Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Alneo segera turun dari mobilnya. Sambil bersandar pada pintu mobil, matanya melihat kerumunan siswa yang berjalan keluar dari gerbang sekolah.
Postur tubuhnya kini tampak lebih tegap, dan tentunya ia sangat tampan.
Para siswi yang melewatinya langsung terkagum-kagum melihatnya.
"Ya ampun ganteng banget, dia itu datang jemput siapa sih? Adeknya atau pacarnya sih?" tanya mereka terkagum-kagum.
"Mau dong punya pacar ganteng, kaya lagi," sahut mereka berbisik ria.
Alneo tidak peduli dengan ucapan para siswi itu, ia sibuk melihat para siswa yang berhamburan keluar.
Tak lama kemudian, ia melihat seorang gadis remaja dengan rambut dikuncir kuda sedang berjalan lesu sambil memeluk beberapa buku paket.
Itu Riani. Namun, ada yang aneh. Wajah adiknya itu tampak muram, sama sekali tidak ada binar ceria seperti biasanya.
"Riani!" panggil Alneo setengah berteriak sambil melambaikan tangan.
Riani mendongak. Begitu melihat kakaknya, senyum tipis yang dipaksakan muncul di wajahnya. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Alneo.
"Kak Al? Kak terus di sini? Kakak nggak ada urusan?" tanya Riani saat sudah berdiri di depan Alneo, suaranya terdengar agak lemas.
Alneo tersenyum lebar, berniat memberikan kejutan. "Nggak ada, dan tebak apa? Hari ini Kakak bawa kabar yang luar biasa buat kamu!"
Riani menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Alneo.
"Kabar luar biasa apa, Kak? Riani lagi capek banget hari ini. Otak rasanya mau meledak gara-gara ujian matematika yang mendadak tadi," kata Riani cemberut.
"Ayo masuk mobil dulu. Di luar panas, nanti Kakak ceritain di dalam," Alneo terkekeh sambil mengacak rambut adiknya.
Mereka berdua masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk oleh hembusan AC. Ia mengambil dokumen dari dasbor mobil.
"Nih, coba kamu lihat ini," kata Alneo sambil menyodorkan sebuah map dokumen berwarna cokelat kepada Riani.
Riani mengernyitkan dahi. "Apaan nih, Kak? Jangan bilang lagi pengajuan hutang bank?"
"Buka aja dulu, bawel. Enak aja dituduh ngutang," gerutu Alneo sambil pura-pura cemberut.
Riani membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bersertifikat.
Matanya langsung melotot lebar saat membaca baris demi baris tulisan di sana.
"S-Sertifikat Hak Milik... Kontrakan sepuluh pintu? Atas nama... Alneo Putra?!" kata Riani terkejut.
Ia menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya. "Kak! Ini beneran? Kakak nggak lagi nipu orang atau main judi online, kan?!"
Alneo langsung menjitak pelan dahi adiknya. "Aduh! Sakit, Kak!" protes Riani sambil mengusap dahinya.
"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh. Itu asli, legal, dan mutlak punya kita sekarang. Kakak baru aja dapat rezeki nomplok. Bukan cuma itu, saldo rekening Kakak sekarang juga udah lebih dari cukup buat bayar semua biaya sekolah kamu sampai lulus nanti bahkan sampai kuliah nanti," ujar Alneo bangga.
"Kak... kita beneran punya kontrakan?" tanya Riani lirih. Rasanya ia tak percaya itu, hanya dalam satu malam, hidup mereka berubah drastis menjadi orang, kaya sesungguhnya.
Alneo Merasa hatinya terenyuh. Ia merangkul pundak adiknya dengan erat. "Sekarang kaka udah bisa biayai sekolah kamu, Riani. Kakak janji. Sekarang, kita mau langsung lihat lokasinya?"
Riani langsung mengangguk cepat, "Mau! Mau banget, Kak! Ayo kita ke sana sekarang!"
"Siap, bos! Meluncur!"
Alneo memutar kunci kontak dan menghidupkan mesin mobil.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...