NovelToon NovelToon
Initium Saga

Initium Saga

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:87.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: hafitria_571

Lunna itu cuma anak kelas sebelas SMA. Rada julid, lumayan kalem, irit komentar, tapi kadang bisa juga cerewet bin rempong. Tapi walau kadang mukanya keseringan datar, Lunna itu sebenarnya asyik kok.

Lunna punya temen cewe. Namanya Kira, panjangannya Arkiera, guru-guru sering salah manggil, disebut lebih bagusan kalau Aksara.

Lunna juga suka novel fantasi. Tapi apa dia tahu... kalau sihir itu sesungguhnya ada? Bahkan pada dirinya sendiri?

Lunna itu rahasia, misteri dengan sejuta kata.

Lunna itu berbahaya, tapi juga amat memesona.

Kau tahu legenda tentang Razenskalavia? Negeri dongeng yang jauh di dimensi sihir sana? Karena ternyata, Lunna adalah anggotanya....

'Hello, Bangsawan Razenskalavia... masih ingat dengan Mitos Balaur dan Wiz?'~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafitria_571, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 27

"Nona?"

Suara Nek Azu yang kembali menyapa membuat lamunan Lunna buyar. Ia mengerjapkan mata, lalu tersenyum kikuk.

"Saya hanya gadis biasa, Nek, sungguh," kata Lunna. Ia memang menjawab jujur, karena ia adalah gadis yang kebetulan punya kekuatan dan tanpa sengaja kesasar di dimensi ini.

"Nenek tahu, kau tidak sesederhana yang terlihat," Nek Azu menegakkan badan.

"Sejak awal nenek melihat kedatanganmu, nona, saat itulah nenek sadar, kau bukan gadis sembarangan, aura bangsawan terpancar jelas dari garis wajahmu, juga kucing itu..." jeda sebentar.

"Nenek yakin sekali itu kucing Wiz, hanya golongan tertentu yang bisa menjalin hubungan dengan hewan legenda itu," lanjut Nek Azu.

Lunna tertegun. Ia tak menyangka begitu besar arti hewan gemuk itu di mata Nek Azu. Apalagi dirinya, gadis bangsawan? Ia juga tak tahu garis keturunannya berdasarkan kakek dari pihak ibu. Mereka tak pernah bilang.

"Dan kau tahu apa yang membuat nenek semakin yakin?"

Lunna menggeleng. Ia menatap wajah serius Nek Azu dengan eskpresi sangat penasaran. Sedangkan Flynn, pemuda itu hanya berdiri diam di sana. Mendengarkan dan tidak ikut campur.

"Kekuatanmu." Nek Azu mengatakan itu dengan penuh penekanan. "Itu juga bukan kekuatan biasa, kemarilah..." pinta Nek Azu.

Lunna mendekat, kali ini duduk di samping Nek Azu. Nenek itu mengambil salep obat di tangan Lunna, lalu meletakkannya di atas nakas. Beliau meraih tangan Lunna. Melihatnya dengan kedua mata tuanya, memeriksa hal yang Lunna sendiri tidak mengerti.

"Benar sekali, kau tahu, gadis muda...ada dua jenis kekuatan di dimensi ini, pertama adalah kekuatan fisik. Itu adalah kekuatan yang tampak mata dan berefek pada setiap benda. Ada banyak macam kekuatan fisik, mulai dari elemen dasar seperti air, api, tanah, dan angin. Lalu elemen turunan seperti petir, topan, es, dan banyak lagi."

Nek Azu menggenggam tangan Lunna. Menyatukan kedua telapak tangan gadis itu di atas pangkuannya.

"Dan yang kedua adalah kekuatan non-fisik. Kekuatan itu hanya bisa berpengaruh terhadap makhluk hidup, seperti pembaca pikiran, pengendalian emosi, pengendali pikiran, ilusi, waktu, dan lainnya. Dua jenis kekuatan itu sama kuat, berbeda dan ada kelebihan serta kelemahan masing-masing."

"Apakah kekuatan saya masuk non-fisik, Nek?" tanya Lunna.

Nek Azu menggeleng. "Belum pasti. Bisa jawab jujur pertanyaan nenek?" pinta Nek Azu. Lunna mengangguk saja.

"Apa kekuatan itu bisa dilihat orang lain?"

"Tidak, Nek."

"Sama sekali tak ada pengecualian?" tanya Nek Azu lebih menelisik.

"Saya juga belum tahu, sejauh ini hanya saya yang bisa lihat," ungkap Lunna.

Nek Azu ber-ahh paham. "Apakah kekuatan itu bisa mengendalikan makhluk hidup?"

Lunna teringat akan roh jahat di Lembah Iblis. Mereka termasuk makhluk kan? "Bisa, Nek."

"Kalau benda tak hidup, selain kuali tadi, bisa?"

"Bisa, Nek."

"Kalau begitu semua ini jelas sekali," ungkap Nek Azu. Lunna menautkan alisnya, belum mengerti arah pembicaraan ini.

"Dia pengendali balaur?" Flynn berujar dengan ekspresi terkejut. Pemuda itu tak tahan untuk tidak menyuarakan kekagetannya. "Gadis ini?" ia masih belum percaya.

"Apa maksudnya itu, Nek?" tanya Lunna.

"Pengendali balaur adalah pemilik kekuatan legenda. Mereka punya kekuatan gabungan antara fisik dan non-fisik. Seperti dirimu, bukan kah kekuatan itu bisa dibilang fisik, tapi juga tergolong non-fisik, bukan?"

"Saya masih bingung," keluh Lunna. Kepalanya terasa mau meledak dengan semua informasi mengejutkan ini.

"Dengarkan ini baik-baik...apakah kau bisa kendalikan kekuatan itu?"

"Mungkin bisa," ragu Lunna.

Nek Azu terlihat tak puas. "Apa maksudnya mungkin?"

"Saya pernah kehilangan kontrol sampai mencelakai dua orang, tapi sekarang mulai stabil," ungkap Lunna. Mengenang kejadian pahit itu.

"Astaga, itu berbahaya sekali," Nek Azu menggeleng prihatin.

"Apakah seburuk itu, Nek?" tanya Lunna. Merasa takut dengan dirinya sendiri.

"Tidak juga, jika kau bisa mengendalikan kekuatan itu maka semua akan baik-baik saja."

Lunna tak mendapat ketenangan dari ucapan Nek Azu. "Apa nenek tahu siapa orang lain yang juga pengendali balaur? Mungkin saya bisa belajar darinya."

"Sayang sekali, pengendali balaur terakhir kali muncul seribu tahun lalu, dan sejak saat itu tak ada lagi pengendali legenda. Menghilang dan seakan menjadi dongeng tak nyata."

Bahu Lunna merosot kala mendengar fakta itu. Ia sendirian? Kenapa begitu? "Sekarang bagaimana, Nek? Saya bisa melukai orang lain sewaktu-waktu," kata Lunna.

Nek Azu menepuk pundak Lunna. "Sembunyikan kekuatan itu," perintahnya tegas.

Lunna terkesiap. "Kenapa, Nek?"

"Turuti saja, bukan hal bagus jika sepenjuru negeri tahu mengenai kekuatanmu," jawab Nek Azu.

"Apa ada yang salah dari kekuatan ini?" Lunna masih saja bingung. Ia seharusnya tidak bersembunyi kala dirinya tidak salah kan.

"Tidak ada yang salah, hanya mengantisipasi jika ada pihak yang ingin memanfaatkan dirimu, gadis muda. Paham?"

Lunna akhirnya memilih untuk mengangguk. Melihat Nek Azu yang sudah mulai mengantuk membuatnya tidak tega bertanya lebih lanjut.

"Nenek mau istirahat, jika kalian mau makan masaklah sendiri, nenek minta maaf tidak bisa membantu," kata Nek Azu.

Flynn terlihat tak keberatan, pemuda itu pamit untuk keluar kamar. Lunna pun hanya bisa pasrah, ia berdiri mengikuti apa yang Flynn lakukan. Meninggalkan Nek Azu di kamarnya untuk istirahat. Tapi saat ia hendak menutup pintu, suara Nek Azu menghentikan aktivitasnya.

"Oiya, nak! Berhati-hatilah, terutama dengan golongan bangsawan, mereka lebih licik daripada rakyat jelata," Nek Azu memberi peringatan keras.

Lunna mengangguk patuh. Lalu menutup pintu. Ia masih berdiri di sana untuk beberapa saat, menggenggam knop dan menempelkan dahi di permukaan kayu dengan ukiran sederhana sebagai penghias.

"Lunna?" Suara Flynn mengalun di udara.

"Hmmm?" sahut Lunna.

"Kau bisa masak?"

Lunna berbalik. Matanya memicing. "Kau minta makan?" tanyanya.

"Sudah malam...lapar," jawab Flynn pendek.

Lunna menghela napas. "Mau? Bantu dong!" kata Lunna kemudian.

Lunna pun beranjak ke dapur. Ia melihat kekacauan yang baru saja terjadi. Kuali yang ada di lantai, air menggenang di mana-mana, dan sayuran yang masih berserakan di atas meja.

Ia berdecak pelan, lalu mengangkat kuali itu kembali ke atas kompor batu setelah memastikan bahwa kaki penyangganya kokoh. Ia kemudian meneliti bahan-bahan apa saja yang masih bisa dipakai.

Sebagian besar masih dalam kondisi bagus, untung saja saat kuali itu jatuh, baru berisi air sup, belum diberi komponen lain. Jadi ia hanya perlu menyiapkan bumbu ulang dan kuahnya.

Flynn datang tak lama kemudian. Pemuda itu memasukkan kedua tangan di saku mantel. Melihat pekerjaan gadis yang secara mengejutkan adalah seorang pengendali kekuatan legenda. Ia masih belum percaya, gadis ini? Yang kelihatan ceroboh dan pengadu?

"Apa kau tahu bagaimana cara menghidupkan kompor kuno ini?" tanya Lunna.

Flynn sedang memandangi desain dapur, ia menoleh dengan raut bertanya.

Lunna memutar bola mata. "Apa kau bisa bantu?" tanyanya lagi.

"Apa?" tanya Flynn balik.

"Api! Buat masak!" geram Lunna.

Flynn berjalan mendekat. Tanpa basa-basi ia menciptakan petir kecil di tangannya, kilatan listrik itu bercahaya di sekitar jemarinya. Lalu kemudian ia melepas petir itu ke arah perapian kompor.

Bussss

Suara ledakan kecil saat petir menyambar bahan bakar membuat Lunna jantungan. Ia melotot sebal. Tapi Flynn yang di sampingnya terlihat tidak peduli.

1
Kgs Indra Rajasyah
Lanjutttt
✰‪ ⃟ ⃟ 🐝ε𝖗𝖑𝖎𝖓𝖆ᵉᶬʷ⋆᭄
semangat kakak, maaf baru bisa baca lagii 😊😊😊
🖤༒︎★𝕱𝖚𝖏𝖔𝖘𝖍𝖙★༒︎🖤
Gambar amuba fix kelas gw banget 😂😂😭😭
nazaruddin thamrin
ada lanjutannya thor? Fresh Nazar mendukungmu. Ditunggu LIKE dan KOMEN mu ke novel PEMBALASAN SANG CEO dan HOT MAN ON CAMPUS. kita saling support terus ya.
Bintang Calista Putri
5 like 💞💓
Bintang Calista Putri
Keren ceritanya kak
Bintang Calista Putri
Bagus kak ceritanya
Bintang Calista Putri
Keren kak thor
Bintang Calista Putri
Hmmm
Rachel Ichza Cullen
masih ada kelanjutannya ga kak author cerita ini??
Rachel Ichza Cullen: sambunggin donk thorr..kerennn tauuu
total 2 replies
Rachel Ichza Cullen
asinn..hahahaaa
Rachel Ichza Cullen
bahasanya gaul khas bocah zaman now yaa... semngat thor
🌻Ruby Kejora
5like dulu...nanti q sambung lagi.
like blk karyaku ya
cinta rasa covid -19
the Thunder's love
🌻Ruby Kejora
hai thor...q datang mendukung mu.like setia mendarat
Riana Nazwa
ceritanya bagus kak aku suka

bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Yuli
ayo thor semangt update ny aq 😘tunggu lho😘😘😘baru mampir dah ska ceritanya
Lade eunoia
like 🥰 ditunggu up selanjutnya
Ezrahi
selamat Thor
mampir ya
Dian Anggraeni
mantap tor ! lanjut dong 👏👏👍👍👍
Ls
hadir thor.. like ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!