NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sementara suasana di rumah keluarga Arganta masih dipenuhi ketegangan...

Di sisi lain kota... Calista duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di ruang tunggu lantai lima.

Ruangan itu cukup luas.

Beberapa pelamar tampak sibuk membuka kembali berkas mereka. Ada yang berlatih menjawab pertanyaan wawancara. Ada pula yang terus-menerus memperbaiki penampilan di depan layar ponsel.

Sedangkan Calista... Ia hanya menatap nomor antrean yang berada di tangannya.

Nomor 17.

Jemarinya terasa dingin. Sudah hampir dua tahun ia tidak pernah melamar pekerjaan. Sejak menikah dengan Danis, ia menghabiskan waktunya mengurus rumah. Kini ia harus memulai semuanya dari awal.

"Nomor enam belas."

Suara petugas memanggil dari depan.

Seorang wanita berjas krem berdiri, lalu memasuki ruang wawancara.

Calista menarik napas panjang. Sedikit lagi...

"Gugup?"

Suara seorang wanita di sampingnya membuat Calista menoleh.

Seorang pelamar lain tersenyum ramah kepadanya.

Calista membalas dengan senyum tipis. "Sedikit."

"Wajar kok."

"Aku juga dari tadi deg-degan."

Calista mengangguk pelan. "Semoga kita sama-sama diterima."

"Aamiin."

Tak lama kemudian... Pintu ruang wawancara kembali terbuka. Pelamar nomor enam belas keluar dengan wajah lesu.

Petugas personalia berdiri sambil melihat daftar nama. "Nomor tujuh belas."

Jantung Calista berdetak semakin cepat. Ia berdiri perlahan. Mengusap telapak tangannya yang mulai berkeringat pada sisi rok panjang yang dikenakannya.

"Bismillahirrahmanirrahim...."

Ia melangkah masuk.

Di lantai paling atas... Arga masih duduk di balik meja kerjanya. Beberapa laporan telah selesai ia tanda tangani. Namun pikirannya masih sesekali teringat pada perempuan yang ditemuinya pagi tadi.

Tok...

Tok...

Tok...

"Masuk."

Dimas kembali memasuki ruangan. "Pak. Proses wawancara sedang berlangsung."

Arga mengangguk singkat.

"Lalu?"

"Ada satu kandidat yang menurut HR cukup menarik."

Arga tidak terlalu menanggapi. "Sesuai prosedur saja."

"Baik, Pak."

Dimas baru saja hendak keluar. Namun langkahnya terhenti ketika Arga kembali memanggil.

"Dimas."

"Ya, Pak?"

"Perempuan bernama Calista..."

"Iya, Pak?"

"...pastikan dia diperlakukan sama seperti pelamar lainnya."

Dimas sedikit terkejut. "Baik."

"Tidak ada perlakuan khusus." Arga mengangguk. "Aku hanya ingin prosesnya berjalan adil. Kalau dia memang layak... terima. Kalau tidak... jangan dipaksakan."

"Baik, Pak."

Setelah Dimas keluar...

Arga kembali memandang foto kecil pada berkas lamaran Calista. Entah mengapa... Ia berharap perempuan itu berhasil. Bukan karena rasa kasihan. Melainkan karena sorot mata Calista menunjukkan sesuatu yang jarang ia lihat sebelumnya.

Sementara itu...

Di ruang wawancara... Calista duduk tegak di depan tiga orang pewawancara.

Seorang pria berkacamata membuka berkasnya. "Nona Calista."

"Iya, Pak."

"Kami melihat nilai akademik Anda cukup baik. Namun ada jeda hampir satu tahun lebih tanpa pekerjaan."

Calista menundukkan kepala sejenak. "Saya menikah. Lalu mengurus rumah tangga."

"Kenapa sekarang kembali bekerja?"

Pertanyaan itu membuat Calista terdiam beberapa detik. Ia tidak mungkin menceritakan seluruh kenyataan. Karena itu ia memilih menjawab dengan tenang.

"Saya ingin mandiri. Saya ingin membangun hidup saya sendiri."

Ketiga pewawancara saling bertukar pandang.

"Kalau nanti pekerjaan ini berat?"

"Saya akan belajar."

"Kalau harus lembur?"

"Saya siap."

"Kalau mendapat tekanan?"

Calista tersenyum tipis. "Saya rasa... hidup sudah mengajari saya banyak hal."

Ruangan mendadak sunyi. Jawaban itu sederhana. Namun terdengar sangat tulus.

Salah satu pewawancara menutup map lamaran Calista.

"Baik. Terima kasih. Kami akan menghubungi Anda setelah proses seleksi selesai."

Calista berdiri. Membungkukkan badan dengan sopan. "Terima kasih atas waktunya."

Ia keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Entah diterima. Entah tidak. Yang penting... Ia sudah berusaha.

Sore harinya...

Calista baru saja tiba di kontrakan kecil yang ia sewa. Ruangan itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah kasur tipis. Lemari plastik. Dan kipas angin tua di sudut ruangan. Ia duduk di tepi kasur sambil memeluk lutut.

Ponselnya yang sejak tadi tergeletak di samping bantal tiba-tiba berdering. Nomor tak dikenal. Calista ragu beberapa detik. Lalu mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

"Selamat sore. Apakah benar dengan Ibu Calista?"

"Iya, benar."

"Saya Rika dari Divisi Human Resource PT Arga Pratama Group."

Jantung Calista langsung berdegup kencang.

"Kami menghubungi Anda untuk menyampaikan hasil wawancara hari ini."

Calista sampai menahan napas.

"Kami dengan senang hati menginformasikan bahwa Anda dinyatakan lulus seleksi."

Mata Calista langsung membesar. Tangannya gemetar. "A... apa?"

"Selamat, Bu Calista."

"Anda diterima bekerja sebagai staf administrasi. Besok pagi pukul delapan kami harap Anda sudah hadir untuk proses orientasi dan penandatanganan kontrak kerja."

Air mata langsung memenuhi kedua mata Calista. "Ba... baik, Bu."

"Terima kasih."

"Terima kasih banyak."

Sambungan telepon berakhir. Calista masih memandangi layar ponselnya.

Beberapa detik... Lalu perlahan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah.

"Alhamdulillah.... Ya Allah... Terima kasih...."

Ia menangis sambil tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Danis... Ia merasa masih ada secercah harapan yang Allah bukakan untuk hidupnya.

Di lantai paling atas gedung perusahaan yang sama, Arga berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Dimas menghampiri.

"Pak."

"Ya?"

"Nona Calista sudah menerima kabar."

Arga menoleh. "Dan?"

"Beliau diterima."

Arga mengangguk pelan. "Bagus."

Tanpa disadarinya... Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

Senyum yang bahkan sudah lama tidak pernah muncul di wajah seorang CEO yang dikenal dingin oleh seluruh karyawannya.

*

Malam mulai menyelimuti kediaman keluarga Arganta. Rumah mewah yang biasanya terang benderang itu terasa begitu sunyi. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul sembilan malam.

Ratna baru saja selesai menonton acara favoritnya. Ia meregangkan tubuh sejenak, lalu melirik ke arah dapur.

"Bi Minah!" Suara Ratna menggema ke seluruh ruangan.

Tidak ada jawaban. Ia kembali memanggil.

"Bi Minah!"

Masih sunyi. Ratna mengernyit. "Ini kemana sih Bi Minah?" Omel Ratna kesal.

Rania yang sedang sibuk memainkan ponselnya mengangkat kepala. "Kenapa, Ma?"

"Bi Minah ke mana?"

"Tadi sore katanya izin pulang. Anaknya demam."

Ratna baru teringat. "Oh iya..." Ia mendengus pelan. "Kalau begitu, suruh pembantu yang lain."

Rania menggeleng. "Yang lain juga sudah selesai kerja dari tadi dan udah pada pulang ma."

Ratna mendecak kesal. "Astaga... Masa rumah sebesar ini kosong?"

Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Sejak sore tadi ia belum sempat makan banyak karena sibuk menemani Sari. Kini rasa lapar mulai datang.

"Aduh... Mama ingin makan mi rebus."

Rania langsung tersenyum. "Pesan saja lewat aplikasi."

Ratna langsung menggeleng. "Tidak mau."

"Kenapa?"

"Sudah malam. Lagipula..." Ratna menghentikan ucapannya. Entah mengapa... Dalam benaknya tiba-tiba muncul sosok Calista. Biasanya... Jika malam-malam seperti ini ia merasa lapar, ia hanya perlu memanggil pelan.

"Calista."

Tidak sampai lima belas menit... Semangkuk mi rebus lengkap dengan telur setengah matang dan irisan daun bawang sudah tersaji di depannya.

Kalau sedang ingin bubur...bCalista akan membuatkannya. Kalau ingin roti bakar...bCalista juga menyiapkannya. Bahkan tanpa pernah menunjukkan wajah kesal.

Ratna menggeleng cepat, berusaha mengusir ingatan itu. "Cih. Perempuan itu memang kerjanya cuma di dapur."

Rania ikut menimpali. "Benar, Ma. Tidak usah mengingat dia lagi."

Ratna mengangguk. "Iya."

Namun beberapa menit berlalu... Tidak ada semangkuk mi yang datang.nTidak ada aroma makanan dari dapur. Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan.

Ratna akhirnya berdiri. "Ayo ke dapur."

"Ngapain?"

"Lihat ada makanan apa."

Keduanya berjalan menuju dapur. Begitu membuka tudung saji... Isinya kosong.

Ratna terdiam. "Mana makan malam?"

Rania ikut melihat. "Habis, Ma."

"Kenapa tidak ada makanan lain?"

"Mana Rania tau!"

Ratna mendengus, "Kamu masak sana! Mama lapar. Lagian kalau beli juga boros! Yang ada nanti uang mama habis. Lagian Danis lagi marah sama mama, jatah bulanan mama di potong sama dia." Kata Ratna.

Rania terbelalak. "Mama suruh aku masak?" Tunjuk Rania.

"Iya dong, siapa lagi coba? Kamu anak mama. Kalau nanti Sari udah nikah sama Danis, baru dia yang masak."

Rania menggelengkan kepalanya kencang. "Nggak! Enak aja. Yang ada kukuku rusak nanti." Ucap Rania dan melangkahkan kakinya pergi.

Ratna melotot. "Rania!!! Kamu mau kemana?! Jangan pergi!! Mama lapar!!"

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!