Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
“Belajarlah yang rajin, jangan memikirkan hal lainnya. Aku akan menjemputmu nanti,” ucap Maxime lembut sebelum Selina keluar dari mobil.
Selina yang sejak semalam memasang wajah sedih itu mengangguk. Matanya menatap Maxime yang mendekatkan wajahnya dan melabuhkan kecupan di keningnya itu.
“Max,” lirih Selina yang tak ingin orang lain melihatnya.
Namun, Maxime sama sekali tak peduli. Setelah ia puas mengecup kening Selina, ia membiarkan selina keluar.
Helena yang diam diam sudah menunggu Selena di samping gerbang masuk tempat kuliah Selina itu melihat semua adegan itu.
Tangannya mengepal erat. Namun, ia mencoba terlihat tetap tenang, dan tidak kehilangan kendali seperti yang ia lakukan saat mendatangi apartemen Maxime.
“Bisa kita bicara,” ucap Helena langsung saat Selina baru saja hendak melangkah masuk gerbang.
Selina yang medengar itu terkejut. Ia menolehkan kepanya, matanya bergetar saat melihat Helena.
[“Tuan, anda benar benar layak mendapatkan piala oscar,”] komentar sistem saat melihat betapa halusnya akting Selina.
“Kak_”
“Jangan mengatakan apa pun dulu saat ini. Ikutlah denganku ke cafe sebrang,” selanya cepat.
Ia bahkan tak lagi menyebut dirinya sebagai kakak. Memikirkan jika wanita di depannya adalah adik kandungnya, ia benar benar merasa jijik.
Bagaimana bisa adik kandungnya bisa merebut suaminya? Bahkan tidur dengan suaminya? Itu benar benar menjijikan.
Baginya, siapa pun boleh menjadi orang ketiga dalam hubungannya. Tapi, tidak dengan adiknya. Karena menurutnya, ia sudah berbaik hati merawat adiknya selama ini.
Ia bahkan lupa, dalam hubungannya dengan suami sahabatnya, ia juga tidak layak menjadi orang ketiga. Siapa pun bisa menjadi penghancur hubungan antara sahabat dan suaminya itu, tapi tidak boleh dengan dirinya.
Karena selama ini, sahabatnya lah yang diam diam membantunya. Tidak hanya mebantunya memperbaiki namanya di luar, bahkan membantunya agar keluarganya bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik, sampai seperti memiliki usaha sebasar sekarang.
Tapi, apa yang dipikirkannya saat itu? Alih alih merasa bersalah, atau berpikir untuk menjadi pelindung bagi sahabatnya.
Ia malah merasakan perasaan iri, dan bersumpah akan merebut apa pun yang disukai sahabatnya itu.
***
“Apa kau merasa bangga?” tanya Helena dengan dagu terangkat.
Matanya menatap Selina yang dimatanya seolah menatap seonggok sampah.
Selina yang tahu jika Helena memandang rendah dirinya tak menjawab. Namun, sorot matanya terlihat tenang.
“Selina, kau harusnya menjadi orang yang tahu diri,” lanjut Helena dengan nada merendahkan.
“Kau harus ingat, siapa yang selama ini selalu ada untukmu,” cibirnya yang benar benar merasa jijik.
Mengingat apa saja yang sudah ia lakukan untuk merawat adiknya, ia benar benar menyesal. Jika dia tahu akan berakhir seperti ini, harusnya ia membunuh adiknya saat masih kecil.
“Kau tidak seharusnya mengambil suamiku. Bahkan tidur dengannya,” ucapnya penuh penekanan.
Kebencian dimatanya benar benar tak bisa ia tutupi lagi. Matanya bahkan tampak ingin keluar dari rongganya.
Selina yang sejak tadi diam memiringkan kepala. Seperti yang sering ia lakukan di masa lalu. Menatap kakaknya dengan pandangan polos.
“Apa Kakak marah?” tanyanya masih dengan nada lembut.
Helena yang medengar itu mengepalkan tangan kuat. Jika ini bukan di tempat umum, ia sudah pasti akan melempar gelas ke wajah Selina yang harus ia akui lebih cantik dibanding wajahnya.
“Kau masih bertanya?” nafas Helena memburu. Matanya menatap seolah Selena adalah wanita idiot.
“Selina, kau tahu dengan jelas, kakak menyukai Maxime sejak dulu. Dan kau ... beraninya kau tidur dengannya, dan menjadi simpanannya!”
Selina berkedip. Ia menatap Helena dengan ragu. “Tapi, Kak ... bukankah Kakak sendiri yang menyuruhku mengejar pria itu?”
Mata helena melebar. “Apa maksudmu aku sendiri yang menyuruhmu mengejar suamiku! Kapan aku mengatakannya.”
Selina menunduk. Jari jarinya saling bergesekan, menunjukan seberapa besar rasa bingungnya saat ini.
“Saat itu, saat kakak mengetahui jika pria yang mengambil ke per4wananku sudah memiliki istri.”
Deg!
Wajah Helena berubah pucat. Matanya bertemu dengan tatapan Selina yang tetap terlihat jernih, dan murni. Bahkan setelah wanita itu tidur dengan suaminya.
“Aku sudah mengatakan tidak akan memiliki hubungan dengan pria beristri. Tapi, kakak malah mengatakan yang sebaliknya. Kakak bahkan mengatakan, hanya wanita yang tidak dicintalah yang layak disebut simpanan.”
Tenggorokan Helena tercekat. Matanya menatap Selina dengan tatapan marah. Ia bahkan tak bisa menyangkalnya, karena semua itu memang kata kata darinya.
“Kak, aku tidak mengejar Max_ ekhm, maksudku kakak ipar. Kakak ipar lah yang mengejarku. Dia bahkan mendengar sendiri saat kakak membujukku untuk mengejarnya. Aku ... aku juga tidak bisa mengelak kak.”
Mata Helena memerah. Tangannya terangkat, bersiap untuk menampar selina. Namun, selina dengan cepat menghindar, membuat Helena hanya bisa memukul udara kosong.
“Kenapa Kakak mau menamparku?” tanya selina bingun sedikit ketakutan.
“Kau .... kau benar benar tidak tahu malu!”
Selina menunduk. Ia mengerucutkan bibir. “Kan sudah aku bilang, merebut suami orang itu tidak baik. Tapi, Kakak yang memaksaku untuk merebutnya. Sekarang, lihat Kakak ipar sudah mendengarnya. Jika aku menolak kakak ipar, bukankah aku sedang menampar wajah kakakku sendiri.”
Nafas Helena berantakan. Ia tak pernah tahu, sifat polos dan naif adiknya suata saat akan membuatnya kehilangan kata kata, dan merasakan rasa sakit yang luar biasa.
“Tapi Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan tetap membiarkan Kakak menjadi istri kakak ipar. Jika Kakak ipar ingin menceraikan kakak, Kakak hanya perlu memberitahuku. Aku akan memarahi kakak ipar, dan kakak ipar pasti tidak akan menceraikan kakak,” jelasnya dengan senyum lebar.
Seolah tak menyadari, setiap kata yang ia lontarkan seperti pisau yang menusuk setiap sel dalam tubuh Helena.
Helena yang tiba tiba merasa familiar dengan kata kata itu merasa tubuhnya kembali gemetar.
Kata kata ini ia pernah melontarkannya pada sahabatnya di masa lalu. Tapi, bukan saat ia berselingkuh dengan suami pertama sahabatnya, tapi dengan suami kedua sahabatnya.
“Kak, bukankah aku adikmu yang baik? Aku tidak akan merebut suami kakak,” lanjut Selina seolah tak melihat perubahan ekspresi Helena.
Namun, Helena yang sudah kehilangan akal langsung berdiri. Ia menyambar gelas yang ada di depannya, melemparkannya ke arah Selina yang dengan sigap dihindari oleh wanita itu.
“J4lang! Aku akan membunuhmu!” teriaknya benar benar tak lagi peduli.
Di otaknya hanya ada satu, ia harus melenyapkan Selina. Membuat wanita itu menyesali seluruh perbuatannya saat ini.
“Kak, Kakak kenapa? Bukankah aku tetap membiarkan kakak menjadi istri kakak ipar, kenapa kakak semakin marah?” tanyanya cemas.
Namun, bukannya tenang, Helena malah semakin marah. Ia melempar semua barang yang ada di depannya ke arah Selina, membuat Selina berteriak ketakutan dan pengunjung lainya menepi namun diam mengambil video itu.
[“Tuan, anda benar benar hebat dalam memancing amarah seseorang,”] komentar sistem saat melihat betapa histerisnya Helena saat ini.
Ia bahkan bisa membayangkan, jika video ini viral, tidak hanya Maxime yang marah karena Helena berani melukai Selina, tapi juga keluarganya karena tindakan Helena saat ini dianggap tidak pantas, dan mengancam kelangsungan saham keluarg.