Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika Tak Ku habiskan, Kasihan Penjualnya
"Hmm… apa menurutmu mereka benar-benar bahagia hanya karena terlihat bebas? Kebebasan dan memiliki orang terdekat bukan standar kebahagiaan." Ujar Renald dengan suara datar namun sarat makna.
Kinara yang semula sedang menatap kosong ke arah kolam ikan perlahan menoleh. Untuk pertama kalinya ia melihat sorot sendu dari pria di sampingnya. Ada sesuatu di balik tatapan itu—sebuah luka yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Hari ini Kinara baru mengetahui satu hal: Mama Renald meninggalkan pergi meninggalkan pria itu. Namun mengenai seluruh kisah hidup pria itu, ia sama sekali belum mengetahuinya.
"Sudahlah." Ucap Renald tiba-tiba, suaranya tegas seperti ingin menghapus suasana sentimental. "Ikut aku sekarang."
Tanpa sadar, ia meraih tangan Kinara. Genggamannya erat, seolah takut wanita itu menghilang. Kinara yang tidak siap hanya bisa menatap terkejut, tapi langkahnya mau tidak mau mengikuti tarikan Renald.
"Kita mau ke mana?" Tanya Kinara sambil berusaha menyeimbangkan langkah.
Renald tidak menjawab. Ia hanya membawa Kinara masuk ke mobilnya, lalu membukakan pintu untuknya dengan sikap penuh otoritas. Sebelum itu, ia sudah memerintahkan Bu Nini untuk membawakan tas milik Kinara dari kamarnya.
Jam kini sudah menunjukkan pukul tiga sore. Jadwal makan siangnya jelas sudah lewat, tapi Renald tak peduli. Ada satu tempat yang sudah ia pikirkan.
"Ayo turun, kita makan siang di sini." Perintahnya setelah mereka tiba di depan sebuah restoran yang cukup besar.
Kinara melihat ke arah luar kaca mobil. Matanya langsung melebar. Restoran yang berdiri megah di hadapan mereka bukan sekadar restoran—tampak seperti sebuah istana dengan pilar menjulang dan lampu kristal berkilauan dari kejauhan.
"Astaga…" Gumam Kinara lirih.
Hanya membayangkan harga makanan di dalam sana membuatnya bergidik. Ingatannya kembali ke makan malam sebelumnya bersama Renald, di mana porsi yang disajikan terlalu kecil, bahkan menurutnya hanya cukup untuk menggelitik lambung. Jika ia kembali makan di tempat seperti ini, ia yakin akan pulang dengan perut masih lapar.
Renald sudah siap turun, tapi melihat Kinara diam tak bergerak, ia mengernyit heran. "Kenapa? Ayo turun."
Kinara menunduk, suaranya pelan. "Aku… tidak mau makan di sini."
Alis Renald terangkat. "Lalu, kalau bukan di sini, kamu mau makan di mana?" Suaranya terdengar sedikit lembut.
"Aku… mau makan mi ayam." Jawab Kinara dengan ragu, nyaris berbisik. Ia menatap Renald dengan wajah penuh hati-hati, seakan takut permintaannya ditolak mentah-mentah.
"Apa?" Suara Renald meninggi. "Tidak! Makanan jalanan itu penuh minyak dan lemak. Yang ada nanti perutmu sakit!"
Kinara langsung manyun. "Siapa bilang? Kalau makan sesekali ya nggak akan buat sakit perut. Kecuali aku habiskan satu botol sambal, baru perutku sakit." Katanya cepat.
Renald mengembuskan napas panjang, mencoba menahan kesal. Gadis ini selalu saja punya cara membuatnya hilang kontrol. Namun entah kenapa, di sisi lain ia justru tak ingin mengecewakannya.
"Baiklah." Katanya akhirnya, menatap Kinara yang kini tersenyum kecil penuh kemenangan. "Dimana tempat mi ayam itu?"
Seperti Google Maps hidup, Kinara segera memberi arahan. Mobil mewah Renald pun melaju ke arah sebuah warung sederhana di pinggir jalan.
Dua porsi mi ayam lengkap dengan bakso, tetelan, dan pangsit goreng akhirnya tersaji di depan mereka. Tempat itu jauh dari kesan mewah—hanya dinding kayu tua yang sepertinya sudah berdiri puluhan tahun, bangku panjang seadanya, dan kipas angin yang berputar malas di atas kepala.
Kinara sadar tatapan orang-orang, khususnya para wanita, tertuju pada Renald. Wajar saja, pria itu terlalu mencolok di tempat sederhana seperti ini dengan setelan rapinya. Namun bagi Kinara, semua itu tidak penting. Yang penting sekarang hanyalah semangkuk mi ayam yang aromanya menggoda.
Renald memperhatikan cara Kinara menyiapkan makanannya. Ia menirunya, menambahkan kecap, saus, dan sedikit sambal. Lalu, dengan ragu, ia menyuapkan sesendok pertama.
Seketika matanya sedikit melebar. Rasa gurih kaldu berpadu manisnya kecap membuatnya kaget. Tanpa sadar ia menyuap lagi dan lagi, hingga akhirnya mangkoknya tandas bahkan lebih cepat dari Kinara.
Kinara menatapnya tak percaya, lalu terkekeh pelan. "Serius? Baru kali ini aku lihat orang makan mi ayam secepat kamu."
Renald buru-buru merapikan sikapnya, berdehem kecil. "Memangnya kenapa? Makanan yang sudah tersaji di depan kita ya pastinya harus dihabiskan. Lagian juga kalau nggak dihabiskan ya... kasihan penjualnya."
Bibir Kinara berkedut, menahan senyum. Sejak kapan pria arogan di sebelahnya ini memikirkan perasaan seorang penjual mi ayam? Padahal di kantor saja, rasanya Renald sama sekali tak punya empati pada karyawan—hingga setiap orang yang berhadapan dengannya selalu dibuat ketakutan.
Ia mengerlingkan matanya karena malas berdebat. Namun, senyum kecil tak bisa ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Renald yang begitu manusiawi—seorang pria dingin yang ternyata bisa lahap makan mi ayam di warung sederhana.
Jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Setelah kenyang, Renald mengantar Kinara kembali ke apartemennya. Ada janji lain yang harus ia penuhi.
"Ahh, kasurku! Aku merindukanmu!" Seru Kinara begitu menjatuhkan diri ke ranjang. Ia bahkan tak sempat membersihkan diri, kantuk sudah menyerangnya. Perlahan, matanya pun mulai terpejam.
Sementara itu, Renald melajukan mobilnya menuju rumah William. Di sanalah ia akan berkumpul dengan yang lainnya.
Namun begitu sampai, suasana sudah terdengar riuh. Feri, sahabat sekaligus asistennya di kantor masih kesal terhadapnya. Sejak jam makan siang tadi ia harus memberi makan dua hewan peliharaan Renald—hukuman kecil akibat keteledorannya.
"Lo apain dia di kantor? Sejak datang, dia cuma duduk diam kayak patung." Tanya William dengan nada menggoda sambil melirik Renald dan Feri bergantian.
"Ahh, biasalah." Jawab Renald santai, duduk dengan elegan dan menyesap minumannya.
Feri langsung meradang. "Biasalah, katanya?! Aku hampir mati gara-gara dua hewan peliharaan sialan itu!"
William dan Kevin saling berpandangan, lalu menahan tawa.
"Calm down, Fer." Ujar Kevin sambil menepuk bahunya.
"Gimana bisa tenang hah? Gara-gara berkas numpuk, si sialan ini marah-marah pengen cepat pulang cuma buat ketemu… si pujaan hatinya itu!" Feri menekankan kata terakhir dengan penuh emosi.
Sekejap ruangan hening, lalu pecah dengan tawa William dan Kevin.
"Hahaha! Serius lo barusan bilang Renald buru-buru pulang buat ketemu perempuan itu?" William terpingkal.
"Sumpah, baru kali ini gue denger kalimat itu keluar dari mulut lo!" Timpal Kevin.
Renald hanya mengangkat alis, tetap tenang.
"Buktinya gue yang kena amukannya!" Feri menunjuk Renald. "Gue disuruh kasih makan dua hewan peliharaannya cuma karena dia pengen cepat pulang!"
William dan Kevin makin tak bisa menahan tawa. Tapi mereka juga tahu, ada sesuatu yang berbeda dari sahabat mereka kali ini. Renald memang berubah sejak kehadiran seorang wanita bernama Kinara.
Renald meneguk minumannya sekali lagi sebelum menoleh santai. "Terus kenapa? Lo nggak terima? Mau gue potong gaji lo?"
Feri yang tadinya berapi-api langsung kecut. Ancaman soal gaji adalah kelemahan terbesarnya. Meski ia juga berasal dari keluarga terpandang, namun kekayaannya tidak ada apa-apanya dibanding keluarga Renald. Dan gaji yang ia dapatkan sekarang… terlalu besar untuk ia lepaskan.
Dalam hati, Feri menggerutu. Tapi di hadapan Renald, ia hanya bisa diam. Sementara itu William dan Kevin saling melempar senyum penuh arti.