Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 20_SANDRA DI RANJANG SUTRA
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 20_SANDRA DI RANJANG SUTRA
Sinar matahari pagi yang cerah perlahan menerobos masuk melalui celah tirai jendela kamar suite nomor 402, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas lantai karpet beludru. Namun, kehangatan pagi itu tidak mampu membangunkan Cinta yang masih terlelap lekat di bawah selimut tebal.
Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, rasa lelah yang teramat sangat langsung menyergap seluruh persendian tubuhnya.
Tubuhnya terasa lemas, dan efek dari malam penebusan yang begitu intens dan mendominasi bersama Ethan benar-benar menguras seluruh energinya hingga habis tanpa sisa.
Cinta melirik jam digital di meja nakas. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Di hari biasa, dia seharusnya sudah rapi dengan setelan kerja dan stiletto Louboutin-nya, siap duduk di meja barunya di dalam ruangan Tuan Maxim.
Namun pagi ini, jangankan bersiap ke kantor, untuk sekadar mengangkat kepalanya dari bantal saja Cinta merasa tidak sanggup.
"Persetan dengan kantor," gumam Cinta dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Dengan jemari yang terasa berat, dia meraih ponsel kerjanya di atas meja nakas. Cinta mengetikkan sebuah pesan singkat yang ditujukan kepada divisi personalia dan juga dikirimkan ke ruang kerja CEO, menyatakan bahwa hari ini dia terpaksa bolos tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Senyuman tipis dan licik perlahan terukir di bibir pucatnya setelah menekan tombol kirim.
Di dalam hatinya, Cinta merasa ini adalah keputusan yang sempurna. Selain karena tubuhnya yang memang sudah remuk redam, bolos kerja juga merupakan bagian dari strategi barunya untuk membalas sikap "jual mahal" Tuan Maxim kemarin sore.
Dia ingin melihat seberapa terganggunya sang CEO dingin itu saat mendapati kubikel di dalam ruangannya kosong seharian ini.
Setelah mengirim pesan, Cinta memutar tubuhnya ke samping, menghadap ke arah pria tegap yang masih berbaring di sebelahnya.
Ethan belum pergi. Pria misterius itu masih setia berbaring menyamping di atas ranjang king size bersamanya, dengan separuh wajah bagian atasnya yang tetap tertutup rapat oleh topeng hitam satin.
Cinta tersenyum manja melihat mainanku masih mengantuk di dekatnya. Baginya, Ethan adalah hak miliknya yang sudah dia kontrak secara eksklusif.
Cinta sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa dengan menahan Ethan tetap berada di ranjang hotel ini, secara otomatis Tuan Maxim juga ikut bolos tidak masuk kantor hari ini tanpa sepengetahuannya.
Di balik ketenangan tidurnya, batin Maxim sebenarnya sedang dilanda gejolak frustrasi yang luar biasa.
Ponsel bisnisnya yang dia sembunyikan di dalam saku celana di bawah tumpukan pakaian di lantai sejak tadi subuh sudah bergetar puluhan kali tanpa henti.
Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi Kencana Property Group. Sebagai CEO tertinggi, Maxim memiliki jadwal rapat penting dengan jajaran investor asing dari Jepang untuk membahas proyek akuisisi lahan bernilai triliunan rupiah pada pukul sepuluh pagi nanti.
Sekretaris kepercayaannya dan para manajer divisi pasti sedang panik setengah mati di kantor, mencari keberadaan sang bos besar yang mendadak menghilang bak ditelan bumi tanpa kabar atau jejak sedikit pun.
Maxim tahu dia harus segera bangkit, memakai topeng esnya, dan pergi ke kantor untuk menyelamatkan rapat penting itu.
Namun, setiap kali dia mencoba menggeser tubuhnya untuk turun dari tempat tidur, rencana itu langsung digagalkan oleh wanita di sampingnya.
Cinta menolak melepaskan pelukannya.
Dengan manja dan posesif, Cinta melingkarkan kedua lengan lentiknya di sekeliling dada bidang Ethan yang telanjang, merapatkan tubuhnya yang polos di balik selimut putih tanpa menyisakan jarak sedikit pun.
Kepala Cinta tenggelam dengan nyaman di ceruk leher hangat Ethan, menghirup dalam-dalam aroma parfum kayu cendana yang menenangkan indra penciuman-nya.
"Ethan... jangan pergi dulu," bisik Cinta mendayu dengan mata yang kembali terpejam perlahan, suaranya terdengar sangat manja dan penuh perintah yang mengikat. "Hari ini aku bolos kerja. Kamu juga tidak boleh bekerja di klub malam atau menemui wanita lain. Tetap di sini dan temani aku tidur sebentar lagi."
Mendengar bisikan manja dari Cinta, sepasang mata hitam Maxim di balik topeng satin perlahan terbuka. Dia menatap lekat-lekat pada puncak kepala Cinta yang bersandar pasrah di dadanya, lalu beralih melirik ke arah pakaian kerjanya yang berserakan mengenaskan di lantai kamar.
Sebuah helaan napas berat yang sarat akan kepasrahan sekaligus gairah posesif yang pekat keluar dari tenggorokan sang CEO.
Sifat gila kendali dan harga diri besarnya sebagai penguasa properti terbesar di negeri ini mendadak lumpuh total hanya karena rengkuhan lengan kecil dari seorang wanita.
Rapat penting bernilai triliunan rupiah dengan para investor asing itu mendadak terasa tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kehangatan tubuh Cinta yang sedang mendekapnya erat saat ini. Ego besarnya kalah telak untuk kesekian kalinya.
Maxim menyadari bahwa wanita di pelukannya ini selalu berhasil mengacak-acak kewarasan dan memegang kendali atas hidupnya, entah saat dia menjadi bos di kantor maupun saat menjadi Ethan bertopeng di ranjang hotel.
Persetan dengan rapat. Persetan dengan bisnis. Jika Cinta menolak melepaskannya, maka Maxim dengan senang hati akan membiarkan dirinya menjadi sandera di atas ranjang sutra ini sepanjang hari.
Tangan kekar Maxim yang besar dan kokoh perlahan bergerak naik. Bukannya mendorong Cinta menjauh agar dia bisa pergi menyelamatkan kariernya, Maxim justru membalas pelukan itu. Dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Cinta, menarik tubuh wanita itu semakin rapat dan tenggelam ke dalam dekapan dadanya yang hangat.
Maxim mencondongkan wajah bertopengnya ke bawah, memberikan sebuah kecupan yang sangat lembut, lama, dan posesif di puncak kepala Cinta, membiarkan jemarinya mengusap pelan rambut hitam panjang wanita itu yang berantakan di atas seprai.
"Baik, Kakak Cantik," bisik Maxim dengan suara baritonnya yang diubah menjadi sangat patuh dan manja sebagai Ethan, meskipun ada seringai manipulatif yang terukir samar di sudut bibirnya yang tersembunyi.
"Saya tidak akan pergi ke mana-mana hari ini. Saya akan tetap di sini, menjadi milik Anda sepenuhnya selama yang Anda mau."
Cinta mempererat pelukannya di dada Ethan, mengulas senyum kemenangan yang manis di dalam tidurnya yang mulai kembali lelap.
Dia merasa sangat bangga karena berhasil menjinakkan mainan mahalnya dengan begitu mudah, tanpa pernah tahu fakta yang sesungguhnya di balik dinding hotel mewah ini.
Di dalam keheningan pagi yang membingungkan itu, sekat antara kenyataan dan ilusi kini benar-benar melebur tanpa batas. Muncul sebuah teka-teki tak kasat mata yang sangat membingungkan; siapakah yang sebenarnya telah benar-benar berhasil ditaklukkan malam ini? Apakah sosok Ethan yang kini pasrah terkurung di dalam sangkar emas milik Cinta karena kata-kata manjanya? Ataukah justru Cinta sendiri yang sebenarnya sedang terkurung semakin dalam di dalam sangkar emas tak kasat mata milik seorang Tuan Maxim?
Permainan api di antara mereka kini tidak hanya membakar habis seluruh kewarasan, tetapi juga perlahan mengunci mati nasib mereka berdua di dalam lingkaran obsesi yang berbahaya.