Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Ratu Barbar Yang Pecah Bisu Demi Pernikahan Sempurna
Keesokan harinya, di salah satu sudut aula besar yang akan menjadi lokasi pernikahan Adrian dan Nala.
Sesuai perintah mutlak Adrian, asisten Han harus mendampingi dan mengawasi seluruh logistik bunga yang masuk dari floris toko bunga.
Masalahnya, Sisil masih dalam kondisi pendiam dan enggan memegang peralatan dekorasi karena masih trauma.
Han, pria yang biasanya pasih membaca laporan keuangan triliunan rupiah dan grafik saham internasional.
Kini berdiri, di depan tumpukan pot mawar premium dengan wajah yang luar biasa frustasi.
Kedua tangan kekarnya memegang iPad, sementara matanya bergerak panik.
"Bagaimana cara membedakan mawar putih lokal dengan mawar putih impor?" gumam Han dengan kening berkerut dalam.
Karena tidak tahu harus berbuat apa?
Tangan kanan CEO yang paling ditakuti di kantor Pt. Dirgantara megah utama itu akhirnya terpaksa membuka google di ponselnya.
Dengan jari gemetar, ia mengetik di kolom pencarian :
"Cara merangkai bunga altar pernikahan yang estetik dan mewah?..."Han bahkan sibuk mencari kontak ahli dekorasi lain di google untuk membantunya.
Namun nihil, wajahnya yang sekaku tripleks kini terlihat sangat konyol di depan tumpukan dedaunan.
Kevin yang kebetulan lewat bersama Angel langsung menahan tawa melihat pemandangan langka itu, Kevin menyenggol lengan Han sambil berbisik jenaka.
"Waduh" Tuan terapi guling kita sekarang merangkap jadi Florist amatiran.
Hati-hati, Han!.."
Nanti mawar putihnya berubah jadi mawar hitam, kalau kamu pelototin terus pakai muka sanggarmu itu!
Han melemparkan tatapan mata yang siap mencabik - cabik Kevin seketika, namun ia tidak bisa membantah karena ia memang benar-benar buta soal estetika seni bunga.
Sisil yang sejak tadi duduk diam di kursi sudut aula. dengan jepit mawar merah terpasang di rambutnya, hanya memperhatikan pergerakan Han, kevin, dan Angel dari kejauhan.
Telinganya sebenarnya menangkap setiap detail obrolan mereka.
Sisil tahu kalau Han sedang bingung setengah mati, mencarikan solusi dekorasi bunga untuknya di google.
Saat Han mulai menyusun beberapa pot mawar secara acak di atas altar, Sisil menyipitkan matanya. penampilan rangkaian bunga yang disusun Han terlihat sangat tidak cocok, kaku, dan berantakan - persis seperti kepribadian pria itu.
Melihat dekorasi hari bahagia Nala terancam tidak estetis karena kecerobohan Han, sesuatu di dalam dada sisil bergejolak hebat.
Rasa geram dan jiwa profesionalnya, sebagai karyawan toko bunga mengalahkan seluruh rasa trauma dan ketakutannya pada dunia luar.
BRAKK!
Sisil tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya dengan hentakan keras. mengejutkan Han, Kevin, dan Angel yang berada di dekat altar.
"STOP! tuan kanebo kering, jangan sentuh bunga mawar itu lagi!"
Teriak Sisil dengan suara cemprengnya yang khas, memecah kebisuan panjangnya selama beberapa hari ini.
Sisil melangkah lebar mendekati altar. merebut gunting dahan dari tangan Han dengan sifat barbarnya yang telah kembali 100 persen.
"Aduh, mataku sakit banget melihat susunan bungamu itu!.."
Ini mawar premium, bukan pagar tanaman kantor!
Kalau ditaruh di sudut situ, bunganya bakal layu kena semburan AC central! "cerocos Sisil tanpa jeda dengan mata melotot malas."
Han tertegun membeku di tempat . namun, rasa lega yang luar biasa langsung membuncah di dalam dadanya melihat singa barbar desanya akhirnya mau berbicara kembali.
"Sisil...anda sudah mau bicara?"
Tanya Han dengan suara baritonnya yang melembut.
"Biarin! habisnya kamu payah banget, masa urusan bunga saja harus cari di google!"
Ketus sisil, sambil memalingkan wajahnya yang mendadak merona merah karena teringat pengakuan cinta Han kemarin sore di rumah Nyonya victoria.
Sisil menarik napas dalam-dalam, menatap Nala dan Adrian yang baru saja masuk ke dalam aula.
"Nal, Tuan CEO posesif..aku sudah dengar semuanya.
Aku tahu tentang dua tentara bayaran dari turki yang mau merusak pernikahan kalian.
Aku tahu tentang masa lalu mendiang papamu yang dirampok Haryanto.
Sifat penakutku itu sudah hilang!
Aku ingin pernikahan kalian berdua terlihat sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun!
Aku akan membantu kalian menjebak tikus-tikus turki itu lewat jalur dekorasi bunga ini!
"Seru Sisil penuh tekad berapi-api."
Nala langsung berlari memeluk erat Sisil dengan air mata haru yang mengalir di pipinya. "terima kasih, sisil...terima kasih sudah kembali."
Adrian yang berdiri di samping Nala tersenyum tipis penuh wibawa, sementara Kevin langsung memberikan kode kedipan mata rahasia kepada Han.
Dengan kembalinya keberanian Sisil, kecerdasan IP cyber milik Nala, serta rombongan jet pribadi papa dan mama Angel yang sedang terbang dari New york menuju jakarta.
Aliansi besar keluarga Dirgantara kini telah siap seutuhnya untuk menjatuhkan sekakmat mutlak, bagi komplotan Haryanto di hari H pernikahan nanti.
"Sinar matahari pagi menyinari halaman belakang kediaman Nyonya Victoria. tempat di mana puluhan keranjang besar berisi bunga mawar premium, tulip, dan dedaunan segar baru saja diturunkan dari pasar grosir atmosfer tempat itu mendadak berubah menjadi sangat sibuk dan penuh energi."
Sisil berdiri di tengah-tengah tumpukan tanaman dengan jepit mawar merah terpasang kokoh di rambutnya.
Sifat traumanya beberapa hari lalu kini telah sepenuhnya runtuh, digantikan oleh semangat kerja. yang meledak - meledak demi memastikan pernikahan Nala dan Adrian berjalan dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun.
"Ayo, semuanya bergerak cepat!"
Tolong pisahkan mawar putih yang kelopaknya sudah mekar, sempurna dengan yang masih kuncup!
Jangan sampai ada duri yang tersisa!" teriak Sisil dengan suara cemprengnya yang khas, memimpin beberapa staf dari floris toko bunga.
Jiwa barbarnya yang jujur dan tegas telah kembali sepenuhnya.
Melihat Sisil yang kembali aktif bergerak ke sana kemari sambil memegang gunting dahan, Nala dan Angel yang memantau dari balkon lantai dua hanya bisa tersenyum lega dengan air mata haru.
Sahabat mereka telah kembali ke garis depan.
Karena ancaman dua tentara bayaran dari turki masih mengintai di luar sana. Adrian melarang keras Sisil menggunakan sepeda tua legendarisnya untuk mengantar bunga ke gedung pertemuan.
Sebagai gantinya, Pt. Dirgantara megah utama menyiapkan sebuah kendaraan boks logistik. khusus yang sudah dimodifikasi dengan kaca anti peluru dan sistem pelacak GPS militer berlapis.
Sisil melangkah mendekati bagian belakang kendaraan boks tersebut. sibuk menata vas -vas bunga besar ke dalam kabin agar tidak terguncang selama perjalanan.
Namun, setiap kali Sisil berbalik. ia selalu mendapati sesosok pria tinggi tegap yang berdiri hanya berjarak dua langkah di belakangnya.
Siapa lagi kalau bukan asisten Han?
Namun kini. tidak lagi memegang berkas korporat, melainkan berdiri siaga dengan kaos polo hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya.
Lengkap dengan earpiece nirkabel di telinganya. matanya yang tajam terus menyapu sekeliling halaman dengan protektif yang sangat kentara.
Sisil merasa risi karena terus-menerus ditempel tanpa jarak, akhirnya berbalik dan berkaca pinggang di depan Han.
"Heh...Tuan kaku! kamu ngapain sih berdiri mepet - mepet terus dari tadi? aku mau mindahin ember bunga ini jadi susah tahu!"
Han berdehem kaku, menyembunyikan debaran jantungnya yang ugal-ugalan setiap kali mencium aroma mawar segar dari tubuh Sisil.
"Saya hanya menjalankan perintah Tuan Adrian untuk melakukan pengawalan ketat 24 jam, sisil. tugas saya adalah memastikan anda dan kendaraan logistik bunga ini sampai ke gedung pernikahan dengan selamat tanpa intervensi dari agen turki," jawab Han dengan suara baritonya yang formal namun penuh perhatian mendalam.
Sisil memalingkan wajahnya yang mendadak merona - merah karena teringat deklarasi cinta Han tempo hari.
"Hih! bilang aja kamu sengaja mau modus biar bisa dekat-dekat sama aku terus, kan? dasar kanebo kering!" ketus sisil cempreng untuk menutupi rasa salah tingkahnya "
Lalu melompat masuk ke dalam kabin depan kendaraan boks. Han hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengukir senyuman tipis penuh arti.
Sebelum akhirnya ikut duduk di kursi kemudi untuk menyetir sendiri kendaraan bunga tersebut.
Di saat kendaraan boks bunga yang dikemudikan Han, mulai bergerak perlahan membelah jalanan jakarta dengan pengawalan mobil keamanan bayangan.
Situasi di ruang kendali cyber Pt. Dirgantara megah utama sudah mencapai titik puncak persiapan pertempuran.
Kevin sedang berdiri di depan layar satelit bersama Nala. berkat kecerdasan Nala yang berhasil membalikkan umpan IP cyber sebelumnya.
Mereka kini bisa melihat pergerakan dua tentara bayaran turki di pelabuhan secara real - time.
Penjahat - penjahat itu sama sekali tidak tahu bahwa setiap langkah mereka sudah masuk ke dalam jebakan maut.
BZZZZ!
Ponsel Kevin bergetar menerima notifikasi konfirmasi penerbangan international, binar mata Kevin langsung berubah penuh kemenangan.
"Tuan Adrian, Nala..jet pribadi Papa dan mama Angel baru saja memasuki wilayah udara indonesia, di jadwalkan mendarat di bandara Halim Perdana Kusuma satu jam lagi."
Lapor Kevin dengan nada tegas, mengabaikan sejenak sifat humorisnya.
"Mereka membawa tim audit forensik cyber terbaik dari New york untuk langsung bergabung dengan kita di rumah utama."
Adrian yang berdiri bersedekap dengan aura CEO nya yang sangat dominan dan protektif, mengangguk mantap.
"Bagus. biarkan Haryanto dan tikus-tikusnya di turki mereka bisa mengacaukan pernikahan dari jalur logistik kendaraan bunga."
Mereka tidak tahu bahwa kedatangan orang tua Angel dari "New York minggu ini akan menjadi awal dari pembekuan total seluruh kekaisaran bisnis ilegal mereka di luar negeri."
Adrian merangkul pinggang Nala dengan sangat posesif, mengecup pelipis calon istrinya itu dengan penuh kehangatan.
"Pernikahan kita tinggal beberapa minggu lagi, sayang. dan dengan bersatunya kekuatan keluarga kita, Geng three girls, peserta perlindungan ketat dari Han dan Kevin."
Kita akan memastikan bahwa hari bahagia kita, nanti akan menjadi kuburan massal bagi seluruh komplotan pengkhianat dari turki tersebut!
Persiapan menuju hari H pernikahan megah - mewah Adrian dan Nala kini telah bergeser, menjadi sebuah operasi pertempuran finansial skala global.
Di dalam ruang kerja utamanya yang dijaga ketat, Adrian berdiri di hadapan layar monitor yang menampilkan grafik aliran dana perbankan swiss.
'Mata elangnya berkilat penuh tekad yang dingin dan berbahaya!'
Haryanto berpikir dia bisa menikmati sisa hidupnya dengan memborong aset-aset mewah. di luar negeri menggunakan uang hasil perampokan mendiang papaku.
Geram Adrian dengan rahang yang mengeras tegang. "dia salah besar."
Adrian memutuskan untuk tetap mengoordinasikan tim cyber international bersama Angel yang berada di garis depan.
Melalui kekuatan koneksi global, mereka fokus membidik seluruh rekening rahasia milik komplotan Haryanto di swiss.
Target Adrian sangat mutlak; membekukan seluruh aset tersebut secara serentak.
Sebelum hari H pernikahan. lalu mengalihkan dan mengambil kembali setiap sen hak kekayaan, keluarga dirgantara yang dulu dirampok secara kejam saat mendiang ayahnya sakit - sakitan.
Pria arogan yang merintis Pt. Dirgantara megah utama dari nol, selepas lulus dari harvard itu tidak akan membiarkan penghianat itu bebas berkeliaran.
'Dan menikmati kemewahan yang selama ini ia kembangkan, beberapa kekaisaran perusahaan dari hasil rampokan mendiang papahnya, Dirgantara.'