NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Serangan resmi datang keesokan paginya.

Bukan dari media gosip.

Dari surat internal Dewan Komisaris Pradipta Group.

Surat itu mempertanyakan tiga hal: penghentian sepihak perawatan Dokter Hamzah, penggunaan dokter independen tanpa persetujuan keluarga besar, dan keterlibatan Alya dalam komunikasi publik Arga Pradipta.

Bahasanya sopan.

Isinya tuduhan.

Arga membaca surat itu dua kali, lalu meletakkannya di meja.

"Mereka cepat naik kelas."

Alya duduk di seberangnya. "Karena isu media tidak cukup."

"Mereka ingin membawaku ke forum resmi."

"Bukan kamu. Aku."

Arga menatapnya.

Alya menunjuk kalimat terakhir:

`Perlu dipastikan bahwa keputusan-keputusan terkait Arga Pradipta tidak dipengaruhi pihak yang memiliki konflik kepentingan melalui hubungan pernikahan baru.`

Arga tertawa pendek.

"Pihak itu kamu."

"Aku tersentuh mereka menyebutku pihak."

"Kamu tidak marah?"

"Marah nanti. Sekarang kita jawab."

Satria menelepon sebelum Alya menghubunginya.

"Kamu sudah lihat surat?"

"Sudah."

"Itu datang dari komisaris yang dekat dengan Daren. Tapi tidak semua komisaris setuju."

"Bapak?"

"Aku meminta rapat klarifikasi. Kalau mereka ingin formal, kita beri formal."

"Kapan?"

"Besok pagi."

Arga mendengar dari speaker. "Aku hadir."

Satria diam sebentar. "Kondisimu?"

"Cukup untuk duduk dan membuat orang menyesal."

Alya menatap Arga.

Satria tertawa kecil. "Istrimu menular."

"Dia guru yang buruk tapi efektif."

Alya berkata, "Arga hadir maksimal empat puluh lima menit. Dokter Mira ikut. Semua dokumen medis awal dibawa. Kita tidak menyerang dulu, hanya menjawab."

Satria bertanya, "Dan kalau mereka menyerang?"

"Baru kita buat mereka menyesal."

"Baik. Aku siapkan ruang."

Setelah telepon ditutup, Arga berkata, "Empat puluh lima menit?"

"Tiga puluh kalau kamu mulai sok kuat."

"Aku menyesal memujimu kemarin."

"Kamu tidak memujiku."

"Dalam hati."

"Tidak dihitung."

Rapat klarifikasi digelar di kantor pusat Pradipta Group lantai dua puluh satu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga masuk gedung itu bukan sebagai pasien yang diantar lewat lift belakang, tetapi sebagai anggota keluarga yang namanya ada di struktur pemegang saham.

Orang-orang menatap.

Beberapa terang-terangan.

Beberapa pura-pura sibuk.

Alya berjalan di sampingnya, membawa map hitam. Dokter Mira di belakang mereka. Yusuf menunggu di lobi.

Daren sudah berada di ruang rapat ketika mereka masuk.

Senyumnya profesional.

"Arga. Alya."

Arga duduk tanpa menunggu dipersilakan.

Alya duduk di sampingnya.

Di ruangan itu ada lima komisaris, termasuk Satria. Bima tidak hadir, tetapi mengirim kuasa tertulis bahwa Arga berhak memberi klarifikasi sendiri. Ratna tidak punya kursi di rapat, namun Alya yakin perempuan itu menunggu laporan dari banyak ponsel.

Komisaris bernama Bram membuka rapat.

"Kami menghargai kehadiran Tuan Arga. Rapat ini bukan untuk menghakimi, melainkan mencari kejelasan."

Alya menulis satu kata di catatan: `bohong`.

Arga melihatnya dan hampir tersenyum.

Bram melanjutkan, "Ada kekhawatiran bahwa perubahan perawatan dilakukan terlalu mendadak dan dapat membahayakan kondisi Tuan Arga. Selain itu, keterlibatan Nyonya Alya dalam komunikasi publik menimbulkan kesan bahwa Tuan Arga tidak mengambil keputusan sendiri."

Arga mengangkat tangan.

Bram berhenti.

"Saya ambil keputusan sendiri," kata Arga. "Saya menghentikan Dokter Hamzah karena obat tanpa label diberikan kepada saya bertahun-tahun. Saya menunjuk Dokter Mira karena saya ingin dokter yang bisa menjelaskan apa yang masuk ke tubuh saya. Saya meminta Alya membantu komunikasi karena selama ini orang lain berbicara atas nama saya tanpa pernah bertanya."

Ruangan hening.

Terlalu langsung.

Bram tampak tidak nyaman. "Kami memahami perasaan Tuan. Namun secara tata kelola keluarga--"

"Ini tubuh saya, Pak Bram. Bukan tata kelola keluarga."

Satria menunduk, menulis sesuatu.

Daren berkata lembut, "Arga, tidak ada yang ingin mengambil hakmu. Tapi semua orang khawatir karena perubahan terjadi setelah pernikahan. Wajar kalau muncul pertanyaan apakah Alya terlalu memengaruhimu."

Arga menatap kakaknya.

"Daren, saat aku tidak bisa bangun karena obat, apakah kamu pernah mempertanyakan siapa yang memengaruhiku?"

Daren diam.

Pukulan tepat.

Bram mencoba mengambil alih. "Dokter Mira, apakah penghentian obat dilakukan sesuai prosedur?"

Mira membuka berkas. "Obat tanpa label dan tanpa catatan komposisi tidak bisa disebut terapi yang sah. Setelah dihentikan, kesadaran pasien membaik. Pemeriksaan toksikologi awal menunjukkan adanya sedatif kuat dalam kadar yang perlu ditinjau."

Seorang komisaris lain bertanya, "Apakah ada bukti obat itu disengaja untuk memperburuk kondisi?"

Mira menjawab, "Saya dokter. Saya menyatakan risiko medis. Motif bukan bagian saya."

Alya membuka map. "Untuk motif, kami sedang mengumpulkan data tanggal pemberian dosis dan rapat keluarga."

Daren menatapnya. "Data dari mana?"

"Perawat lama dan catatan rumah."

"Apakah data itu sah?"

"Kalau Mas Daren ingin menguji sah atau tidak, kita bisa serahkan ke auditor forensik."

Satria langsung berkata, "Saya mendukung."

Bram menoleh. "Pak Satria--"

"Kalau rapat ini benar mencari kejelasan, audit forensik adalah langkah logis."

Ruangan berubah.

Daren tidak bisa menolak tanpa terlihat takut.

Alya menambahkan, "Kami juga meminta seluruh pembayaran terkait Dokter Hamzah, obat racikan, perawat, dan operasional kediaman Arga selama lima tahun terakhir dibuka kepada auditor."

Bram tampak tersedak. "Lima tahun?"

"Kalau terlalu berat, mulai dari tiga tahun. Itu periode obat cair rutin diberikan."

Daren berkata, "Ini melebar."

Arga menjawab, "Hidupku dibuat sempit bertahun-tahun. Biarkan sekarang melebar."

Satria menutup mapnya. "Saya usulkan audit terbatas tiga tahun, dengan opsi diperluas jika ditemukan indikasi."

Dua komisaris saling pandang.

Bram tidak senang, tetapi rapat sudah bergerak dari menyerang Alya menjadi membahas audit.

Itu tujuan Alya.

Empat puluh menit kemudian, rapat ditutup dengan keputusan: audit terbatas akan dipertimbangkan dan dibahas dalam rapat lanjutan. Tidak final, tetapi cukup untuk membuat Daren kehilangan kenyamanan.

Saat keluar ruang rapat, Daren menyusul mereka di koridor.

"Alya."

Arga berhenti.

Daren berkata, "Boleh bicara sebentar dengan istrimu?"

Arga menjawab, "Tidak."

Daren menatapnya. "Aku tidak akan memakannya."

"Kamu sudah mencoba memakan hidupku pelan-pelan. Aku tidak percaya seleramu."

Wajah Daren berubah.

Alya menyentuh lengan Arga. Napasnya mulai berat.

"Kita pulang," katanya.

Daren menatap Alya. "Kamu pikir audit akan menyelamatkanmu? Kamu membuka terlalu banyak pintu."

Alya menoleh.

"Mas Daren salah."

"Apa?"

"Saya tidak membuka pintu. Saya membiarkan orang melihat ruangan yang selama ini kalian kunci."

Ia membawa Arga pergi.

Di lift, Arga bersandar pada dinding, wajahnya pucat.

"Aku bicara lebih dari empat puluh lima menit?"

"Empat puluh tujuh."

"Kamu akan memarahiku?"

"Nanti. Setelah kamu duduk."

Arga menutup mata. "Tapi aku membuatnya diam."

Alya menahan senyum.

"Iya. Kamu membuatnya diam."

Untuk orang yang pernah dibuat tidur agar tidak hadir di rapat, itu kemenangan yang layak dicatat.

Di area parkir, Satria sudah menunggu dengan jaket kusut dan wajah kurang tidur.

"Daren keluar lewat pintu samping," katanya.

"Bagus. Orang yang tidak merasa kalah biasanya keluar dari pintu depan."

Satria melirik Arga. "Mas masih kuat?"

"Kalau jawab tidak, kalian akan menggendongku?"

"Aku akan panggil kursi roda."

"Berarti aku masih kuat."

Alya membuka pintu mobil, tetapi Satria menahan sebentar.

"Ada yang harus kamu tahu. Bagian legal lama mulai menarik arsip dari vendor klinik. Mereka mungkin mencari dokumen sebelum kita sampai."

"Biarkan."

Satria mengerutkan kening. "Kamu yakin?"

"Orang panik selalu meninggalkan bekas lebih banyak daripada orang yang tenang."

Arga duduk di jok belakang, napasnya pendek. "Vendor yang mana?"

"Nanti di rumah," kata Alya.

"Sekarang."

"Mas Arga."

Ia menatap Alya dari balik kaca mobil. "Aku hadir di rapat hari ini bukan supaya kalian kembali menyembunyikan hal buruk dariku."

Alya menarik napas. Satria pura-pura sibuk melihat parkiran.

"Baik. Ada dua vendor yang berhubungan dengan program kesehatan yayasan. Salah satunya muncul di daftar kunjungan Rafi."

Nama Rafi membuat wajah Arga berubah.

"Adik iparmu akan dijadikan jalan masuk."

"Mantan adik ipar," koreksi Alya.

Arga hampir tersenyum, tetapi matanya tetap serius. "Kalau dia masuk ke jebakan?"

"Maka kali ini dia masuk sambil membawa lampu."

Satria mengangguk pelan. "Aku akan pastikan lampunya tidak padam."

Mobil bergerak meninggalkan gedung. Di belakang mereka, rapat klarifikasi yang seharusnya menekan Alya berubah menjadi pintu audit. Di depan mereka, jebakan berikutnya sudah menunggu dengan nama orang yang pernah terlalu mudah percaya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!