Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Terima kasih yang sudah vote yang belum di tunggu ya. Saya menepati janji untuk tambah bab jika telah masuk 10 besar. Memang sekarang rangkingnya turun lagi tapi saya tetap memenuhi janji saya tapi untuk besok tidak janji ya😉
🌺🌺🌺
Ucapan Chef Robi membuat Giwang tersedak. "Uhuk-uhuk."
Chef Robi memberikan air putih ke Giwang. "Maaf Giwang," ujarnya.
Giwang menegakkan air putih itu ke dalam tenggorokannya. Memandang wajah Chef Robi dengan tegang.
"Maaf Giwang, mungkin kamu kaget, tapi saya memang suka sama kamu," ujar Chef Robi kembali memegang tangan gadis di depannya. Giwang masih menatap tangannya yang sedang di pegang Chef Robi.
"Memang terlalu cepat tapi lebih baik saya mengutarakan semuanya, bukan hanya cantik tapi kamu juga mempunyai sifat yang baik dan itu membuat saya semakin suka dengan kamu," ujar Chef Robi.
"Maaf Chef," Giwang menarik tangannya yang ada di genggaman Chef Robi.
"Saya tidak pantas untuk anda," ujar Giwang sembari menundukkan kepalanya.
Chef Robi tersenyum. "Beri satu alasan ke saya kenapa kita tidak pantas?" tanya Chef Robi.
"Karena saya," Giwang berhenti dengan kalimatnya.
Karena saya sudah menikah dan mempunyai anak.
Giwang bergumam dalam hatinya.
"Karena apa Giwang?" tanya Chef Robi penasaran.
"Maaf saya belum siap," sahut Giwang sembari beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Baik saya mengerti mungkin terlalu cepat dan saya akan menunggu kesiapan kamu untuk menerima saya," ujar Chef Robi sembari tersenyum.
Giwang buru-buru ke dapur. Pengungkapan sebuah perasaan membuatnya bingung. Para pekerja Restoran telah mulai berdatangan. Mereka menyapa Giwang.
Semua mulai melakukan pekerjaannya sesuai bidangnya begitu pun dengan Giwang mulai kembali dengan kegiatannya. Dia mencoba melupakan semuanya. Tapi Chef Robi datang menghampirinya.
"Kamu tidak harus masak untuk pengunjung," ujar Chef Robi.
"Maksudnya apa?" tanya Giwang bingung.
"Saya ingin kamu memasak semua menu di Restoran ini untuk saya," sahut Chef Robi.
"Hah?" Giwang bingung. Menurutnya Chef Robi melakukan ini karena telah di tolaknya.
"Saya tunggu di ruangan," ujar Chef Robi sembari berlalu.
Giwang menghela nafasnya. "Apa lagi ini," gumamnya bingung.
Walaupun bingung dia tetap memasak semua menu yang ada di Restoran Zero. Yang lain hanya sibuk memasak beberapa menu tapi Giwang harus memasak semua menu membuatnya harus bisa mengatur waktunya.
Satu persatu makanan telah selesai di buatnya dan diantarkannya ke ruangan Chef Robi, di dalam ruangan itu Chef Robi mulai mencicipi masakan Giwang.
Giwang terus berkutat di depan kompor sampai malam hari. Dia mengantarkan satu menu terakhir ke ruangan itu.
"Ini yang terakhir Chef," ujar Giwang sembari meletakkan di atas meja.
"Duduk Giwang," ujar Chef Robi sembari mencicipi menu terakhir yang di masak Giwang.
Chef Robi menikmati setiap makanan yang di sajikan gadis di depannya.
"Saya heran dengan kamu, bagaimana mungkin kamu bisa mengingat semua makanan ini bahkan ada cita rasa yang berbeda dari yang saya buat?" tanya Chef Robi heran.
"Saya tidak tau Chef," sahut Giwang bingung. Dia memasak dengan resep yang sama dan takaran yang sama tapi ada cita rasa yang unik dari setiap masakannya.
"Baiklah kalau begitu, saya menyuruh kamu memasak ini semua dengan maksud untuk mengirim kamu ke rumah sepupu saya," ujar Chef Robi sembari menatap Giwang dengan lembut.
"Apa Chef!" Giwang kaget. "Saya mohon jangan keluarkan saya dari Restoran ini, memang saya belum siap untuk menerima anda," ujar Giwang sedih.
"Ha ha ha," Chef Robi tertawa dan membuat Giwang bingung.
"Giwang ini tidak ada hubungannya dengan penolakan kamu," sahut Chef Robi sembari tertawa. "Dulu saya selalu mengirim koki ke rumah sepupu saya tapi mereka tidak jujur sampai Adlan tidak menginginkan menggunakan koki lagi. Adlan menyukai cita rasa masakan kamu, itu makanya saya mengirim kamu ke sana," jelas Chef Robi.
"Tapi saya tidak mau keluar dari sini," sahut Giwang sedih.
"Tidak Giwang, kamu tidak keluar dari sini, kamu tetap koki saya, hanya saja kamu mempunyai pekerjaan sampingan di rumah sepupu saya Adlan," jelasnya.
"Kamu tenang saja, selesai memasak di sana kamu bisa ke Restoran, gaji yang kamu dapatkan tidak akan saya potong," ujar Chef Robi menenangkan Giwang.
Giwang masih saja diam. "Apa kamu bisa?" tanya Chef Robi lagi.
"Chef bisa kirimkan koki yang lain?" tanyanya.
Chef Robi menggelengkan kepalanya. "Sepupu saya berbeda, dia mempercayakan saya untuk memilih koki untuknya dan pilihan saya jatuh ke kamu," sahut Chef Robi.
Giwang masih saja diam. "Kenapa Giwang?" tanya Chef Robi penuh kelembutan.
"Apa karena perasaan maka Chef memilih saya?" tanyanya lagi.
Chef Robi menggelengkan kepalanya. "Bukan, saya memilih kamu pertama karena citra rasa masakan kamu yang unik dan satu lagi karena kamu jujur," jelas Chef Robi.
"Saran saya ambil pekerjaan ini dan satu lagi terus bersikap seperti Giwang yang sekarang, jujur dan rendah hati."
Giwang masih ragu memilih atau menolak.
Apa ini rezeki Gerhana.
"Giwang bagaimana?" tanya Chef Robi membuyarkan lamunan Giwang.
"Saya akan menerima pekerjaan ini, tapi jika sepupu Chef Robi tidak suka masakan saya, apa boleh saya tetap bekerja di sini?" tanyanya.
"Tentu Giwang pintu Restoran ini selalu terbuka," sahut Chef Robi.
"Terima kasih Chef," ujar Giwang sembari beranjak dari kursi.
"Ini alamat rumahnya," Chef Robi memberikan kartu nama sepupunya ke Giwang.
"Baik Chef," sahutnya dan berlalu.
"Giwang," Chef Robi kembali memanggil.
"Iya Chef."
"Saya akan menunggu sampai kamu siap," ujar Chef Robi.
Giwang tersenyum kecut sembari pamit dan berlalu. Dia buru-buru meninggalkan Restoran Zero. Berjalan kaki sampai ke halte.
"Duh kenapa aku jadi takut," gumamnya bingung. "Kalau aku jujur pasti Chef Robi kabur," gumamnya.
"Enggak Giwang, fokus dengan Gerhana," gumamnya lagi. Dan ada sebuah motor berhenti di halte.
Aksa sengaja menunggu Giwang. "Malam," sapa Aksa ke Giwang. "Kemarin malam kita bertemu di mini market," ujar Aksa.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya takut. Melihat penampilan Aksa membuat Giwang takut. Tangannya mulai menyiapkan kejut listrik yang ada di dalam tasnya.
"Boleh duduk di sini?" tanya Aksa.
Giwang hanya menganggukkan kepalanya. "Namaku Aksa nama kamu siapa?" tanya Aksa sembari mengulurkan tangannya. Giwang hanya menatap pria di sampingnya tanpa mau menyambut uluran tangan pria itu.
"Jangan takut," Aksa tau jika Giwang takut melihat penampilannya.
"Saya hanya ingin mengenal kamu itu saja," jelas Aksa.
"Maaf bus sudah datang," ujar Giwang sembari beranjak mendekati bus yang telah berhenti tepat di halte.
"Hati-hati ya," ujar Aksa sembari melambaikan tangannya ke Giwang.
"Duh cakep banget," gumam Aksa senang.
Di dalam bus
Giwang mengontrol detak jantungnya yang terus berdetak kencang.
"Ada apa hari ini," gumamnya bingung. "Kenapa semua orang bersikap aneh kepadaku," gumamnya lagi.
Giwang sampai ke rumah dan menceritakan ke Ibu Ima tentang pekerjaan sampingan yang di terimanya.
"Wah bagus itu nak dengan dua pekerjaan kamu bisa melanjutkan kuliah," ujar Ibu Ima senang.
"Tapi bagaimana waktuku dengan Gerhana?" tanyanya bingung.
"Pasti kamu bisa mengatur semuanya, Ibu yakin itu."
Giwang menganggukkan kepalanya. Dia teringat tentang ucapan Chef Robi tadi pagi.
"Bu tadi pagi Chef Robi mengutarakan perasaannya ke aku," ujarnya.
"Wah bagus itu," sahut Ibu Ima senang.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!