Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Putri yang Dibuang
"Hari ini juga, keluar dari rumah ini!"
Suara keras itu menggema di ruang tamu rumah keluarga Mahardika. Tidak ada sedikit pun kehangatan dalam nada bicara pria paruh baya yang selama dua puluh tiga tahun dipanggil Ayah oleh Arunika.
Arunika berdiri membeku. Jemarinya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap menatap lurus ke arah orang-orang yang berdiri di hadapannya.
Di depan sang ayah, berdiri seorang wanita elegan dengan senyum tipis di bibirnya. Di samping wanita itu, seorang gadis seusia Arunika memeluk lengan ayahnya dengan manja.
"Kenapa diam?" sindir gadis itu.
"Bukankah kau selalu bilang keluarga adalah segalanya?"
Ucapan itu disambut tawa kecil dari beberapa kerabat yang sengaja datang pagi itu, Arunika menelan ludah.
"Kalau memang aku melakukan kesalahan," ucapnya lirih,
"katakan kesalahanku."
plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Kepalanya terlempar ke samping, Ruang tamu mendadak sunyi.
"Masih berani bertanya?" bentak Bagaskara Mahardika.
"Kau mencuri uang perusahaan lima miliar rupiah!"
Mata Arunika membelalak.
"Apa?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu!"
Bagaskara melempar sebuah map cokelat ke lantai, Dokumen-dokumen berserakan.
Foto rekening bank.
Laporan transfer.
Tanda tangan.
Semua bukti mengarah kepadanya, Arunika berlutut mengambil satu per satu kertas itu.
Tangannya mulai gemetar.
"Ini palsu...."
"Tanda tangannya sama."
"Ada yang memalsukan."
"Masih berbohong?"
Wanita yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Mas, sudahlah. Anak ini memang dari dulu keras kepala."
Tatapan wanita itu penuh kemenangan.
Arunika mengenalnya.
Maya.
Istri kedua ayahnya, Wanita yang selalu berpura-pura baik sejak ibunya meninggal.
Kini topeng itu benar-benar terlepas.
"Mas," lanjut Maya dengan suara lembut,
"kalau Arunika tetap di rumah ini, nama keluarga kita akan semakin hancur."
Bagaskara memejamkan mata sejenak.
Lalu berkata tanpa ragu,
"Mulai hari ini, kau bukan lagi anak keluarga Mahardika."
Kalimat itu menghantam hati Arunika lebih keras daripada tamparan tadi, Dadanya sesak.
Air matanya hampir jatuh. Namun ia menahannya.
"Ayah...."
"Jangan panggil aku Ayah!"
Suasana menjadi semakin dingin, Seluruh pelayan menundukkan kepala. Tak seorang pun berani membela, Padahal mereka tahu.
Arunika selama ini yang paling sering membantu mereka.
Membiayai anak-anak pelayan sekolah, Mengobati ibu yang sakit. Tak pernah sekalipun bersikap sombong.
Tetapi hari ini...Tak ada yang membuka suara.
Mereka takut kehilangan pekerjaan.
Di sudut ruangan, Clarissa—putri Maya tersenyum puas.
Akhirnya, Tidak ada lagi yang menghalangi dirinya menjadi pewaris tunggal keluarga Mahardika.
"Ayah," katanya manja.
"Suruh satpam mengusir dia."
Bagaskara mengangguk pelan.
"Dorong keluar."
Dua satpam mendekati Arunika, Mereka tampak ragu.
"Nona...."
Arunika tersenyum pahit.
"Tidak perlu."
Ia berdiri perlahan, Tangannya meraih tas kecil yang tergeletak di sofa. Hanya itu barang miliknya, Saat hendak melangkah keluar, suara Maya kembali terdengar.
"Tunggu."
Arunika menoleh, Maya berjalan mendekat.
Dengan sengaja ia melepas kalung berlian yang dikenakan Arunika.
"Itu milik keluarga Mahardika."
Anting.
Gelang.
Jam tangan.
Semuanya dilepas satu per satu, Bahkan cincin peninggalan ibunya pun dirampas.
"Itu pemberian Ibu...."
Maya tersenyum tipis.
"Semua yang ada di rumah ini milik keluarga."
Air mata Arunika akhirnya jatuh, Bukan karena kehilangan harta. Melainkan karena cincin itu adalah kenangan terakhir ibunya.
Bagaskara hanya memalingkan wajah.
Tak sedikit pun menghentikan istrinya.
Hati Arunika benar-benar hancur.
Ia berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu utama tertutup, hujan deras langsung menyambutnya.
Langit seolah ikut menangis, Ia berdiri di depan gerbang besar rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak kecil.
Namun kini...Rumah itu bukan lagi miliknya.
Tak lama kemudian, sebuah koper tua dilempar keluar oleh pelayan.
Bruk!
Koper itu jatuh ke genangan air, Pakaian Arunika berhamburan. Clarissa berdiri di balkon lantai dua.
"Mulai sekarang, jangan pernah kembali!"
Pintu gerbang perlahan tertutup.
Brak!
Suara besi itu terdengar seperti penutup seluruh masa lalunya, Arunika memungut pakaiannya satu per satu. Air hujan membasahi wajahnya.
Sulit membedakan mana air mata dan mana hujan, Ia mengangkat kepala. Menatap rumah megah yang kini terasa asing.
"Kalau memang kalian menganggapku beban...."
Suaranya lirih.
"...aku tidak akan pernah kembali meminta belas kasihan."
Ia berbalik, Melangkah tanpa tujuan.
Tak ada keluarga, Tak ada rumah, Tak ada tempat pulang. Yang tersisa hanya harga diri.
Beberapa jam kemudian...
Arunika duduk sendirian di halte bus, Perutnya kosong sejak pagi. Ponselnya terus berdering, Nomor yang tidak dikenal.
Ia mengabaikannya.
Beberapa detik kemudian, layar ponsel kembali menyala, Sebuah pesan masuk.
"Jangan percaya siapa pun di keluarga Mahardika."
Arunika mengernyit, Belum sempat membaca lebih lanjut, pesan kedua muncul.
"Mereka bukan keluarga kandungmu."
Jantungnya berdegup kencang, Tangannya mulai gemetar. Belum sempat ia membalas, nomor itu langsung tidak aktif.
"Siapa sebenarnya aku...?"
gumamnya pelan, Di saat yang sama...Di lantai paling atas gedung Adrian Group.
Seorang pria tampan mengenakan setelan hitam berdiri di depan jendela kaca.
Tatapannya dingin menghadap gemerlap kota.
"Presiden Direktur."
Seorang sekretaris masuk dengan gugup.
"Informasi tentang gadis itu sudah kami temukan."
Pria itu tidak menoleh.
"Bacakan."
Sekretaris membuka tablet.
"Namanya Arunika."
"Usia dua puluh tiga tahun."
"Baru saja diusir dari keluarga Mahardika karena tuduhan menggelapkan dana perusahaan."
Pria itu akhirnya berbalik, Tatapan matanya tajam.
"Apakah tuduhan itu benar?"
"Tidak."
"Bukti-buktinya dipalsukan."
"Dan..." Sekretaris berhenti sejenak.
"Ada kemungkinan besar Arunika adalah pewaris yang selama ini Tuan cari."
Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah.
"Siapkan mobil."
"Tuan ingin ke mana?"
Pria itu merapikan manset jasnya.
"Mencari gadis itu."
"Kalau mereka membuangnya...aku akan menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan."
Sementara itu, tanpa Arunika sadari, dari seberang jalan sebuah mobil hitam telah mengawasinya sejak tadi. Seorang pria misterius menutup laptopnya.
"Target berhasil dikeluarkan dari keluarga Mahardika."
Ia menekan tombol di earphone.
"Operasi tahap kedua dimulai."
Di luar, Arunika masih duduk memeluk koper tuanya, tidak menyadari bahwa sejak hari itu hidupnya akan berubah selamanya.
Ia kehilangan keluarga...
Namun tanpa ia ketahui, ia baru saja melangkah menuju takdir yang akan mengungkap rahasia kelahirannya.
mempertemukannya dengan seorang CEO yang ditakuti banyak orang, dan membawanya pada balas dendam yang akan mengguncang keluarga Mahardika.
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?