follow igku @zariya_zaya
Zariya tidak percaya bahwa kekasihnya yang selama ini ia sangka sebagai pria biasa ternyata adalah seorang artis papan atas yang digandrungi banyak wanita. Ia sama sekali tidak menyangka, pria bermasker yang selama ini menjaga dan melindunginya adalah artis idolanya. akankah kisah cinta mereka berjalan mulus? simak terus kisahnya ya..
Citra Amalia, wanita tangguh malaikat penyelamat Zariya, juga merupakan wanita hebat dan kuat saat menghadapi prahara cinta rumah tangganya yang berakhir kandas dan menyakitkan. Namun, perlahan Citra bangkit dari keterpurukan dan kini sukses menjadi desainer terkenal. Citra pun mulai menemukan cinta sesungguhnya yang dulu pernah hilang karena telah salah memilih pasangan. Sayangnya, kisah cintanya dengan Azka, tidak berjalan mulus juga, ada banyak hal yang harus mereka hadapi bersama.
Akankah kisah dua pasang sejoli ini berakhir bahagia? Seperti apa kisah mereka? ikuti terus ya ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27 Rencana Sanha
Tak berselang lama, para pengawal Sanha dan juga Azka datang bersamaan. Awalnya, Azka bingung dengan situasi yang terjadi saat ini. Tiba-tiba saja di depan rumah wanita yang disukainya mendadak ramai penuh orang bahkan sampai ada wartawan, tapi ia pun akhirnya mengerti maksud Zariya ketika meneleponnya tadi.
Azka bergegas masuk begitu pengawal Sanha mulai memberikan ruang padanya. Lucunya, salah satu wartawan itu mengenali Azka. “Bos! Kenapa kau disini?” tanya salah satu wartawan itu yang ternyata adalah anak buah Azka.
Tentu saja Azka terkejut dan bingung harus menjawab apa, tapi sebagai bos ia tidak boleh kelihatan lemah, tidak mungkin juga ia bilang kalau pemilik rumah ini adalah kekasihnya. “Aku sedang pesan baju disini!” alasan Azka masuk akal juga. “Kau sendiri apa yang kau lakukan disini? Cepat sana! Kembali bekerja!” gertak Azka.
“Ini saya juga lagi kerja Bos, kalau saya dapat meliput pacar artis papan atas Sanha disini, saya yakin rate berita kita pasti bakal melonjak.”
“Apaaa?” teriak Azka mengagetkan yang lainnya termasuk anak buahnya sendiri. “Jelaskan padaku apa maksudmu?” Azka menatap tajam wajah anak buahnya. Laki-laki yang menjadi anak buah Azka hanya bisa menelan salivanya karena takut dengan tatapan amarah bosnya.
Zariya yang mengawasi gerak gerik Azka dari kejauhan bersama dengan Sanha jadi bingung kenapa laki-laki yang ia panggil dengan sebutan ‘Om’ itu malah asyik mengobrol dengan salah satu wartawan yang ada di depan rumah kekasihnya.
“Apa laki-laki itukah yang kau panggil ‘om’? Calon suami kakakmu?” tanya Sanha pada Zariya, dan gadis itu menjawabnya hanya dengan anggukan. “Apa yang sedang dia lakukan? Bukannya masuk dan menyelamatkan kakakmu malah asyik bicara dengan para wartawan.” Sanha memerhatikan wajah Zariya yang terlihat shock berat. “Kenapa dengan wajahmu itu? Kau terlihat sangat frustasi.”
“Aku lupa ... kalau om Azka ... adalah seorang jurnalis. Wajar kalau para wartawan itu mengenalnya.” Zariya mengatakan kalimat tersebut dengan suara lemas tak bertenaga seolah dunianya sudah runtuh.
“Hah?” Sanha tak kalah terkejutnya dari Zariya. Zariya sendiri tak kuasa membayangkan apa yang akan terjadi, gadis itu menundukkan kepalanya dan merutuki kebodohannya.
Apa yang dikatakan om Azka pada semua wartawan itu? bisa gawat kalau sampai biodataku dan juga kak Citra sampai pada mereka. Sebab, yang Zariya tahu, Azka adalah tipikal orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keadilan. Sekalipun, ia tak pernah berbohong.
“Waaauw, sepertinya orang yang kau panggil dengan sebutan om itu berhasil mengusir wartawan dan semua orang yang ada disana? Lihatlah, mereka semua pergi tanpa perlawanan,” ujar Sanha dan langsung membuat Zariya mengangkat lagi kepalanya.
“Apa? Kenapa mereka ...,” Zariya bingung karena tiba-tiba saja rumah kakaknya mendadak sepi.
“Sia-sia aku memanggil pengawalku kemari. Aku tidak tahu apa yang dikatakan calon kakak iparmu pada rekannya itu, yang jelas kak Citra sekarang sudah aman.”
Azka membawa keluar Citra dan mengajaknya pergi meninggalkan rumahnya dengan pengawalan ketat dari Azka. Sedangkan Zariya dan Sanha masih tetap berada di dalam mobil sampai situasinya benar-benar aman. Sanha tetap menyuruh pengawalnya menjaga kediaman Citra meski pemiliknya tidak lagi ada disana.
Ponsel Zariya kembali berdering dan itu dari Citra. “Halo,” ujar Zariya setelah menekan tombol terima.
“Kau ada dimana? Kenapa kau malah menelepon Azka?” Citra terdengar protes.
“Maaf, Kak. Aku tidak ingat kalau om Azka adalah jurnalis.”
“Bukan itu maksudku? Apa hubungannya Jurnalis dengan kekacauan yang terjadi di rumah kita? Kenapa bukan kau sendiri yang datang menemuiku? Malah minta tolong dia!”
“Karena jika aku menampakkan diri, maka semua orang tadi pasti akan datang lagi dan lagi untuk menganggu kita,” terang Zariya.
“Temui aku sekarang dan jelaskan apa yang sedang terjadi! Kenapa mereka semua mencarimu? Kalau tidak, akan aku cincang kau hidup-hidup!” bentak Citra dan langsung menutup sambungan teleponnya.
“Gawat!” gumam Zariya.
“Ada apa lagi?” tanya Sanha.
“Kak Citra sangat marah, ia ingin bertemu denganku dan memarahiku.” Zariya hanya bisa menghela napas panjang.
“Serahkan semua padaku. Kau diam saja nanti, biar aku yang bicara. Ini kesempatan yang bagus untukku karena sekalian aku akan meminta izin padanya agar bisa segera menikah denganmu!”
“Aku rasa, tidak akan semudah itu?” gumam Zariya lagi, kali ini napasnya jauh lebih berat dari sebelumnya.
“Kenapa?” tanya Sanha lagi.
“Karena om Azka tidak akan mengizinkanku menikahi siapapun sebelum ia menikah dengan kakakku.”
“Itu gampang Sayang, kita nikahkan saja mereka berdua, aku yang akan menyiapkan segalanya,” ujar Sanha dengan penuh percaya diri, ia terlalu meremehkan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Kakakku Citra, tidak akan bisa menikah dengan om Azka sebelum menerima keputusan dari pengadilan.”
Sanha hanya mengerutkan alisnya mendengar kata-kata Zariya. “Apa maksudmu? Kenapa harus bawa-bawa nama pengadilan?”
“Aku kira kau tahu semua tentangku? Kenapa masalah ini kau tidak tahu?” giliran Zariya yang mengernyitkan alisnya.
“Aku hanya menyelidikimu, bukan kakakmu, aku bahkan tidak tahu apa-apa soal dia, yang aku tahu cuma kalian berdua bukanlah saudara kandung. Itu saja, dan aku tidak peduli dengan itu semua. Darimana asalmu dan siapa kau sebenarnya, aku tidak peduli.”
Berarti Sanha, belum tahu semuanya tentangku. Latar belakang keluargaku pun sepertinya ia juga tidak tahu. Dan sampai kapanpun memang tidak ada yang boleh tahu. Batin Zariya.
“Kakakku masih dalam proses cerai dengan suaminya yang breengsek itu. Kemarin bajingaan itu sempat datang ke rumah dan meminta kakakku membatalkan perceraian mereka, untung saja kakakku tidak mau dan tetap pada pendiriannya, yaitu bercerai. Aku sendiri juga tidak akan pernah membiarkan kakakku disakiti lagi oleh banjingaan tengik itu. Makanya aku ingin kak Citra segera menikah dengan om Azka agar tak lagi diganggu oleh mantan suaminya begitu mereka resmi bercerai nanti.”
“Bukankah kalian bukan saudara kandung? Kenapa kau bisa mengerti detail perasaan kakakmu pada suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan?”
“Itu karena aku menjadi saksi hidup kisah tragis kakakku selama mengarungi behtera rumah tangganya yang hancur karena orang ketiga. Kau tahu? Aku sangat ingin memutilasi tubuh bajingaan itu dan melemparkan potongan tubuhnya ke kendang buaya. Aku sama sekali tidak menyangka ada laki-laki yang nggak punya hati seperti dia. Habis manis sepah dibuang! Dan dia juga tidak pantas disebut sebagai binatang, karena binatang sungguhan masih jauh lebih baik dari orang itu.” Zariya memuku-mukul dasbor mobil Sanha.
Sanha terkejut melihat kekasihnya bisa juga meluapkan emosinya seperti itu. Sejak Sanha mengenal Zariya, ini pertama kalinya gadis itu benar-benar marah. Padahal, saat melihat Marvin selingkuh didepan mata kepalanya sendiri, gadis itu tidak marah sama sekali.
“Kau sangat menakutkan kalau sedang marah, Sayang. Aku harus hati-hati padamu.” Sanha tersenyum, ia menyalakan mesin dan melesat pergi untuk bertemu dengan Citra. “Baiklah, kita ubah rencana, setelah urusan dengan kakakmu selesai, aku akan menunjukkan padamu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta padamu. Setelah itu, kita nikahkan kakakmu dengan om Azka begitu surat cerai kakakmu keluar, baru giliran kita yang menikah, tapi kira-kira ... kapan surat cerai kakakmu dikeluarkan?”
“Setahun, ah tidak ... bisa jadi dua tahun atau lebih, sebab banjingaan itu tetap bersikukuh tidak mau bercerai.”
“Apaaaa?” teriak Sanha mengagetkan Zariya. “Sial!” umpatnya kemudian. Pria itu memukul-mukul kendali mobilnya sendiri. “Ini tidak bisa dibiarkan!” ujar Sanha dengan kesal.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan?”
Sanha menyunggingkan senyumnya. “Akan aku lakukan apa yang harus aku lakukan, kau lihat saja nanti.”
BERSAMBUNG
***
yang mau baca kisah Leo dan Shena di awal mereka bertemu baca juga putra raja ya ... jangan lupa like, komentarnya juga .. love you ...