NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011

Terlalu Melindungi

"Mungkin bukan setengah."

Yola menatap Sekar selama tiga detik, lalu menutup buku dengan pasrah.

"Baik. Mulai hari ini, kalau lo tiba-tiba lupa rumus matematika, gue salahkan Kevin."

Sekar tertawa pelan. "Jangan begitu."

"Kenapa? Pacar lo sudah mengambil fokus sahabat gue."

Kata pacar masih membuat jantung Sekar berdenyut kecil setiap kali terdengar. Ia menunduk, pura-pura menata alat tulis, tetapi Yola jelas melihat semuanya.

Kabar mereka jadian tidak meledak dalam satu hari. Ia menyebar pelan, lewat mata siswa yang melihat Kevin membawakan tas Sekar, lewat meja kantin yang sekarang punya formasi tetap, lewat gerbang samping tempat Kevin menunggu setiap pulang sekolah.

Pada hari ketiga, bahkan siswa kelas lain sudah mulai menoleh ketika Sekar lewat.

Sekar berusaha tidak terganggu.

Kevin jauh lebih tidak terganggu.

Saat pelajaran olahraga, kelas Sekar memakai lapangan bersama kelas sebelah. Pak Arief menyuruh siswa pemanasan sementara beberapa anak laki-laki mengambil bola basket dari gudang. Udara pagi sudah panas, membuat permukaan lapangan memantulkan cahaya putih.

Sekar berdiri di dekat garis tepi bersama Yola, mengikat rambutnya lebih tinggi.

"Pacar lo di sana," bisik Yola.

Sekar tidak perlu menoleh untuk tahu. Kevin berdiri di sisi lapangan lain, kemeja olahraga sekolahnya longgar, rambut birunya diikat asal dengan karet hitam. Ia seharusnya mendengarkan instruksi Pak Arief, tetapi matanya beberapa kali mencari Sekar.

Ketika mata mereka bertemu, Kevin mengangkat dagu sedikit.

Sekar membalas dengan senyum kecil.

"Ya ampun," Yola bergumam. "Gue benar-benar jadi saksi hidup."

Latihan dimulai biasa saja.

Sampai salah satu siswa laki-laki dari kelas sebelah melempar bola terlalu keras. Bola itu memantul dari papan ring, meleset, lalu melaju ke arah tepi lapangan tempat Sekar berdiri.

"Awas!" seseorang berteriak.

Sekar baru menoleh ketika bayangan bola sudah dekat.

Sebelum ia sempat mundur, tangan Kevin menangkap bola itu tepat di depan wajahnya.

Suara telapak tangannya menghantam permukaan bola terdengar keras. Sekar merasakan angin kecil dari gerakan itu menyapu pipinya.

Lapangan mendadak diam.

Kevin berdiri di sampingnya, entah kapan berlari dari sisi seberang. Napasnya tidak terengah, tetapi rahangnya mengeras.

"Main pakai mata," katanya pada siswa yang melempar bola.

Anak itu langsung pucat. "Maaf, gue nggak sengaja."

Pak Arief meniup peluit. "Kevin, jangan bikin takut temanmu. Itu memang tidak sengaja."

Kevin menatap bola di tangannya, lalu melemparkannya kembali dengan kekuatan yang terkendali. Bola itu jatuh tepat di tangan anak tadi.

"Makanya hati-hati."

Pak Arief melirik Sekar. "Kamu baik-baik saja?"

Sekar mengangguk cepat. "Iya, Pak."

Kevin masih belum pergi.

"Mundur," katanya pada Sekar.

"Aku di garis tepi."

"Terlalu dekat."

"Kev, ini lapangan."

"Mundur."

Yola menutup mulut, jelas berusaha tidak tertawa di depan Pak Arief. Sekar akhirnya mundur dua langkah. Kevin baru kembali ke tempatnya setelah memastikan jarak Sekar dari lapangan cukup jauh menurut standarnya sendiri.

Begitu peluit istirahat berbunyi, dua teman sekelas Sekar mendekat.

"Sekar, tadi kaget banget ya?"

"Bola itu cepat sekali. Untung Kevin lihat."

Sekar baru mau menjawab ketika Kevin sudah kembali berdiri di sampingnya. Dua teman itu langsung mengecilkan suara.

"Aku nggak apa-apa," kata Sekar.

Kevin menunduk sedikit, menatap wajahnya seolah memeriksa sendiri. "Pusing?"

"Nggak."

"Tangan dingin."

"Karena kamu muncul mendadak."

"Jadi salah gue?"

"Sedikit."

Kevin terdiam, lalu mengambil handuk kecil dari bahunya dan menaruhnya di kepala Sekar. "Kalau pusing, bilang."

Sekar memegang handuk itu, tidak tahu harus malu atau tertawa. Dua teman sekelasnya saling pandang, lalu mundur dengan senyum yang jelas-jelas akan berubah menjadi bahan gosip baru.

Masalahnya, standar Kevin tidak normal.

Saat istirahat setelah olahraga, ia muncul dengan dua botol air mineral dingin dan satu handuk kecil yang entah ia dapat dari mana.

"Minum."

"Aku belum haus."

"Minum."

Sekar menerima botol itu. "Kamu tahu kamu agak berlebihan?"

"Nggak."

"Barusan kamu hampir membuat satu lapangan berhenti."

"Bola itu hampir kena muka lo."

"Hampir."

"Tetap hampir."

Sekar membuka tutup botol, meneguk sedikit. Kevin baru terlihat puas setelah melihatnya minum.

Bryan datang sambil membawa es teh. "Bro, gue juga hampir kena bola minggu lalu. Kok lo nggak lari kayak pahlawan?"

Kevin meliriknya. "Muka lo kuat."

Bryan memegang dadanya. "Ini diskriminasi saudara angkat."

Yola tertawa terang-terangan kali ini. Sekar ikut tertawa, tetapi ia melihat beberapa siswa di sekitar mereka mencuri pandang. Ada yang iri, ada yang heran, ada yang berbisik dengan wajah penasaran.

Salah satu siswi lewat dan berkata pelan pada temannya, "Kevin kalau sama Sekar beda banget."

Sekar mendengarnya.

Kevin juga.

Ia tidak membantah.

Ia hanya mengambil posisi berdiri di sisi Sekar yang menghadap matahari, sehingga bayangannya jatuh menutupi wajah Sekar dari silau.

Sekar menatap bayangan itu di lantai.

Terlalu melindungi, mungkin. Terlalu jelas, pasti. Tetapi setelah kehidupan yang dulu berakhir karena ia tidak punya siapa pun di sisinya pada detik terakhir, perlindungan Kevin terasa seperti rumah kecil yang bergerak mengikutinya.

"Kalau kamu begini terus," Sekar berkata pelan, "satu sekolah bakal tahu aku punyamu."

Kevin menunduk sedikit, tatapannya jatuh ke wajah Sekar.

"Bagus."

"Bagus?"

"Biar mereka nggak perlu nebak."

Bryan bersiul. Yola langsung memukul lengannya dengan buku olahraga.

Sekar menutup wajah dengan botol air mineral, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!