Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Kasus Kekerasan & Penyelesaian
Setelah cukup lama menangis dan meluapkan segala perasaan yang membebani hatinya, An Na perlahan mulai tenang. Ia melepaskan pelukan Anqi, lalu menyeka sisa air matanya dengan ujung lengan bajunya.
“Terima kasih, Anqi. Rasanya sedikit lebih tenang setelah menceritakan semuanya,” ucapnya dengan suara yang masih serak, namun terdengar lebih ringan.
Anqi tersenyum lembut, lalu mengambil sepotong roti dan menyuapkannya lagi. “Baguslah. Sekarang habiskan makanannya, ya. Jangan biarkan perasaan sedih itu membuatmu lupa menjaga kesehatan.”
Keduanya pun melanjutkan makan sambil sesekali berbicara hal-hal ringan, berusaha mengembalikan suasana menjadi lebih hangat. Namun di sudut hati An Na, pertemuan dengan ibunya itu masih meninggalkan luka yang terasa perih. Ia tidak mengerti mengapa ibunya bisa bersikap sedingin itu, mengapa keberadaannya seolah menjadi beban.
# Di Supermarket
Beberapa hari kemudian, suasana di supermarket kembali berjalan seperti biasa. An Na bekerja dengan rajin, mencoba melupakan kejadian buruk itu dan fokus pada pekerjaannya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat jam istirahat tiba, An Na baru saja hendak duduk di sudut ruang istirahat, ketika seorang rekan kerja datang menghampiri dengan wajah cemas.
“An Na... ada wanita yang menunggumu di depan pintu masuk. Katanya ia ingin bertemu denganmu,” ucapnya pelan.
Jantung An Na berdegup kencang. Ia sudah bisa menebak siapa orang itu. Dengan perasaan campur aduk antara takut, marah, ia berjalan menuju pintu. Benar saja, ibunya berdiri di sana dengan pakaian rapi namun wajahnya tetap terlihat dingin.
“Ada apa lagi? Bukankah sudah cukup apa yang Ibu lakukan kemarin?” tanya An Na segera, suaranya terdengar tegas meski ada getaran.
Ibu An Na menatapnya sekilas, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam tasnya dan menyodorkannya.
“Ini uang. Ambil dan terimalah. Lalu berhentilah bekerja di tempat ini. Aku sudah mengatur agar kau pindah ke kota lain dan hidup dengan layak,” ucapnya datar, seolah sedang bertransaksi dengan orang asing.
An Na menatap amplop itu dengan pandangan tidak percaya, lalu tertawa kecil.
“Uang? Sekarang Ibu datang hanya untuk memberi uang? Apakah Ibu pikir semua luka dan rasa sakitku bisa dibeli dengan selembar kertas ini?” Ia mendorong tangan ibunya pelan agar menjauh. “Aku tidak butuh uang Ibu. Yang aku butuhkan dulu hanyalah perhatian dan kasih sayang yang tidak pernah Ibu berikan. Sekarang, biarkan aku hidup dengan caraku sendiri. Aku tidak akan pergi, dan aku tidak akan berhenti bekerja.”
Wajah wanita itu berubah menjadi tegang. “Jangan keras kepala! Ini demi kebaikanmu. Jika kau tetap di sini, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri. Ambil saja uang ini dan pergilah!”
“Tidak!” potong An Na dengan lantang. “Aku tidak butuh belas kasihan Ibu. Aku sudah bertahan hidup sendirian selama bertahun-tahun tanpa bantuan siapa pun, dan aku bisa terus seperti itu. Tolong, jangan pernah datang lagi mengganggu hidupku. Anggap saja aku tidak pernah ada, sama seperti cara Ibu menganggapku selama ini.”
Mendengar penolakan yang tegas itu, raut wajah ibunya memerah menahan amarah. Ia menatap An Na dalam seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya ia hanya mendengus kasar, melempar amplop itu ke lantai di antara mereka, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh sedikit pun.
An Na menatap amplop yang tergeletak di lantai itu. Ia tidak menyentuhnya, melainkan membiarkannya begitu saja. Dengan napas yang panjang, ia membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam supermarket, meninggalkan amplop itu diambil oleh petugas keamanan yang kemudian diserahkan ke kantor.
Malam harinya, Anqi mendengar cerita itu dan hanya bisa menggeleng pelan. Ia duduk di samping An Na dan berkata, “Kau sudah membuat keputusan yang tepat. Hidupmu ada di tanganmu sendiri sekarang. Jangan biarkan orang lain mengatur jalannya.”
An Na mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke depan dengan keteguhan yang baru muncul.
“Kau benar. Mulai hari ini, aku tidak akan lagi berharap pada hal yang tidak mungkin. Aku akan terus berusaha, dan membuktikan bahwa aku bisa hidup dengan bahagia tanpa harus meminta pengakuan dari siapa pun.”
# Di kantor LPPA
Pagi itu suasana di kantor sangat sibuk. Tiba-tiba, seorang wanita muda masuk dengan wajah pucat dan mata bengkak karena menangis. Ia langsung meminta bertemu dengan Eric dan Anqi.
Begitu masuk ke ruang konsultasi, wanita itu tidak bisa menahan tangisnya lagi. Anqi segera memberinya segelas air dan menenangkannya.
“Tenanglah, Bu. Ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi. Kami ada di sini untuk mendengarkan dan membantu sebisa mungkin,” ucap Anqi lembut.
Setelah agak tenang, wanita itu memperkenalkan dirinya. “Nama saya Lin Mei. Saya datang dari desa di pinggiran kota. Saya sudah menikah selama tiga tahun, tapi hidup saya bagaikan neraka.”
Eric dan Anqi saling berpandangan, lalu mempersilakannya melanjutkan.
“Suami saya, sangat pemarah. Setiap kali ia marah atau mabuk, ia selalu memukul dan memaki saya. Awalnya saya diam saja, berharap ia akan berubah. Tapi malah semakin parah. Yang membuat saya takut, akhir-akhir ini ia juga mulai mengancam akan menyakiti anak saya yang baru berusia dua tahun.”
Lin Mei menunjukkan luka memar di lengannya yang masih terlihat jelas meski sudah ditutupi baju lengan panjang.
“Kemarin, ia hampir melempar anak saya ke dinding hanya karena anak itu menangis. Saya berusaha melindunginya, tetapi malah saya yang dipukulnya sampai jatuh. Saya tidak tahan lagi, tapi saya bingung harus pergi ke mana. Saya tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal, dan takut ia akan menemukan saya di mana pun saya lari.”
Anqi mengerutkan dahi, wajahnya menunjukkan rasa prihatin sekaligus kemarahan. “Jangan takut, Bu. Anda tidak sendirian. Tindakan suami Anda itu jelas melanggar hukum. Kekerasan dalam rumah tangga adalah kejahatan, dan Anda berhak mendapatkan perlindungan.”
Eric mengangguk setuju, lalu menjelaskan dengan tenang: “Kami akan membantu Anda. Hal pertama yang akan dilakukan adalah kami akan mengurus surat perlindungan dari polisi agar suami Anda tidak bisa mendekati Anda dan anak Anda. Kami juga memiliki tempat penampungan sementara yang aman bagi kalian berdua, lengkap dengan kebutuhan hidup dan pendampingan psikologis.”
“Tapi... bagaimana jika ia tetap mencari saya? Ia punya banyak teman yang bisa membantu,” tanya Lin Mei dengan suara gemetar.
“Kami akan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan pengadilan untuk memastikan keamanan Anda. Jika perlu, kami juga bisa membantu mengurus proses perceraian dan hak asuh anak. Anak Anda berhak tumbuh di lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang, bukan di tengah kekerasan,” jelas Anqi dengan tegas namun menenangkan.
Mendengar penjelasan itu, wajah Lin Mei perlahan terlihat lebih lega. Air matanya mengalir lagi, kali ini karena rasa haru. “Terima kasih... Terima kasih banyak. Selama ini saya merasa tidak ada yang peduli. Sekarang saya tahu ada harapan.”
Setelah mencatat semua keterangan dan data yang diperlukan, Eric dan Anqi segera bergerak cepat. Mereka mengantar Lin Mei dan anaknya ke tempat penampungan yang aman, kemudian membuat laporan resmi ke kepolisian disertai bukti-bukti visum yang didapatkan dari pemeriksaan dokter.
Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang memproses berkas di kantor polisi, tiba-tiba seorang pria masuk dengan wajah merah padam, tidak lain adalah Wang Wei, suami Lin Mei. Ia terlihat marah besar dan langsung menghampiri mereka.
“Di mana istri saya? Kalian sembunyikan dia, bukan? Kembalikan dia sekarang juga!” teriaknya dengan suara keras.
Anqi berdiri tegak di depan Lin Mei yang sedang menunggu di ruang tunggu, menatap pria itu dengan tatapan tajam tanpa rasa takut.
“Tenang, Pak. Istrimu ada di tempat yang aman. Dan ia tidak mau kembali ke rumah yang penuh kekerasan seperti itu,” jawab Anqi tegas.
Wang Wei melangkah maju seolah hendak menyerang, namun langsung dihentikan oleh dua petugas polisi yang sudah siaga. “Berani-beraninya kalian ikut campur urusan rumah tangga kami! Ini bukan urusan kalian!” bentaknya.
“Justru ini urusan kami, dan ini juga urusan hukum!” seru Eric. “Tindakan Anda memukul istri dan mengancam anak Anda adalah kejahatan. Kami sudah membuat laporan lengkap, dan bukti-bukti sudah ada. Anda akan diproses hukum sesuai peraturan yang berlaku.”
Pria itu terdiam sesaat, lalu mencoba mengubah sikapnya. “Tapi saya sudah menyesal. Saya janji tidak akan mengulangi lagi. Biarkan saya bicara dengan istri saya sebentar saja.”
“Maaf, tapi tidak bisa. Berdasarkan permohonan perlindungan yang diajukan, Anda dilarang mendekati istri dan anak Anda. Jika Anda melanggar, Anda akan langsung ditangkap,” tegas Anqi.
Melihat ia tidak bisa berbuat apa-apa, Wang Wei akhirnya pergi dengan langkah kesal, namun tidak berani bertindak lebih jauh karena kehadiran petugas polisi.
Setelah kejadian itu, Eric dan Anqi kembali menemui Lin Mei. “Semua aman untuk saat ini. Kami akan terus memantau situasi dan membantu Anda sampai proses hukum selesai. Anda dan anak Anda sudah aman sekarang,” ucap Eric.
Lin Mei tersenyum lega, kali ini senyum yang tulus. “Saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi. Kalian berdua telah menyelamatkan hidup saya dan anak saya.”
Anqi menepuk bahunya pelan. “Itu tugas kami. Dan ingat, keberanian untuk melawan hal yang salah adalah langkah terbesar menuju kebebasan. Jangan pernah takut untuk meminta bantuan lagi jika Anda membutuhkannya.”