Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
HappyPuppy VS KucingHoki
Hari Sabtu, Sekar pulang ke Depok.
Ia membawa tas ransel, dua kotak vitamin dari Rio untuk jadwal terapi Ardian, dan satu foto Polaroid bunga melati yang belum jadi ditempel karena bunganya belum mekar. Ardian menatap tasnya di pintu Rumah Tan seperti tas itu mencuri sesuatu dari rumah.
"Senin pagi," kata Sekar.
"Aku tahu."
"Jadwal pijat hari ini sudah selesai. Kompres hangat juga. Obat malam ada di kotak putih. Kalau ada kesemutan atau nyeri, catat di sticky note, jangan pura-pura tidak ada."
"Aku bukan anak kecil."
"Anak kecil biasanya lebih jujur kalau sakit."
Ardian menatapnya.
Sekar tersenyum, lalu melambai. "Selamat berakhir pekan, Pak Tan."
Mobil yang membawanya ke Depok baru keluar dari gerbang ketika Rumah Tan terasa kembali besar.
Terlalu besar.
Di dapur, kulkas masih punya satu foto Dufan. Sticky note di tengah pintu menunggu pesanan makanan berikutnya. Di halaman belakang, melati dan mawar baru ditanam berdiri diam. Semua benda itu membuktikan Sekar pernah ada di sana, tetapi justru karena itu rumah terasa makin sunyi saat ia pergi.
Ardian duduk di depan jendela ruang tengah, ponsel di tangan.
Ia membuka WhatsApp.
Nama kontak Budiman Sekar masih tertulis formal, lengkap, seolah ia sedang menyimpan nomor vendor katering.
Ia menatapnya lama.
Lalu mengetik ulang nama kontak itu.
HappyPuppy.
Ia menatap hasilnya, wajah datar. Setelah dua detik, ia menambahkan emoji anjing kecil, lalu menghapusnya lagi. Terlalu kekanakan.
Ia menyimpan hanya HappyPuppy.
Di Depok, Rumah Budiman menyambut Sekar seperti pasar kecil yang bahagia. Dari depan Pijat Bahagia saja sudah terdengar suara Ama Budiman menegur Engkong Halim karena mengambil pisang goreng terlalu banyak, suara Tante Nana di telepon yang menanyakan kabar, dan bunyi sendok dari dapur.
Mama memeluk Sekar begitu ia masuk. Papa menepuk punggungnya, lalu memberi isyarat: makan dulu, cerita nanti.
Sekar menjawab dengan bahasa isyarat cepat: iya, iya, aku lapar.
Grup WA keluarga juga tidak kalah ramai.
Keluarga Bahagia
Tante Nana: Sekar pulang?
Ama Budiman: Sudah. Kurus.
Sekar: Ama, saya baru masuk rumah tiga menit.
Engkong Halim: Kalau di rumah orang kaya kurang makan, pulang saja.
Mama: Jangan ganggu anak baru duduk.
Tante Nana: Kirim foto.
Sekar mengirim foto sepiring nasi, ayam kecap, sayur asem, dan sambal.
Tante Nana: Bagus. Itu baru makanan manusia.
Sekar tertawa sampai bahunya turun. Di Rumah Tan, makan bisa menjadi strategi perang. Di rumahnya, makan berarti semua orang memasukkan lauk ke piringnya seolah tubuhnya punya ruang tanpa batas.
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini bukan grup keluarga.
KucingHoki: Sudah sampai?
Sekar memandangi nama itu. Tan Ardian memakai nama WA KucingHoki sejak entah kapan. Cocok, pikirnya. Kucing mahal, galak, susah makan, tapi diam-diam mau dielus kalau tidak mengaku.
Sekar membalas.
HappyPuppy belum tahu namanya berubah: Sudah. Masih hidup. Sedang diberi makan berlebihan.
KucingHoki: Bagus.
Sekar: Bagus saya hidup atau bagus diberi makan?
KucingHoki: Dua-duanya.
Sekar berhenti mengunyah.
Kalimat itu sederhana sekali. Tidak ada kata manis. Tidak ada stiker hati. Tetapi karena datang dari Tan Ardian, rasanya seperti orang dingin itu meletakkan selimut tipis tanpa bilang apa-apa.
Sekar membalas dengan stiker anjing kecil yang berlari membawa sendok.
Di Rumah Tan, Ardian menatap stiker itu.
Ia tidak tersenyum.
Hanya sudut bibirnya bergerak sedikit.
Ia membalas dengan stiker kucing hitam yang duduk di atas tumpukan uang. Stiker itu sebenarnya milik Darren, entah kapan tersimpan di ponselnya.
Sekar mengirim voice note tujuh detik.
Saat Ardian memutarnya, suara Sekar terdengar di ruang tengah yang sunyi.
"Pak Tan, jangan lupa makan malam. Kalau tidak makan, saya lapor Dok Rio dan Pak Darren sekaligus."
Ardian langsung mengecilkan volume, padahal tidak ada siapa pun di ruangan.
Ia mengetik: Mengancam majikan saat libur?
Sekar: Menjaga pasien saat libur.
KucingHoki: Cerewet.
Sekar: Terima kasih.
Ardian menatap chat itu lama. Lalu ia melihat nama kontaknya sendiri di layar Sekar saat screenshot kecil muncul karena ia mengirim stiker. KucingHoki.
Ia tidak tahu kenapa merasa itu lebih menyenangkan daripada seharusnya.
Sore itu, setelah membantu Mama di dapur, Sekar keluar ke depan Pijat Bahagia untuk membeli es teh. Di depan warung, ia bertemu Gunawan Denny.
Denny memakai kemeja rapi meski hari Sabtu, rambut disisir dengan gel, dan jam tangan baru yang sengaja terlihat saat ia mengangkat plastik kopi.
"Sekar," katanya. "Pulang juga?"
"Iya. Libur."
"Kerja di rumah orang kaya enak?"
Sekar menatapnya. Nada itu lagi. Setengah bertanya, setengah menilai.
"Gajinya jelas," jawabnya.
Denny tertawa. "Aku juga sekarang di tempat bagus. PT Lestari Group. HRD."
Tangan Sekar yang memegang es teh berhenti sebentar.
"Serius?"
"Masa bohong soal perusahaan sebesar itu? Aku masuk bagian administrasi rekrutmen. Banyak data kandidat lewat meja kami. Kalau kamu dulu daftar ke sana, mungkin datamu pernah lewat aku juga."
Ia mengangkat bahu dengan gaya santai yang dibuat-buat. "Di HRD itu, satu klik bisa menentukan orang masuk tahap wawancara atau hilang dari daftar. Makanya harus kenal orang dalam."
Sekar mengernyit. "Aku memang pernah daftar."
Denny tersenyum, terlalu cepat. "Oh ya? Sayang ya, malah jadi pengasuh. Tapi tidak apa-apa, yang penting masih sekitar keluarga Tan. Siapa tahu nanti naik."
Sekar tidak suka cara ia mengatakan "naik", seolah posisinya sekarang tangga belakang yang memalukan.
"Setiap pekerjaan halal punya harga diri," katanya.
Senyum Denny sedikit kaku. "Aku cuma bercanda."
"Bercanda juga bisa dipilih yang tidak merendahkan."
Ia mengambil es teh dan kembali ke rumah tanpa menunggu jawaban.
Malamnya, ketika Rumah Budiman sudah lebih tenang, Sekar duduk di lantai ruang tengah sambil mengirim foto piring kedua pada Ardian.
Sekar: Lihat. Ini porsi manusia.
KucingHoki: Itu porsi empat orang.
Sekar: Salah. Ini porsi anak pulang kampung.
KucingHoki: Kamu akan sakit perut.
Sekar: Kalau sakit, saya lapor Dok Rio juga. Biar adil.
Ardian mengetik, berhenti, lalu mengetik lagi.
KucingHoki: Tadi bertemu siapa?
Sekar heran. Ia belum cerita apa-apa, tetapi mungkin suara di voice note berikutnya terdengar berbeda. Ia menekan tombol rekam.
"Tadi ketemu Denny, tetangga lama. Dia pamer kerja di PT Lestari Group, HRD bagian administrasi rekrutmen. Lucu juga ya. Aku dulu daftar Business Development, katanya mungkin dataku pernah lewat dia."
Voice note itu masuk.
Di Rumah Tan, Ardian memutarnya sampai selesai.
Ruangan yang tadi sunyi berubah tajam.
Ia menatap buku catatan kulit cokelat di meja. Halaman "Selidiki: siapa yang mengubah CV-nya?" masih terbuka.
Ardian mengambil pulpen.
Di bawah pertanyaan itu, ia menulis dua kata.
Gunawan Denny. HRD.