Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Semangat Semakin Menjelang Hari Pertandingan
Seminggu terakhir sebelum hari kejuaraan, suasana di halaman rumah dan bengkel terasa makin hidup dan serius. Di setiap sudut, terlihat tanda‑tanda persiapan yang matang. Pagi‑pagi sekali, sebelum matahari naik tinggi, Faris sudah berdiri di dekat motor GL Herk berwarna merah muda yang kini tampak makin istimewa. Catnya dikilapkan sampai berkilau seperti cermin, rangka diperkuat ulang, setiap baut dikencangkan dengan kunci sesuai ukuran—tidak ada yang dipaksakan, tidak ada yang dilalaikan. Di sisi bodi sudah tertulis rapi: TIM HIDAYAT BERSAUDARA – DESA KETAJEN GEDANGAN, huruf tebal berwarna hitam pekat agar mudah dibaca dari jauh.
Sambil memutar roda perlahan dan memeriksa kelancaran putaran poros, Faris menyulut rokoknya seperti biasa—gerakan yang tenang tapi matanya tajam meneliti setiap bagian. Di sebelahnya, Guntur dan Ali sudah bersiap dengan buku catatan serta kotak perkakas yang tersusun rapi di atas meja kerja khusus.
Dengar baik‑baik ya ucap Faris perlahan, suara berat dan berirama khasnya, persiapan ini bukan sekadar pasang baut atau ganti oli saja tapi menyusun kepercayaan diri dan ketenangan hati juga. Kalau mesin sudah rapi, hati juga jadi tenang… Kalau hati tenang, pikiran jernih, tangan pun tidak gemetar saat butuh kecepatan dan ketepatan di lintasan.
Guntur mencatat hasil pengecekan terakhir di kertas yang sudah penuh coretan kecil. Siap, Bang. Semua ukuran rasio gigi, kekencangan rantai, kekerasan pegas—semua sudah sesuai hitungan Abang. Kami ulang cek tiga kali, takut ada yang terlewat.”
Benar begitu Ulangi sampai yakin, jawab Faris sambil berjalan mengelilingi kendaraan itu sekali lagi. “Ingat, kami bukan datang dari bengkel besar yang punya modal ribuan… Kami datang dari kerja tangan sendiri, ilmu yang dikumpulkan pelan‑pelan, dan pengalaman dari hari‑hari sulit dulu. Justru karena itu, setiap sentuhan kita harus lebih teliti daripada mereka yang punya segalanya tapi kadang lalai.”
Di teras rumah, Ibu Arum Sari sedang menyiapkan perlengkapan tambahan: kain lap bersih, minyak gosok, serta bekal makanan sederhana tapi bergizi. Di dekatnya duduk Bapak Wijaya, wajahnya tampak lebih bugar dan tenang dibandingkan bulan‑bulan sebelumnya. Di samping keduanya, Maya dan Miya duduk rapi sambil membuat tulisan semangat di selembar kain putih besar—tanda dukungan dari anak‑anak MI bagi kakak tertua mereka.
Kalian berdua… belajar juga dari cara Abang bersiap ini, ujar Bapak lembut menunjuk ke arah bengkel, keberhasilan tidak datang begitu saja… tapi dibangun dari ketelitian, kesabaran, dan niat yang baik. Lihatlah. Faris bukan cuma ingin menang cepat tapi ingin membuktikan ilmu yang benar dan jujur.
Siang beranjak sore. Cahaya matahari mulai miring dan menyinari permukaan sawah hijau di belakang halaman. Faris mengajak kedua adiknya duduk sejenak di bawah pohon rindang, beristirahat dan berbicara lebih dalam sebelum kembali bekerja. Asap rokok naik perlahan ke udara, bercampur dengan aroma tanah lembap dan rumput segar.
Masih ingat kan kenapa saya mulai belajar hal ini tanyanya perlahan. Dulu Bima dan kawan‑kawannya membuat saya berpikir kalau saya hanya diam, mereka akan menganggap kita tidak punya kemampuan. Tapi seiring berjalannya waktu, tujuan berubah. Bukan lagi sekadar menjawab tantangan jalanan yang penuh bahaya dan salah melainkan mengubahnya jadi jalan yang benar .olahraga yang teratur, terhormat, dan bisa memberi manfaat luas.”
Ali mengangguk setuju. Kami paham, Bang… Kalau di jalan umum itu cuma bikin musuh dan risiko bagi orang lain, tapi di sirkuit resmi, aturan jelas, perlindungan ada, kemampuan diuji dengan adil.”
Tepat sekali sambung Faris, matanya menatap jauh ke arah jalan raya yang menuju ke luar desa. Dan ingat hal yang paling penting: kemenangan di sana kelak tidak akan dipakai untuk pamer atau sombong… tapi untuk mengembangkan apa yang sudah kita bangun di sini—bengkel, warung, pendidikan adik‑adik, dan bantuan bagi siapa saja yang berada dalam keadaan sulit seperti kita dulu.
Sore itu berakhir dengan semua peralatan dan perlengkapan sudah tersusun rapi dalam kotak‑kotak yang diberi label jelas. Motor GL Herk merah muda berdiri di sudut paling terang, siap dibawa ke tempat pertandingan. Di dalam hati Faris, ketenangan tumbuh makin besar—lebih besar daripada rasa gugup atau takut gagal. Ia tahu bahwa usaha sudah dilakukan sekuat tenaga, doa orang tua terus tercurah, dan tanah tempat mereka berpijak kini adalah tanah milik sendiri yang penuh berkah.