NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 - Bella Menangkap Sendiri

Bella menemukan gelangnya di pergelangan perempuan lain.

Awalnya ia hanya ingin mencari Arman.

Sejak tagihan koperasi datang ke rumah Pak Hendra, Arman berubah dingin. Ia pulang terlambat, mudah marah, dan selalu berkata ada urusan dengan teman pelatihan. Setiap Bella bertanya, jawabannya sama.

"Kamu mau aku cari uang atau duduk di rumah mendengar tangismu?"

Bella berhenti bertanya selama dua hari.

Pada hari ketiga, ia melihat motor Arman parkir di depan warung soto dekat gang belakang pasar.

Motor itu mudah dikenali. Stiker kecil klub bola di spakbor belakang masih miring karena dulu dipasang Bella sendiri. Ia pernah merasa bangga duduk di jok itu, memeluk pinggang Arman, membayangkan tetangga melihatnya sebagai calon istri laki-laki dari keluarga terpandang.

Sekarang ia berdiri di seberang jalan dengan perut dingin.

Arman tidak duduk di warung.

Ia keluar dari rumah kos sempit di belakang warung, tertawa sambil merapikan kancing lengan. Di belakangnya seorang perempuan berambut sebahu mengikuti, membawa tas kecil warna merah.

Perempuan itu memakai gelang emas tipis.

Gelang seserahan Bella.

Bella melangkah sebelum sempat berpikir.

"Mas Arman."

Arman berhenti.

Perempuan itu juga berhenti, lalu melihat Bella dari kepala sampai kaki.

"Siapa ini, Mas?"

Kata "Mas" dari mulut perempuan itu membuat telinga Bella panas.

"Aku istrinya," kata Bella.

Arman cepat mendekat. "Bella, jangan bikin ribut di sini."

"Gelangku kenapa ada di tangan dia?"

Perempuan itu menunduk melihat pergelangan tangannya, lalu tersenyum kecil.

"Oh, ini? Mas Arman bilang hadiah."

Bella merasa napasnya hilang.

Arman menoleh tajam pada perempuan itu. "Maya, masuk dulu."

Maya mengangkat alis. "Kenapa? Katanya sudah tidak ada masalah di rumah."

Bella menampar Arman.

Suara tamparan itu membuat tukang soto menoleh. Dua pembeli berhenti menyuap. Seorang ibu di warung sebelah langsung pura-pura memilih cabai, tapi matanya tidak lepas dari mereka.

Arman memegang pipinya.

"Kamu gila?"

"Aku yang gila? Kamu bawa gelangku untuk perempuan lain!"

"Itu cuma gelang kecil!"

"Itu seserahanku!"

"Seserahan dari uang siapa?" Arman mendesis. "Uangku. Uang keluargaku. Kamu pikir karena sudah dipakai sebentar, semuanya jadi milikmu?"

Bella mundur setengah langkah.

Dulu, saat Nadia menuntut hak atas uang lamaran, Bella pernah menganggapnya serakah. Sekarang, ketika gelang di tangannya sendiri berpindah ke perempuan lain, ia baru mengerti rasanya melihat hak dianggap barang pinjaman.

Ia ingin berteriak bahwa mahar dan seserahan seharusnya menjadi tanda ia dihargai. Tapi lidahnya kelu. Selama ini ia ikut menertawakan Nadia yang meminta haknya ditulis jelas. Sekarang ia berdiri tanpa catatan, tanpa saksi yang memihak, hanya dengan gelang yang bahkan bisa diberikan Arman ke perempuan lain sambil menyebutnya hadiah.

Maya menyilangkan tangan.

"Mas, kalau ribet begini, aku pulang."

"Diam," bentak Arman.

Maya tersinggung. "Aku yang disuruh diam? Istrimu datang teriak-teriak, aku yang salah?"

Bella menatap Maya. "Kamu tahu dia sudah menikah?"

Maya tertawa pendek.

"Semua orang pasar tahu. Kamu yang merebut dia dari kakakmu itu, kan?"

Wajah Bella panas seperti disiram minyak.

Orang-orang semakin banyak melihat. Beberapa mengenali namanya. Ia mendengar bisik-bisik yang dulu selalu ia takutkan.

"Itu Bella."

"Yang waktu lamaran itu?"

"Baru juga akad..."

Bella menggenggam tasnya.

"Mas, pulang sekarang."

Arman mendekat, suaranya pelan tapi keras.

"Jangan mengatur aku di depan orang."

"Aku istrimu."

"Istri yang membuat hidupku berantakan."

Bella terpaku.

Arman terus bicara, seolah semua rasa malu di rumah Pak Hendra akhirnya menemukan pintu keluar.

"Kalau malam itu kamu tidak menangis dan memaksa semua orang menikahkan kita, aku tidak akan dikejar-kejar biaya kontrakan. Aku tidak akan dipaksa tanda tangan utang. Aku tidak akan ditertawakan Om Raka dan istri gilanya itu."

"Aku memaksa?" Bella hampir tidak percaya. "Kamu yang bilang cinta."

"Karena kamu menangis."

"Kamu bilang tidak mau menikahi Kak Nadia."

"Memang tidak mau. Tapi bukan berarti aku mau hidup seperti ini."

Kalimat itu memotong sesuatu di dada Bella.

Ia melihat Arman, laki-laki yang ia rebut dengan keyakinan penuh. Di kehidupan lalu, ia membayangkan Arman sebagai jalan keluar dari rumah Pak Darto, dari bayang-bayang Nadia, dari status anak bawaan yang selalu harus manis agar diterima.

Ia tidak pernah membayangkan jalan keluar itu punya kamar kos bau rokok dan perempuan bernama Maya.

Bella menatap gelang di tangan Maya.

"Lepaskan."

Maya mendengus. "Minta ke suamimu."

Bella maju, tapi Arman menahan lengannya.

"Cukup. Jangan mempermalukan aku."

"Aku yang dipermalukan!"

"Kamu sudah biasa mempermalukan orang."

Arman mengatakannya begitu saja.

Bella terdiam.

Di wajah Arman tidak ada penyesalan. Hanya kesal karena tertangkap.

Maya memanfaatkan diam itu untuk melepas gelang. Ia melemparkannya ke arah Bella. Gelang jatuh ke tanah, terkena kuah soto yang tumpah dekat selokan.

"Ambil. Aku tidak suka barang yang bikin ribut."

Bella berjongkok mengambilnya. Jari-jarinya terkena kuah berminyak. Ia membersihkan gelang itu dengan ujung kerudungnya, tapi noda tetap menempel.

Beberapa orang tertawa pelan.

Arman menarik napas kasar.

"Pulang. Sekarang."

Bella berdiri. "Kamu ikut."

"Aku ada urusan."

"Dengan dia?"

"Dengan hidupku."

Bella menatapnya lama.

Lalu ia berjalan pergi.

Ia tidak tahu ke mana. Kakinya membawanya melewati pasar, melewati kios kain Bu Wening, melewati toko obat. Di depan kios kain, Nadia sedang memilih benang bersama seorang pegawai.

Nadia melihat Bella.

Matanya turun ke gelang kotor di tangan Bella, lalu naik ke wajahnya.

Bella langsung menyembunyikan gelang itu.

"Jangan lihat aku seperti itu."

Nadia tidak berkata apa-apa.

Justru diam itu membuat Bella makin sakit.

"Kamu puas?" Bella bertanya.

Nadia meletakkan gulungan benang.

"Aku tidak melakukan apa pun."

"Tapi kamu tahu ini akan terjadi."

"Aku tahu Arman seperti apa."

"Kenapa dulu kamu tidak bilang?"

Nadia menatapnya. "Malam lamaran, kalau aku bilang Arman busuk, kamu akan percaya?"

Bella tidak bisa menjawab.

Karena jawabannya tidak.

Ia akan menuduh Nadia iri. Ia akan menangis di depan Bu Ratna. Ia akan memeluk lengan Arman dan berkata cinta mereka tulus.

Nadia mengambil kantong belanjaannya.

"Pulanglah sebelum Bu Lilis tahu dari orang pasar."

Bella menggigit bibir sampai sakit.

"Kamu tidak mau menolongku?"

Nadia berhenti.

"Menolongmu dari apa? Dari laki-laki yang kamu pilih sendiri, atau dari malu yang dulu kamu timpakan padaku?"

Bella tidak menjawab.

Di kepalanya, muncul malam lamaran itu: dirinya menangis di lantai, Arman menggenggam tangannya, Nadia berdiri di tengah ruangan seperti orang yang baru saja kehilangan semuanya. Saat itu Bella merasa menang karena semua mata tertuju padanya. Sekarang ia baru sadar mata orang banyak tidak selalu berarti pembelaan. Kadang itu hanya tontonan.

"Aku tidak tahu dia seperti ini," bisiknya.

Nadia menatapnya tanpa iba murahan.

"Kamu tahu cukup banyak untuk mengambilnya. Kamu hanya tidak mau tahu sisanya."

Bella tersentak. Kata-kata itu tidak keras, tapi masuk lebih dalam daripada tamparan di depan warung.

Untuk pertama kali, Bella tidak menemukan kalimat manis untuk membela dirinya. Semua alasan yang biasa ia pakai mendadak terdengar murahan bahkan di telinganya sendiri.

Dan pasar terlalu ramai untuk pura-pura tidak mendengar.

Bella merasakan mata orang-orang di kios menoleh.

Nadia tidak meninggikan suara, tapi setiap kata terdengar jelas.

"Kalau kamu mau menyelamatkan diri, lakukan karena kamu sadar. Jangan datang padaku hanya supaya aku membereskan akibat pilihanmu."

Bella ingin membalas, tapi dari ujung jalan terdengar suara Bu Lilis.

"Bella!"

Bu Lilis turun dari becak motor dengan wajah pucat dan marah. Rupanya kabar bergerak lebih cepat daripada kaki Bella.

Di tangan Bu Lilis ada ponsel. Entah siapa yang menelepon, tapi matanya sudah tahu terlalu banyak.

"Apa yang kamu lakukan di pasar sampai orang menelepon Ibu?"

Bella menggenggam gelang kotor itu.

Untuk pertama kalinya sejak merebut Arman, ia merasa bukan sedang menang dari Nadia.

Ia hanya berdiri di tengah pasar, menjadi tontonan, sementara nasib yang ia kira milik orang lain mulai menempel di kulitnya sendiri.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!