NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 32 Purwasaga Pulang, Keluarga Riang

Akhirnya Purwasaga dibebaskan oleh kelompok Bajak Laut Tiga Kodok pimpinan Ketua Kanan alias Dudung Kulo.

Itu terjadi setelah Purwasaga selesai bercerita versi lengkap dan berdurasi lama tentang proses dia masuk ke karang bolong yang bercahaya, tentang Negeri Elindra, penduduknya, serta potensi besar yang bernama Pasukan Penghancur Samudera.

Karena semua sudah sempat mendengar cerita tentang adu bawah gaya khas Bangsa Penjaga Biru, Purwasaga pun tidak sungkan-sungkan bercerita vulgar tentang adu bawahnya yang diawali dengan penderitaan, tetapi berujung ketagihan.

“Hahahak!” Ketua Kanan berulang kali tertawa mendengar cerita kemalangan Purwasaga di Negeri Elindra, terlebih-lebih ketika diceritakan adegan malam pertama yang horor bagi pemuda yang panggilan kecilnya Kopong tersebut.

Sebagai imbalan dari pengisahan ulang Negeri Elindra tersebut, Ketua Kanan membebaskan Purwasaga. Bahkan ia memberikan satu baju untuk Purwasaga agar tidak masuk angin.

“Pada malam purnama mendatang, aku akan datang ke Kerangilo untuk membuktikan kebenaran Karang Bolong Buana itu. Jika seandainya aku tidak menemukan apa-apa, kami akan memburumu dan keluagamu, Kopong,” kata Ketua Kanan setelah cerita Purwasaga tamat.

“Iya, Ketua,” ucap Purwasaga tanpa memendam kecemasan karena Karang Bolong Buana memang benar adanya.

Karang Bolong Buana adalah nama yang dia berikan sendiri teruntuk karang bolong di pantai dekat rumahnya. Sementara Bangsa Penjaga Biru menyebutnya Gerbang Buana.

Karena cerita Negeri Elindra itu pula, Purwasaga diantar pulang sampai ke perairan Kerajaan Pasir Langit. Purwasaga tidak dilempar begitu saja ke laut untuk pulang, tetapi juga diberi sebuah sampan kecil.

Sebagai bajak laut, kelompok itu tidak mau cari masalah dengan pasukan Angkatan Laut Kerajaan Pasir Langit jika berlayar terlalu ke pinggiran.

Meski hanya sebuah sampan kecil dan sebatang dayung, tetapi cukup membuat Purwasaga sangat berterima kasih. Siksaan yang ia alami sebelumnya seolah-olah terbayar lunas. Selain itu, belut cinta yang memblokir tenaga dalam Purwasaga juga sudah dicabut oleh ahlinya.

Kepergian Purwasaga bahkan dilepas dengan lambaian tangan dan wajah-wajah ceria para anggota bajak laut, termasuk Denyut Arep yang berubah sikapnya menjadi bersahabat.

Segera Purwasaga mendayung sampannya menjauhi kapal Bajak Laut Tiga Kodok. Mau tidak mau dia harus bekerja keras sendirian. Untung saja tenaga dalamnya telah kembali, membuatnya tidak akan kehabisan tenaga hanya gegara mendayung.

Purwasaga akhirnya sampai di pantai Kademangan Kerangilo menjelang magrib, tetapi dia tidak menyiapkan bekal untuk berbuka puasa karena dia memang tidak sedang berpuasa.

Purwasaga cukup terkejut karena melihat kepulangan dirinya disambut meriah. Di pantai ada banyak orang, laki-laki dan perempuan.

“Aku disambut. Padahal aku tidak memberi tahu kapan aku akan pulang,” kata Purwasaga kepada dirinya sendiri. “Oooh, mungkin Ayah diberi tahu Dewa lewat mimpi. Hahaha! Ayah pasti mimpi monyet ganteng lagi. Monyet ganteng naik perahu. Hahaha!”

Demang Bungi Pitam, ayahnya Purwasaga, memiliki kebiasaan tidak biasa. Jika dia memimpikan putranya itu, pasti disimbolkan dengan monyet ganteng. Entah seperti apa wajah monyet ganteng versi Demang Bungi Pitam.

Adanya kerumunan di pantai yang menghadap ke arah perahunya yang datang, memberi kegembiraan bagi Purwasaga. Dia membuang rasa penasarannya tentang bagaimana keluarganya tahu bahwa dirinya akan pulang pada sore hari itu.

“Purwasagaaa!”

“Kopooong!”

“Anakkuuu!”

Lamat-lamat mulai terdengar suara teriakan orang-orang di pantai. Purwasaga lalu menyempatkan diri berdiri dan melambaikan tangan, menunjukkan bahwa Purwasaga dan Kopong adalah dirinya.

Namun, seketika Purwasaga terkejut ketika dia mendengar panggilan oleh suara perempuan.

“Suamikuuu!”

Purwasaga terkejut.

“Kenapa ada yang memanggilku suami? Apakah Lintha menyusulku?” tanya Purwasaga kepada dirinya sendiri karena di perahu itu tidak ada yang bisa ditanya.

Suara panggilan yang terdengar samar-samar membuat Purwasaga tidak dapat mengenali si pemilik suara wanita tersebut. Didorong rasa penasaran, Purwasaga segera duduk dan mendayung menggunakan tenaga dalam yang masih ada. Perahu pun melaju lebih cepat membelah ombak yang menghalangi.

“Purwasagaaa!”

“Kopooong!”

“Anakkuuu!”

“Suamikuuu!”

Empat jenis panggilan itu terus terdengar berulang-ulang. Semakin dekat jarak perahu dengan garis pantai membuat wajah-wajah orang di pantai semakin jelas dan suara-suaranya semakin jelas terdengar.

Purwasaga sudah bisa mengenali wajah-wajah yang masih terlihat blur. Itu ayahnya, itu ibunya, itu adiknya, itu sahabatnya, itu tetangganya, itu langganan kue pancongnya, itu Sasumi yang ditaksirnya sejak remaja, dan yang lainnya.

“Suamikuuu!”

Purwasaga sudah bisa melihat wanita yang meneriakinya “suamiku”. Seorang wanita muda yang sepengetahuan Purwasaga adalah janda muda, ditinggal selingkuh oleh suaminya yang doyan perempuan. Padahal setiap lelaki doyan perempuan.

“Sasumi? Kenapa dia memanggilku suami? Siapa sudi kepada wanita bekas lelaki lain? Kenapa Ayah membiarkan dia teriak seperti itu?”

Sampan Purwasaga semakin mendekati pasir pantai. Teman-teman sepermainan Purwasaga bahkan berlarian turun ke air menyambut depan sampai. Mereka tertawa-tawa kepada Purwasaga yang juga tersenyum lebar.

Orang-orang di pantai sudah tidak berteriak lagi. Ayah dan ibu Purwasaga memilih hanya tersenyum lebar menunggu berdiri di pasir, menghindari upaya ombak yang ingin menjilati ujung kaki.

Sasumi tampak menjadi orang paling girang. Di saat yang lain sudah berhenti memanggil dan tinggal menunggu, dia masih melambai-lambai, loncat-loncat sambil tertawa cekikikan bernada centil. Bahkan dia berdandan lumayan menor dengan warna bibir yang sangat menyala. Hal itu benar-benar membuat Purwasaga sangat heran.

Padahal dulu waktu remaja, Sasumi sangat jual mahal kepada banyak lelaki, terkhusus kepada Purwasaga. Bahkan dia sempat bermusuhan dengan Purwasaga sebelum putra demang itu pergi perguru untuk mencari pelarian.

Akhirnya Purwasaga melompat turun ke air, meski kedalaman masih setinggi pinggang.

“Kopong! Kopong! Kopong!” panggil para pemuda sebaya sambil maju menerobos air menyambut Purwasaga.

Mereka yang menyebut Purwasaga dengan nama Kopong jelas menunjukkan kedekatan mereka selaku teman kecil hingga dewasa.

Seperti benar-benar lama tidak bertemu, para sahabat itu memeluk Purwasaga ramai-ramai di air.

Jburr!

Karena luapan rindu yang tidak terkendali, mereka membuat Purwasaga kehilangan keseimbangan. Akibatnya, mereka jatuh bersama ke dalam air.

“Hahahak!” tawa Demang Bungi Pitam dan Istri, serta yang lainnya melihat kejadian tersebut.

Para pemuda yang sempat menyelam dan minum air asin, kembali berdiri.

Sementara itu, sampan yang sudah tanpa penumpang akhirnya terhenti setelah menabrak pasir dan naik setengah badan.

Purwasaga lalu menuju kepada kedua orangtuanya yang menunggu.

Sasumi segera bergeser untuk lebih mendekat di belakang keluarga Purwasaga. Dia masih saja melambaikan tangan untuk menarik perhatian Purwasaga sebenarnya sedang tidak tampan karena wajahnya agak bengkak.

Purwasaga masih punya hati. Dia pun membalas lambaian tangan Sasumi disertai dengan senyuman yang singkat. Itu sukses membuat Sasumi berhenti melambai, tetapi masih tidak mau berhenti tersenyum bahagia.

Setelahnya, Purwasaga fokus kepada keluarganya. Ia pun langsung dipeluk oleh ibunya yang bernama Lekar Asih.

“Ayah, bagaimana kalian bisa tahu tentang kepulanganku?” tanya Purwasaga ingin cepat tahu.

“Ayo kita pulang dulu. Nanti aku ceritakan apa yang terjadi setelah kau hilang selama satu purnama,” jawab Demang Bungi Pitam.

“Iya. Tapi … kenapa Sasumi memanggilku suami?” tanya Purwasaga.

“Nanti kami ceritakan di rumah,” kata Lekar Asih.

“Baiklah,” ucap Purwasaga menurut.

Susami tersenyum lebih lebar dan bahagia saat Purwasaga kembali melirik kepadanya.

Maka, sebelum matahari benar-benar terbenam, mereka semua meninggalkan pantai.

Purwasaga masih sempat melemparkan pandangannya ke arah gugusan batu karang tempat beradanya Karang Bolong Buana. (RH)

1
rajes salam lubis
lanjut om jangan Malu malu
rajes salam lubis
nenek buyut sandaria mungkin om
rajes salam lubis
aseeekkk....
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi
rajes salam lubis
terbayang bayang hingga terbang
rajes salam lubis
berarti seperti telur ceplok la y
rajes salam lubis
alaamaak parah bener,,, tapi lebih parah si om,sampai cawatnya aja tau kebalik di dalam
rajes salam lubis
adeknya Dadung kulo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sampai bingung mau komen apaan Om kenapa kagak ada kodok emas 🤭🤣🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
wahhh pada penasaran sama cerita Purwasaga yang pernah berada di negeri Elindra jangan sampai dicurigai nanti mau memberontak 🤔
👣Sandaria🦋
nanti saat bulan madu kita, aku mau istilahnya meteor madu ya, Om😉🤧
👣Sandaria🦋
apakah ini artinya Om lebih ganteng dibanding Sukrowo, Om?🤔
rajes salam lubis
khawatir boleh,cemas jangan
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
hahaha
rajes salam lubis
durian goreng???
Om Rudi: hahahahaha bisa dicoba🤣🤣
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
atu aja sayangnya gak abis2 ya om 😍🤩
Om Rudi: betuuuul
total 1 replies
👣Sandaria🦋
kalau pegangan cinta Om "nyawa tidak berharga. selingkuhan harus bahagia"🤧
Om Rudi: setuju sih, tapi....
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ada hubungan dengan Sanggana, Om? cerita di sebelah kemarin ya?🤔
Om Rudi: heheheheh iya
total 1 replies
👣Sandaria🦋
valid infonya nih, Om? bukannya menguasai pasukan yg sedang mati di Elindra?🤔
Om Rudi: meragukan, habis yg cerita dia
total 1 replies
👣Sandaria🦋
akrab dengan Om juga perkara membanggakan bagi aku yg hanya perempuan paling cantik nomor 3 sesumatera ini, Om🙄
Om Rudi: Om lupa yg paling cantik pertama sama yg kedua
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!