tuan Ho dengan nyawa kalian sebagai taruhannya. Apa kalian paham?" tegas Tuan Charles sambil memegang gelas wine-nya.
"Kami mengerti Tuan Charles," jawab para agen tanpa keberatan sedikitpun dengan keputusan Tuan Charles.
"Dan Lily, selama di sana kau harus mendampingi Ho. Kau jadi tangan kanannya. Dan yang paling penting. Jangan sampai ada yang tahu, kau anak Komandan Zeno dan Nyonya Rose. Kau harus merahasiakannya," ucap Tuan Charles serius.
"Memangnya kenapa Tuan Charles?" tanya Lily heran.
"Kita tak pernah tahu akan berhadapan dengan siapa. Banyak mafia keji diluar sana. Kami ini masih tergolong ramah. Kita juga tak pernah tahu jika ada seseorang yang menaruh dendam kepada Komandan Zeno atau Nyonya Rose, kau bisa terlibat dan kau dalam bahaya. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri, Nona Lily."
Lily mengangguk paham.
"Bagaimanapun, seseorang yang sudah memasuki dunia hitam, seputih apapun dia, lama kelamaan putihnya akan memudar dan akan menjadi hitam," ucap Tuan Charles dengan tatapan tajam ke arah Lily.
Lily mengerti. Semenjak dirinya berada di camp, Lily sudah merasakan bahwa dirinya sudah tidak seperti dulu lagi.
Dia sudah berani membunuh orang, bertarung, bahkan sekarang akan terlibat dalam narkoba dan ganja.
Hal ini bertentangan dengan hati nuraninya, tapi Lily tidak memiliki keberanian untuk menghindar bahkan kabur dari jeratan dosa-dosa yang nantinya akan terus mengikuti hingga kematiannya.
"Aku mengerti, Tuan Charles," ucap Lily lirih.
Tuan Charles paham jika masih ada pertentangan dalam hati Lily, tapi nasi sudah menjadi bubur. Lily hanya bisa menjalaninya saja.
Selesai makan bersama Lily diajak untuk berlatih menggunakan senjata dengan 9 agen.
Mereka menuju ke halaman belakang Black Castle yang terdapat banyak pohon. Di sana sudah ada papan sasaran tembak yang dipasang dibeberapa pohon secara acak.
Sebelum pembagian tugas, ke 9 agen itu menyebutkan nama alfabetnya. Mereka memperkenalkan diri di hadapan nona Lily dan Tuan Ho. Nama-nama itu diberikan oleh Tuan Charles.
Mereka adalah agen M, O, C, S, K, X, J, V, dan W.
Salah satu agen bernama M menunjukkan kebolehannya dalam menembak. Dengan akurat dia menembakkan peluru-peluru ke arah papan tembak yang diletakkan secara random dengan jarak yang berbeda-beda tepat di tengah.
Lily mengagumi kebolehan agen M dalam menembak. Lily pun minta diajari.
Agen M memilih sebuah pistol. Dia menjelaskan tipe-tipenya dari revolver, pistol semi otomatis dan otomatis. Juga senjata laras panjang seperti serbu dengan berbagai tipenya.
Agen M juga mengajarkan kepada Lily bagaimana memegang senjata yang benar, ketika akan ditembakkan, letak telunjuk, posisi senjata ketika tidak digunakan, menyarungkan senapan dan melepaskan pengaman.
Jenis-jenis peluru juga dijelaskan secara detail untuk tipe tiap senjata api yang akan digunakan
Lily mendengarkan dengan serius semua ajaran agen M. Sementara agen-agen lainnya berlatih menembak dengan berbagai macam senjata.
Mereka juga melakukan latihan mengenai pengepakan ganja dan pengiriman dengan Tuan Ho. Sebuah peta dibentangkan untuk menginformasikan letak-letak pengiriman dan jalur-jalur aman tanpa ketahuan oleh polisi.
Tuan Charles yang penasaran dengan hasil latihan Lily pun mendatanginya. Dia meminta M untuk menguji Lily menembak dengan senjata api.
Lily gugup karena ini pertama kalinya. Dia masih gemetaran ketika akan memasukkan peluru ke dalam pistol bahkan beberapa butir peluru sampai terjatuh.
Agen M dan Tuan Charles melihatnya dengan tatapan kecewa. Lily menyadari bahwa dia memang dipaksa untuk bisa.
Tuan Charles merasa Lily belum siap, dia segera berpaling meninggalkannya. Namun tiba-tiba beberapa suara tembakan terdengar di belakangnya.
DOR ... DOR ... DOR ... DOR ... DOR ... DOR ... DOR ...DOR ... DOR!"
Terlihat Lily begitu mantab memegang sebuah pistol semi otomatis dan menembakkan beberapa peluru dengan ritme yang teratur hingga peluru tersebut habis.
Semua orang terkejut dan penasaran dengan hasilnya. Mereka pun mendatangi Lily dan mengecek papan sasaran tembak.
Meskipun belum akurat, tapi semua tembakannya mengenai papan sasaran tembak. Semua agen bertepuk tangan mengagumi kemampuan Lily.
Tuan Charles yang awalnya ragu mulai yakin bahwa Lily akan menjadi agen yang bisa diandalkan dan Tuan Ho hanya tersenyum sinis melihatnya.
------
ILUSTRASI AGENT K "COLOMBIA"
SOURCE : PINTEREST