Sinopsis Season 1 (1-121)
Dimulai saat proses acara lamaran . Tiba-tiba Dilara seorang model terkenal di Indonesia mendadak mendapat tawaran yang menggiurkan menjadi seorang model Go Internasional impiannya sejak SD . dan di haruskan Dilara sekarang juga pergi ke Amerika Serikat untuk proses pemotretan yang di kontrak langsung oleh Produser yang sangat popoler di kota Washington .
Dilara hanya meninggalkan selembar kertas yang terletak di atas kasurnya.
"Mah maafkan aku! Dilara harus pergi. Ini mimpiku mah! Dan katakan Maafku kepada Rasya calon tunangkanku yang hari ini akan resmi melamarku , tolong katakan padanya tunggu aku pulang. Untuk Mikayla tolong sementara gantikan Mba menjadi calon tunangannya Rasya. Karena Mba dan keluarga Rasya sama sekali belum pernah bertemu karena kesibukan Mba di dunia intertaiment. Mba mohom gantikan Mba ya 😊 karena Mba gak mau membuat Tante Rere ibunya Rasya sakit jantungnya kambuh karena anaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27.
.
"Emang mau kemana malem-malem bawa koper segala?" tanya Rasya masih bersikap dingin.
"Mau pulang... !" jawab Mikayla yang masih tidak berani menatap Rasya.
"Pulang kemana?" tanya Rasya ketus.
"Ke Apartemen milik paman Bayu dan Bibi Helena."
"Oh.." Rasya mangut-mangut.
"Ya sudah silahkan kalau mau pulang, hati-hati di jalan."
Perkataan Rasya seperti itu membuat hati Mikayla semakin nyesek, sakit teriris-iris . Dugaannya ternyata benar kalau Rasya sudah memilih Dilara di bandingkan mempertahankan pernikahannya yang baru seumur jagung.
Rasya menyingkir, Mikayla keluar kamar berjalam menuruni anak tangga.
"Kak Raysa... !" bentak Ratu.
"Apa...!" jawab Rasya ketus , sedari tadi ia terus menahan tawanya.
Waktu itu dia yang di kerjain abis-abisan sampai ia tertekan, sekarang giliran Rasya yang membalas (Akting).
"RATU KECEWA..." tegas Ratu lalu keluar dari kamar Rasya.
"Sya... Mamah sebenarnya sangat kecewa, tapi ini sudah jadi keputusan kamu, Mamah akan menerimanya nya," kata Rere pilu seraya menepuk-nepuk bahunya Rasya kemudian keluar kamar.
"Cucu ku... Oma kecewa," sahut Oma kemudian ikut keluar kamar juga.
Raysa ketawa setelah semuanya pergi. Rasya kemudian berlari untuk mengejar Mikayla.
Mikayla terus berjalan perlahan-lahan seolah-olah kakinya terasa berat untuk melangkah, Mikayla baru sampai pintu gerbang, tiba-tiba.......
"Tunggu.... " teriak Rasya.
Mikayla berhenti , namun ia tidak menengok ke belakang. Rasya berlari menghampiri Mikayla, setelah mendekat , Rasya langsung memeluk erat tubuh Mikayla dari arah belakang.
"Jangan pergi... " ucap Rasya lembut.
"Saya mohon jangan pergi."
deg.
deg.
deg.
Mikayla terkejut campur senang , campur bingung juga. Karena Rasya orang nya susah untuk di tebak. Rasya terus memeluk erat tubuh Mikayla dari arah berlakang.
"Mas Rasya apa-apaan sih... lepasin aku merasa sesak," rengek Mikayla mencoba melepaskan pelukan Rasya.
"Bukannya Mas Rasya sudah memilih Mba Dilara?"
"Kata siapa?" tata Rasya seraya melepaskan pelukannya kemudian membalik-kan tubuh Mikayla menghadapnya.
"Emang saya bilang kalah saya memilih Dilara?"
Mikayla menggeleng..
Rasya tersenyum tipis.
"Ayo masuk. Udara malam gak baik, biarlah Mamah, Ratu dan Oma menyangka kamu sudah pergi, karena ini balasan untuk mereka waktu itu sudah ngerjain saya habis-habisan," jelas Rasya.
Mikayla masih tidak mengerti ia memilih bengong, Rasya menarik tangan Mikayla sehingga ia mengikuti langkahnya Rasya.
Rasya belum berani untuk mengungkapkan perasaan kepada Mikayla, ia akan mengungkapkannya di saat waktu yang tepat.
"Mas Rasya aku masih tidak mengerti?" tanya Mikayla.
"Sudah... diam! jangan berisik... "
....
Dilara kembali histeris, ia masih tidak terima atas perlakuan Rasya padanya.
"Sudah sayang tenang, masih ada banyak cara, tenanglah... Rasya pasti akan jatuh kepelukan kamu sayang, tenanglah... percaya sama Mamah."
Kirana terus menangkan Dilara , namun perkataan Kirana tidak mudah untuk menenangkan hati Dilara.
Kejadian ini membuat Dilara dan Kirana semakin membenci Mikayla.
Di dalam kamar..
Rasya membaringkan tubuhnya di atas sofa, sementara Mikayla masih berdiri tegak menatap Rasya yang sedang rebahan.
"Tidur. Sudah malem. Ngapain berdiri terus? Gak pegel apa?" tanya Rasya ketus.
"Nanti besok pagi saya akan jelaskan semuanya. Sudah tidur sana, istirahat."
"Besok pagi sebelum saya panggil kamu jangan keluar kamar, Ok," kata Rasya dengan mengedipkan mata kirinya dengan senyuman merekah di bibirnya.
Mikayla semakin tidak mengerti, sikap Rasya yang kadang manis, kadang jutek dingin datar kasar ah pokonya sangat susah di tebak. Mikayla memutuskan untuk istirahat, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur , mematikan lampu kamarnya kemudian memejamkan kedua matanya mencoba untuk tidur.
..
dosa lho Sya..istrinya dianggurin