Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMAN DIBAWAH PENJAGAAN MU
Suasana rumah akhirnya benar-benar mendingin seiring berjalannya waktu. Keheningan malam kembali mengambil alih, menyisakan suara jangkrik di luar yang bersahut-sahutan pelan.
Di ruang tengah, Akira menghela napas panjang. Ia baru saja selesai memunguti pecahan vas bunga terakhir, menyapu sisa tanah yang berserakan, dan menggeser meja kayu kembali ke posisi semula. Setelah memastikan kondisi ruang tengah cukup rapi, Akira melangkah ke dapur untuk menjerang air. Tubuhnya terasa begitu lengket oleh peluh, debu kebun, dan bau anyir darah yang mengering.
Begitu air hangat siap, Akira membersihkan dirinya di kamar mandi. Guyuran air hangat seolah membasuh sedikit demi sedikit rasa lelah yang menghimpit sendi-sendinya sejak sore tadi.
Setengah jam kemudian, Akira keluar dari kamar mandi dengan kaos bersih. Rambutnya masih sedikit basah. Langkah kakinya bergerak menuju koridor kamar Yukari. Ia bermaksud mengambil kotak P3K yang tertinggal di sana untuk mengobati luka robek di pelipis kanannya yang mulai terasa berdenyut nyeri.
Di depan pintu kamar Yukari yang sedikit terbuka, Akira menghentikan langkahnya.
Melalui celah sempit itu, Akira melihat siluet dua orang di dalam kamar yang diterangi lampu kuning hangat. Yukari sudah tertidur pulas di atas futon, tampak begitu lelap dan damai setelah badai trauma yang menguras emosinya. Sementara itu, Daiki duduk bersandar di sampingnya, membiarkan kepala Yukari berbantalkan lengannya, mendekap sahabatnya itu dengan penuh rasa protektif.
Kriitt.
Lantai kayu selasar mengeluarkan suara halus saat Akira sedikit menggeser posisinya. Suara sekecil itu rupanya cukup untuk menyentak Daiki yang sejak tadi berjaga dalam kondisi waspada.
Daiki langsung menoleh tajam ke arah pintu. Begitu melihat sosok Akira di balik celah, ketegangan di wajah Daiki langsung mengendur.
"Oh, kau..." bisik Daiki teramat pelan, hampir menyerupai desiran angin.
Daiki menunduk sebentar, menatap wajah Yukari yang napasnya sudah teratur. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, seolah sedang memindahkan barang pecah belah yang paling rapuh di dunia, Daiki menggeser lengannya dan menggantinya dengan bantal. Setelah memastikan Yukari tidak terusik, Daiki bangkit berdiri lalu berjalan jinjit keluar kamar, menutup pintu dengan sangat rapat.
***
Di dapur, aroma manis dan hangat mendadak menguar, mengalahkan hawa malam yang dingin. Daiki berdiri di depan kompor, mengaduk dua cangkir cokelat panas dengan sendok yang beradu pelan dengan dinding kaca.
Sementara di meja makan, Akira duduk dengan kotak P3K yang sudah terbuka di hadapannya. Tangan kanannya memegang kapas yang sudah dibasahi cairan antiseptik, lalu menekannya perlahan ke pelipisnya yang robek.
"Aw..." desis Akira pelan. Alisnya bertaut menahan perih yang menyengat kulitnya.
Daiki berjalan mendekat, membawa dua cangkir cokelat panas yang masih mengepulkan asap tipis. Ia meletakkan satu cangkir di depan Akira, lalu duduk di kursi seberangnya sambil membawa cangkirnya sendiri.
Daiki memperhatikan tangan Akira yang tampak kesakitan mengusap obat merah ke wajahnya sendiri. Pria itu menghela napas berat, menatap cangkir cokelatnya dengan pandangan getir.
"Dulu... aku, Yukari, dan Hiroshi adalah teman satu kampus," buka Daiki tiba-tiba tanpa basa-basi, memecah keheningan malam di meja makan.
Tangan Akira yang memegang kapas mendadak terhenti di udara. Ia menurunkan tangannya, lalu menatap Daiki lurus-lurus, siap mendengarkan.
"Aku kenal bajingan itu luar dalam," lanjut Daiki, suaranya terdengar begitu rendah dan penuh penekanan. "Sejak awal, Yukari jatuh cinta setengah mati pada pria itu. Tapi aku selalu melarangnya. Aku tahu betul Hiroshi itu orang seperti apa di kota. Dia licik, manipulatif, dan hobi mempermainkan perempuan."
Daiki tersenyum sinis, seolah menertawakan kebodohan masa lalu. "Tapi kau tahu apa yang terjadi? Yukari tidak memercayai kata-kataku. Dia mengira aku hanya cemburu buta karena dia punya kekasih. Dia menutup mata dari semua peringatanku."
Daiki menyesap sedikit cokelat hangatnya, membiarkan rasa manis itu membasahi tenggorokannya yang terasa kering karena emosi yang kembali tersulut.
"Hubungan mereka terus berlanjut, sampai akhirnya masuk ke tahap pertunangan. Dan di hari mereka mengumumkan itu, aku adalah satu-satunya orang yang menentang paling keras. Aku tidak setuju," ucap Daiki, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Akira. "Yukari murka padaku malam itu. Dia mengira aku ingin merusak kebahagiaannya. Sejak saat itu, dia mendiamkanku... kami tidak saling bicara selama satu tahun penuh."
Akira terdiam, mendengarkan cerita itu dengan saksama. Ia bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari setiap untaian kalimat yang keluar dari mulut sahabat masa kecil Yukari itu.
"Selama satu tahun itu, aku sudah mencoba segala cara untuk membuktikan kalau pria itu bajingan. Tapi aku selalu gagal karena pengaruh Hiroshi terlalu kuat di sekeliling Yukari. Sampai akhirnya..." Daiki menjeda kalimatnya, cengkeramannya pada cangkir cokelat semakin mengerat. "...sampai akhirnya Yukari tahu sendiri kebenaran menjijikkan tentang pria itu dengan mata kepalanya sendiri."
"Malam itu, Yukari datang ke rumahku. Dia menangis sejadi-jadinya, berlutut, dan meminta maaf karena selama ini sudah meragukanku dan mendiamkanku," Daiki menarik napas dalam, matanya mendadak memerah berair. "Melihat air matanya malam itu... akal sehatku hilang. Malam itu juga, aku langsung datang menemui Hiroshi di apartemennya."
"Apa yang terjadi?" tanya Akira dengan suara rendah yang dalam.
Daiki menyesap cokelat hangatnya sekali lagi, lalu meletakkan cangkir itu ke meja dengan dentingan yang cukup keras.
"Aku menghajarnya," jawab Daiki datar, namun ada kepuasan yang dingin di matanya. "Aku memukulinya habis-habisan tanpa ampun, sampai bajingan itu harus dilarikan ke rumah sakit dan masuk ruang ICU."
Akira sedikit tertegun. Tangannya yang memegang kapas kini benar-benar turun ke meja. Ia tidak menyangka Daiki yang terlihat santai sehari-hari ternyata memiliki sisi sekejam itu jika menyangkut keselamatan Yukari.
"Karena penyerangan itu, aku ditahan di sel polisi selama satu bulan penuh," Daiki terkekeh getir. "Yukari menangis siang dan malam selama aku di dalam penjara, merasa bersalah karena dialah penyebab aku harus mendekam di balik jeruji besi."
Daiki mendongak, menatap langit-langit dapur dengan senyuman tipis yang sarat akan dendam. "Tapi, Akira... aku tidak pernah menyesal. Aku puas. Bahkan jika harus mengulangnya lagi, aku akan tetap memukulinya sampai mati."
Suasana meja makan kembali hening. Cerita masa lalu itu seolah meletakkan potongan teka-teki yang hilang di kepala Akira. Sekarang Akira paham sepenuhnya, mengapa Daiki begitu kalap dan nekat mengambil parang di dapur tadi. Trauma masa lalu bahwa dia hampir kecolongan untuk kedua kalinya membuat Daiki kehilangan akal sehat.
Akira menatap cangkir cokelat di depannya yang mulai menghangat, lalu kembali menatap Daiki yang kini tampak jauh lebih tenang setelah meluapkan rahasia besarnya.
Cangkir cokelat panas itu akhirnya kosong, menyisakan keheningan yang jauh lebih tenang di antara kedua pria itu. Daiki menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri dari kursi meja makan.
"Aku harus balik malam ini, Akira," ujar Daiki, suaranya sudah kembali normal. "Aku mau langsung cari info bajingan itu ada di mana sekarang. Aku tidak bisa diam saja sebelum memastikan dia angkat kaki dari daerah ini.."
Daiki menatap Akira dengan sorot mata penuh permohonan. "Aku titip Yukari malam ini. Hanya kau yang bisa kupercaya untuk menjaganya."
Akira mengangguk mantap tanpa keraguan. "Tenang saja.."
Sebelum Daiki pulang, ia memeriksa kondisi pintu utama yang menjadi saksi bisu amukan beberapa jam lalu. Daiki mendekat, meraba permukaan pintu kayu tebal tersebut, lalu mencoba menggerakkan gagangnya.
Klek. Cklek.
Meskipun posisinya sudah sedikit miring dan mengeluarkan suara berderit yang kasar, untungnya slot kunci bagian dalam masih berfungsi dengan baik. Pintu itu masih bisa dikunci rapat dari dalam. ia mendengus geleng-geleng kepala melihat engsel besi tebalnya yang sudah bengkok dan nyaris tercabut dari kusen.
Daiki menoleh ke arah Akira, lalu menyenggol lengan pria itu sambil melempar celetukan getir.
"Gila... sekuat apa sebenarnya bahumu, Akira? Sampai engselnya nyaris patah begini," ujar Daiki heran. "Ini kayu jati terbaik pilihan kakeknya Yukari, lho. Kau pikir kakeknya pakai bahan murahan sampai bisa kau hantam ringsek begini? Bahumu aman?"
Akira yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan sambil refleks memijat bahu kanannya yang baru terasa sedikit ngilu. "Aman. Pegal sedikit saja."
Daiki ikut tertawa kecil, merasa bersyukur dengan kekuatan fisik Akira "Ya sudah, untungnya pintu ini masih aman dan bisa dikunci dari dalam, Besok aku akan bawa engsel baru untuk kita ganti."
Daiki menepuk pundak Akira sekali lagi sebagai tanda terima kasih yang mendalam, lalu melangkah keluar melewati selasar samping menuju halaman. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu mobil pick-up milik Daiki ditutup, disusul deru mesinnya yang menderu membelah sunyinya malam, perlahan-lahan menjauh dan menghilang di ujung jalan desa.
Cklek. Srek.
Akira memutar anak kunci pintu depan hingga terdengar suara besi yang mengunci rapat, lalu memasang palang pengaman tambahannya.
Begitu mobil Daiki benar-benar pergi, atmosfer di dalam rumah luas itu langsung berubah drastis. Sunyi, senyap, dan terasa begitu intim. Akira bersandar sejenak di balik pintu yang tertutup, mengatur napasnya yang lelah, menyadari bahwa kini... hanya tinggal dirinya yang menjadi perisai bagi Yukari di sisa malam yang panjang ini.