Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Dylan, apa yang kau lakukan sama saja ingin mempermalukan keluarga Jiang," ujar Moly.
Dylan menatapnya dengan sinis.
"Kalau memang tahu malu, kenapa dulu kalian melakukannya?" balasnya dingin. "Baru sekarang kalian sadar kalau perselingkuhan itu memalukan? Saat menghancurkan hidup ibuku, kenapa rasa malu itu tidak pernah muncul?"
Wajah Moly langsung memucat.
Dylan melirik Jay.
"Jay, antar tamu."
"Baik, Tuan."
Jay segera melangkah maju.
"Tuan Jiang, Nyonya Jiang, silakan."
Delvin tidak bergeming. Ia menatap Dylan dengan wajah penuh amarah.
"Dylan, kita adalah ayah dan anak. Apa kau benar-benar ingin memaksaku sampai ke jalan buntu? Kondisi perusahaan sekarang sudah kau ketahui. Semua ini terjadi karena ulahmu."
Dylan tersenyum tipis.
"Kalau aku benar-benar ingin menghancurkan Jiang Group, perusahaan itu sudah bangkrut sejak lama." Ia mengambil beberapa butir anggur, lalu meletakkannya di piring Viona. "Ini baru permulaan. Ke depan, masih banyak hal yang harus kalian hadapi."
Delvin mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan ganggu kami yang sedang makan," ucap Dylan sambil meneguk minumannya. "Keluar dari rumahku."
Melihat sikap Dylan yang sama sekali tidak luluh, Moly akhirnya menurunkan harga dirinya.
"Dylan... Sanny tidak bersalah. Tolong lepaskan dia. Demi putriku, aku akan melakukan apa saja."
Dylan tertawa pelan.
"Bukankah aku sudah mengatakan syaratnya?" Tatapannya berubah setajam pisau. "Adakan konferensi pers, akui semua perbuatan kalian di depan media, lalu minta maaf kepada mendiang ibuku."
Ia menatap Moly tanpa berkedip.
"Aku ingin semua orang tahu bahwa ibuku adalah korban suami yang tidak setia dan wanita simpanan yang tidak tahu malu."
Tubuh Moly langsung melemas. Wajahnya kehilangan seluruh warna.
"Dylan..." Delvin menggertakkan giginya. "Kau... kau benar-benar keterlaluan. Awalnya kau melarang kami mengambil hati Viona. Sekarang kau juga membuat semua rumah sakit menolak merawat adikmu sendiri. Apa kau benar-benar ingin melihat Sanny mati baru kau merasa puas?"
Ekspresi Dylan tetap datar.
"Hidup atau matinya Sanny bukan urusanku. Saat kalian memilih menyakiti ibuku dan Viona, kalian seharusnya sudah siap menanggung akibatnya."
"Baik... aku akan melakukannya," ucap Moly dengan wajah pucat. "Tapi kau harus berjanji membiarkan Sanny menerima perawatan."
Dylan menatapnya datar.
"Itu tergantung penampilanmu nanti." Senyum tipis terukir di bibirnya. "Kalau aku puas dengan pengakuanmu, mungkin aku akan mempertimbangkannya."
Jawaban itu membuat hati Moly semakin gelisah. Ia sadar Dylan sama sekali tidak memberikan jaminan.
Dylan kemudian bangkit dari kursinya.
"Sudah kenyang?" tanyanya kepada Viona.
Viona mengangguk pelan.
"Sudah."
Dylan meraih tangan Viona, lalu menoleh ke arah Delvin dan Moly.
"Ingat baik-baik." Tatapannya dingin. "Nyawa anak kalian kini berada di tanganmu. Jadi, apakah Sanny bisa mendapatkan kesempatan hidup atau tidak, semuanya bergantung pada keputusanku."
"Temani aku bekerja," ujar Dylan lembut kepada Viona.
Dylan menggandeng tangan Viona menuju lantai dua tanpa menoleh lagi kepada Delvin dan Moly.
Setelah mereka menghilang dari pandangan, Delvin menatap istrinya.
"Moly, apa kau yakin ingin melakukan itu? Kalau kita mengaku di depan media, nama baik keluarga Jiang akan hancur."
Moly menutup matanya sejenak.
"Lalu apa pilihan kita?" suaranya terdengar lemah. "Semua ini berawal dari ulah anakmu."
Delvin terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu membantah.
Moly kemudian berbalik dan melangkah pergi.
"Sebagai ibu Sanny, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menyelamatkan putriku, apa pun harga yang harus kubayar."
***
Siang itu, aula utama Jiang Group dipenuhi puluhan wartawan dari berbagai media. Kamera televisi, lampu sorot, dan kilatan flash memenuhi ruangan.
Tidak ada yang menyangka keluarga Jiang tiba-tiba mengadakan konferensi pers di tengah skandal yang sedang mengguncang perusahaan.
Di belakang panggung, Delvin dan Moly tampak tegang.
"Kita masih bisa membatalkannya," bisik Delvin.
Moly menggeleng pelan.
"Kalau kita mundur, Sanny tidak akan pernah mendapatkan perawatan."
Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju podium.
Suasana aula langsung riuh.
"Presiden Jiang, apakah benar Anda akan memberikan klarifikasi mengenai skandal keluarga Jiang?"
"Apakah donor hati untuk Nona Jiang memang mantan pembantu keluarga?"
"Benarkah perusahaan berada di ambang kebangkrutan?"
Berbagai pertanyaan dilontarkan bertubi-tubi.
Delvin mengangkat tangannya, meminta semua orang tenang.
"Hari ini... saya datang bukan untuk membela diri."
Ruangan seketika menjadi sunyi.
Dengan wajah penuh penyesalan, Delvin menarik napas panjang.
"Selama bertahun-tahun, saya telah menyembunyikan sebuah kebenaran. Hari ini, saya akan mengakuinya di hadapan semua orang."
Puluhan kamera langsung menyorot wajahnya.
"Saya... telah mengkhianati istri pertama saya. Saat masih berstatus suami, saya menjalin hubungan dengan Moly."
Suara Delvin mulai bergetar.
"Perselingkuhan itu menghancurkan rumah tangga saya. Istri saya menjadi korban dari pengkhianatan saya."
Seluruh wartawan saling berpandangan.
Moly menundukkan kepala. Air matanya mulai mengalir.
Ia kemudian maju mendekati mikrofon.
"Semua yang dikatakan Delvin adalah benar. Saya mengetahui bahwa dia masih memiliki istri. Namun saya tetap memilih bersamanya. Saya telah menyakiti seorang wanita yang tidak bersalah."
Tangis Moly pecah.
"Saya meminta maaf kepada mendiang Nyonya Jiang... dan kepada Dylan atas semua penderitaan yang telah kami sebabkan."
Ruangan kembali dipenuhi suara kamera yang memotret tanpa henti.
Delvin ikut menundukkan kepalanya.
"Aku juga meminta maaf kepada mendiang istriku. Akulah penyebab keluargaku hancur. Akulah yang gagal menjadi seorang suami dan ayah."
Tak sedikit wartawan yang terkejut karena pengakuan itu jauh lebih besar daripada yang mereka duga.
Dalam hitungan menit, siaran langsung konferensi pers tersebut menyebar ke seluruh negeri. Nama keluarga Jiang kembali menjadi perbincangan hangat, tetapi kali ini karena pengakuan dosa mereka sendiri.
Di mansion Dylan, Jay mematikan televisi setelah konferensi pers selesai.
"Tuan, mereka benar-benar melakukannya."
Dylan hanya menatap layar televisi dengan ekspresi datar.
"Akhirnya... mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan harga diri di depan seluruh dunia."
Di sampingnya, Viona terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Delvin dan Moly benar-benar menundukkan kepala atas semua kesalahan yang selama ini mereka sembunyikan.
"Tuan, apakah sekarang kita akan membiarkan Nona Jiang kembali menerima perawatan? Dan... apakah operasi donor hati akan tetap dilanjutkan?" tanya Jay.
Dylan menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil tersenyum tipis.
"Tentu."
Jay tampak sedikit terkejut.
"Mereka sudah menepati syarat yang kuberikan. Aku juga akan menepati janjiku."
Viona yang sejak tadi diam menatap Dylan.
"Apakah Tuan muda membiarkan aku mendonorkan sebagian hatiku untuk Nona Jiang?" batin Viona.