NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 17

Perubahan sikap Amerta terjadi begitu cepat dan drastis sejak pagi kepulangan orang tua mereka. Di meja makan, saat sarapan keluarga pertama mereka setelah empat hari mencekam itu, Amerta tidak lagi memandang Mahesa dengan kilat amarah yang meledak-ledak. Ia duduk dengan tenang, mengunyah rotinya perlahan, dan bahkan menawarkan diri untuk menuangkan kopi hitam ke cangkir Mahesa saat Ayah sedang sibuk membaca koran pagi.

Mahesa yang sedang memegang garpu sempat menghentikan gerakannya sejenak. Mata birunya menyipit tajam, menatap lekat-lekat jemari Amerta yang meletakkan cangkir kopi di dekatnya. Tidak ada getaran ketakutan. Tidak ada tatapan jijik seperti kemarin pagi. Amerta hanya memberikan senyuman tipis yang tampak begitu tulus dan patuh—sebuah ekspresi yang justru membuat naluri predator Mahesa langsung waspada.

"Terima kasih, Amerta," ucap Mahesa rendah, suaranya terdengar datar namun sarat akan selidik.

"Sama-sama, Kak Esa," jawab Amerta lembut, lalu kembali duduk di samping Mamanya, bersikap seolah ia adalah adik perempuan terbaik di dunia.

Amerta tahu betul apa yang sedang ia lakukan. Mengamuk, menangis, atau mengadu kepada orang tua mereka hanya akan berakhir sia-sia karena Mahesa terlalu cerdik dan memiliki kuasa mutlak di rumah ini. Cara satu-satunya untuk bisa lolos dari cengkeraman obsesif kakak tirinya adalah dengan menjadi "anak manis" yang diinginkan Mahesa. Ia harus membuat Mahesa lengah, menurunkan pertahanannya, dan percaya bahwa mental Amerta telah benar-benar patah dan tunduk di bawah kendalinya. Kepatuhan ini adalah topeng, sebuah taktik perang psikologis demi memulihkan kekuatannya sendiri sebelum ia mengeksekusi rencana pelarian yang sesungguhnya.

Siasat Amerta mulai menunjukkan hasil dalam tiga hari berikutnya. Ia selalu menyambut Mahesa di depan pintu setiap kali kakaknya pulang kerja jam lima sore, membawakan tas kerjanya, dan memastikan makan malam pria itu sudah siap di meja. Ia bahkan tidak lagi mengunci pintu kamarnya di malam hari. Kepatuhan total yang ditunjukkan Amerta perlahan-lahan mulai mengikis kecurigaan Mahesa. Bagi Mahesa, melihat Amerta yang penurut dan melayaninya dengan manis adalah pemandangan paling memuaskan yang mengesahkan dominasinya.

Hingga pada hari keempat, kesempatan yang ditunggu-tunggu Amerta akhirnya tiba. Ayah dan Mama harus menghadiri acara gala dinner perusahaan di sebuah hotel bintang lima di pusat kota dan kemungkinan baru akan kembali lewat tengah malam. Di saat yang sama, Mahesa juga memiliki janji pertemuan bisnis penting dengan investor asing yang tidak bisa ia batalkan. Rumah mewah itu akan kembali sepi, hanya menyisakan beberapa pelayan di area dapur belakang yang biasanya sudah tertidur setelah pukul sembilan malam.

Pukul 19.30 WIB, Mahesa sudah rapi dengan setelan jas formalnya di depan cermin ruang tengah. Amerta melangkah mendekat dengan langkah anggun, membawa dasi sutra hitam milik Mahesa yang tertinggal di meja rias.

"Kak Esa lupa memakai dasinya," ucap Amerta lembut. Ia berdiri tepat di hadapan Mahesa, menjinjitkan kakinya sedikit, lalu dengan lihai melingkarkan dasi itu ke kerah kemeja Mahesa. Jemarinya yang lentik bergerak merapikan simpul dasi tersebut dengan sangat telaten.

Mahesa menunduk, menatap puncak kepala Amerta sebelum beralih mengunci sepasang mata gadis itu. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma parfum sandalwood milik Mahesa kembali mengepung indra penciuman Amerta. Namun kali ini, Amerta tidak mundur. Ia membalas tatapan itu dengan binar mata yang tampak polos dan pasrah.

"Kamu benar-benar sudah berubah, Amerta," bisik Mahesa, suaranya berat dan serak. Telapak tangannya yang besar naik, mendarat di pinggang ramping Amerta, menarik tubuh gadis itu agar semakin merapat pada dada bidangnya. "Aku suka melihatmu yang seperti ini. Tetaplah menjadi anak manis yang penurut, maka aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."

Amerta memaksakan sebuah senyuman tipis, menahan gejolak mual dan ngeri yang berteriak di dalam dadanya. "Amerta tahu, Kak. Amerta tidak punya pilihan lain selain patuh pada Kak Esa, kan?"

Jawaban itu terdengar seperti pengakuan kekalahan yang mutlak di telinga Mahesa. Sisa-sisa kewaspadaan yang tersimpan di benak pria itu runtuh seketika, digantikan oleh rasa puas yang membubung tinggi. Mahesa mengelus pinggang Amerta perlahan untuk terakhir kalinya sebelum melepaskan tautan mereka. Ia mengambil kunci mobil dan ponselnya di atas meja, lalu melangkah keluar menuju garasi dengan keyakinan penuh bahwa sang burung sangkar tidak akan pernah berani mencoba terbang lagi.

Begitu pintu garasi menutup otomatis dan suara deru mobil sport Mahesa perlahan menjauh meninggalkan halaman, topeng kepatuhan di wajah Amerta runtuh seketika. Tatapan matanya yang tadinya lembut berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan penuh tekad.

Amerta berlari kencang menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia tidak membawa koper besar karena itu akan memicu kecurigaan para pelayan di bawah. Ia hanya menyandang sebuah ransel hitam kecil yang sudah ia sembunyikan di dalam lemari pakaian sejak kemarin. Di dalamnya hanya berisi beberapa lembar pakaian ganti, kartu identitas, dan uang tunai dalam jumlah cukup yang diam-diam ia ambil dari dompet darurat milik Mamanya.

Amerta melangkah mengendap-endap menuruni tangga belakang yang langsung menembus ke arah area cuci dan taman samping. Beruntung, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat, dan Bi Sumi serta para pelayan lainnya sudah berada di dalam kamar paviliun mereka di bagian paling belakang rumah.

Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup seperti genderang perang, Amerta berlari melintasi rerumputan taman samping yang gelap. Jendela-jendela lantai bawah memang masih terpasang tralis besi, namun pintu gerbang kecil di dekat tangki air—yang biasa digunakan petugas kebersihan untuk membuang sampah halaman—hanya dikunci dengan gerendel manual dari dalam.

Sret. Amerta menarik gerendel besi yang berkarat itu dengan sekuat tenaga. Suara gesekan besi sempat membuatnya membeku ketakutan, khawatir jika ada satpam yang mendengar. Setelah memastikan situasi tetap aman, ia mendorong pintu kecil itu dan menyelinap keluar.

Untuk pertama kalinya dalam satu minggu ini, Amerta merasakan embusan angin malam jalanan yang bebas menerpa wajahnya. Tidak ada tralis besi, tidak ada kamera pengawas, dan tidak ada Mahesa yang mengurungnya. Amerta berlari sekencang mungkin menyusuri trotoar kompleks perumahan yang sepi, menuju jalan raya utama untuk mencari taksi apa pun yang lewat. Ia harus pergi sejauh mungkin malam ini, bersembunyi di tempat yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh kekuasaan dan obsesi gila Mahesa Dirgantara.

1
Reni Anjarwani
lanjut
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!