NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 Rencana Satriya

Langkah Anjani terasa lebih ringan saat keluar dari gedung perusahaan. Hari yang berlalu sangat panjang. Namun, kali ini kelelahan yang ia rasakan terasa menyenangkan.

Aurora terus berkembang. Tim mulai solid. Latihan runway memang membuatnya stres. Ren Aksara juga tetap menyebalkan seperti biasanya, tapi semua itu masih jauh lebih baik daripada duduk diam dan merasa hidupnya tidak berarti.

Anjani menghela napas pelan, lalu melangkah memasuki area kontrakan. Sore mulai besambut senja. Lampu-lampu teras menyala satu per satu.

Suasana cukup tenang sampai langkahnya terhenti karena ia melihat yang sangat ia kenal sedang terparkir tidak jauh dari kontrakannya. Dada Anjani langsung mengencang. Perlahan pandangannya bergeser. Dan di sana Satriya bersandar santai di samping mobil.

Pria itu masih mengenakan kemeja kerja. Masih terlihat tampan seperti biasanya. Namun, pemandangan itu tidak lagi membuat jantung Anjani berdebar seperti dulu. Yang muncul justru kewaspadaan.

Anjani langsung menghentikan langkah beberapa meter dari sana. "Ngapain ke sini?" tanyanya dingin tanpa basa-basi.

Satriya sempat diam. Tatapannya menelusuri wajah Anjani. Dan untuk beberapa detik pria itu kehilangan fokus. Di matanya kini Anjani kian terlihat sangat berbeda. Wajahnya lebih hidup. Matanya lebih terang. Tubuhnya tampak lebih sehat. Bahkan cara berdirinya berubah lebih percaya diri. Dan yang paling mengganggu, Anjani terlihat baik-baik saja tanpa dirinya.

Deg.

Jantung Satriya berdebar aneh. Sangat singkat, tapi cukup untuk membuatnya tidak nyaman. Namun, ego segera mengambil alih, menepis perasaan itu.

Tidak. Ini hanya karena sudah lama tidak bertemu. Hanya itu.

"Tatapannya selesai?" Suara Anjani membuyarkan lamunan Satriya.

Pria itu langsung tersadar dan memasang wajah datar. "Aku mau bicara."

"Aku tidak."

"Lima menit."

"Aku nggak jualan waktu."

Sudut rahang Satriya mengeras. Dulu Anjani tidak pernah seperti ini. Namun, kali ini ia memilih mengabaikannya.

"Aku datang karena Bella."

Nama itu langsung membuat tubuh Anjani membeku. Bella lagi. Selalu Bella.

Satriya melihat perubahan ekspresi itu dan diam-diam merasa puas.

"Bella kenapa?" Nada suara Anjani berubah.

Satriya tahu dirinya menang. "Bella pingsan."

Dunia Anjani seakan berhenti beberapa detik. Wajah langsung pucat. "Pingsan?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Demam."

"Kapan?"

"Tadi siang."

"Sekarang bagaimana?"

"Sudah sadar."

Anjani mengembuskan napas panjang, tapi rasa cemas di dada tidak ikut hilang. Justru semakin besar.

"Dia di rumah?"

Satriya mengangguk.

"Lalu?"

Pria itu menatapnya beberapa saat. "Bella nyari kamu."

Anjani memejamkan mata. Kalimat satriya berhasil menghantam tepat sasaran. Dadanya sesak.

Bella. Anak yang bahkan tidak lagi membutuhkannya. Anak yang lebih memilih Cintya. Anak yang pernah memukulnya. Namun, tetap anak yang ia kandung sembilan bulan, yang pernah ia susui, yang pernah ia peluk semalaman saat demam. Tidak peduli seberapa sakit perlakuan Bella, perasaan seorang ibu tidak semudah itu hilang.

Satriya melihat pertahanan Anjani mulai goyah dan ia melanjutkan langkah berikutnya. "Ada satu hal lagi."

Anjani mengangkat kepala. "Apa?"

"Dokumenmu."

Anjani mengernyit.

"KTP, ijazah, berkas-berkas kerja." Satriya memasukkan tangan ke saku celana. "Semuanya masih di rumah."

Anjani terdiam. Ia memang memikirkan itu akhir-akhir ini, karena beberapa urusan administrasi perusahaan mulai membutuhkan dokumen asli. Namun, karena terlalu sibuk dengan Aurora, ia belum sempat mengurusnya.

"Kamu pasti butuh," lanjut Satriya.

Anjani tidak langsung menjawab. Ucapan Satriya memang terdengar sangat masuk akal. Dan itulah yang membuatnya semakin waspada.

"Kamu bisa kirim lewat kurir."

Satriya langsung menggeleng. "Hubungan kita tidak sebaik itu hingga aku sudi membantumu."

"Aku ambil sendiri. Nanti."

"Kapan?"

"Nanti."

Satriya menatapnya lama. "Lalu kapan kamu akan berhenti menghindari semua yang berhubungan dengan rumah itu?"

Kedua pangkal alis Anjani lngsung menukik tipis, merasa Satriya baru saja memutar balikkan fakta. "Aku tidak menghindar."

"Oh ya?"

"Kamu yang mengusirku," ungkap Anjani. Suaranya keluar tenang tanpa emosi, namun terasa lebih tajam.

Satriya mendadak kehilangan jawaban. Beberapa detik berlalu dalam diam. Akhirnya pria itu mengembuskan napas. "Aku cuma mau kamu lihat keadaan Bella, kemudian ambil dokumenmu." Setelah itu terserah kamu."

Anjani memandangi wajah mantan suaminya, mencoba mencari jebakan di sana. Namun, kali ini Satriya terlihat tenang dan itu justru membuatnya tidak nyaman.

"Aku cuma sebentar."

Satriya mengangguk.

Anjani masih berdiri diam. "Sebentar." Ia mengulang lagi, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Aku datang untuk Bella dan dokumen, bukan untuk yang lain."

Satriya kembali mengangguk. "Ok."

Namun, jauh di dalam diri Satriya, senyum tipis hampir muncul. Satu langkah, satu alasan, satu kesempatan. Dan sekarang, Anjani sudah memberikannya tanpa sadar.

*

*

*

Rumah itu masih sama. Lampu gantung yang dulu dipilih Anjani sendiri masih tergantung di tempatnya. Sofa ruang keluarga masih berwarna krem. Bahkan vas bunga di sudut ruangan masih berada di posisi yang sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Hanya saja, sekarang semuanya terasa asing. Anjani berdiri beberapa detik di ambang pintu sebelum akhirnya melangkah masuk.

"Ayo." Suara Satriya terdengar dari belakang.

Anjani tidak menjawab. Tatapannya sudah sibuk mencari satu orang. Bella.

"Bella di kamar," ujar Satriya seolah bisa membaca pikirannya.

Tanpa menunggu lagi, Anjani langsung menaiki tangga. Langkahnya semakin cepat ketika mendekati kamar putrinya.

Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, lalu perlahan membukanya. Dunia seolah langsung mengecil menjadi satu titik. Bella.

Anak itu sedang tidur. Wajah kecilnya terlihat pucat. Napasnya sedikit lebih berat dari biasanya. Pipi yang biasanya merona kini tampak kemerahan karena demam.

Hati Anjani langsung mencelos. Ia segera mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terangkat pelan, menyibakkan rambut yang menempel di dahi Bella yang masih terasa panas.

Dada Anjani langsung terasa sesak. "Ya Allah..." Bisikan itu lolos begitu saja.

Tanpa sadar, jemarinya terus mengusap kepala Bella. Gerakan yang dulu begitu akrab selama bertahun-tahun. Seakan tubuhnya masih mengingat semuanya, meski hidup mereka sudah berubah.

Anjani menunduk, mencium puncak kepala putrinya, membuat tubuh kecil itu bergerak pelan. Kelopak mata Bella bergetar, lalu terbuka. Pandangan anak itu tampak kosong beberapa detik karena masih ngantuk dan lemah. Sampai akhirnya matanya menemukan sosok di samping ranjang.

Bella membeku. Anjani ikut membeku. Mereka saling menatap.

Lalu bibir kecil Bella bergerak. "Mama...?" Suaranya serak karena demam.

Namun, cukup untuk membuat jantung Anjani berhenti berdetak sesaat. Air matanya nyaris jatuh saat itu juga.

"Bella..."

Anak itu berkedip pelan, memastikan dirinya tidak salah lihat. "Mama beneran?"

"Iya." Anjani tersenyum tipis. "Iya, Sayang."

Jemari kecilnya Bella meraih ujung baju Anjani, memegangnya erat seperti takut sosok di depannya menghilang lagi.

Anjani menggigit bibir bawahnya.l, menahan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. "Mama datang."

Bella mengangguk kecil dan kembali memejamkan mata. Namun, tangannya tidak melepaskan baju Anjani. Sedikit pun tidak.

Anjani tetap duduk di sana, mengusap rambut putrinya. Sementara dari ambang pintu, dua pasang mata sedang memperhatikan. Satriya dan Cintya.

Senyum Cintya sedikit memudar, karena Bella tidak pernah menggenggam bajunya seerat itu. Tidak pernah.

Sedangkan Satriya justru tampak berpikir lama sampai akhirnya ia berkata pelan. "Dia nyari kamu dari siang."

Anjani tidak menjawab. Fokusnya masih pada Bella.

"Setiap bangun, yang ditanya Mama."

Jemari Anjani berhenti sesaat. Hatinya kembali mencelos.

Sementara Cintya buru-buru tersenyum. "Anak kecil memang begitu, Kak. Kalau sakit biasanya lebih manja."

Anjani hanya mengangguk, tidak ingin berdebat. Yang penting Bella baik-baik saja. Itu saja.

Malam semakin larut. Namun, Anjani tidak beranjak. Beberapa kali Bella terbangun karena demam. Dan setiap kali itu terjadi, anak tersebut selalu mencari satu hal yang sama.

"Mama..." Lalu tangannya akan meraba-raba mencari Anjani. Dan setiap kali itu juga, hati Anjani kembali runtuh.

Pada akhirnya, saat jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, Anjani pelan-pelan mencoba berdiri.

"Nak."

Bella membuka mata.

"Mama pulang dulu, ya."

Seketika, jemari kecil Bella mencengkeram erat tangannya.

"Tidak," cegah Bella masih lemah. "Mama jangan pergi."

"Bella..."

"Aku takut."

Anjani memejamkan mata. Ia paham, aaat ini yang sedang berbicara bukan anak manja,.melainkan anak kecil yang sedang sakit dan sangat merindukan ibunya.

Bella menarik tangan Anjani sedikit.

"Tidur sini. Temenin Bella."

Anjani menelan ludah. Pikirannya langsung melayang pada jadwal besok, masih banyak yang harus dikerjakan. Fitting terakhir, gladi runway, dan final briefing.

Namun, saat ia melihat wajah Bella yang pucat dan tubuh kecil yang masih panas itu, semua alasan terasa mendadak lemah.

"Kalau Kakak mau pulang nggak apa-apa." Suara lembut Cintya tiba-tiba terdengar. "Aku bisa jagain Bella."

Ucapan yang terdengar baik, tulus, sempurna. Namun justru membuat rasa bersalah di dada Anjani semakin besar.

Bella langsung menggeleng pelan. "Mama aja."

Anjani menunduk, mengusap kepala putrinya, lalu mengembuskan napas pelan. "Baik."

Bella langsung terlihat lebih tenang.

Anjani tersenyum kecil. Hanya satu malam. Ia hanya akan menemani Bella malam ini. Besok pagi ia akan pergi, mengambil dokumen yang diperlukan, lalu kembali ke kehidupannya.

Sesederhana itu. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. Tanpa menyadari bahwa di balik ketenangan wajah Satriya yang berdiri di ambang pintu, pria itu sedang melihat peluang yang perlahan terbuka dengan sendirinya.

Bersambung~~

1
Basla Fattana
waaahh.......kayaknya ren mau nembak anjani di bali🤭🤭🤭semoga aja ya thor🙏💪👍
Ayuwidia
Dinas sekaligus misi menaklukan hati Anjani
Ayuwidia
Semoga Anjani nggak muntah kayak adegan di full house
Ayuwidia
Kayaknya kalau pingin tajir melintir harus meniru Ren. Kerja terus, tanpa mengenal kata libur 🤭
Yeni Astriani
ditunggu selalu kelanjutan ceritanya Author☺☺☺
ryuka
owww oowww.. yg sadar duluan malah raka 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Najwa Aini
kalau kata pribahasa madura..
tep kotep cellot.
Najwa Aini
Lanjut investigasi, Raka. cari alasan lain yg ada di balik alasan lbh efisien itu
Najwa Aini
Ambrukk malah
Ayuwidia
Aamiin, dan semoga kesalahpahaman kamu ke Ren nggak berkepanjangan 🤭
Hary Nengsih
lucu perang m anak nya
ryuka
kangen obrolan sae sma bella lagi thorrr 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
ya ampunn saaeee.. kamu tuh lucu bgt siihhh 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
Yeni Astriani
lanjut Author
Najwa Aini
kok malah berasumsi hanya karena mendengar satu potongan kalimat..
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
Najwa Aini
Berarti dari dulu² perintah Ren itu agak syaithoni..ya..baru sekarang cukup manusiawi
Najwa Aini
sebegitu kuat ya getaran bahunya Raka
Najwa Aini
sebentar..apa dulu yg digoreng nih..yg aromanya sampai memikat gitu
Najwa Aini
sebentar..Aurora itu nama Brand ya..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...
Najwa Aini
ketenangan Anjani itu memukul mental Satrya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!