Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 PELUKAN HANGAT DARI JUNA.
Sesampainya di apartemen, mobil Kak Juna berhenti di area parkir basement.
Bee masih terdiam di kursinya. Tatapannya kosong, Sejak keluar dari rumah sakit, Bee tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kak Juna mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah Bee. "Bee."
Tidak ada jawaban.
Kak Juna mengembuskan napas pelan. Tanpa meminta izin lagi, ia membuka pintu mobil di sisi Bee.
"Kak..."
Bee baru hendak turun sendiri. Namun sebelum kedua kakinya menyentuh lantai, Kak Juna sudah lebih dulu mengangkat tubuh Bee dengan kedua tangannya.
"Ka-kak Juna..."
Bee refleks melingkarkan tangannya di leher Kak Juna. "Aku masih bisa jalan...."
Kak Juna menatapnya singkat. "Hari ini kamu tidak perlu pura-pura kuat."
Kalimat sederhana itu kembali membuat mata Bee memanas. Ia akhirnya menyerah, Perlahan Bee menyandarkan kepalanya di dada bidang Kak Juna.
Detak jantung pria itu terdengar begitu tenang.
Entah kenapa... Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Bee merasa aman.
Kak Juna membawanya masuk ke dalam lift hingga menuju unit apartemennya.
Pintu apartemen terbuka. Kak Juna masuk sambil masih menggendong Bee.
Apartemen itu terlihat rapi dengan nuansa abu-abu dan putih yang sederhana namun hangat.
Kak Juna berjalan menuju ruang tengah. Ia menurunkan Bee dengan sangat hati-hati di atas sofa. "Duduk di sini, aku akan pesan makanan." Ucap kak Juna "Kamu pasti belum sarapan."
Bee hanya mengangguk pelan.
Kak Juna mengambil ponselnya. Tak butuh waktu lama, ia memesan bubur ayam, sup hangat, teh hangat, dan beberapa camilan ringan.
Selesai memesan, Kak Juna kembali menghampiri Bee.
Gadis itu masih berada pada posisi yang sama.
Tatapannya kosong, Kedua matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Kak Juna berjongkok di depan Bee. Dengan lembut ia merapikan beberapa helai rambut Bee yang menutupi wajahnya. "Masih sakit?"
Bee menggeleng pelan. "Gak tahu...."
"Yang sakit bukan pipinya.... Tapi di sini...." Bee menunjuk pelan dadanya.
Kak Juna terdiam. Dadanya ikut terasa sesak.
Tanpa sadar, ia menggenggam kedua tangan Bee yang terasa dingin. "Bee, Lihat aku."
Perlahan Bee mengangkat wajahnya.
"Kamu tidak sendirian, Sekarang mungkin kamu sedang merasa kehilangan Tapi percayalah.. Masih ada orang-orang yang benar-benar peduli sama kamu."
Tatapan Bee mulai berkaca-kaca. "Kenapa Kak Juna baik sama Bee?"
Kak Juna tersenyum tipis. "Karena kamu pantas diperlakukan dengan baik." Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat air mata Bee kembali jatuh.
Kak Juna mengusap pelan air mata yang mengalir di pipi Bee menggunakan ibu jarinya. "Jangan menangis lagi Kalau menangis terus... Matamu bisa bengkak."
Bee malah menangis semakin deras. "Aku capek, Kak.... Lelah sekali.. Hiks.."
Kak Juna tanpa ragu menarik Bee ke dalam pelukannya. Pelukannya hangat, Tenang, Bukan sekadar untuk menghibur, Melainkan seolah ingin menjadi tempat Bee bersandar.
"Tidak apa-apa Kalau memang lelah... Beristirahatlah, Aku di sini."
Bee menggenggam pelan kemeja Kak Juna. Seolah takut pria itu ikut pergi meninggalkannya, Beberapa menit kemudian...
Bel apartemen berbunyi.
Makanan yang dipesan telah datang. Kak Juna mengambil pesanan itu lalu menyusunnya di atas meja.
Aroma bubur hangat memenuhi ruangan. "Bee Ayo makan sedikit."
Bee menggeleng. "Aku gak lapar...."
"Kamu harus makan, Nanti maag kamu kambuh."
"Aku benar-benar gak nafsu...."
Kak Juna mengambil semangkuk bubur lalu meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas.
Setelah itu ia menyendok sedikit. "Buka mulut."
Bee tetap diam.
Kak Juna tersenyum kecil. "Kalau kamu gak mau makan... Aku akan terus duduk di sini sampai kamu mau."
Bee menatap wajah Kak Juna. "Kakak keras kepala."
"Kamu juga." balas Kak Juna tenang.
Tanpa sadar Bee tersenyum tipis.
Melihat senyum kecil itu, kak Juna ikut tersenyum lega. "Nah... Baru cantik. Kalau cemberut terus nanti cepat tua."
Bee mengerucutkan bibirnya. "Kakak lagi ngeledek Bee ya?"
"Akhirnya ngomong juga."
Kak Juna kembali menyodorkan sendok. "Sekarang buka mulut."
Kali ini Bee menurut, Ia memakan sesendok bubur.
"Enak?"
Bee mengangguk pelan. "Iya...."
"Bagus, Satu sendok lagi."
Sedikit demi sedikit Kak Juna menyuapi Bee. Sesekali ia memberikan air hangat agar Bee tidak tersedak.
Perhatian yang ia berikan terasa begitu alami.
Bukan seperti seorang dokter kepada pasiennya. Bukan pula seperti seorang kakak kepada adiknya, Melainkan seperti seseorang yang sangat menjaga wanita yang begitu berarti baginya.
Setelah Bee menghabiskan hampir semangkuk bubur, Kak Juna terlihat jauh lebih tenang.
"Nah Begitu kan, Wajahmu sekarang sudah sedikit lebih segar."
Bee tersenyum tipis. "Terima kasih, Kak."
Kak Juna mengusap lembut puncak kepala Bee. "Sama-sama."
Tak lama kemudian ponsel Kak Juna berdering. Ia melihat layar ponselnya, Rumah sakit Ada operasi darurat yang harus segera ia tangani.
Kak Juna menatap Bee beberapa saat. Lalu berdiri "Ayo."
Bee ikut berdiri.
Kak Juna membimbing Bee menuju sebuah kamar yang berada di ujung lorong apartemen, Ia membuka pintunya.
"Kamar Kakak?"
Kak Juna mengangguk. "Istirahatlah di sini, Selimutnya ada di lemari. Kalau haus, air minum ada di meja."
Bee menatap Kak Juna. "Lalu Kakak?"
"Aku harus kembali ke rumah sakit, Ada operasi yang tidak bisa ditinggalkan." ucap kak Juna menatap Bee dengan lembut. "Tapi setelah operasiku selesai... Aku akan langsung kembali."
Bee menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Kak."
Kak Juna tersenyum tipis. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."
Setelah memastikan Bee sudah berbaring dengan nyaman, kak Juna menarik selimut hingga menutupi tubuh gadis itu, Ia mengusap pelan rambut Bee sekali lagi.
"Istirahat yang cukup, Semua bisa dipikirkan nanti."
Bee menatap wajah Kak Juna beberapa detik. "Terima kasih... sudah menjadi tempat Bee pulang hari ini."
Kak Juna terdiam sejenak, lalu tersenyum hangat. "Kapan pun kamu butuh tempat untuk beristirahat... Pintu ini akan selalu terbuka untukmu."
Bee memejamkan mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang, sementara Juna mematikan lampu kamar, menutup pintu perlahan, lalu bergegas kembali ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya.