Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsen yang posesif
"Udah mau selesai acaranya, ya?" Arsen mengganti topik ketika Ananta masih terlihat canggung gara gara ucapannya tadi.
Tadi dia ngga sengaja mampir ke butik underwear ketika selesai meeting di mall. Saat melihat underwear yang dipamerkan ketika melewati butik itu, pikiran kotornya langsung membayangkan Ananta. Arsen bahkan membeli setengah lusin.
Ananta melirik Arsen sebelum menjawab pertanyaannya. Laki laki itu tampak lelah. Dia hanya mengenakan kemeja putih tanpa dasi yang dipadukan dengan celana kain abu abu muda. Penampilannya lebih merakyat, tidak terlihat seperti seorang CEO yang berkuasa, malah seperti karyawan biasa yang habis kerja lembur karena dipaksa menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang harus kelar secepatnya.
"Sebentar lagi." Ananta berusaha menormalkan degup jantungnya yang makin bergemuruh.
Tinggal menghitung hari saja pernikahan mereka. Ananta yang awalnya hanya ingin memenuhi kewajibannya sebagai anak dengan menuruti permintaan orang tuanya, sekarang mulai merasa takut. Arsen yang dulunya dia pikir tidak akan menggubris pernikahan mereka, ternyata sekarang malah pro aktif.
Teringat lagi kejadian tadi malam yang masih membuat tubuhnya meremang. Rona merah tipis terlihat jelas di pipinya.
"Ini gratis, ibu kepala sekolah yang membayarnya," ucap Arsen terus terang.
"Bisa temani aku beli yang lainnya? Seperti milikmu?" lanjutnya lagi.
Ananta melirik stand yang dia datangi tadi sudah rame dengan ibu ibu wali murid dan ada beberapa pendidik yang lainnya juga di sana.
"Kayaknya udah mau abis." Ananta mengitari stand stand dengan tatapannya.
"Oooh .... Benar benar terlambat, ya," keluh Arsen kecewa.
"Kita ke sana aja," tunjuk Ananta sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Arsen. Da butuh bergerak. Semakin lama berdiam di sana bersama Arsen membuat otaknya tambah setres membayangkan pernikahannya nanti.
"Oh, oke." Arsen menjejeri langkah Ananta. Dia melirik kemeja berkerah Ananta dan desir angin nakal yang tiba tiba berhembus membuatnya bisa melihat bagian dada yang terbuka lewat jarak kancing yang terenggang cukup jauh.
Arsen menghela nafas ketika matanya menatap kulit putih yang semalam sudah dir@banya dengan ujung jarinya. Gadis itu hanya mengenakan bra pink tanpa kaos dalam di balik kemejanya. Hasrat kelaki lakiannya tiba tiba bangkit.
Tiba tiba hati Arsen merasa panas, membayangkan sudah pasti banyak tatap nakal yang seperti dirinya mampir ke sana
Gadis itu tidak menyadari tatapan menggelap Arsen di sana. Terus saja melangkahkan kakinya. Karena di pikiran Ananta saat ini lebih aman kalo mereka tidak hanya berdua saja.
"Kenapa kamu tidak mengenakan kaos dalam?" sengat Arsen.
Haaa? Pertanyaan macam apa ini? Ananta menatap Arsen kesal dengan lontaran pertanyaan yang dianggapnya tidak berbobot.
"Itu," tunjuk Arsen langsung pada bagian yang.sedikit terbuka, tapi bisa membuat pikirannya travelling kemana mana.
Ananta tersadar pada bagian yang terbuka itu, spontan dia merapatkannya dengan jari jarinya. Pipinya memanas. Dia malu.
Sudah sejak kapan Arsen melihatnya?
"Kamu pasti ngga tau, kan, sudah berapa banyak laki laki yang menatapnya," semprot Arsen datar.
Ananta mendelikkan matanya. Dia tau dia salah. Tapi dia ngga terima diingatkan dengan cara seperti ini. Lagi pula momen ini tidak dia sengaja.
"Mereka hanya melihat, ngga seperti seseorang." Ananta membalas lebih galak tatapan Arsen tanpa menghentikan langkah kakinya. Dia menyindirnya.
"Aku ngga suka milikku dilihat dengan gampang oleh orag lain," tandas Arsen dingin.
Ya, ampun. Paling terbuka setengah centi aja. Itu juga ngga disengaja. Kenapa ribet amat, sih, omel Ananta dalan hati. Dia frustasi, karena semua penjelasannya mental di depan Arsen.
Padahal Arsen pasti sudah sering melihat yang lebih terbuka dari ini; pikirnya kesal.
"Kamu sering berpenampilan begini?" cecar Arsen lagi. Kalo boleh jujur sekretaris dan staf di perusahaannya lebih parah dari Ananta. Tapi egonya tersentil kuat hanya karena dia Ananta.
"Biasanya aku pake rompi, tadi aku tinggalkan di ruangan." Hari ini cukup terik, jadi Ananta pikir ngga masalah hanya mengenakan kemeja katun ini saja saat berkeliling. Lagi pula ngga semua laki laki berpikiran kotor seperti Arsen. Ananta mencari pembenaran dalam hatinya.
Yang Ananta ngga tau, efek melihat bagian yang sedikit terenggang itu sudah membuat Arsen pusing berat karena dorongan alami h@sratnya.
"Nanti akan aku kirimkan baju baju yang lebih sopan untuk kamu kenakan saat mengajar," cicit Arsen lagi. Masih belum bisa meredakan rasa panas di dalam dadanya.
"Ngga perlu. Bajuku masih banyak," tolak Ananta cepat. Ananta sudah bisa membayangkan betapa posesifnya Arsen.
"Baju yang akan aku kirimkan tidak ada kancing di bagian dadanya," tegas Arsen ngga mau dibantah dan ngga terima penolakan.
Ananta diam, tidak membantah lagi karena hanya akan semakin memancing emosi Arsen. Apalagi langkah mereka sudah mendekati stand yang akan mereka tuju.
Karena Ananta sudah tidak membantah lagi, Arsen tidak mencecarnya lagi.
Mereka sekarang berada di stand gantungan kunci yang lucu lucu. Ada beberapa pendidik laki laki dan orang tua siswa di sana, yang juga sedang memilih gantungan kunci yang akan mereka beli.
Ananta merasakan tatapan penuh selidik mereka padanya. Karena selama ini Ananta tidak pernah dekat dengan laki laki mana pun selama di sekolah. Apalagi statusnya yang masih single.
Tapi melihat penampilan Arsen yang seperti karyawan biasa membuat mereka tidak menduga macam macam.
"Sudah dijemput pengawalnya, ya, bu," tegur salah satu guru pendidik laki laki.
Apa? Pengawal? Ananta kaget mendengarnya, tapi detik berikutnya Ananta menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar.
Ananda tidak menjawab, tapi dia merasakan aura laki laki di sampingnya jadi beda. Posisi Arsen semakin mendekat.
"Pasti papanya Bu Ananta ngga mau anaknya di dekati laki laki sembarangan," kekeh salah satu ibu wali murid.
Ananta tersenyum lagi meresponnya.
"Ini bagus Bu Ananta." Pendidik laki laki itu memberikan sebuah gantungan kunci bergambar miki mouse, mencoba peruntungannya.
Ananta bingung, belum mengulurkan tangannya untuk mengambilnya. Dia merasa tatap mata Arsen melarangnya.
"Ini lebih bagus." Suara berat Arsen membuat mereka semua menoleh padanya.
Pria yang disangka pengawal itu langsung saja menyelipkan gantungan kunci berbentuk hati yang berwarna merah darah itu ke tangan Ananta
semangat😉
cerita keluarga baru apa?