NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Pak Rafi bergerak cepat.

Begitu keputusan dibuat, ia mengambil map lama dari laci kantor kecil di belakang kasir. Surat over kontrak, daftar inventaris, catatan sewa, sampai resep dasar yang boleh dialihkan sudah tersusun rapi. Orang seperti Pak Rafi mungkin gagal menjaga arus pelanggan, tetapi urusan administrasi ternyata tidak berantakan.

Arka membaca satu per satu.

Leon ikut melihat sekilas. Sebagai polisi, ia terbiasa mencium hal ganjil dari dokumen. Kali ini ia tidak menemukan jebakan.

"Bersih," kata Leon. "Sewa masih sisa delapan bulan. Kalau mau lanjut, pemilik ruko bisa diajak bicara."

Arka mengangguk. Ia menghubungi bank dari ponsel, memindahkan Rp550 juta ke rekening Pak Rafi, lalu menunggu notifikasi masuk.

Ketika ponsel Pak Rafi berbunyi, pria paruh baya itu memandang layar cukup lama. Matanya memerah.

"Mas Arka... uangnya sudah masuk."

"Mulai besok, Pak Rafi dan Ayu tetap buka seperti biasa. Saya akan bawa calon pengelola untuk melihat tempat. Nanti bagian kasir, belanja bahan, dan dapur dia pelajari dari kalian."

"Siap. Saya bantu sampai bisa." Pak Rafi menepuk dada. "Dua bulan, bahkan kalau perlu lebih, saya bantu."

Ayu berdiri di samping ayahnya. Pipi kirinya masih agak bengkak, tetapi matanya lebih terang.

"Saya juga akan bantu, Mas. Selama restoran ini masih berjalan, saya tidak keberatan."

Leon menatap Ayu dengan wajah yang sulit disembunyikan.

Arka melihat itu dan menahan senyum. Kali ini ia tidak menggoda lagi. Ada hal-hal yang lebih enak dibiarkan matang pelan.

Pak Rafi kemudian memaksa mereka duduk dan mengeluarkan makanan. Sop buntut dengan kuah bening pekat, ayam bakar bumbu rujak, tumis daun pepaya, sambal matah, dan ikan goreng kering yang kulitnya renyah. Untuk Leon, ia membuka satu kendi kecil arak beras buatan temannya di Bali.

Leon mengangkat gelas.

"Untuk pemilik baru."

"Untuk restoran yang tidak jadi ditutup," kata Pak Rafi.

Ayu ikut mengangkat teh hangat. "Untuk awal baru."

Arka menyentuhkan gelasnya dengan mereka.

Makanan itu tidak mewah, tetapi punya rasa rumah. Arka langsung tahu Yulia bisa mengubah tempat ini menjadi sesuatu yang lebih kuat. Dengan feng shui yang benar, menu yang lebih rapi, dan nama yang tepat, restoran kecil ini bisa menjadi pijakan pertama mereka.

Di tengah makan, ponsel Leon berdering.

Ia melihat layar, wajahnya langsung berubah serius.

"Ya?"

Suara di ujung sana pendek-pendek. Leon hanya mendengar, lalu berdiri.

"Aku ke sana sekarang."

Ia menutup telepon dan menatap Arka dengan rasa bersalah.

"Ada kasus. Liburku resmi mati."

"Pergi saja."

"Nanti kita minum lagi."

"Kalau tidak sambil razia hotel, boleh."

Leon batuk. Ayu hampir menunduk untuk menyembunyikan senyum.

"Itu tidak akan dibahas lagi."

"Tentu, Pak Leon."

Leon menunjuk Arka, lalu berbalik pada Pak Rafi dan Ayu.

"Pak, Ayu, aku pergi dulu."

"Hati-hati, Nak Leon," kata Pak Rafi.

Ayu hanya berkata pelan, "Jangan lupa makan kalau sudah selesai."

Leon berhenti sebentar, lalu mengangguk.

Setelah Leon pergi, Arka tinggal beberapa saat untuk membicarakan detail transisi. Ia meminta catatan supplier, biaya listrik, rata-rata pemasukan harian, dan jam ramai. Pak Rafi menjawab semuanya dengan jujur, termasuk bagian yang memalukan.

Menjelang siang, Arka pamit.

Angin di luar restoran terasa panas, membawa bau aspal dan kopi dari kios sebelah. Arka berdiri di trotoar, membuka ponsel, lalu menelepon Yulia.

Telepon tersambung setelah beberapa dering.

Suara Yulia masih sedikit serak. "Arka? Kamu belum pulang dari lari pagi?"

Arka tersenyum. Mengingat pagi tadi, ia tahu wanita itu mungkin baru benar-benar bangun.

"Ada kabar baik."

"Apa?"

"Tempat usaha sudah dapat."

Di ujung telepon, Yulia langsung hening.

"Secepat itu?"

"Namanya Dapur Lawas Kemang. Dekat dari apartemen. Tempatnya sudah jalan, peralatan lengkap, pemilik lama dan anaknya bersedia bantu dua bulan."

"Tunggu..." Suara Yulia terdengar makin sadar. "Kamu menyewa?"

"Aku ambil over kontrak dan usahanya sekalian."

"Arka."

"Uang masih aman."

"Itu pasti mahal."

"Tidak semahal membiarkan kamu melamar jadi kasir padahal kamu bisa punya dapur sendiri."

Yulia terdiam lagi. Kali ini heningnya lebih lembut.

"Aku takut tidak bisa."

"Takut boleh. Berhenti tidak."

"Kamu terlalu percaya padaku."

"Aku sudah makan masakanmu."

Yulia tertawa kecil. Suaranya membuat bahu Arka terasa ringan.

"Kalau begitu... aku akan belajar. Aku tidak mau membuat uangmu sia-sia."

"Bukan uangku. Investasi kita."

Kata `kita` membuat napas Yulia tertahan sebentar.

"Nanti kamu pulang?"

"Sore mungkin. Aku harus ke Lestari dulu."

"Baik. Aku tunggu."

Arka menutup telepon dan baru akan memesan mobil online ketika ponselnya berdering lagi.

Bianca Lestari.

"Bu Bianca."

Suara Bianca tetap dingin, tetapi ada ketegangan tipis di baliknya.

"Datang ke kantor. Setelah itu temani aku menemui seseorang."

"Siapa?"

"Seorang maestro ukir batu mulia. Orang-orang memanggilnya Empu Wira."

Arka mengangkat alis.

"Untuk imperial green?"

"Ya. Batu itu terlalu berharga untuk diberikan pada pengrajin biasa. Empu Wira sudah lama tidak menerima pesanan, tapi kalau ia bersedia, nilai seri perhiasan Lestari bisa naik berkali-kali lipat."

"Kalau tidak bersedia?"

"Maka kita pulang dengan wajah ditolak."

Jawaban itu terlalu jujur untuk Bianca. Arka bisa membayangkan wanita itu menatap jendela kantor dengan bibir dingin.

"Apa yang istimewa dari dia?"

Bianca terdiam sebentar.

"Selain menjadi pengukir batu mulia paling dihormati di Indonesia, ia punya cerita aneh. Konon ia sudah berkali-kali dinyatakan meninggal, lalu hidup lagi."

Arka berhenti di tepi jalan.

"Meninggal sungguhan?"

"Ada satu cerita paling terkenal. Ia pernah disemayamkan tujuh hari. Keluarga besar sudah datang, doa-doa sudah dibacakan. Pada hari ketujuh, ia bangun dari peti dan meminta kopi pahit."

Mata Arka menyala.

"Menarik."

"Aku pikir kamu akan tertarik."

"Saya ke kantor sekarang."

"Aku tunggu di parkiran basement."

Telepon terputus.

Tidak sampai satu jam kemudian, Cullinan hitam keluar dari basement Lestari Intimates. Arka berada di balik kemudi. Bianca duduk di kursi belakang, mengenakan setelan rok warna biru tua dengan potongan tegas. Rambutnya disanggul rendah, leher putihnya terlihat bersih, dan aroma parfumnya memenuhi kabin dengan tenang.

Ia tidak banyak bicara.

Arka melirik dari kaca spion.

"Empu Wira punya nama asli?"

"Wira Atmadja. Tapi hampir semua orang memanggilnya Empu Wira. Ia tidak suka diwawancarai, tidak suka jamuan, dan tidak suka orang terlalu banyak bicara."

"Berarti saya harus diam?"

"Sulit untukmu?"

"Tergantung. Kalau beliau sehat, saya diam. Kalau beliau sakit, saya bicara."

Bianca menatapnya dari kaca spion.

"Kamu selalu menemukan jalan untuk bicara."

"Itu bagian dari layanan konsultan."

Sudut bibir Bianca bergerak tipis.

Mobil meninggalkan pusat kota dan masuk ke kawasan perbukitan selatan Jakarta, menuju vila lama bergaya joglo modern yang berdiri di tengah halaman luas. Gerbang kayu jati tinggi, dinding batu alam, kolam kecil, dan suara gamelan pelan dari dalam membuat tempat itu terasa seperti rumah seseorang yang sengaja memisahkan diri dari dunia.

Seorang penjaga berpakaian hitam memeriksa identitas Bianca, lalu membiarkan mereka masuk.

"Empu ada di pendopo belakang," katanya. "Ikuti saya."

Mereka melewati lorong batu dan taman dengan pohon kamboja tua. Di pendopo belakang, seorang pria tua berambut putih duduk di kursi rotan dekat kolam. Tangannya memegang pancing bambu, matanya menatap air dengan tenang.

Bianca berhenti beberapa langkah darinya.

"Empu Wira, maaf mengganggu."

Pria tua itu tidak menoleh.

Bianca melanjutkan dengan suara rendah, sopan, dan terukur.

"Saya Bianca Lestari dari Lestari Intimates. Hari ini saya datang membawa bahan imperial green terbaik. Saya berharap Empu bersedia mengukir satu karya utama untuk seri perhiasan baru kami."

Pelampung di kolam bergerak sedikit.

Empu Wira tetap diam.

Bianca tidak menyerah.

"Saya tahu Empu sudah lama menutup tangan dari pesanan komersial. Tapi batu ini langka. Warnanya hidup, airnya bersih, dan ukurannya cukup untuk karya yang bisa diwariskan. Saya tidak ingin ia jatuh ke tangan orang yang hanya melihat harga."

Baru setelah itu Empu Wira berbicara.

"Nona Lestari, aku tahu siapa kamu."

Suaranya tua, tetapi tidak lemah.

"Aku juga tahu batu yang kamu bawa pasti bagus. Tapi tangan tua tidak selalu perlu membuktikan diri."

Bianca menahan napas.

"Jika ada syarat, saya bersedia mendengar."

"Syarat?" Empu Wira tertawa pelan. "Orang tua sepertiku tidak kekurangan uang, tidak kekurangan rumah, tidak kekurangan pujian. Yang kurang hanya waktu. Dan waktu tidak bisa dibeli."

Penjaga di samping memberi isyarat halus agar mereka mundur.

Bianca masih ingin bicara, tetapi Arka lebih dulu menatap punggung Empu Wira.

"Bu Bianca," katanya pelan, "beliau bukan tidak mau."

Bianca menoleh.

Arka melanjutkan, "Beliau tidak bisa."

Penjaga langsung melotot.

"Jaga mulutmu."

Arka tidak mundur.

"Empu Wira sakit."

Udara di pendopo berubah dingin.

Penjaga maju satu langkah. "Keluar sekarang."

Namun Empu Wira mengangkat tangan.

"Tunggu."

Penjaga berhenti.

Pria tua itu akhirnya menoleh sedikit. Matanya tajam, jauh dari mata orang yang sudah menyerah pada usia.

"Anak muda, kamu bilang aku sakit. Kalau begitu, katakan. Sakit apa?"

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!