Kisah tentang bagaimana Lia dan Ali membesarkan si kembar. Juga Lia yang harus menghadapi masalah dari Franda yang mulai berulah.
"Kak ali mau apa? mau kita pisah? ya udah. Lia juga gak butuh cowok kayak kak ali, gak bisa milih antara istri sama anaknya? lebih milih wanita lain?" Lia kesal.
"Apaan sih Lia, siapa yang mau minta pisah. Aku bukannya ngebelain Franda."
"Terus apa, Franda itu jahat kak, dia pura-pura, mau celakain Si kembar dan mau misahin kita."
"buat apa Lia, dia itu gak tau apa-apa."
"Buat dapetin kakak. Dia pernah cinta kan sama kakak." kata Lia.
Ali terdiam. Franda didepan Ali sangat polos, tapi dibelakang Ali ingin melakukan apapun untuk memisahkan Lia dan Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
eh, gak ada yang komen gitu. Ini tuh hamil diluar nikah loh ya. Hahaha...
berhubung di singapur, bebas apa?
***
Ara bingung, tiba-tiba saja lia bertanya seperti itu, bukannya lia sudah mengambil keputusan untuk sama sekali tidak melibatkan Nathan, papanya bayi lia.
"Lia, ketemu kak ali?" tanya ara, menduga. Lia mengangguk.
"Ouh, pantes. Lia tiba-tiba tanya. Terserah lia mau gimana? kalau mama sih tetep dukung keputusan lia, apapun itu. Tapi kalo bisa sama-dama besarin anak lia, ya itu lebih baik."
Ara mengusap pipi lianya, si bungsunya yang sudah dewasa, sudah mau jadi ibu, dan tidak boleh sembarangan ambil keputusan. Semuanya demi masa depan bayinya nanti.
"Lia miriki dulu mama.." kata lia pada ara.
Ara hanya mengangguk. Ara membawa semua bahan makanan ke dapur. Ara sibuk menyiapkan makanan yang lia minta. Sementara lia sendiri bingung mempertimbangkan keputusannya.
"Kak nathan, tau dari siapa ya?" pikir lia, mencoba menebak. "Apa tadi mbak ningning?"
***
"Makasih ya mbak udah dikasih tau." kata nathan yang pulang ke rumah. Rumah yang ada didepan rumahnya alex.
Nathan duduk disofa dan meminta mbak ningning untuk membawakan minuman dingin untuknya.
"Sama-sama tuan. Saya senang juga dengernya, apalagi kalau sampai tuan sama non lia bersama, menikah. Nanti ningning bagi uangnya ya tuan, buat beli gaun mewah untuk pernikahan tuan nathan sama nona lia."
Ningning malah heboh sendiri. Nathan hanya tersenyum, ia, menikah, pernikahan, mereka kan akan punya anak jadi mereka harus menikah, nathan akan melamar Lia. Nathan harus beli cincin.
"Mbak, bisa kira-kira gak cincin yang ukurannya pas buat lia?" tanya nathan setelah meneguk minumannya.
"Emm... kayaknya bisa." Kata ningning menimbang keputusannya. Ningning membayangkan tadi pagi melihat lia.
"Tuan nathan liat gak, non lia agak bersisi, iya enggak. Udah ketemu kan sama non lianya?" tanya ningning hanya untuk memastikan.
"Iya. Udah, nathan udah maksa sentuh perutnya. Udah lumayan gede mbak, tiga atau... kayaknya empat deh atau mau ke lima ya." Nathan tersenyum membayangkan kejadian di supermarket tadi. Menyentuh perut lia. Nathan ingin setiap hari.
"Mbak, bantu cari cincinnya ya." kata nathan mengambil kunci mobilnya.
"Emang non lianya mau sama tuan nathan. Tuan gak inget, sudah ngatain non lia macam-macam." kata ningning mengikuti nathan dibelakang.
Selama ini, nathan selalu curhat colongan ke mbak ningning. Mbak ningning aja, sampai mukulin nathan pakai bantal, gila gak ada takutnya sama bos. Tapi nathan berterimakasih, mbak ningning tau banget perasaannya. Nathan juga selama ini suka diam-diam ke singapur, tapi tak berani muncul didepan lia atau keluarganya. Nathan tau kalimatnya, kata-katanya tak pantas untuk lia.
"gak tau sih mbak. Cuma kan ada bayinya, masak lia gak mau maafin nathan sih." kata nathan pada ningning.
" Semoga saja bisa maafin tuan dan terima tuan nathan lagi." kata ningning. Masuk ke mobil nathan.
Lia penasaran, apa dia masiu tinggal didepan rumah, atau sudah tak perduli, hanya sok perhatian saja tadi. Ketika lia ruangan depan, mengintip keluar, lia melihat nathan pergi dengan mbak ningning. Walau tau mbak ningning cuma bekerka dengan nathan, rasanya kesal.
"Mau kemana mereka pergi naik mobil berduaan." kata lia dari dalam rumahnya, kesal melihat nathan dan ningning.
"Dorr!"
Dari luar papanya iseng, alex yang baru dateng dari kantor langsung mengagetkan lia dari luar.
"Papa, apa-apaan sih." lia mengelus dada dan perut.
"Kaget cucunya papa." lia merengek. Lia menengadahkan tangannya, meminta sesuatu yang dia pesan pada sang papa.
Mangga muda.
"Ahh, papa lupa." Alex berpura-pura, dia menepuk keningnya seakan lupa mencari pesanan lia.
"Papa... papa kok gitu."
"Papa panggilin penghuni depan rumah mau. Dia yang berbuat kenapa papa sama lio yang repot, ada nanti tengah malam nyari makanan lah, jagung bakar, dll. Kan harusnya penghuni depan rumah tuh yang repot. Mau kabur dari tanggung jawab dia." kata alex, tak marah. Lia juga terkejut.
"Papa udah gak marah sama kak ali?" tanya lia, ragu.
"sama nathan yang sombong, yang kayak lia bilang, iya. Sama alinya papa, rindu. Tetep aja dia alinya papa. Pengen banget kasih hukuman ke dia, sana balikan, habis itu kerjain habis-habisan, suruh beli apa aja yang susah nyarinya." kata alex yang akhirnya masuk, duduk diruang tamu dengan lia.
Lia diam, mau sangat mau. Tapi kata-kata itu, wanita malam, jual diri, ahh masih terngiang dikepala dan hati lia.
"Gak mau ahh, lia benci sama kak nathan, atau pun kak ali." Lia langsung masuk kedalam.
"ihh, tapi ngapain muncul. Lia kan jadi pengen diperlalukan kayak di supermarket tadi." lia ngoceh sendiri ke kamarnya.
Ara yang mau panggil lia, tertawa melihat lia ngedumel sendiri. Ara melihat alex sudah pulang, dia langsung menghampiri alex dan menyambutnya.
"mau makan siang, atau gimana?" tanya ara pada alex.
"Iya lah, sengaja pulang buat makan siang, spesial masakan wanita yang paling aku cinta." Alex mencubit pipi ara.
"Udah tua, udah mau punya cucu. Gak usah banyak ngegombal." timpal ara pada alex.
"Justru itu.." Alex malah mencium bibir ara.
"Lia mau kayak papa sama mama, lia mau bahagia selamanya, sama-sama sampai tua." Lia dari atas melihat itu.
***
Nathan sudah di toko perhiasan denga. Ningning. Ningning melihat-lihat semua perhiasan yang ada, mata ningning merona. Dia sangat suka perhiasan. Berbeda dengan Lia, yang lebih simple. Feminim tapi simple.
"Mbak, yang cocok kayak gimana?" tanya nathan pada ningning.
"yang mahal tuan, yang uwow lah pokoknya." kata ningning melihat-lihat desain cincinnya.
"Yang ini, mewah banget tuan." kata ningning menunjuk salah satu desain cincin dengan berlian yang bersinar.
"Wooooww... indahnya."
Nathan melihat cincin yang ningning tunjukan. Nathan melihat dan menggeleng,
"Bukan lia banget mbak kalau gini." kata nathan pada mbak ningning. "ini pasti kesukaan mbak ningning deh."
Nathan kembali melihat yang lain. Nathan bertanya pada salah satu pelayan disana, meminta dipilihkan yang simple tapi berkesan, mbak ningning membantu untuk ukurannya. Dia pandai mengira-ngira ukuran, lumayan porno, suka sekali mengira milik laki-laki, sekali lihat langsung, teg. Kena. Ningning pun bisa dengan mudah mengira-ngira jari manis lia.
"Mau diberi ukiran nama siapa?" tanya pelayan toko pergiasannya.
"Ali-lia." kata nathan tersenyum menyebut nama itu. Namanya bahkan selisih sedikit. Sangat manis untuk nathan.
"Semoga kamu mau terima lamaran aku, lia." nathan membayangkan kebahagiaannya yang ada didepan mata.
***
Kalian ditim mana?
terima? atau enggak?