Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Sayangnya, Keira tidak pernah menggambar tanpa meninggalkan tanggal.
Tiga hari kemudian, Jumat pagi, Keira kembali ke Universitas S.
Ia tidak meminta Pak Chen mengantar sampai gerbang. Mansion Tanuwijaya terlalu mencolok, dan Keira belum ingin menjadi bahan gosip baru sebelum menyelesaikan gosip lama. Jadi ia turun dari mobil beberapa ratus meter dari kampus, lalu berjalan masuk dengan tas laptop di bahu.
Udara pagi di kampus masih basah setelah hujan semalam. Gedung desain perhiasan berdiri di sisi timur, kaca-kacanya memantulkan langit abu-abu. Mahasiswa bergerombol di tangga, sebagian memegang kopi, sebagian membuka ponsel.
Begitu Keira muncul, suara mereka turun setengah nada.
Bukan diam total. Justru lebih buruk, mereka berbisik dengan volume yang cukup untuk didengar.
"Itu Keira, kan?"
"Katanya tiga hari hilang setelah ribut sama keluarganya."
"Seline kasihan banget. Sudah karyanya diplagiat, masih dibully kakaknya sendiri."
"Gilbert akhirnya resmi sama Seline, ya? Pantes Keira ngamuk."
Keira berjalan melewati mereka tanpa mempercepat langkah.
Tubuh ini masih mengingat malu. Bahu ingin mengecil, mata ingin menunduk, kaki ingin memilih jalan memutar. Tetapi kesadaran Keira yang sekarang hanya merasa lelah melihat betapa mudahnya orang menelan cerita yang paling rapi dibungkus air mata.
Di depan pintu kelas, Anya Sudargo sedang berdiri bersama dua mahasiswi lain. Begitu melihat Keira, ia tersenyum tipis.
"Wah, akhirnya masuk juga. Kupikir kamu pindah kampus."
Keira berhenti sebentar. "Kenapa harus pindah?"
Anya mengangkat bahu. "Ya, biasanya orang yang ketahuan menjiplak punya rasa malu."
Beberapa orang di sekitar mereka tertawa kecil.
Dari dalam kelas, Seline duduk di baris kedua. Ia menoleh dengan wajah lembut yang pas untuk dilihat publik.
"Anya, jangan begitu. Kak Keira mungkin masih belum enak badan."
Kalimat itu manis. Matanya tidak.
Keira masuk dan duduk di kursi kosong paling belakang. Tidak ada yang duduk di sampingnya. Tas-tas yang tadinya berada di kursi sekitar langsung ditarik pemiliknya, seolah rumor bisa menular lewat kain.
Meja di depannya berbisik dengan suara tua yang bosan.
"Drama kampus. Dari tahun ke tahun sama saja. Yang paling banyak bicara biasanya paling sedikit bakat."
Keira menurunkan tasnya. "Setuju."
Mahasiswa di depannya menoleh. "Kamu ngomong apa?"
"Tidak apa-apa."
Pintu kelas terbuka. Prof. Hartono masuk membawa kotak beludru hitam kecil. Suasana langsung berubah. Dosen senior itu jarang membawa benda langsung ke kelas kecuali ada ujian dadakan.
"Pagi," katanya. "Hari ini kita mulai dengan identifikasi."
Beberapa mahasiswa duduk lebih tegak.
Prof. Hartono membuka kotak itu. Di dalamnya terletak sebuah batu permata kecil dengan warna biru-hijau yang dalam. Cahaya lampu kelas membuat permukaannya berkilau dingin, seperti menyimpan laut gelap di dalam tubuhnya.
"Siapa yang bisa mengidentifikasi batu ini dengan alasan lengkap," kata Prof. Hartono, "akan saya ajak sebagai asisten mahasiswa ke Pameran Gemilang minggu depan."
Kelas langsung ramai.
"Pameran Gemilang?"
"Yang ada karya Lumina juga, Prof?"
"Katanya Liora bakal pamer koleksi baru!"
Nama Liora membuat beberapa mahasiswa hampir berbisik penuh hormat. Bahkan Anya, yang tadi sibuk menatap Keira dengan jijik, langsung mencondongkan tubuh.
Seline tersenyum anggun. "Aku paling suka karya Liora. Struktur desainnya bersih, tapi emosinya kuat. Jarang ada desainer muda yang bisa begitu."
Keira menatap punggung Seline.
Rasanya menarik juga dipuji oleh orang yang mencuri karyanya.
Prof. Hartono memberi waktu lima menit. Mahasiswa bergantian maju melihat batu itu dengan kaca pembesar. Beberapa menebak turmalin. Ada yang menebak sapphire khusus. Namun Seline mengangkat tangan dengan percaya diri.
"Saya coba, Prof."
Ia maju. Cara berjalannya tenang, wajahnya sedikit gugup tetapi cukup cantik untuk memancing simpati. Ia mengambil kaca pembesar, memutar batu itu di bawah lampu, lalu mulai menjelaskan.
"Menurut saya ini zamrud. Saturasi hijau kebiruan cukup kuat, inklusi di dalamnya juga memberi kesan natural. Kalau dilihat dari tone-nya, mungkin berasal dari deposit Kolombia atau Zambia. Potongannya memang tidak umum, tapi karakter hijau seperti ini sangat dekat dengan emerald berkualitas."
Anya langsung bertepuk tangan.
Yang lain menyusul. Beberapa mahasiswa mengangguk seolah semua istilah tadi mereka pahami dengan sempurna.
Seline menunduk malu-malu. "Saya belum yakin seratus persen, Prof."
Di kepala Keira, batu itu menjerit.
"Zamrud?! ZAMRUD?! Gue ALEXANDRITE, bego! Tiap hari dibilang zamrud, gue capek! Emangnya semua yang ijo itu zamrud? Kalau orang pakai baju hijau, lu panggil daun juga?"
Keira menutup bibir dengan punggung tangan.
Prof. Hartono belum berkomentar. Ia hanya menatap kelas. "Ada jawaban lain?"
Tidak ada yang bergerak.
Anya berbisik cukup keras, "Kalau Seline saja sudah jawab, siapa lagi?"
Keira mengangkat tangan.
Ruang kelas langsung hening.
Seline menoleh. Senyum lembutnya sedikit kaku.
Prof. Hartono mengangguk. "Keira. Silakan."
Keira berjalan ke depan. Ia tidak mengambil batu itu langsung. Ia hanya menunduk, melihat kilau di balik warna hijau-biru tersebut.
"Di balik hijau ini ada lompatan biru yang terlalu hidup," katanya. "Zamrud menyimpan hijau dengan karakter berbeda. Batu ini lebih seperti seseorang yang sedang menahan warna lain."
Beberapa mahasiswa saling pandang. Anya mencibir. "Puitis amat."
Keira menatap Prof. Hartono. "Boleh tirai ditutup dan lampu pijar dinyalakan, Prof?"
Alis Prof. Hartono naik. Lalu ia memberi isyarat pada asisten kelas.
Tirai ditarik. Cahaya pagi terpotong. Lampu kelas dimatikan, lalu sebuah lampu pijar tungsten kecil dari meja praktik dinyalakan.
Di bawah cahaya hangat itu, batu biru-hijau di kotak beludru perlahan berubah.
Warna hijau tenggelam.
Merah keunguan muncul dari dalamnya, hidup, dalam, dan mengejutkan.
Seluruh kelas terdiam.
Batu itu mendesah puas. "Nah. Akhirnya. Lihat tuh, gue bisa merah juga. Multifungsi, sayang."
Keira berkata, "Ini alexandrite. Batu yang berubah warna tergantung sumber cahaya. Di bawah daylight ia tampak biru-hijau, di bawah incandescent atau tungsten ia bisa berubah merah keunguan. Inklusinya juga tidak cocok untuk emerald. Kalau dilihat dari color change-nya, kualitasnya cukup bagus."
Prof. Hartono menatap batu itu, lalu menatap Keira.
Beberapa detik kemudian, ia bertepuk tangan.
Satu tepuk. Dua tepuk.
Kelas terpaksa mengikuti, kali ini tanpa semangat sebelumnya.
"Analisis yang tepat," kata Prof. Hartono. "Dan permintaan mengganti sumber cahaya menunjukkan kamu tidak hanya menghafal ciri visual, tapi memahami perilaku batu."
Wajah Seline memucat sedikit.
Anya berbisik, "Mungkin kebetulan."
Prof. Hartono menutup kotak beludru dan menyerahkannya pada asisten. "Keira, kamu ikut saya ke Pameran Gemilang minggu depan."
Keira mengangguk. "Terima kasih, Prof."
Saat ia kembali ke tempat duduk, Seline menatapnya dengan mata yang masih lembut untuk orang lain, tetapi dingin di bagian terdalam.
"Selamat, Kak Keira," katanya pelan. "Kamu memang beruntung."
Keira berhenti di sampingnya.
"Benar," jawab Keira. "Beruntung batunya mau berubah warna di depan semua orang."
Batu di kotak beludru yang sudah dibawa asisten menjauh masih sempat berteriak bangga.
"Sama-sama, Liora kecil!"
Langkah Keira terhenti sepersekian detik.
Tidak ada orang lain yang mendengar.
Namun kalimat itu seperti menaruh jarum baru di atas peta takdirnya. Pameran Gemilang minggu depan bukan hanya tempat ia mendapat tiket. Itu juga tempat karya Liora akan dipamerkan.
Dan Seline, dengan tiket dari Gilbert atau cara lain, pasti akan datang.
Keira duduk kembali, membuka buku catatan, dan menulis satu kata di sudut halaman.
Gemilang.
semangat thor💪