NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 MIDNIGHT TROUBLE

Lian mengambil mangkuk atau apapun itu yang berukuran cukup besar untuk ia isi dengan air. Ia juga mengambil handuk kecil dan kotak obat dari kamar lalu kembali dan berlutut di depan Esther yang masih menangis di ruang tamu.

Di hadapannya jari kaki itu tampak gemetar menahan rasa sakit, darah yang memenuhi ibu jarinya sudah hampir mengering. Sekilas Lian mendongak untuk melihat Esther yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang juga gemetar.

"Kemarikan kakimu, biar aku bersihkan." Lian menyimpan semua alat yang ia butuhkan di dekatnya. Tangannya kini meraih kaki Esther, namun dengan cepat wanita itu menarik kakinya.

Esther menggeleng cepat. Kakinya ia geser menjauh dari mangkuk yang sengaja Lian simpan di dekat kakinya. "Tidak, aku tidak mau!"

Lian kembali menatap Esther. "Esther jangan seperti anak kecil—"

"Tidak mau!"

Lian menghela napasnya. Ia membuang muka sekejap sebelum kembali menatap Esther dengan kesal. "Lalu kau mau bagaimana? Membiarkannya sampai darah di kakimu kering dan infeksi lalu kau di amputasi?"

Esther langsung menggeleng cepat. Matanya semakin buram kala ia menatap Lian yang berada di bawahnya karena air matanya kembali mengenang memenuhi pelupuk matanya. Rasa sakit di tubuhnya kini bertambah dari hanya betis dan pinggangnya, kini ibu jarinya juga menyumbangkan rasa sakit yang luar biasa.

"Menangislah sesuka mu, tapi itu tidak akan menyembuhkan kakimu, Esther."

"Terus aku harus gimana?" rengeknya. "Apa kau tahu aku belum tidur sedetik pun karena seluruh tubuh ku pegal..." Esther menghela napasnya sebelum kembali melanjutkan. "Dan sekarang kakiku juga semakin sakit," Tangis Esther pecah di ruang tamu itu.

Lian menghembuskan napasnya kasar. Pukul empat pagi. Saat semua penghuni apartemen tengah terlelap nyenyak di kasur, ia terpaksa bangun dan harus mengurus Esther yang tingkahnya seperti anak kecil dengan sabar.

"Esther... " panggil Lian pelan hingga membuat Esther menatap sayu ke arahnya. "Tutup matamu dan biarkan aku membersihkan darahnya dulu. Hanya membersihkan," Lian menekankan kata terakhirnya supaya wanita itu mengerti. "Setelah ini selesai kau pasti bisa tidur. Kita bisa tidur lagi setelah ini." bujuknya dengan harapan wanita itu mau karena sebenarnya yang ingin tidur adalah dirinya.

Lian menarik pergelangan kaki Esther perlahan setelah wanita itu mengangguk setuju, lalu dengan hati-hati ia mengguyurnya perlahan seolah ia tengah membersihkan patung porselen paling mahal di dunia. Buliran air yang jatuh dari tangannya bercampur dengan darah di ibu jari Esther hingga warna merah membasahi tumpukan tisu yang sengaja ia tumpuk di bawah kaki Esther sebagai alas. Tapi ternyata sebagian darah sudah mengering hingga membuat Lian harus mengunakan tisu untuk mengelapnya.

"Aw!" Pekik Esther saat Lian tidak sengaja menekan area sekitar jempolnya cukup kuat. "Sakit, Kak!"

"Maaf," katanya pelan lalu kembali melanjutkan aktivitasnya dengan lebih hati-hati. Sesekali ia meringis ngilu melihat bagaimana penampilan ibu jari Esther setelah bersih. "Sepertinya aku harus memotong kukumu, Esther," ucap Lian tanpa mengalihkan pandangannya dari jempol Esther.

"Kenapa?" lirih Esther serak. Ia mencondongkan tubuhnya untuk melihat kondisi kakinya setelah di bersihkan oleh suaminya.

"Kukumu terlepas, harus di cabut." jawab Lian ringan.

"Ca-cabut?" kedua mata Esther melebar. Refleks ia menarik kakinya yang tengah dipegangi oleh Lian ke atas sofa. "Tidak mau, itu pasti sakit." katanya sambil menggeleng.

"Aku akan pelan-pelan," Lian mendongak, menatap Esther penuh bujukan sambil menggeser tubuhnya mendekat.

"Tidak mau!" Esther melempar bantal hingga mengenai kepala Lian, membuat kepala pria itu miring karena hantaman. Namun hal itu tidak membuatnya berhenti, justru kini pria itu malah berdiri. Tubuh tingginya menjuntai di hadapan Esther dan membuatnya ciut.

Esther menarik Tubuhnya mundur menjauh dari Lian sebisa mungkin sebelum akhirnya terpaksa berhenti setelah punggungnya menyentuh sisi sofa.

"Aku tidak mau kak..." lirihnya. Air matanya kembali mengalir karena rasa takut yang belum sempat ia rasakan.

Lian mengusap wajahnya kasar, prustasi dengan perilaku Esther yang melebihi Arthur. Kesabarannya benar-benar di uji di jam empat pagi. Sudahlah tidurnya terganggu dan sekarang ia harus berhadapan dengan anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa.

Sebenarnya Lian bisa saja membiarkan kakinya seperti itu. Tapi ia juga tidak tega melihat Esther kesakitan dan terus menangis sampai besok. Selain karena berisik, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak ia mengerti.

Lian mendaratkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Esther. Matanya menatap wanita yang duduk sambil memeluk lututnya itu. Wajahnya tenggelam ke atas pahanya diikuti rambut acak-acakan yang menutupi hampir sebagian tubuhnya yang bergetar Karena menangis.

"Esther..." Lian menyentuh bahunya pelan.

"Aku bilang tidak mau!" tegasnya sambil mengedikkan bahunya hingga tangan Lian terlepas jatuh. Wajah Esther basah oleh air mata, keringat dan juga ingus. Persis seperti anak kecil yang menolak di obati karena takut pada rasa sakit. "Itu pasti sakit... "

Lian menggeleng. "Aku akan berusaha memotongnya sampai kukumu pendek dan tidak akan menyakitimu lagi. Aku janji."

Esther masih saja menolak bujukan itu. Ia menggeleng. Menolak semua bujukan Lian bahkan menutupi ibu jarinya yang akan di potong oleh Lian. Hingga satu penawaran dari Lian membuat pertahanan Esther sedikit goyah.

"Kalau sakit, kau boleh meminta apapun padaku."

Mengetahui bagaimana Esther tumbuh di keluarga alder membuat Lian juga tahu bagaimana kepribadian wanita itu. Selain manja dan cengeng, Esther juga anak yang penurut, terutama jika diiming-imingi hadiah. Begitulah yang selalu dikatakan Arash setiap kali menyodorkan cokelat atau hadiah kecil lainnya agar adiknya itu menjauh darinya saat kata-kata kasar saja tidak cukup untuk mengusirnya.

Esther terdiam beberapa detik. "A—pa—pun?" tanyanya di sela Isak tangis.

Lian mengangguk membenarkan. Selain karena prustasi dan mengantuk, ia juga yakin bahwa Esther pasti akan melupakannya perjanjian ini besok.

Meskipun tubuhnya masih tersedu-sedu dan pandangannya buram, Esther mengasongkan jari kelingkingnya ke arah Lian, meminta pria itu menyepakati perjanjian itu.

"Janji."

Kini Esther terbaring dengan satu kaki di atas paha Lian sementara satunya lagi terlipat di samping pria itu. Kedua tangan Lian memegang kakinya diikuti kepalanya yang menunduk begitu serius ke arah kaki Esther.

"Aw!"

"Belum. Aku belum melakukan apapun pada kakimu."

Esther membuang muka karena malu, lalu setelah ia rasa Lian tak lagi menatapnya, ia kembali menoleh."Pelan-pelan... "

Lian tidak menggubris. Ia tetap fokus pada kuku Esther yang berdiri hingga menusuk kulit bagian dalamnya. Entah bagaimana cara wanita itu berjalan hingga kuku jarinya jadi berdiri tegak hampir 90°. Itulah yang membuatnya berdarah dan sakit yang luar biasa.

Selama menggunting kuku Esther, Lian hanya diam. Tidak bicara. Tidak banyak bergerak. Pria itu begitu fokus dengan kaki Esther seolah ia tengah melakukan operasi besar yang membutuhkan konsentrasi penuh supaya berhasil.

Esther yang sejak tadi menatap ke ruang tamu itu kini beralih menatap side profil Lian. Bagaimana hidungnya yang mancung itu hampir menyentuh ujung kaki Esther saat ia menunduk semakin dalam. Wajah Esther yang masih basah oleh air mata itu perlahan menampilkan senyum tipis, sangat tipis karena Esther memang menahannya, takut Lian tiba-tiba menoleh dan memergokinya tersenyum dan menuduhnya pura-pura. Padahal ia benar-benar menangis karena sakit yang sangat teramat.

Cukup lama ia memandangi Lian tanpa pria itu sadari. Hingga—

"Aw!"

Esther berteriak kencang saat rasa sakit menyerang kakinya. Ia mencoba menarik kakinya, namun tangan Lian lebih kuat mencengkram pergelangan kakinya.

"Sttt. diamlah," perintah Lian pelan. Ia menarik beberapa lembar tisu untuk menghentikan darah yang keluar setelah ia berhasil mencabut sebelah kuku Esther. "Sedikit lagi dan semuanya akan selesai."

Esther bangkit dan memukul bahu Lian cukup kuat dengan bantal. Entah muncul dari mana keberanian itu, mungkin karena rasa sakit di kakinya karena Lian mencabut kuku yang menancap di kakinya tanpa aba-aba.

"Sakit!" keluh Esther. Matanya kembali berkaca, "Sudahlah, tidak udah di lanjutkan."

Esther hendak bangkit tapi lagi-lagi Lian menahan kakinya. Mata pria itu menatapnya tajam seolah bicara bahwa Esther harus menurut karena ia sudah menganggu tidurnya.

"Diam dan jangan bergerak."

Keberanian yang tadi muncul mendadak seketika lenyap setelah melihat Lian yang mengantuk dan kesal menatapnya tajam hingga Esther mengangguk patuh.

Sementara itu Lian kembali melanjutkan pekerjaannya memotong kuku Esther. Sesekali ia meraih tisu untuk mengelap darah yang keluar dari bagian kuku yang ia cabut tadi. Bukan dari akarnya, tapi bagian tegah yang patah dan menusuk ke kulit dalam kuku.

"Aw! Sakit kak!" pekiknya.

"Kalau kau tidak banyak bergerak sejak tadi semua ini pasti sudah selesai." Lian menatap Esther tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan kaki Esther. "Lagipula kenapa kau terus menangis sejak tadi?"

"Karena ini sakit. Bukan hanya kakiku, badanku juga sakit dan aku juga mengantuk!"

Lian menghela napasnya kesal. bukan hanya wanita itu yang mengantuk, tapi dirinya juga.

"Kau pikir hanya kau yang mengantuk? Aku juga Esther!" nada suaranya lebih tinggi dari yang ia maksudkan.

Esther seketika diam. Matanya memerah diikuti air mata yang kembali mengalir melewati pipinya.

Hening mengisi ruangan itu.

"Esther aku tidak bermaksud mem—" Lian tidak melanjutkan ucapannya, tangannya lebih dulu bergerak menarik Esther ke dalam pelukannya mencegah suara tangisnya kembali menggema di ruang tamu karena ia tahu Esther tidak pernah di bentuk selama hidupnya. Mungkin dialah orang pertama yang membentaknya.

Tangis Esther kembali pecah. Tapi kali ini tertahan karena wajahnya menempel di dada Lian. Tangan besar pria itu menahan belakang kepalanya saat Esther mencoba menjauh dan mendorongnya hingga akhirnya ia menyerah. Tubuhnya benar-benar lelah dan matanya sudah perih karena menangis sejak tadi.

.

.

.

.

.

...Jika kalian menyukai cerita ini tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan subscribe ya. Hal kecil bagi kalian yang bermakna besar untukku 🤎 ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!