Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daniel and Lena
Kesalahpahaman antara Erie dan Daniel sebenarnya tidak berlangsung lama. Daniel bukanlah tipe orang yang bisa menyimpan rahasianya dari orang-orang yang ia kasihi, termasuk Erie. Ia tahu bahwa kakak iparnya itu akan merasa kecewa dengan kabar yang ia sampaikan, tetapi biar bagaimana pun, sebuah kebenaran jauh lebih baik dibandingkan sebuah kebohongan.
Bagi Daniel, Erie adalah pelindung keluarganya. Kedatangan perempuan itu tidak hanya membuat kakak laki-laki Daniel bahagia, namun, Erie juga berhasil memperbaiki hubungan antara sang ayah dan kakaknya yang sejak kecil sudah hancur. Jadi, Daniel tidak ingin perasaan mengganjal di hatinya ada terlalu lama karena berbohong pada Erie. Ia ingin Erie menjadi salah satu orang yang bisa mempercayainya.
Beberapa hari setelah kunjungan Erie dan Gevio ke rumah sakit, awalnya Daniel dibutakan dengan perkataan Erie yang menginginkan wanita bernama Arlena atau yang lebih akrab dipanggil Lena itu untuk menjadi bagian dari keluarga Alvaro. Mau tahu apa yang Daniel lakukan? Laki-laki itu melamar Lena. Ya, melamar untuk menjadikannya sebagai Nyonya Alvaro yang lain. Seperti yang sudah disebutkan, Erie adalah salah satu orang yang paling berharga bagi Daniel sehingga membuat perempuan itu bahagia juga merupakan kewajiban Daniel.
Lalu bagaimana hasilnya? Tentu saja Lena menolak mentah-mentah pada awalnya. Wanita mana yang mau menikah dengan orang asing yang bahkan ia tidak kenali sebelumnya? Tidak ada yang mau. Begitu pula dengan Lena. Selain alasan tidak mengenal Daniel, Lena juga tidak ingin memiliki hubungan dengan ikatan serius sekarang. Ia masih muda dan ia tidak mau pernikahannya menghalangi ambisinya. Terlebih, wanita itu menyimpan banyak sekali luka di masa lalu yang ingin ia tuntaskan sendiri.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pada satu kesempatan, akhirnya Lena menerima tawaran Daniel. Ia setuju menikah dengan laki-laki itu. Meski terkesan buru-buru, tapi Daniel bisa menyakinkan bahwa pernikahan ini bukanlah pernikahan kontrak atau semacamnya. Sebab di dalam keluarga Alvaro, belum ada sejarah perceraian dalam pernikahan mereka secara turun temurun. Tuan Besar memang menikah dua kali, namun itu ia lakukan karena istri terdahulunya sudah meninggal dunia.
Kini tibalah Daniel pada saat yang menegangkan, yakni meminta restu pada Erie sekaligus menjelaskan pada perempuan itu duduk permasalahannya yang mengakibatkannya menjadi salah paham. Untuk itu, Daniel mengajak Erie dan Gevio yang baru datang dari Bali ke sebuah restoran di dekat rumah sakitnya.
“Schwaegerin, maafkan aku. Seharusnya kau langsung kembali ke New York hari ini, tapi aku justru memanggilmu ke Jakarta lagi,” sesal Daniel. Memang, jika laki-laki itu tidak meminta Erie dan Gevio ke Jakarta, pasti hari ini kedua orang itu bersama rombongannya sudah berada di dalam pesawat menuju ke New York untuk menjemput Elden terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar pulang ke negara mereka.
Erie tersenyum. Dengan lembut ia menjawab perkataan Daniel. “Tidak apa-apa, Daniel. Jadwal kepulanganku bisa ditunda kapan pun. Lagi pula selama liburan ini, Gevio sama sekali tidak rewel. Jadi, aku bisa bebas melakukan banyak hal." Erie menoleh ke sebelahnya di mana Gevio sedang duduk sambil menyantap makan siangnya.
“Sebenarnya, ada yang ingin aku sampaikan padamu, Schwaegerin,” kata Daniel seraya menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat sedikit ragu untuk mengutarakan kalimatnya.
Erie mengernyitkan kening. “Apa? Katakan saja. Kau tidak perlu ragu mengatakannya, Daniel. Aku pasti akan mendengarkannya dengan baik,” ucap Erie mencoba menenangkan.
“Hmm… Sebenarnya, aku ingin membicarakan tentang Arlena,” sambung Daniel.
Erie mengangguk. Sekarang ia mengerti situasinya. Erie berpikir bahwa Daniel sedang berusaha untuk menjelaskan kepadanya tentang kekeliruan tempo lalu. Baiklah. Sepertinya meluruskan hal yang keliru memanglah yang terbaik daripada menyimpannya terlalu lama dalam bentuk kebohongan.
“Arlena? Tunanganmu? Apa yang ingin kau bicarakan tentangnya?” tukas Erie berpura-pura tidak mengetahui kebenarannya. Biarlah ia terkesan mengetahui kebenarannya dari mulut Daniel secara langsung dan bukannya dari sang suami.
Daniel mendesah, mencari perkataan yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada perempuan yang ada di depannya. “Schwaegerin, Arlena itu bukan tunanganku.”
Erie bertingkah seolah-olah ia benar-benar baru pertama kali mendengar perkataan itu. Ia terbelalak, lalu beberapa saat berikutnya, sorot mata perempuan itu pelan-pelan melunak. “Tapi waktu itu kau bilang dia adalah tunanganmu.”
Daniel menggelengkan kepalanya. “Tidak Schwaegerin. Waktu itu tunanganku memang baru saja keluar dari ruangan kerjaku. Tapi yang aku maksudkan bukanlah Arlena. Saat itu, Arlena datang hanya untuk mewawancaraiku.”
“Ah, begitu rupanya,” kata Erie sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lantas, Arlena itu siapa? Apa hanya seorang jurnalis?”
Daniel melanjutkan pembicaraannya. “Awalnya dia memang hanya seorang jurnalis, tapi sekarang dia adalah calon istriku.”
Jika tadi Erie berpura-pura terkejut, sekarang perempuan itu benar-benar terkejut bukan main. Saking kagetnya, rasanya jantungnya seperti baru keluar dari rongga dadanya. “Calon istri?!” ucap Erie tersentak. Untunglah saat ini ia sedang tidak meminum minumannya. Karena kalau ia melakukannya, maka ia akan tersedak saat itu juga.
Daniel menggangguk lagi. “Benar, Schwaegerin. Kemarin aku mengajaknya untuk menikah, dan dia sudah setuju.”
“Apa kau memaksanya untuk menikah?” tanya Erie seketika. Tidak bisa dipungkiri jika memang Erie merasa khawatir dengan nasib Lena. Erie menikah di usia muda. Usia 19 tahun. Bisa dikatakan pada saat itu, Erie dipaksa menikah dengan Elden yang berusia delapan tahun di atasnya.
Kala itu, Erie merasa bingung dan kacau. Namun ia tidak punya pilihan lain. Dan kali ini, Erie tidak ingin Lena bernasib sama dengannya. Walau Erie yakin Daniel akan memperlakukan Lena dengan baik, tetap saja pernikahan yang dilandaskan atas paksaan tidaklah baik.
“Tidak… Eum, sebenarnya aku tidak tahu ini bisa dikatakan sebagai paksaan atau tidak. Tetapi dia sudah setuju untuk menikah denganku, Schwaegerin,” tutur Daniel sambil menatap mata Erie yang gelisah dengan kedua mata hazelnya.
Suasana tiba-tiba menjadi tidak nyaman saat Daniel mengutarakan niatannya. Erie merasa hujaman rasa bersalah tengah menyerbu relung hatinya yang terdalam.
“Daniel, kau benar-benar ingin menikahinya? Pernikahan bukanlah sebuah lelucon. Kelak, saat kalian sudah terikat janji suci, apa pun yang terjadi, meski kau ingin sekali pun, kau tidak boleh menceraikannya,” tekan Erie. Ia mencoba mengingatkan adik iparnya untuk tidak melangkah di jalan yang salah karena dulu, Erie hampir saja melakukannya. Perempuan itu nyaris menceraikan suaminya karena satu kejadian yang tidak ingin ia ingat lagi.
Daniel mengamit tangan Erie dan menggenggamnya. “Schwaegerin, aku tahu makna penting dari pernikahan itu dan aku berjanji padamu. Demi nyawaku, apa pun yang terjadi, aku tidak akan menceraikan Arlena,” ujar Daniel tegas dan penuh keyakinan.
“Tapi Daniel, aku masih bingung. Apakah aku boleh menanyakan ini padamu..." gumam Erie.
Daniel mengangguk. “Tanyakan saja, Schwaegerin. Aku akan menjawab semua pertanyaan yang kau berikan.”
“Apa alasanmu sehingga kau bisa memutuskan untuk menikah dengan Arlena?” tanya Erie karena sejak tadi ia sangat penasaran tentang alasan utama mengapa Daniel bertindak nekat.
Daniel menarik napas terlebih dahulu, lalu ia berujar, “Karena dia mirip dengan Mami.” Pernyataan ini lebih memalukan bagi seorang laki-laki dan Daniel sadar akan hal itu. Tetapi, ia memang merasakan perasaan familiar ketika berada di dekat Lena, yang belakangan baru ia sadari bahwa perasaan itu persis sama ketika Daniel berada dengan sang ibu dulu, sewaktu ia masih kecil.
Erie terpaku. Ia membiarkan suara-suara bising di dalam restoran itu sebagai pengisi keheningan yang tercipta antara ia dan sang adik ipar. Bahkan perempuan itu masih belum menarik tangannya dari genggaman Daniel. Untuk beberapa saat, Erie hanya bergeming. Ia tidak mengatakan apa pun.
Pikiran Erie melayang jauh ke tempat suaminya berada, di negeri Paman Sam sana. Ternyata sebesar itu pengaruh Nona Edellyn –ibu kandung Elden dan Daniel— terhadap kedua laki-laki itu hingga mereka mencari istri yang menyerupai ibu mereka yang telah meninggal dunia. Karena jauh sebelum Erie mendengar kalimat yang tadi Daniel sampaikan, Erie sudah pernah mendengarnya dari Elden. Kalimatnya pun persis sama. Pria itu mengungkapkan alasannya menikahi Erie karena perempuan itu memiliki aura yang sama dengan Nona Edellyn.
Erie terkekeh pelan dan kemudian ia berdeham. "Ehm… Daniel, ternyata kau ini sangat mirip dengan Elden,” ucap perempuan itu memecah keheningan di antara mereka.
Daniel tersentak. “Apa Bruder juga pernah mengatakan hal yang sama, Schwaegerin?”
“Ya, persis sama!” jawab Erie.
“Tentu saja karena kami benar-benar menyayangi Mami.”
“Ya, aku tahu.”
Tak lama kemudian, ekspresi Erie berubah menjadi serius lagi. “Ini yang terakhir kalinya, Daniel. Apa kau yakin akan menikah dengan Arlena? Kau bisa mengambil waktu untuk berpikir ulang. Aku hanya tidak mau kau menyesali keputusanmu hari ini.”
Dan untuk kesekian kalinya Daniel mengangguk. “Aku yakin, Schwaegerin,” tegasnya.
Erie menatap Daniel cukup lama dan ia melayangkan seulas senyuman hingga pada akhirnya ia berkata, “Baiklah, aku merestui pernikahanmu.”
XXXXXX
Seandainya ya minta restu pada calon mertua itu kayak minta restu ke Erie... Pastilah gak ada itu sinema-sinema Indonesia tentang jeritan hati seorang istri... ƪ(˘⌣˘)ʃ
Jangan lupa tinggalkan jejak like, comment, vote, tip dan ratenya... Aku tunggu dengan sangat... Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼