Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kemegahan, Badai Emosi Seorang Anak
Di sisi lain ibu kota, di dalam sebuah kediaman yang sangat megah dan luas, duduklah seorang pria di balik meja kerja yang terbuat dari kayu cendana terbaik. Garis alisnya terukir tegas dan rapi, dipadukan dengan rahang yang kokoh serta wajah yang memancarkan ketampanan yang jarang dimiliki orang lain.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah sepasang matanya—tajam, dalam, dan menyimpan wibawa yang mampu membuat siapa pun yang menatapnya merasa segan sekaligus takut. Jika seseorang diminta mendeskripsikan sosok pria ini, hanya ada satu kata yang tepat: ketampanan yang menyatu dengan keberanian dan kekuasaan yang tak terbantahkan. Ia adalah Putra Raja Xiao, penguasa yang dihormati sekaligus ditakuti di seluruh wilayah kekaisaran.
“Yang Mulia, Pangeran Kecil telah kembali ke kediaman,” lapor seorang pengawal yang berdiri tegak di ambang pintu, suaranya tenang namun penuh rasa hormat.
Mendengar laporan itu, sang pria hanya mengangkat kepalanya sedikit dan mengeluarkan suara gumaman pelan, seolah hal itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Ia kemudian kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya membaca dokumen-dokumen resmi yang menumpuk di atas meja, seolah tidak terlalu memedulikan kehadiran putranya.
“Namun… Yang Mulia, Pangeran Kecil tampak sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Ia mengamuk di dalam kamarnya, membuat suasana di tempatnya menjadi sangat kacau. Beberapa pelayan yang berusaha mendekat pun terluka karena lemparan benda-benda yang dilemparkannya.”
Biasanya, meskipun anak itu dikenal sangat nakal, keras kepala, dan sering melanggar aturan, ia tidak pernah sampai menyakiti orang lain secara sengaja. Hari ini sungguh berbeda. Entah apa yang terjadi atau siapa yang telah mengganggu ketenangannya hingga membuatnya menjadi begitu tak terkendali dan meluapkan amarahnya ke segala arah.
“Anak itu…” gumamnya pelan, lalu melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju bagian dalam kediaman, tepatnya menuju tempat tinggal putranya yang disebutkan itu.
Sesampainya di halaman depan kamar, ia sudah bisa melihat keadaan yang berantakan. Beberapa pot bunga hancur berserakan di tanah, tirai jendela tergantung robek, dan suara benda pecah masih terdengar dari dalam. Begitu pintu kamar didorong terbuka, sebuah vas besar yang terbuat dari giok hijau berharga tinggi melayang tepat ke arahnya. Untung saja pengawal yang mengikuti di belakangnya memiliki gerakan yang sangat sigap; ia segera melompat dan menepis vas itu hingga jatuh ke lantai dengan suara keras, namun berhasil mencegahnya mengenai sang tuan.
“Wang Xian!”
Suara itu terdengar dalam, dingin, dan berwibawa, langsung menyapu seluruh ruangan hingga membuat suasana yang tadinya riuh seketika menjadi sunyi senyap.
“Kekacauan apa lagi yang kau buat kali ini?” tanya sang ayah lagi, nadanya tidak meninggi namun cukup untuk menekan hati siapa pun yang mendengarnya.
Wang Xian—yang tidak lain adalah Gu Xian, anak yang baru saja bertemu dengan Yanfei beberapa waktu lalu—menatap ayahnya selama beberapa detik penuh kebencian dan kekecewaan, lalu tiba-tiba ia menghela napas panjang seolah kehabisan tenaga. Ia melepaskan genggamannya, lalu duduk begitu saja di lantai yang penuh serpihan pecahan barang, tanpa memedulikan pakaiannya yang menjadi kotor.
“Huuh… sungguh malang sekali nasib diriku ini,” ucapnya dengan nada yang terdengar sangat sedih dan menyayat hati. “Aku hanyalah anak yang tidak memiliki ibu, hidup seperti rumput liar yang tumbuh sendirian di pinggir jalan. Siapa pun bisa menginjak-injaknya dan memperlakukannya sesuka hati tanpa ada yang membela.”
Ia menundukkan kepalanya, bahunya terlihat sedikit bergetar seolah sedang menahan tangis. Selama bertahun-tahun ia harus menghadapi wajah dingin dan sikap tegas ayahnya ini. Ayahnya mendidiknya dengan cara yang sangat keras, penuh disiplin, dan hampir tidak pernah menunjukkan kasih sayang yang hangat seperti ayah pada umumnya. Namun, kepala dan hatinya jauh lebih keras daripada yang dibayangkan siapa pun. Justru karena itulah, ia tidak pernah merasa gentar sedikit pun saat menatap mata ayahnya secara langsung.
“Wang Xian, berdiri dengan sikap yang benar!” perintah sang ayah dengan nada tegas, tidak tergoyahkan oleh keluhan atau tampang sedih putranya.
Namun, si bocah hanya mengangkat wajahnya perlahan, tatapan menyedihkan yang menyayat hati,
Melihat tingkah laku putranya yang selalu berubah-ubah dan pandai berpura-pura itu, sang ayah hanya bisa menghela napas panjang lagi. Ia melangkah mendekati meja bundar yang masih utuh di sudut ruangan, lalu duduk dengan tenang. Seorang pelayan segera menuangkan teh panas ke dalam cangkir porselen halus dan memberikannya padanya.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan kali ini?” tanyanya sambil menyesap teh itu perlahan, mencoba bersikap sabar menghadapi anak yang sulit diatur ini.
“Kau tidak bisa diam tenang selama satu hari saja. Biasanya kau hanya kabur keluar rumah atau bermain sembarangan, dan aku memakluminya sebagai kenakalan anak kecil. Tapi hari ini, saat suasana hatimu memburuk, kau justru melampiaskannya hingga menyakiti orang lain bahkan bisa membahayakan dirimu sendiri. Apa yang terjadi?”
Wang Xian mengangkat wajahnya kembali, matanya melotot seolah memiliki rencana yang sudah matang. Ia menjawab dengan suara lantang dan penuh keyakinan, “Aku ingin pergi ke jamuan bunga plum yang diadakan di kediaman keluarga Wei malam ini!”
Mendengar permintaan itu, sang ayah hanya menatapnya dengan tatapan datar, lalu menjawab singkat dan tegas, “Tidak.”
Jawaban itu langsung memicu luapan emosi Wang Xian kembali. Ia berdiri tiba-tiba dan berteriak sekuat tenaga, “Kau! Apakah kau benar-benar ayahku? Sangat kejam dan jahat pada anak yang masih di bawah umur! Bahkan orang asing sekalipun tidak akan memperlakukan anak kecil sekejam ini!”
Ia benar-benar merasa kesal dan marah hari ini. Ia baru saja menemukan sosok yang ia cari selama ini—Yanfei—namun baru saja ia berniat mendekat dan menjalin hubungan, ia justru dibawa secara paksa oleh pengawal ayahnya dari dalam penginapan. Dan sekarang, ayah yang bodoh ini bahkan tidak berniat membawanya ke kediaman Wei tempat Yanfei berada. Bagaimana ia bisa tidak marah?
“Apakah pelajaran yang kau terima semalam belum juga membuatmu merasa jera?” balas sang ayah dengan suara yang tetap tenang namun mengandung ancaman halus. “Kau berani kabur keluar rumah tanpa izin, melibatkan diri dalam bahaya, dan sekarang kembali dengan luka di tubuh serta membuat keributan di sini. Menurutmu, apakah aku harus mengabulkan keinginanmu begitu saja?”
Wang Xian terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat dengan langkah yang mantap meski tubuhnya masih kecil. Ia menatap ayahnya dari jarak dekat, matanya memancarkan rasa tantangan yang tidak kalah kuat.
“Aku tidak peduli dengan pelajaran apa pun itu! Aku hanya tahu bahwa jika aku tidak pergi ke sana malam ini, aku akan kehilangan kesempatan yang sangat berharga. Ayah tidak mengerti apa-apa, kau hanya tahu memerintah dan menekan orang lain!”
Sang ayah meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja, bunyi benturannya yang pelan justru terasa menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia menatap putranya lekat-lekat, menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda pada anaknya kali ini. Biasanya ia hanya ingin keluar untuk bermain atau mencari kesenangan, tapi kali ini keinginannya terasa sangat kuat dan memiliki tujuan yang jelas.
Namun, ia tetap tidak ingin membiarkan anak itu sembarangan bergerak. “Alasan apa yang membuatmu begitu mendesak harus pergi ke kediaman Wei? Katakan padaku dengan jujur, jika alasannya masuk akal, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”
Wang Xian terdiam sejenak, lalu memutar bola matanya seolah sedang berpikir keras untuk mencari jawaban yang bisa diterima. Ia tidak bisa memberitahu ayahnya bahwa ia ingin pergi ke sana hanya karena ingin mendekati seorang wanita jahat yang baru ditemuinya. Jika ia mengatakan hal itu, ayahnya pasti akan semakin curiga dan melarangnya dengan alasan yang lebih keras lagi.
“Karena… karena kudengar banyak makanan enak dan kue-kue manis yang disajikan di sana,” jawabnya dengan nada setengah berteriak, berusaha terdengar seperti alasan yang wajar bagi anak seusianya. “Dan juga, aku ingin melihat bunga plum yang sedang mekar cantik! Aku bosan melihat bunga di halaman rumah ini saja!”
Sang ayah hanya mengangkat satu alisnya, jelas tidak percaya sedikit pun dengan alasan yang terasa sangat dangkal itu. Namun, melihat raut wajah putranya yang memerah karena emosi dan matanya yang berbinar memohon, hatinya yang selama ini terasa dingin itu tergerak sedikit. Ia tahu anak ini memang memiliki sifat yang unik, pandai berpura-pura namun juga memiliki keteguhan hati yang luar biasa.