Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Modus Klarifikasi
Mobil SUV hitam Kaelith melaju membelah kemacetan sore hari menuju sebuah kafe yang agak terpencil di pinggiran kampus. Suasana di dalam mobil terasa canggung sekaligus mendebarkan bagi Naura. Ia duduk tegak, tangannya meremas tas selempang yang ia pangku, berusaha menjaga jarak dari Kaelith yang menyetir dengan satu tangan secara santai.
"Lo tahu nggak, kenapa gue pilih kafe ini?" tanya Kaelith tiba-tiba, memecah keheningan.
Naura menoleh, menatap profil samping Kaelith yang tegas di bawah lampu jalanan. "Karena lo mau sembunyi dari anggota BEM lo sendiri? Atau karena lo takut ketahuan lagi bawa reporter musuh?"
Kaelith terkekeh. "Jawaban yang bagus, tapi salah. Gue bawa lo ke sini karena kopinya yang paling enak, dan tempat ini nggak banyak didatangi anak kampus. Jadi, kita bisa ngobrol tanpa ada yang motong atau curiga."
"Ngobrol soal apa? Dokumen?" Naura langsung ke topik utama, berusaha menutupi rasa gugupnya dengan sikap profesional.
"Sabar, Mbak Reporter. Buru-buru banget sih," Kaelith melirik Naura sebentar dengan senyum jahil yang membuat Naura ingin sekali mencubit lengannya. "Lagian, kalau kita langsung bahas skandal, nanti pertemuan kita berasa kayak rapat BEM. Gue kan mau kita lebih... santai."
"Gue di sini buat kerja, bukan buat santai," sahut Naura ketus.
"Iya, iya, kerja. Tapi kerja juga butuh energi, kan? Lo tadi siang makan buburnya nggak habis, gue perhatiin dari pesan balasan lo yang singkat-singkat banget," ujar Kaelith telak.
Naura terdiam. Bagaimana bisa pria ini memperhatikan hal sedetail itu? "Itu cuma karena gue sibuk. Jangan kegeeran lo."
Kaelith tidak membalas lagi, ia fokus memarkirkan mobil. Begitu mesin mati, ia menoleh ke arah Naura, tatapannya kini berubah lebih serius meski masih ada sisa-sisa binar jahil di matanya. "Naura, gue cuma mau bilang, gue tahu lo skeptis sama gue. Lo anggap gue ketua BEM yang cuma pamer jabatan dan mungkin terlibat sama urusan bokap gue. Tapi gue mau lo tahu, kalau gue serius mau bantu lo."
Naura menatap Kaelith dalam. "Kenapa? Kenapa harus bantu gue? Bukannya lebih aman kalau lo diam saja dan biarkan kasus ini tenggelam?"
Kaelith terdiam sejenak, lalu ia membuka pintu mobil. "Karena gue nggak suka melihat sesuatu yang salah terus-menerus terjadi di depan mata gue. Termasuk ketidakadilan yang melibatkan orang-orang terdekat gue."
Mereka turun dari mobil dan masuk ke kafe. Suasananya tenang, hanya ada alunan musik jazz pelan. Kaelith memilih meja di pojok, tempat yang paling privat. Begitu mereka duduk, Kaelith mengeluarkan sebuah tablet dari tas kerjanya dan menggesernya ke arah Naura.
"Ini salinan berkas pembangunan gedung baru," kata Kaelith dengan suara rendah. "Lihat bagian lampiran ketiga. Ada nama perusahaan fiktif yang menerima dana 'konsultasi' sebesar dua miliar. Perusahaan itu terdaftar atas nama orang yang selama ini jadi tangan kanan bokap gue."
Naura membelalakkan mata saat membaca data tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan sekadar isu kampus biasa; ini adalah bukti korupsi yang nyata. "Gila... ini benar-benar gila," bisik Naura, jemarinya gemetar saat menelusuri data di tablet itu. "Kael, kalau ini sampai ke publik, dampaknya bakal besar banget."
"Gue tahu," sahut Kaelith dingin. "Dan gue siap tanggung risikonya. Bahkan kalau itu artinya posisi gue di BEM habis atau nama keluarga gue tercoreng."
Naura menatap Kaelith dengan pandangan baru. Pria yang di matanya hanya "berondong jahil" ini ternyata memiliki keberanian yang luar biasa. "Kenapa lo kasih ke gue? Kenapa nggak lo sendiri yang bongkar?"
"Karena gue butuh seseorang yang punya integritas dan keberanian untuk mempublikasikannya secara objektif. Seseorang yang nggak takut sama tekanan dari pihak mana pun," jawab Kaelith sambil menatap Naura lekat. "Dan gue rasa, orang itu adalah lo."
Naura merasa tersanjung, sekaligus merasa beban tanggung jawab yang berat di pundaknya. "Gue bakal pelajari ini. Tapi, gue tetap harus konfirmasi ke pihak-pihak terkait. Gue nggak bisa asal tulis."
"Gue tahu cara kerja jurnalis," Kaelith tersenyum, kali ini senyum yang tulus. "Lakukan apa pun yang lo perlu lakukan. Tapi, kalau lo butuh perlindungan atau akses ke data lain, lo tahu harus hubungi siapa."
Tiba-tiba ponsel Kaelith bergetar terus-menerus. Ia melirik layar ponselnya dan mendesah panjang. "Arven. Pasti ada masalah di rapat BEM."
"Lo harus balik?" tanya Naura.
"Kayaknya gitu," Kaelith berdiri, lalu menatap Naura. "Lo mau lanjut pelajari ini di sini, atau mau gue antar balik ke kantor?"
"Gue di sini saja sebentar. Gue mau copy datanya dulu," jawab Naura.
Kaelith mengangguk, lalu berbalik hendak pergi. Namun, ia berhenti sejenak dan menunduk ke arah Naura. "Jangan lupa, habis ini kita mitra. Jadi, jangan lupa kabari gue kalau lo sudah selesai. Dan jangan sampai lo pulang kemalaman sendirian. Hubungi gue, biar gue yang jemput."
"Nggak usah repot-repot," tolak Naura cepat.
Kaelith hanya mengedipkan sebelah matanya. "Nggak ada yang namanya repot kalau buat lo. Sampai nanti, Mbak Reporter."
Naura terpaku menatap punggung Kaelith yang menjauh. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Pria itu baru saja memberinya bukti korupsi terbesar di kampus, namun yang lebih memenuhi pikirannya justru cara Kaelith memandangnya tadi.
Saat Kaelith benar-benar menghilang di balik pintu kafe, Naura menghela napas panjang. Ia membuka kembali data di tablet, namun matanya justru tertuju pada sebuah pesan yang tertinggal di layar tablet Kaelith yang tadi belum sempat terkunci. Pesan itu dari ayahnya: "Jangan ikut campur urusan yayasan kalau kamu masih mau posisi kamu aman.”
Naura membeku. Jadi, Kaelith sudah tahu dan sudah diingatkan oleh ayahnya sendiri? Dan pria itu tetap memilih untuk memberikannya kepada Naura?
Ketakutan mulai menyelimuti Naura. Ia sadar, ia dan Kaelith baru saja menginjakkan kaki di tanah yang sangat berbahaya. Jika benar ayahnya Kaelith berada di balik ini semua, maka nyawa mereka berdua dalam bahaya.
Naura segera mengamankan data tersebut ke flashdisk pribadi, lalu menutup tablet itu dengan tangan gemetar. Ia menatap ke luar jendela kafe, memperhatikan suasana kampus yang tampak damai, seolah-olah tidak ada badai besar yang akan segera datang.
"Lo benar-benar gila, Kael," bisik Naura, namun ada rasa kagum yang tumbuh di balik rasa takutnya. Ia tidak lagi melihat Kaelith sebagai berondong yang menyebalkan, melainkan sebagai sosok yang terjebak dalam dilema yang sama dengannya.
Malam itu, Naura pulang dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ia mendapatkan berita besar yang bisa melambungkan kariernya, namun ia juga mendapatkan ancaman yang bisa menghancurkan hidupnya. Dan yang paling membingungkan, ia tidak merasa sendiri. Ada Kaelith yang berdiri di sampingnya, pria yang selalu berhasil membuat hatinya tidak tenang dengan sikap jahil sekaligus perlindungannya yang tulus.
Naura sampai di rumahnya, menatap cermin di kamarnya. "Naura, fokus. Jangan sampai perasaan lo menghambat tugas lo," bisiknya pada diri sendiri. Namun, bayangan senyum miring Kaelith tetap menghantuinya. Ia tahu, mulai malam ini, ia bukan hanya sedang meliput sebuah skandal korupsi, tapi ia juga sedang terjebak dalam permainan perasaan dengan seorang ketua BEM yang sangat tahu cara membuat seseorang merasa... spesial.
Ia mengambil ponselnya, berniat mengirim pesan kepada Kaelith untuk mengabarkan bahwa ia sudah sampai. Namun, jarinya berhenti di atas layar. "Apakah ini terlalu cepat?" pikirnya. Akhirnya, ia hanya mengetik pesan singkat: “Gue sudah sampai. Datanya sudah gue amankan. Thanks.”
Tak lama kemudian, sebuah balasan muncul: “Syukurlah. Istirahat yang cukup, Mbak Reporter. Jangan terlalu banyak mikir, nanti makin cantik lho kalau nggak banyak beban pikiran. Sampai jumpa besok.”
Naura mendengus sedikit merasa kesal, namun senyum tipis tak bisa ia sembunyikan. "Dasar berondong tengil," gumamnya, sebelum akhirnya mematikan lampu kamar, bersiap menghadapi hari esok yang pastinya akan jauh lebih menegangkan.