Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di gerbang kampung
Menjelang Senja di Gerbang Kampung. Arga berdiri mematung di depan papan kayu itu.
"Kampung Ciburial."
Tulisan itu masih terlihat jelas meski sebagian permukaannya telah dipenuhi lumut. Sementara kalimat di bawahnya membuat bulu kuduknya meremang.
"Pendatang dilarang masuk setelah matahari terbenam."
Ia kembali menoleh ke langit. Semburat jingga mulai berubah menjadi kemerahan. Matahari tinggal sedikit lagi menghilang di balik punggung Gunung Ciremai.
Arga menghitung cepat. Kalaupun ia memaksa berjalan menuju kampung yang samar terlihat di kejauhan, belum tentu ia akan sampai sebelum gelap. Jaraknya masih cukup jauh. Medan di depannya juga tidak tampak mudah.
Ia menghela napas panjang.
"Jangan ambil risiko."
Kalimat itu teringat dari pesan seorang senior pecinta alam.
"Kalau sudah menjelang malam, berhentilah. Jangan memaksakan perjalanan hanya karena ingin cepat sampai."
Arga memutuskan tidak melanjutkan langkah. Tak jauh dari papan penunjuk itu terdapat tanah yang relatif datar, berada di bawah beberapa pohon besar. Tempat itu cukup terbuka sehingga ranting-ranting tua tidak terlalu mengancam jatuh saat malam nanti.
"Di sini saja."
Ia segera menurunkan ranselnya. Tangannya mulai bergerak otomatis, mendirikan tenda seperti yang telah ia lakukan malam sebelumnya. Meski tubuhnya lelah, pekerjaan itu selesai dalam waktu singkat. Saat azan Magrib seharusnya berkumandang di luar sana, yang terdengar di telinganya hanya desir angin yang melewati rumpun bambu. Arga berwudu menggunakan air yang telah dibawanya dari sungai kecil. Ia menggelar matras tipis di dalam tenda dan menunaikan salat dengan khusyuk. Usai berdoa, ia membuka sepotong roti dan beberapa keping biskuit. Ia ingin menghemat mi instan untuk keadaan yang benar-benar mendesak. Setelah makan, ia kembali meminum obat maag bersama sedikit air. Lambungnya sejak sore mulai terasa tidak nyaman.
"Awas kambuh lagi..."
gumamnya.
---
Sekitar pukul delapan malam, hutan berubah sangat sunyi. Tidak seperti malam sebelumnya. Entah mengapa, suasana di sekitar tenda terasa jauh lebih mencekam. Angin yang semula berembus pelan kini sesekali bertiup cukup kencang, membuat rumpun bambu saling bergesekan.
Krek...
Krek...
Krek...
Suara itu terdengar panjang. Kadang pelan. Kadang tiba-tiba keras. Arga mencoba meyakinkan dirinya.
"Itu cuma bambu."
Namun beberapa menit kemudian terdengar suara lain.
Tok...
Tok...
Tok...
Seperti ada sesuatu yang memukul batang bambu dari kejauhan. Ia menghentikan aktivitas menulis catatan di buku kecilnya.
Kepalanya terangkat.
Suara itu berhenti.
Lalu muncul lagi.
Tok..
Tok...
Tok...
Tidak beraturan. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Arga meraih senter yang berada di sampingnya. Namun ia mengurungkan niat membuka resleting tenda. Seniornya pernah berkata, rasa penasaran sering kali lebih berbahaya daripada ketakutan. Lebih baik tetap berada di dalam jika tidak ada keadaan darurat.
Ia mematikan lampu senter.
Berusaha memejamkan mata.
Namun lambungnya kembali terasa perih.
Lebih hebat daripada siang tadi.
Rasa panas menjalar hingga ke dada.
Arga meringis.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis.
Ia memegangi ulu hati sambil menarik napas perlahan. Persediaan obat tinggal satu tablet. Ia menatap strip obat yang hampir kosong itu cukup lama.
Akhirnya ia memutuskan tidak meminumnya.
"Kalau malam ini masih bisa kutahan..."
"...obat ini harus disimpan."
Ia hanya meminum sedikit air hangat dari termos kecil yang masih menyisakan panas. Perlahan rasa nyeri itu mulai berkurang meski belum benar-benar hilang. Di luar tenda, suara bambu kembali bergesekan.
Krek...
Krek...
Sesekali terdengar seperti langkah kaki yang menginjak daun-daun kering.
Arga menahan napas.
Beberapa detik.
Lalu suara itu menghilang begitu saja.
Entah hanya hewan malam.
Atau memang hanya imajinasinya yang mulai dipengaruhi rasa lelah.
Malam terasa sangat panjang.
Pagi datang bersama udara yang sangat dingin. Arga membuka tenda dan mengembuskan napas lega. Tidak ada apa pun di sekitar lokasi kemahnya. Hanya daun-daun bambu yang berserakan akibat tertiup angin semalam. Ia segera merapikan perlengkapannya. Setelah sarapan beberapa keping biskuit dan seteguk air, perjalanan kembali dimulai. Kali ini ia memilih mengikuti jalur yang berada di balik papan penunjuk kampung.
Harapannya sederhana.
Semoga jalur ini benar-benar menuju permukiman.
---
Tak sampai satu jam berjalan, vegetasi hutan mulai berubah. Pepohonan besar berganti menjadi rumpun-rumpun bambu yang tumbuh sangat rapat. Batangnya menjulang tinggi. Daun-daunnya saling menutupi cahaya matahari. Jalur setapak hampir tak terlihat. Tanah dipenuhi daun bambu yang telah mengering. Setiap langkah mengeluarkan suara gemerisik. Suasana menjadi lebih sunyi. Bahkan burung pun hampir tidak terdengar.
Arga melangkah hati-hati.
Tongkat kayu di tangannya digunakan untuk memeriksa pijakan. Namun daun-daun bambu yang menutupi tanah membuatnya sulit melihat permukaan sebenarnya.
Bruk!
Kaki kirinya tiba-tiba amblas. Tubuhnya terjatuh ke depan.
"Akh!"
Rasa nyeri yang luar biasa membuatnya spontan berteriak. Saat berusaha bangkit, ia melihat sebatang bambu yang patah mencuat dari dalam tanah. Ujungnya yang runcing telah menusuk betis kirinya. Darah merah segar segera mengalir membasahi celana trekking. Arga memejamkan mata beberapa detik.
Berusaha menahan panik.
"Napas..."
"Napas dulu..."
Ia perlahan mencabut kakinya dari batang bambu itu. Rasa perih langsung menjalar. Dengan tangan gemetar ia membuka kotak P3K kecil. Isinya tinggal beberapa lembar kasa steril, cairan antiseptik, plester gulung, dan perban elastis.
Ia menuangkan antiseptik ke luka.
Perihnya luar biasa.
Giginya menggigit ujung kaus agar tidak berteriak. Setelah darah mulai berkurang, ia menekan luka menggunakan kasa, lalu membalutnya sekuat mungkin dengan perban.
"Semoga cukup..."
Ia mencoba berdiri. Kaki kirinya masih terasa nyeri, tetapi masih mampu menahan beban tubuh. Berarti tulangnya tidak bermasalah. Ia mengucap syukur. Perjalanan kembali dilanjutkan. Kini setiap langkah terasa jauh lebih lambat.
Tongkat kayu menjadi penyangga utama.
---
Menjelang sore, rumpun bambu mulai berkurang. Perlahan pemandangan di depan berubah. Pepohonan tinggi berganti dengan barisan tanaman yang tertata rapi. Arga menghentikan langkahnya.
Matanya membelalak.
Hamparan kebun kopi membentang sejauh mata memandang.
Daun-daunnya hijau mengilap.
Buah kopi yang mulai memerah bergelantungan di setiap ranting. Ia tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian hari.
"Kebun kopi..."
Kalau ada kebun, berarti...
Pasti ada manusia.
Harapan yang sempat redup kembali menyala. Saat ia terus berjalan menyusuri tepi kebun itu, angin sore membawa sesuatu yang membuat matanya berkaca-kaca.
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Sayup-sayup...
Dari kejauhan.
Suara azan Magrib.
Sangat pelan.
Namun cukup jelas untuk membuat langkah Arga terhenti.
Ia memejamkan mata.
Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh.
"Itu..."
"...kampung."
Untuk pertama kalinya sejak tersesat di hutan kaki Gunung ini...
Arga mendengar tanda bahwa peradaban mungkin sudah sangat dekat.
Suara azan Magrib masih menggema samar ketika Arga melangkah menyusuri tepian kebun kopi.
Langkahnya tertatih.
Balutan di betis kirinya mulai berubah kemerahan. Darah masih terus merembes dari balik kasa yang dipasang seadanya beberapa jam lalu.bNamun kali ini, rasa sakit itu tidak lagi menjadi hal yang paling memenuhi pikirannya.
Kalau ada azan...
Berarti ada masjid.
Kalau ada masjid...
Berarti ada kampung.
Dan kalau ada kampung...
Maka perjuangannya bertahan hidup di hutan mungkin akan segera berakhir.
Arga mempercepat langkah meski kakinya memprotes.
Setiap pijakan terasa nyeri.
Sesekali ia harus berhenti untuk mengatur napas.
Langit semakin gelap. Di sela-sela tanaman kopi yang tertata rapi, akhirnya telinganya menangkap suara lain.
Suara manusia.
"...Besok petik yang sebelah utara saja."
"Iya, buahnya sudah banyak merah."
"Lihat cuaca dulu. Kalau hujan repot."
Arga membeku. Ia benar-benar mendengar percakapan. Bukan halusinasi. Bukan suara angin. Suara manusia. Dadanya langsung dipenuhi rasa lega. Ia mencoba berjalan lebih cepat menuju arah suara.
Namun baru beberapa langkah...
Perutnya kembali terasa seperti diremas.
"Ugh..."
Arga spontan membungkuk.
Nyeri di ulu hati datang jauh lebih hebat daripada sebelumnya.
Rasa panas menjalar hingga ke dada.
Mual menyerang bersamaan.
Ia menggenggam perutnya erat-erat.
"Bukan sekarang..." bisiknya lirih.
"Tolong... jangan sekarang."
Namun tubuhnya seolah tidak lagi mau diajak bekerja sama. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Keringat dingin mengucur deras. Napasnya memburu.
Belum sempat rasa nyeri itu mereda, tubuhnya mulai menggigil. Arga menyentuh dahinya.
Panas.
Demam.
Ia baru menyadari balutan di betis kirinya telah benar-benar basah oleh darah. Luka bambu itu rupanya masih terus mengeluarkan darah. Mungkin juga mulai terinfeksi. Kakinya terasa semakin berat. Setiap langkah seperti menyeret beban yang sangat besar.
Ia mencoba memanggil.
"Halo..." Suaranya hampir tidak terdengar.
Percakapan para petani tetap berlanjut. Tidak ada yang mendengar. Arga mengumpulkan sisa tenaganya. Mengambil napas panjang. Lalu berteriak sekuat yang ia mampu.
"Tolong...!" Suara itu menggema di antara kebun kopi.
Kemudian disusul sekali lagi.
"Tolong...!"
Hening beberapa detik. Lalu terdengar suara seseorang.
"Eh!"
"Itu suara siapa?"
"Ada orang!"
Langkah kaki berlari mulai terdengar dari balik tanaman kopi. Beberapa pria membawa keranjang panen bermunculan.
Wajah mereka dipenuhi kebingungan.
"Astaghfirullah..."
"Sini!"
"Masih muda."
"Ya Allah, kakinya berdarah."
Sebelum Arga sempat berkata apa-apa lagi, pandangannya mulai menggelap. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dan semuanya berubah menjadi hitam.