Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Lampu auditorium meredup, tetapi pandangan orang-orang justru terasa semakin terang di kulit Meiran.
Wanyu berdiri di sisi panggung dengan mikrofon. Di belakangnya, slide susunan acara berganti menjadi `Sesi Pengenalan Konsep`. Setiap peserta diberi waktu satu menit untuk memperkenalkan gagasan awal, lalu panitia akan memberi satu pertanyaan klarifikasi.
Satu menit.
Cukup untuk membuat orang terlihat siap.
Cukup juga untuk membuat orang dipermalukan jika salah langkah.
"Kita mulai dari peserta nomor lima," kata Wanyu dengan suara manis. "Lo Hafeng."
Beberapa peserta menoleh. Urutan nomor di layar sebenarnya dimulai dari nomor satu. Wanyu melewati empat orang begitu saja.
Koordinator acara di meja depan tampak sedikit terkejut, tetapi Wanyu sudah tersenyum ke arah kursi peserta.
Hafeng berdiri.
Meiran menyandarkan punggung ke kursi. Menarik.
Jika Wanyu ingin membuka dengan Hafeng, berarti ia ingin meminjam aura Hafeng terlebih dahulu. Entah untuk memperlihatkan kedekatan lama, entah untuk membuat panggung berikutnya terasa lebih berat bagi Meiran.
Hafeng berjalan ke panggung dengan map hitamnya. Ia tidak melihat Wanyu. Ia langsung berdiri di depan mikrofon utama.
"Konsep saya adalah ruang jeda urban untuk pengguna kampus dan pekerja sekitar," katanya. Suaranya datar, jelas, tanpa upaya memikat. "Fokusnya pada pengurangan kebisingan, jalur duduk singkat, dan transisi visual dari area ramai ke area istirahat. Desain tidak dimulai dari bentuk, tapi dari ritme pengguna."
Tidak ada kalimat panjang.
Tidak ada hiasan.
Namun ruangan mendengarkan.
Ketika waktunya hampir habis, Wanyu mengangkat mikrofon. "Menarik. Ko Hafeng, apakah ada pengalaman personal yang memengaruhi konsep itu? Mungkin dari masa kecil, dari tempat yang dulu sering kamu datangi?"
Pertanyaan itu terdengar lembut.
Tetapi Meiran langsung tahu arah jarumnya.
Masa kecil. Kenangan lama. Wilayah yang ingin diklaim Wanyu.
Hafeng menatap Wanyu.
"Tidak."
Satu kata itu jatuh seperti pintu ditutup.
Senyum Wanyu menegang.
Hafeng melanjutkan, "Konsep ini dari observasi lapangan minggu lalu. Kalau panitia butuh data, saya lampirkan di proposal."
Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Bukan mengejek keras, tetapi cukup untuk membuat pipi Wanyu berubah sedikit.
Hafeng turun dari panggung tanpa menunggu pertanyaan kedua.
Saat ia lewat di dekat kursi Meiran, ia berhenti sesaat.
"Jangan pakai kalimat panjang," katanya pelan.
"Aku tidak minta saran."
"Aku tahu."
"Tapi kamu tetap memberi."
"Karena kamu akan naik setelah ini."
Ia kembali ke kursinya.
Benar saja, Wanyu menatap daftar peserta dengan senyum yang sudah rapi lagi.
"Selanjutnya, peserta nomor tiga. Lim Meiran."
Ruangan bergerak halus. Ada yang membetulkan posisi duduk, ada yang membuka ponsel untuk merekam. Nama Lim Meiran selalu membawa dua hal sekaligus: rasa ingin tahu dan prasangka.
Meiran naik ke panggung dengan map tipis dan satu lembar kartu kecil berisi QR code. Ia meletakkan map di podium, lalu menatap auditorium.
"Konsep saya adalah ruang jeda untuk pengguna yang tidak punya hak penuh atas waktu mereka sendiri."
Kalimat pertama membuat beberapa orang mengangkat kepala.
Meiran melanjutkan, "Mahasiswa yang menunggu kelas sambil kerja paruh waktu. Staf administrasi yang hanya punya sepuluh menit sebelum loket dibuka lagi. Pengemudi online yang menunggu order tanpa tempat duduk layak. Mereka tidak butuh ruang yang membuat orang berfoto. Mereka butuh tempat yang mengizinkan tubuh berhenti sebentar tanpa merasa diusir."
Di baris tamu, Yanting menurunkan pandangan ke catatan, lalu tersenyum tipis.
Hafeng tidak tersenyum. Ia menatap Meiran seperti sedang menghitung setiap kata.
"Material saya pilih dari produk lokal dengan permukaan mudah dirawat, panel akustik sederhana, dan modul duduk yang bisa dipasang ulang. Biaya harus masuk akal karena konsep ini tidak boleh berhenti sebagai gambar cantik."
Timer di layar menunjukkan delapan detik.
Meiran mengangkat kartu QR code. "Data awal berasal dari tiga puluh tujuh respons singkat. Dokumen persetujuan responden dan ringkasan jawaban sudah saya unggah untuk panitia."
Waktunya habis tepat saat ia menurunkan tangan.
Ada jeda kecil.
Lalu tepuk tangan muncul dari beberapa kursi peserta, menyebar cukup cepat untuk membuat Wanyu harus menunggu sebelum bicara.
Wanyu mengangkat mikrofon. "Konsep yang sangat... sosial. Aku hanya ingin memastikan, Meiran. Kamu berasal dari keluarga besar dan terbiasa dengan proyek berskala tinggi. Bagaimana kamu memastikan suaramu tidak mewakili pandangan orang yang melihat masalah ini dari atas saja?"
Pertanyaan itu lebih tajam daripada sebelumnya.
Hafeng langsung menegakkan punggung.
Meiran memegang podium dengan santai. "Dengan cara bertanya kepada orang yang mengalaminya."
"Tentu. Tapi tiga puluh tujuh respons bisa sangat terbatas."
"Benar."
Jawaban itu membuat Wanyu berhenti sebentar.
Meiran melanjutkan, "Karena itu aku tidak menyebutnya penelitian final. Aku menyebutnya data awal. Dalam proposal, data itu menjadi dasar observasi lanjutan, bukan klaim mutlak. Kalau panitia membaca file yang sudah aku kirim, hal itu tertulis di halaman dua."
Beberapa peserta mulai membuka ponsel, memindai QR code yang masih terlihat di layar panggung.
Wanyu masih tersenyum. "Aku hanya takut orang salah mengira ini sudah sangat ilmiah."
"Kalau begitu bagus kamu bertanya di depan semua orang." Meiran memiringkan kepala sedikit. "Sekarang semua orang tahu mana data awal, mana klaim final. Transparansi seperti ini penting, kan?"
Kalimat itu mengembalikan pisau Bab sebelumnya dengan rapi.
Di baris tamu, Yanting menutup mulutnya dengan punggung tangan, menahan tawa.
Hafeng tidak menahan. Ia hanya menunduk sebentar, tetapi bahunya bergerak kecil.
Wanyu melihatnya.
Mata Wanyu bergerak dari Hafeng ke Meiran. Kali ini, senyumnya benar-benar kehilangan kehangatan selama satu detik.
"Baik. Terima kasih, Meiran."
"Sama-sama."
Meiran turun dari panggung.
Saat ia melewati baris peserta, seorang mahasiswi berbisik, "QR-nya rapi banget."
Yang lain menjawab, "Aku kira dia cuma pakai nama keluarga."
"Ternyata siap."
Komentar itu tidak keras, tetapi cukup terdengar oleh Wanyu.
Meiran kembali ke kursinya. Hafeng tidak langsung bicara. Ia hanya mendorong botol air di bawah kursinya dengan ujung sepatu, mendekatkannya ke sisi Meiran.
Meiran menatap botol itu.
"Punyamu?" bisiknya.
"Belum dibuka."
"Aku tidak haus."
"Suaramu kering setelah bicara."
"Kamu mendengar suaraku sampai segitunya?"
Hafeng menatap panggung. "Auditoriumnya bergema."
Alasan yang buruk lagi.
Namun Meiran mengambil botol itu dan minum seteguk.
**【Sistem Predator】Respons target: proteksi nonverbal, perhatian setelah tekanan publik.**
Nilai Cinta: 19.
Meiran hampir tersedak.
Hafeng langsung menoleh. "Pelan."
"Aku tahu cara minum."
"Baru saja tidak terlihat begitu."
Ia mengambil tisu dari saku mapnya dan menyerahkan tanpa melihat wajah Meiran. Tisu itu dilipat rapi, seolah sudah disiapkan sejak awal.
Meiran menerimanya. "Kamu membawa tisu untuk sesi presentasi?"
"Orang bisa berkeringat."
"Atau tersedak karena sistem menyebalkan."
"Apa?"
"Tidak ada."
Di panggung, Wanyu kembali membaca susunan acara. Suaranya profesional lagi, tetapi kali ini setiap kata terdengar sedikit lebih kaku.
"Setelah seluruh peserta memperkenalkan konsep, kita akan masuk ke sesi meja kritik. Panitia membagi peserta berdasarkan tema desain dan potensi pengembangan."
Slide berikutnya muncul.
Daftar kelompok.
Meiran membaca cepat.
Meja Kritik B:
Lim Meiran.
Lo Hafeng.
Dua peserta lain.
Panitia pendamping: Soe Wanyu.
Tangan Hafeng yang memegang map langsung berhenti bergerak.
Wanyu mengangkat wajah dari mikrofon dan menatap mereka dari panggung.
Senyumnya kembali.
Meiran menutup botol air dengan perlahan.
Ternyata panggung belum puas hanya menjadi saksi.
Sekarang, panggung itu ingin menyeret mereka ke meja yang sama.