NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:109.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hawa Dingin Sang Pewaris

Aroma parfum mewah bernuansa floral-woody milik Alena masih tertinggal tipis di udara koridor lantai lima belas, berbaur dengan wangi karbol pembersih lantai yang digunakan Mahesa. Koridor sunyi itu kembali ke senyapnya yang semula setelah langkah kaki sang pewaris menghilang di balik pintu ganda ruang direksi utama. Mahesa menatap pintu jati tersebut selama beberapa detik. Ada senyum tipis, hampir tak terlihat, tersungging di sudut bibirnya yang kini simetris dan tegas.

Bagi Mahesa, makian manja dari Alena barusan tidak lebih dari sekadar angin lalu. Jiwanya yang telah ditempa oleh keheningan murni Kitab Inti Jagat semalam membuat emosinya sekokoh batu karang di dasar samudra. Ia tidak mendendam, namun ia mencatat dalam benaknya betapa jurang status sosial bisa membuat seorang manusia merasa berhak menginjak harga diri manusia lainnya.

Ia kembali menggerakkan sapunya dengan ritme yang teratur. Gerakannya tampak santai dan lambat di permukaan, tetapi jika ada seorang ahli bela diri tingkat tinggi yang melihatnya, mereka akan menyadari bahwa setiap ayunan tangan Mahesa memiliki presisi yang sempurna, digerakkan oleh sisa-sisa hawa murni yang mengalir patuh di dalam urat nadinya.

Hampir tiga puluh menit berlalu ketika pintu jati di ujung koridor kembali terbuka. Alena melangkah keluar, didampingi oleh seorang sekretaris paruh baya yang membawa sebundel berkas tablet digital. Kacamata hitam besar Alena sudah diturunkan ke leher gaun merah menyalanya, menampilkan sepasang mata indahnya yang kini memancarkan binar kejengkelan yang kentara. Rupanya, rapat singkat di dalam tidak berjalan sesuai keinginan manjanya.

Begitu matanya menangkap sosok Mahesa yang masih sibuk menyapu di dekat pot pohon palem hias, langkah Alena mendadak terhenti. Wajah cantiknya langsung menekuk, menampilkan gurat ketidaksukaan yang amat mendalam.

"Heh, lu lagi! Kok lu masih ada di lantai ini sih?!" seru Alena dengan nada suara yang meninggi dan ketus, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Mahesa dengan pandangan menghina.

Mahesa yang mendengar suara itu langsung menghentikan pekerjaannya. Sesuai dengan protokol penyamarannya sebagai office boy yang culun, ia segera menurunkan pandangan matanya ke arah lantai marmer, membungkukkan punggungnya yang tegap menjadi agak melengkung, dan membetulkan letak bingkai kacamata kosongnya yang melorot.

"Ma... maaf, Nona Alena. Tugas saya membersihkan seluruh koridor lantai lima belas ini belum selesai sepenuhnya," jawab Mahesa dengan suara yang sengaja dicemprengkan dan dibuat agak bergetar polos, berakting dengan sangat profesional.

Alena mendengus kencang, suaranya terdengar sangat manja sekaligus penuh keangkuhan seorang borjuis. "Gua nggak peduli tugas lu belum selesai atau apa! Gua kan tadi udah bilang, gua males lihat muka lu di sini! Lu itu bener-bener mengotori pemandangan mata gua tahu nggak?!" ketus Alena sembari menghentakkan salah satu ujung sepatu hak tingginya ke lantai.

Sekretaris di belakang Alena tampak agak canggung, namun ia memilih diam dan menundukkan kepala, tahu betul watak emosional putri tunggal pemilik perusahaan itu jika sedang mengamuk tidak bisa diganggu gugat.

"Maaf, Nona. Kalau begitu, saya akan pindah membersihkan bagian tangga darurat dulu agar tidak mengganggu jalan Nona," tutur Mahesa lembut, berusaha memberikan solusi yang paling netral demi menyudahi perdebatan yang tidak penting ini.

"Nggak usah sok rajin deh lu! Lagian, baju seragam lu itu kenapa sih? Gombrang-gambreng nggak jelas, terus rambut lu awut-awutan kayak nggak pernah kenal sisir!" ejek Alena dengan pandangan mata yang menyipit jijik, menunjuk dari ujung rambut hingga ujung kaki seragam biru muda Mahesa yang sebenarnya tampak ketat menonjolkan otot dadanya, namun sengaja ditarik kedodoran oleh Mahesa ke depan. "Standar kebersihan di Graha Subroto ini tinggi ya! Orang-orang kayak lu ini cuma bikin citra kantor Papa gua jadi kelihatan kumal dan murahan!"

Mendengar kalimat "murahan" yang keluar dari bibir tipis wanita manja itu, ada setitik rasa terusik yang merayap di batin emosional Mahesa. Statusnya sebagai yatim piatu yang miskin memang membuatnya terbiasa dihina, tetapi dicap sebagai makhluk yang merusak citra gedung hanya karena pakaian dan pekerjaannya terasa sedikit keterlaluan. Meski demikian, Mahesa tetap mengendalikan diri dengan sempurna. Hawa hangat di bawah pusarnya berputar lambat, menetralkan letupan emosinya dalam sekejap.

Dari balik poni rambutnya yang sengaja diacak-acak, sepasang mata tajam Mahesa yang sebening kristal melirik sekilas ke arah wajah Alena. Dari jarak sedekat ini, dengan ketajaman visualnya yang setingkat elang, Mahesa bisa melihat bintik-bintik merah halus di dekat pelipis Alena yang ditutupi bedak tebal—sebuah tanda bahwa wanita ini sedang mengalami stres tingkat tinggi akibat ketidakseimbangan hormon, kemungkinan besar karena gaya hidupnya yang manja dan pola tidur yang berantakan.

"Saya akan segera merapikan penampilan saya setelah ini, Nona. Terima kasih atas masukannya," ucap Mahesa, tetap menjaga intonasi suaranya agar terdengar seperti seorang pelayan yang patuh dan penuh tata krama.

Alena tampaknya semakin kesal melihat reaksi Mahesa yang begitu datar dan tidak menangis ketakutan seperti orang-orang bawahannya yang lain jika ia semprot. Kebiasaan manjanya yang selalu ingin ditakuti dan dipuja membuatnya merasa tidak puas.

"Lu itu beneran bebal ya? Gua dari tadi ngomong kasar begini, lu cuma jawab terima kasih terima kasih doang?!" bentak Alena lagi, melangkah maju dua tapak hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Aroma parfum mahalnya kembali menusuk indra penciuman super Mahesa. "Gua tahu tipe orang kayak lu. Lu sengaja kan bertahan di sini, kerja jadi OB, biar bisa curi-curi pandang sama karyawan perempuan yang kaya atau nyari barang jatuh milik direksi?!" tuduh Alena tanpa bukti, murni didorong oleh rasa superioritasnya yang tinggi.

"Demi Allah, Nona. Saya di sini murni hanya bekerja mencari nafkah yang halal untuk mengobati Nenek saya yang sedang sakit di rumah," tegas Mahesa, kali ini ada sedikit getaran suara berat aslinya yang bocor keluar karena ia ingin menegaskan bahwa tuduhan Alena sudah melintasi batas harga dirinya.

Alena sedikit tersentak mendengar perubahan nada suara Mahesa yang mendadak terdengar berwibawa selama satu detik itu. Ia menatap lekat-lekat ke arah balik bingkai kacamata melorot pemuda itu. Untuk kedua kalinya, Alena merasakan getaran aneh yang dingin menjalar di tengkuknya saat tanpa sengaja beradu pandang dengan sepasang mata jernih di balik poni berantakan Mahesa. Mata itu tidak memancarkan ketakutan, melainkan sebuah kedalaman batin dan kekuatan tersembunyi yang sangat dalam, seolah-olah pemuda di depannya ini sebenarnya adalah sosok raksasa yang sedang menyamar jadi semut.

Namun, ego Alena yang setinggi langit kembali mengaburkan intuisi wanitanya. Ia mendengus remeh, memalingkan wajah cantiknya ke samping dengan angkuh. "Halah, nggak usah bawa-bawa drama keluarga di depan gua! Nggak mempan! Intinya, status lu itu cuma OB rendahan di sini. Tempat lu itu di gudang belakang atau di toilet, bukan mondar-mandir di koridor utama tempat gua lewat! Mengotori pandangan mata gua aja dari pagi!" cerocos Alena dengan kalimat yang teramat sangat menusuk perasaan.

Ia kemudian berbalik ke arah sekretarisnya dengan sentakan gaun merahnya yang anggun. "Rika! Catat nama anak ini! Nanti siang kamu langsung bilang ke Pak Bagus atau manajer personalia, gua nggak mau lihat dia lagi di lantai lima belas ini besok-besok! Kalau perlu pindahin dia ke lantai bawah tanah tempat parkir sekalian!" perintah Alena dengan nada manja yang mutlak.

"Baik, Nona Alena. Segera saya koordinasikan dengan pihak operasional," jawab Sekretaris Rika sembari mencatat sesuatu di tablet digitalnya dengan cepat.

Alena kembali memakai kacamata hitam besarnya, memberikan satu lirikan terakhir yang penuh dengan hawa dingin dan penghinaan dari balik lensa gelapnya ke arah Mahesa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia melangkah pergi menuju lift eksekutif dengan gaya berjalan yang diatur seanggun mungkin, meninggalkan suara ketukan sepatu hak tinggi yang menggema angkuh di sepanjang lorong marmer. Klak! Klak! Klak!

Mahesa perlahan menegakkan seluruh punggungnya yang tegap setelah pintu lift tertutup dengan dentingan halus. Ia meletakkan sapunya di sisi dinding, lalu mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan. Dengan satu gerakan tangan yang santai, ia merapikan kembali posisi bingkai kacamata kosongnya.

Di dalam koridor yang kembali sunyi itu, Mahesa menyadari satu hal yang sangat profesional tentang penyamarannya, bagi orang-orang seperti Alena, status sosial di atas kertas adalah segalanya, dan mereka terlalu buta untuk melihat mutiara sejati yang tersembunyi di balik pakaian usang seorang pekerja kecil. Namun bagi Mahesa, hawa dingin dari sang pewaris sombong itu justru menjadi pengingat yang baik agar ia tetap merunduk rendah seperti padi yang berisi, sembari terus mengumpulkan kekuatan murninya hingga saat yang tepat tiba untuk membuktikan siapa sosok dirinya yang sebenarnya di dunia nyata ini. Ia kembali memegang gagang sapunya, melanjutkan pekerjaannya membasuh lantai marmer dengan ketenangan jiwa yang mutlak tak tergoyahkan.

1
Fatur
kayaknya author seorang profesional jomblo nih...🤣
Fatur
kritik dikit....biasanya kalo orang kaya banyak pelayan nya Thor...Alena kok malah dibiarin ga ada pelayan?
Fatur
thor.. lompatan ceritanya kecepetan, proses Jadi ga alami
Fatur
bagus....👍...susunan kata dalam kalimatnya pas..
Muhamad Hasbi
maklum,, author juga manusia, jadi wajar kalo lupa jalan cerita nya, hehe
pauzi aja
aq l8at judilnya,,JUDUL CERITANYA JADI BODIGAT ,ya sdh malas bacanya sdh ega bagus masah sdh d hina masih aja jadi bodigat,trs tumbuh cinta ,dasar babi anji lu tor babi.
pauzi aja
goblok berhenti aja ,knpa mcnya d bikin goblok sih
Edi Sulaiman
cerita bagus namun dengan mc kita tdk perlu dibuat misterius dan culun, mc harus ter ekspos buat yg ngebaca plong, oke thor semangat..
Attax Hamzah
an... ng tambah parah ini cerita. ini bukan bodyguard tapi babu. thor kayaknya tdk ada harga dirinya👎👎👎
Attax Hamzah
ceri lelet apaan ilmu padi itu harga diri bro. emang MC tdk punya harga diri
Amiera Syaqilla
hi author👋🏻
Gusti Abdul Nasir
memanfaatkan ilmu yang didapat dengan sepenuh hati.
ImaFatima Latief
bukannya nenek sdh d obati pake ilmu adeeehhhh
Teti Masdiana
kamu sangat hebat tthor membuat alur cerita yg sangat bagus sukses srlalu 👍
Roger Lee
banyak kata kata yang di ulang ulang, jadi bosan membacanya.
Ria Gazali Dapson
kocak.nih author nya, bikin penisirin😄😄😄
Abady Ehm
😁🤭😂☺️
Ria Gazali Dapson
koq masih tinggal d rumah reot , gaji 100juta ,masih nyeker ja , ga punya kendaraan , aneh, lagian knpa nenek nya masih sakit² an , kn udh d obatin
Ria Gazali Dapson
kirain mah mo jadi ceo, sultan, milyader, kaya raya, eh ga tau nya jadi bodiguard , jdi tukang pukul doang , sayang sma ilmu yg d dapat , tetep aja d rendahin orang, di hina² terus sama elena
Ria Gazali Dapson
maksudnya, gmn sih cerita nya, koq jdi pura² bodoh terus, culun terus, gmb mo tau, kalo d tutupin terus , yg ada , jdi makin susah hidup nya
Aplogic: kita ikuti saja alur sang sutradara 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!