Menghuni penjara kelas kakap bukanlah hal tersulit bagi Marysa. Yang benar-benar menghancurkannya adalah kenyataan bahwa pria yang memborgol tangannya adalah Herry, cinta masa lalunya yang kini menjabat sebagai kapten polisi dan ironisnya, Herry sama sekali tidak mengingatnya. dan bahkan terdengar jika Herry akan segera menikah.
Memilih mati daripada terus tersiksa oleh ingatan, sang Ratu Mafia mengatur pelarian besar dari Negara aslinya Korea menuju ke negara tropis, Indonesia. Rambut panjangnya dipangkas pendek, kemewahannya ditanggalkan, dan kini ia menyamar sebagai Tania, seorang tukang sapu jalanan yang tak kasatmata.
Namun, kedamaian barunya terusik ketika jalanan mempertemukannya dengan Rangga. Pria playboy yang terbiasa berganti-ganti Wanita itu mendadak penasaran setengah mati pada sosok Tania, yang dingin.
Akankah samaran Marysa terbongkar saat seorang playboy itu mulai tulus mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Desiran Hangat
...
Deru sirine mobil pengawal perlahan menjauh dari area alun-alun, menyisakan kepulan asap tipis dan aroma ban yang bergesek dengan aspal panas. Kerumunan warga yang semula histeris berangsur-angsur membubarkan diri. Mereka kembali ke kesibukan masing-masing, membawa serta foto dan rekaman video amatir di dalam ponsel mereka tentang sepasang kekasih rupawan yang tampak begitu sempurna dari negeri seberang.
Jam istirahat telah resmi usai. Hawa panas menyengat dari aspal kembali memaksa para petugas kebersihan untuk memegang gagang sapu lidi mereka. Tania, Rangga, dan Bu Yuni kembali bergerak menyisir sisa-sisa sampah plastik dan dedaunan kering yang berserakan di sepanjang median jalan.
Tania melangkah kaku menuju tumpukan sampah yang belum sempat dia bersihkan. Di balik masker kainnya, napasnya masih terasa agak memburu. Otaknya yang terbiasa bekerja dengan kalkulasi dingin kini terasa luar biasa penuh. Pertemuannya dengan Herry yang begitu tiba-tiba, sedekat sentuhan fisik di atas lantai marmer tadi, benar-benar mengguncang dinding pertahanan yang telah dia bangun dengan susah payah selama pelariannya.
Tania mengembuskan napas panjang lewat hidung, mencoba mengubur sisa adrenalin yang masih bergejolak di dalam dadanya. Dia merendahkan tubuhnya, bersiap menggunakan ingkrak pengki anyaman bambu tradisional untuk menyerok tumpukan sampah plastik yang menggunung di dekat pembatas jalan.
Namun, tepat saat dia menarik gagang kayu ingkrak tersebut dengan sedikit sentakan, suara patahan yang renyah terdengar.
Krak.
Gagang kayu yang sudah lapuk itu terlepas sepenuhnya dari badan anyaman bambu. Kehilangan keseimbangan sesaat, ingkrak itu terbalik, membuat seluruh sampah yang sudah terkumpul di dalamnya tumpah ruah dan berserakan kembali ke atas aspal, terbawa angin jalanan yang berembus kencang.
Tania menghentikan gerakannya. Dia berdiri mematung, menatap kayu patah di tangan kanannya dan hamparan sampah yang kembali mengotori areanya. Untuk pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki di kota ini, Tania menghela napas panjang dengan bahu yang sedikit merosot lemas. Ada rasa lelah yang teramat sangat, bukan hanya karena fisiknya yang terkuras, melainkan karena jiwanya yang mendadak merasa sangat rapuh hari ini.
Dari jarak beberapa meter di belakangnya, Rangga berdiri memperhatikan seluruh kejadian itu. Pria jangkung itu sebenarnya juga ikut menghela napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sejak jam istirahat selesai, Rangga sengaja menjaga jarak dari Tania. Ada rasa cemburu yang asing, dingin, dan menyakitkan yang tiba-tiba saja bersarang di dadanya setelah menyaksikan bagaimana Tania menatap pria berjas mewah tadi di lobi gedung. Rangga merasa dirinya begitu kecil, begitu tidak berarti hanya seorang pemuda pasar miskin berkulit kusam yang tidak akan pernah punya tempat di dalam sejarah hidup seorang Tania. Niatnya hari ini adalah menjauh sebentar, memberikan ruang bagi hatinya yang sedang terluka untuk bernapas.
Namun, pertahanan ego Rangga seketika meluluh berantakan begitu dia melihat Tania berdiri lesu di depan ingkraknya yang patah. Rasa egois dan cemburunya menguap tanpa sisa, digantikan oleh naluri murni seorang pria yang tidak tega melihat wanita yang dia cintai sedang berada dalam kesusahan.
Sementara itu, Bu Yuni sendiri bekerja di lajur yang berjarak agak jauh di depan, terhalang oleh rimbunnya tanaman pembatas jalan, sehingga tidak menyadari drama kecil yang sedang terjadi di antara kedua anak muda tersebut.
Rangga membetulkan posisi topinya, bersiap melangkah maju untuk mendekati Tania. Namun, sebelum kaki jangkungnya sempat mengambil langkah pertama, sosok Tania ternyata sudah berbalik terlebih dahulu.
Wanita itu berjalan setengah berlari kecil mendekatinya. Langkah kakinya yang biasa anggun kini tampak sedikit terburu-buru. Begitu tiba di depan Rangga, Tania mendongak, menatap mata sipit Rangga.
"Rangga... boleh saya pinjam ingkrakmu sebentar? Punya saya patah," tanya Tania, suaranya terdengar agak serak dan kaku, dengan jemari yang meremas gagang kayu yang patah.
Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Bukannya memberikan ingkrak yang sedang dia pegang kepada Tania, pria jangkung itu justru melewati tubuh Tania begitu saja. Dia berjalan maju menuju area kerja Tania yang berantakan, membawa serta sapu lidi dan pengki bambunya yang masih utuh.
Tanpa banyak bicara, Rangga langsung merendahkan tubuhnya di atas aspal. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan lincah khas pekerja lapangan, dia mulai menyapu kembali sampah-sampah yang berserakan akibat ingkrak Tania yang rusak tadi. Dia membersihkan areanya, mengumpulkan setiap lembar plastik dengan efisiensi yang tinggi, seolah-olah itu adalah tugas utamanya sendiri.
Tania berbalik perlahan, memandangi punggung tegap Rangga yang bergerak ritmis di depannya.
Tiba-tiba saja, di dalam rongga dada Tania, muncul sebuah desiran tipis yang sangat hangat. Itu adalah sebuah sensasi emosional yang sangat asing, sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Desiran itu tidak terasa dingin, tajam, atau mengancam seperti saat dia bertatapan dengan Herry di lobi gedung beberapa menit yang lalu atau desiran saat awal pertama kali bertemu Herry. Ini adalah jenis kehangatan yang melembutkan, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang memeluk jiwanya yang selama ini beku dan kesepian.
Jantung Tania mulai berdebar dengan ritme yang tidak beraturan. Debaran itu terasa begitu jujur, polos, dan lambat, membuat ujung-ujung jarinya mendadak terasa sedikit bergetar. Dia menatap bagaimana keringat pagi mulai membasahi bagian belakang kaos oranye Rangga, dan entah mengapa, pemandangan itu terasa jauh lebih nyata dan berharga daripada kilatan lampu kamera yang mengelilingi pria berjas mewah di alun-alun tadi.
...
Sementara itu, di dalam aula besar gedung serbaguna yang berjarak beberapa blok dari jalan raya, suasana terasa begitu sunyi dan steril.
Seorang perancang dekorasi pernikahan lokal sedang berdiri di depan sebuah maket besar, menjelaskan dengan suara yang penuh semangat tentang konsep pencahayaan dan tatanan bunga mawar putih yang akan menghiasi pelaminan barat yang elegan. Jessica Hwang Won mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan masukan dalam bahasa Korea dan bahasa inggris yang fasih, memastikan tidak ada satu pun detail yang luput dari standar kemewahannya.
Namun, di sampingnya, Kapten Herry justru kebanyakan melamun. Pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan yang bertumpu pada sandaran kursi kayu, namun sepasang mata jelaganya menatap kosong ke arah hamparan kain satin putih di atas meja di depannya.
Suara penjelasan dari wedding organizer itu seolah bertransformasi menjadi dengung bising yang tidak berarti di telinga Herry. Pikirannya benar-benar tersesat di luar kendali warasnya. Setiap kali dia mencoba fokus pada detail dekorasi pernikahan yang sedang dirancang, telapak tangan kanannya mendadak kembali merasakan getaran ganjil, sensasi hangat dari kain seragam oranye yang dia sentuh di lobi luar tadi.
Herry mengeras, rahangnya berkedut samar menahan gelombang frustrasi yang mematikan di dalam jiwanya. Ada obsesi gelap yang menolak mati, sebuah insting pemburu yang berbisik bahwa wanita penyapu jalanan yang memiliki sepasang mata sipit yang dipenuhi sejarah kelam itu... bukanlah sekadar orang asing yang kebetulan lewat di dalam fikirannya.
...