"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuh Tanda Tanya
Pintu baja berperedam suara itu tertutup rapat dengan dentuman halus, memutus keberadaan Dokter Isabela dan meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan tersebut.
Kayna berdiri terpaku di tengah ruangan. Suasana di sekelilingnya mendadak terasa begitu membeku. Aroma antiseptik yang tajam berbaur dengan sisa bau amis darah yang kental, menciptakan atmosfer tegang yang menghimpit dada. Namun, bukan pemandangan noda darah atau dentang alat medis yang membuat tubuh Kayna gemetar hebat, melainkan setiap kata yang baru saja diuvapka oleh Isabela ke telinganya.
“Obat yang selama ini diberikan Mara padamu di tempat tidur bukanlah vitamin biasa... melainkan dosis penenang untuk menekan ingatanmu. Jika kau benar-benar ingin tahu siapa iblis di atas tempat tidur itu, tanyakan pada dirimu sendiri... mengapa kau begitu membencinya sebelum kecelakaan itu terjadi?”
Kata-kata itu bergema tanpa henti di dalam kepala Kayna, bagaikan ribuan jarum yang menancap masuk ke dalam kesadarannya.
Dada Kayna naik turun beraturan, napasnya memburu dan terasa amat sesak. Jemarinya yang masih bernoda darah kering mengepal kuat di sisi badannya. Ingatannya terputar pada saat Mara yang setiap malam sebelum tidur selalu memintanya untuk minum vitamin.
Selama ini, Kayna selalu meminum obat itu tanpa ragu sedikit pun. Ia percaya penuh saat Mara tersenyum lembut, mengelus rambutnya, dan berbisik bahwa obat itu akan membantu memulihkan kondisinya pascakoma.
"Bohong..." gumam Kayna serak, suaranya nyaris tak terdengar. "Semuanya... kebohongan besar..."
Dengan langkah gemetar, Kayna melangkah mendekati tempat tidur tempat Mara terbaring tak berdaya.
Di bawah sorotan lampu yang terang benderang, sosok Damara tampak begitu berbeda. Pria yang selama ini berdiri tegak bagaikan penguasa tak tersentuh dan pria yang selalu memancarkan dominasi yang menakutkan, kini terbaring lemah dengan selang infus menancap di lengannya. Dada dan perutnya terbalut perban putih tebal yang sudah mulai merembeskan sedikit noda merah segar.
Monitor tanda vital di samping tempat tidur berbunyi teratur, menampilkan irama jantung Mara yang lemah namun stabil.
Kayna menatap wajah tenang Mara. Wajah yang biasanya amat rupawan kini tampak pucat pasi. Ada rasa kepedihan luar biasa yang mendadak mencengkeram hati Kayna. Ia teringat jika pria ini juga sudah menyelamatkan orang tuanya.
Namun di saat yang sama, rasa ngeri yang sangat pekat membakar batinnya.
Jika apa yang dikatakan Isabela benar, artinya pria yang mengorbankan nyawanya ini adalah iblis yang sama yang telah memanipulasi pikirannya, dan mengurungnya dalam mansion yang penuh kepalsuan ini.
"Siapa kau yang sebenarnya, Mara?" bisik Kayna lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kenapa aku membencimu?"
Tiba-tiba, grafik pada monitor tanda vital bergelombang cepat. Suara detip mesin berubah menjadi lebih nyaring dan tidak teratur.
Mara menggeram pelan dalam tidurnya. Dahi pria itu berkerut dalam, dibasahi oleh bulir-bulir keringat dingin yang mengucur deras. Efek anastesi dan rasa sakit yang menusuk dari dua luka tembak di tubuhnya membuat pria itu berada dalam kondisi antara sadar dan tidak.
"Kayna..." desis Mara, suaranya sangat serak dan dalam, terputus-putus oleh napas yang memburu.
Kayna tersentak kaget dan refleks mundur satu langkah.
Namun, sebelum Kayna sempat menjauh, tangan kiri Mara yang tidak terpasang infus melayang secara cepat ke udara. Jemarinya yang panjang dan berurat dengan cepat menyambar pergelangan tangan Kayna. Cengkeraman itu begitu mendadak, sangat erat, dan dipenuhi oleh paksaan meskipun kondisi tubuh Mara sangat lemah.
"Jangan... pergi..." gumam Mara dengan mata yang masih terpejam rapat. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Jangan pernah... Kau milikku, Kayna... Mijn engel... Hanya milikku..."
Sensasi dingin dan cengkeraman erat dari jemari Mara membuat bulu kuduk Kayna berdiri seketika. Sentuhan itu bukan lagi terasa seperti belaian kasih sayang seorang kekasih, melainkan rantai besi tak kasat mata yang mengikat kebebasannya.
Kayna berusaha menarik tangannya dengan panik. "Mara, lepas! Lepaskan aku!"
"Tidak..." bentak Mara lirih dalam ilusi tidak sadarnya. Menggemertakkan gigi menahan nyeri hebat di perutnya, cengkeraman pria itu justru semakin mengencang hingga kulit pergelangan tangan Kayna memerah. "Aku akan membunuh siapa pun... yang mencoba mengambilmu dariku... Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi..."
Kayna membeku di tempatnya.
Kata-kata spontan yang keluar dari alam bawah sadar Mara menjadi bukti nyata. Pria ini tidak sedang melindunginya karena cinta yang sehat, melainkan karena obsesi gila yang membakar jiwanya! Alam bawah sadar Mara sendiri mengakui bahwa Kayna pernah berusaha melarikan diri darinya!
Air mata meluncur mulus melewati pipi Kayna. Pertentangan batin yang hebat menghantam logikanya. Intuisi yang selama ini berusaha ia abaikan kini berteriak kencang, Pria ini berbahaya! Dia bukanlah pahlawanmu.
Dengan sekuat tenaga, Kayna menyentakkan tangannya hingga cengkeraman Mara terlepas. Pria itu merintih tertahan saat guncangan gerakan tersebut membuat perutnya yang baru dijahit seperti tertarik.
Kayna melangkah mundur beberapa meter, menepuk dada dadanya yang berdetak tak karuan. Ia menatap tubuh Mara yang kembali terkulai lemah.
"Aku tidak boleh gegabah," batin Kayna mencoba menenangkan kepanikan yang membakar otaknya. "Jika aku menunjukkan bahwa aku sudah tahu kebohongan ini, jika dia tahu aku mencurigainya... dia akan menggunakan cara lain yang lebih kejam untuk mengurungku. Dia bisa saja menaikkan dosis obat itu atau mengunci pintu mansion ini selamanya. Bahkan kedua orang tuanya mungkin bisa dalam bahaya."
Kayna mengepalkan tangannya, memantapkan tekad di dalam hatinya. Ia harus bersandiwara. Ia harus berpura-pura tetap menjadi tunangan yang patuh, polos, dan penuh perhatian, sementara diam-diam mencari tahu kebenaran tentang masa lalunya dan mencari celah untuk melepaskan diri dari cengkeraman Mara.
Ia mengambil napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu secara perlahan kembali melangkah mendekati tempat tidur Mara. Kayna mengambil kain kassa steril, membasahinya sedikit dengan air hangat, lalu mengusap keringat dingin di dahi Mara dengan lembut.
Tepat saat jemari Kayna mengusap pelipisnya, kelopak mata Mara yang berat perlahan-lahan terbuka.
Sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap yang tajam dan dingin itu memutar pelan, lalu mengunci sepasang mata Kayna dengan intensitas yang amat tinggi. Meskipun tatapannya masih diselimuti rasa kantuk dan efek obat bius, aura intimidasi yang pekat serta-merta menguar memenuhi ruangan.
Mara menatap jemari Kayna yang mengusap wajahnya, lalu menatap dalam-dalam ke dalam manik mata wanita di hadapannya.
"Kayna..." suara bariton Mara terdengar begitu serak dan basah, namun sanggup menghentikan detak jantung Kayna dalam seketika.
"Mara, kau sudah sadar?" tanya Kayna, mencoba memasang raut wajah cemas dan lega yang paling sempurna, menyembunyikan badai ketakutan di dalam dadanya. "Jangan banyak bergerak dulu. Isabela baru saja selesai menjahit lukamu..."
Mara tidak langsung menjawab. Jemari kirinya naik secara perlahan, menyentuh pipi Kayna yang terasa dingin, lalu mengusap garis bibir wanita itu dengan ibu jarinya yang kasar. Tatapan mata Mara berubah memicing tajam penuh selidik, seolah-olah sang ketua mafia mampu membaca setiap kebohongan yang tersembunyi di balik pikiran Kayna.
Sebuah senyuman tipis yang dingin dan misterius terukir di sudut bibir Mara yang pucat.
"Mengapa matamu terlihat begitu ketakutan, mijn engel...?" desis Mara pelan, suaranya mengandung ancaman halus yang menusuk hingga ke tulang rusuk Kayna. "...apakah kau takut melihatku terluka... atau kau baru saja menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kau ketahui?"
Napas Kayna tersentak seketika, dadanya bergemuruh hebat saat menyadari bahwa sang monster telah terbangun!
...●Bersambung●...