NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

Meysa masih menatap surat itu.

"Seorang pembunuh?" gumam Meysa

"Kamu memang tidak pantas bersanding dengan Rangga," suara perempuan tiba-tiba terdengar dari balik tirai hijau yang memisahkan tempat tidurnya dengan tempat tidur kosong di sebelah. "Rangga itu hanya untukku."

Meysa menoleh. Seorang wanita berdiri di balik tirai itu, kedua tangan dilipat di dada. Wajahnya tertutup masker, tetapi Meysa sangat mengenali postur tubuh wanita itu

"Dia?" ucap Meysa.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka lagi. Seorang perawat masuk dengan senyum ramah. Di tangannya, ia membawa sebuah buket bunga berwarna-warni mawar merah, lily putih, dan baby's breath yang menyusun rangkaian indah.

"Ini ada titipan untuk Ibu," ucap perawat itu sambil meletakkan buket bunga di meja samping tempat tidur. "Dari seorang pria. Ia titip untuk disampaikan langsung ke Ibu."

Meysa mengernyit. "Siapa, Mbak?"

Perawat itu menggeleng. "Saya tidak tahu, Bu. Orangnya memakai topi dan masker, jadi wajahnya tidak terlihat. Ia hanya menitipkan ini, lalu pergi begitu saja." Perawat itu tersenyum, lalu keluar meninggalkan Meysa sendirian."Permisi ya bu, saya ganti infusan dulu!"

Meysa menatap buket itu. Tangannya gemetar saat meraih di antara kelopak bunga, di mana sebuah amplop kecil berwarna krem terselip rapi. Ia membukanya.

''I'm not asking you to forgive me right now. I know I don't deserve that. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, I will wait. No matter how long it takes. Aku akan tetap menunggumu. Sampai kamu mau ngasih aku satu kesempatan lagi!"

*

Rangga duduk di bangku dekat jendela. Di kafe favoritnya, secangkir kopi kesukaanya, matanya liar menatap suasana disana..

"Rangga?" panggil seseorang..

Lalu Rangga melihat ke arah meja seberang, empat orang sedang duduk dengan piring-piring makanan di hadapan mereka.

"Lo ngapain di sini? Ayo sini gabung!" panggil Dimas sambil melambaikan tangannya..

Rangga menghela napas, lalu berdiri dan pindah ke meja mereka. Ia duduk di kursi kosong di samping Abimanyu.

"Kok lo gak masuk kuliah udah seminggu, Ga? Ada masalah apa?" tanya Januar sambil menyuap mie goreng ke mulutnya.

"Biasa ada kesibukan, ma'lum guekan anak AYAH," ucap Rangga bohong

"Kesibukan apa?" Renal menatapnya tajam. "Jangan bilang ini ada hubungannya sama Meysa? Lo berdua kenapa? Kok dia juga gak masuk?"

Rangga terdiam. Ia menatap Renal cukup lama, membuat pria itu tidak nyaman.

"Nal," panggil Rangga pelan.

"Apa?"

"Lo suka sama Meysa?"

Pertanyaan itu membuat Renal sedikit terkejut. Abimanyu yang sedang minum es teh hampir tersedak...

Renal terdiam. Wajahnya berubah merah,"A-apa? Ngomong apa sih lo?" ucap Renal dengan terbata-bata.

"Gue ulangin pertanyaan gue, Lo suka ya sama Meysa?"

"Lo tanya gue suka sama dia?" jawab Renal. "Ya, gue suka sama Meysa!" lalu Renal melangkah pergi meninggalkan kesunyian diantara sahabat-sahabatnya..

Dimas yang sedari tadi enggan bicara, akhirnya menghela napas panjang.

"Bubar dah persahabatan kita, kalo begini situasinya," ucap Dimas.

*

Hujan turun ketika Rangga sampai di apartemen. Gerimis tipis yang cukup untuk membuat rambutnya basah dan kemejanya sedikit lembab, tapi ia tidak peduli. Ia melepas sepatunya, melemparkannya ke sudut ruangan, lalu jatuh terduduk di sofa tanpa membuka lampu. Gelap. Ia menyukai gelap malam ini. Gelap tidak menuntutnya untuk berpura-pura kuat.

Pikirannya melayang pada Meysa. .

Berjam-jam ia duduk di sofa itu, ia hanya menatap langit-langit yang gelap. Dan ketika jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari, ia mengambil keputusan. Ia akan ke rumah sakit.

Rumah sakit di tengah malam terasa seperti dunia yang berbeda. Koridornya sunyi, hanya diterangi lampu emergency yang redup. Bau antiseptik menyengat, tapi Rangga sudah tidak peduli lagi.

Ia membuka pintu ruangan 307 dengan perlahan.

Meysa sedang tertidur. Wajahnya tenang, napasnya teratur, dan di bawah cahaya lampu redup dari jendela, ia terlihat berbeda. Kulitnya yang dulu kusam kini mulai bersih. Bekas jerawat di pipinya hampir tidak terlihat. Dan lesung pipit di antara kedua pipinya, kini terlihat jelas meskipun ia sedang tertidur.

"Cantik."

Kata itu muncul di benak Rangga tanpa ia sadari. Bukan cantik dalam artian seperti perempuan yang berdandan sempurna. Tapi cantik dalam artian karena ketulusannya, karena kesabarannya, karena ia tetap bertahan meskipun dunia memperlakukannya dengan kejam. Rangga mengulurkan tangannya, jari-jarinya dengan lembut menyentuh pipi Meysa.

Pandangannya beralih ke meja samping tempat tidur. Beberapa buah-buahan yang masih utuh, dan dua amplop tergeletak di sana. Satu amplop berwarna krem, sedikit kusut di ujungnya itu suratnya. Surat yang ia titipkan lewat perawat sore tadi. Ia tersenyum tipis saat menyadari bahwa Meysa tidak membuangnya.

Tapi amplop yang satu lagi... berbeda. Amplop putih polos membuat Rangga penasaran, lalu ia meraihnya, dan membukanya dengan hati-hati.

Darah Rangga seketika membeku.

"Jadi selama ini ada penguntit?" ucap Rangga.

*

Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik.

Meysa terbangun bukan karena suara, tapi karena sensasi hangat di tangannya. Ia rasa ada yang menggenggam erat jemarinya, lalu ia membuka matanya perlahan menoleh perlahan..

Disamping tempat tidurnya, Rangga tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, kepala bersandar di tepi kasur, leher sedikit tertekuk. Tangannya masih menggenggam jemari Meysa erat-erat, seperti orang yang takut kehilangan sesuatu yang berharga.

Beberapa menit berlalu. Meysa masih berpura-pura tertidur ketika suara pintu terbuka pelan. Seorang dokter dengan jas putih masuk, diikuti oleh seorang perawat yang membawa buku catatan. Dokter itu tersenyum ramah saat melihat Rangga yang tertidur di samping pasiennya.

"Selamat pagi," sapa dokter dengan suara pelan, tidak ingin membangunkan Rangga.

"Selamat pagi, Dok," jawab Meysa, sembari membuka matanya.

Suara itu cukup untuk membuat Rangga tersentak bangun. Kepalanya terangkat cepat, matanya yang masih sayu berkedip beberapa kali, lalu menatap Meysa yang kini sedang menatapnya balik dengan ekspresi tidak bisa diartikan.

Rangga tersenyum canggung. "Eh... kamu udah bangun?"

Dokter itu tersenyum kecil melihat interaksi mereka, lalu melanjutkan pemeriksaan. Tensimeter dipasang, denyut nadi diperiksa, dan perut Meysa ditekan pelan di beberapa titik.

"Bagus," ucap dokter sambil melepas stetoskop dari telinganya. "Tekanan darah sudah normal. Pendarahan sudah berhenti. Dan luka di dalam sudah mulai pulih. Ibu sudah boleh pulang hari ini."

Meysa menoleh. Matanya sedikit membesar. "Boleh pulang, Dok?"

"Iya. Tapi tetap jaga kondisinya. Jangan capek-capek. Jangan angkat barang berat. Dan kontrol seminggu lagi," pesan dokter sambil menulis resep di buku catatannya. "Saya kira Bu Meysa sudah tidak sabar ingin pulang."

Meysa tersenyum tipis. "Iya, Dok. Terima kasih."

Dokter itu mengangguk, lalu melirik Rangga yang berdiri di samping tempat tidur dengan wajah sedikit grogi. "Suaminya jaga istrinya baik-baik ya. Seorang istri butuh perhatian lebih setelah keguguran."

Rangga mengangguk cepat. "Baik, Dok."

Setelah dokter dan perawat keluar, ruangan itu kembali sunyi, namun Rangga tidak tahu harus berbuat apa? Sedangkan Meysa masih membuang wajahnya ke arah jendela, seperti enggan untuk menatap suaminya..

"Cha..." panggil Rangga.

1
Humaira
APASIH emili dasar gak tau malu udah di buang juga sama si Rangga masih aja ngutilin 😏
Humaira
Hallo tor semangat jangan berhenti di tengah jalan
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
Syifa
lanjut kaka makin seru ceritanya
Alia Chans
hadir, cerita nya seru, semangat thor😉
Humaira
🤣🤣🤣🤣
ahs@
ternyata Rangga peminum Miras.. wkwkwk
ahs@
Emily merasa di beri celah dengan kedatangan Aditya untuk menjauhkan Rangga dari meysa...
MochiFlora: Huffttt, jadinya pen ngutuk jin dasim yang satu itu 😌
total 1 replies
ahs@
siapakah dia...🤣🤣
Humaira
Siapa lagi tuh Aditia 🤔
Humaira
Gawat Rangga mulai posesif
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
Emi Sudiarni
lanjut kak🤣🤣🤣
Emi Sudiarni
as nenek lampir
Emi Sudiarni
smangat buat rangga meysa untuk memulai hubungan dgn baik, wlaupun kedepan nya bnyak ujian. terutama dari mak Lampir emily
ahs@
wow,ternyata reader kena prangk C Rangga....wow,luar biasa actingmu Rangga...memuakan😡
Humaira
Lanjut
Emi Sudiarni
lanjut kak. seru
Emi Sudiarni
lah sdah thu meysa istri rangga ngapain renal dkat meyaa
partini
se Dam STUPID Rangga,aihh males Banggt aku nabung bab dulu yah Thor nanti balik lagi soalnya ada yg kaya gini ceritanya yg sama sudah mau end'
Humaira
Apa apaan ini ?
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
partini
ini siapa lagi ganggu ,renal atau di Kunti ganjen itu
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!