NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 23

Sore hari di pedesaan memang menenangkan. Dengan awan jingga yang menghiasi langit. Burung-burung yang mulai terbang ke sarangnya. Suara jangkrik di persawahan juga ikut meramaikan suasana sore hari.

Orang-orang yang sudah pulang dari bekerja sebagai tukang bangunan atau buruh di perkebunan dan sawah berlalu-lalang menuju ke rumah masing-masing.

Begitupula Toni yang sedang berjalan di jalanan aspal tipis desa. Dia berjalan dengan senyum merekah secerah bunga mawar yang tumbuh di pekarangan rumahnya.

Dia membusungkan dadanya sambil memutar-mutar ponsel yang baru dibeli siang tadi di konter hp. Bukan ponsel baru yang dia beli tapi ponsel seken yang mampu dia beli. Tapi senyumnya tak berkurang sedikitpun walaupun ponsel itu bukan baru. Ada alasan lain yang membuatnya mengembangkan senyumnya.

"Udah pulang mas." Ucap Lita pada sang suami ketika dia membuka pintu. Perutnya semakin kelihatan karena usia kandungannya juga semakin bertambah.

Toni hanya mengangguk. Tapi senyumnya tetap mengembang lebar.

"Sini ikut aku."

Lita mengikuti langkah suaminya ke dalam kamar. Pintu kamar dia kunci. Seperti orang yang takut tiba-tiba ada pencuri atau penjahat.

Toni merogoh saku jaketnya. Melemparkan uang ratusan ribu dan lima puluh ribuan yang lumayan banyak bagi nya.

"Ini sisa uang aku beli hp tadi di konter. Mau nya sih beli baru di toko hp tapi nanti aja lah gampang. Yang penting udah punya hp lagi." Ucap Toni sumringah sambil memamerkan ponselnya pada sang istri.

"Wah mas." Lita mengambil uang yang disebarkan oleh Toni diatas kasur dengan binar dimatanya. "Banyak banget uangnya. Dari mana?" Tanyanya setelah mengumpulkan uang-uang itu dalam genggamannya.

"Aku habis gajian. Kamu doain aku biar tiap hari bisa gajian terus. Jadi kita ga bingung lagi kalau ga punya duit."

Lita mengangguk semangat. Uang-uang itu masih di pegangnya. Memang dia sudah tidak pernah lagi melihat apalagi memegang uang ratusan ribu lagi semenjak resign dari kerjaan nya yang dulu. Sedangkan suaminya sekarang hanya menjadi tukang sapu jalanan yang sehari dapat uang lima puluh ribu saja sudah sangat bersyukur.

Dan sekarang tiba-tiba suaminya pulang ke rumah membawa uang yang hampir dua juta itu di hadapannya. Padahal sudah dibelikan ponsel walaupun murah tapi sisa uangnya masih banyak.

Walaupun hatinya bertanya-tanya uang dari mana, tapi karena kata suaminya tidak perlu tau jadi dia berusaha menghilangkan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Yang terpenting uang-uang ini sudah ada di genggamannya.

"Itu setengahnya aku setorin ke bank ya. Tenang nanti aku bawa uang lagi." Toni mengelus perut calon anaknya. "Ayah janji bikin kamu ga kekurangan sayang."

Lita tersenyum. Mimpi yang sempat terkubur karena tagihan tempo kemarin sekarang seperti menemui nya lagi. Mimpi menjadi keluarga yang bahagia dan serba kecukupan itu seperti pelan-pelan datang kepadanya.

---

Aku masih menjumlah total pendapatan hari ini dengan kak Aldi. Karena setengah jam lagi toko tutup dan biasanya memang sudah tidak ada yang akan datang ke toko di jam segini.

"Lantai udah di sapu sama di pel, man?"

Aku mengangguk pada kak Aldi. "Sudah kak. Sudah semua. Tinggal ngitung ini nih." Aku menunjukkan uang di dalam laci yang masih berantakan.

"Oke." Kak Aldi membuat lingkaran dengan jari jempol dan telunjuknya. "Kamu yang ngitung ya. Aku nginput disini."

Aku melakukan pekerjaanku dengan teliti. Merapikan uang-uang itu pada tempat penyimpanan uang agar besok bisa ia setorkan kepada pak manager.

Satu jam setelahnya semua sudah selesai. Semua rolling door juga sudah ditutup.

"Aku pulang ya kak."

"Oke." Kak Aldi menaiki sepeda motornya. Melambaikan tangan nya ke arahku sebelum menyalakan mesin motornya dan melaju ke arah berlawanan denganku.

Aku membawa dua kantong belanjaan tadi dengan langkah pelan. Jujur saja kantong ini memang berat karena tadi aku membeli minyak.

"Assalamualaikum." Aku membuka pintu setelah meletakkan sebentar kantong plastik di samping kaki ku.

Aku kembali melangkahkan kakiku dengan kantong belanjaan di tangan kanan dan kiriku.

"Wuih banyak duit nih belanjaan nya banyak." Itu suara kakakku yang sedang mengopi sambil menonton tv ditemani istrinya.

Kulihat istrinya memangku sebuah toples berisi cemilan atau semacamnya aku tak begitu memperhatikan.

"Dibelanjain kak." Ucapku setelah merapikan barang-barang di dapur.

"Hebat dong ada yang belanjain."

Aku hanya tersenyum menanggapi.

"Siapa? Cowo kamu?"

Aku menatap kak Lita setelah dia bertanya seperti itu. Aku menggeleng setelahnya. "Bos ku kak. Tadi dateng ke toko."

Kak Toni dan kak Lita mengangguk saja lalu kembali menatap layar televisi.

"Kak.." suaraku sepertinya terlalu pelan dari televisi sampai kakakku tak menoleh sedikitpun.

"Kak udah punya kerjaan?" Akhirnya kakakku menoleh padaku setelah aku mengeraskan suaraku.

"Kenapa emangnya?" Tanyanya menaikkan satu alisnya.

"Temenku ada yang nawarin kerjaan. Siapa tau kakak mau."

Kak Toni melengos saja seperti tidak peduli. "Berapa gajinya?"

"UMR kota kak." Aku masih saja memperhatikan kak Toni yang kini mulai menyuapkan camilan yang berada dipangkuan istrinya.

Istrinya hanya diam menyimak. Tak berniat ikut menjawab.

Kak Toni terdengar mendengus meremehkan. "Kirain gajinya gede, man. Ga butuh aku."

Tentu terkejut dengan respon kak Toni. UMR kota tentu saja lebih dari cukup untuk setorannya setiap bulan di bank dan masih ada sisa untuk dia tabung.

"Udah kerja di tempat lain aku, man. Gajinya malah sehari bisa setara UMR kota." Kak Toni membenarkan duduknya hingga tegap. "Coba kamu hitung kalau sehari UMR kota, sebulan itu kakak berapa gajinya?"

Aku terdiam. Menghitung berapa jumlahnya. Tapi yang menjadi pertanyaanku pekerjaan apa yang dapat gaji sampai dua juta lebih di desa seperti ini?

Belum sempat kujawab kak Toni mengisyaratkan sesuatu.

"Ga usah banyak tanya. Sekarang kamu ga perlu repot-repot buat ngurusin hidup kakak lagi. Kakak udah lebih dari mampu buat lunasin tunggakan itu." Ucap kak Toni panjang lebar lalu beranjak pergi menarik istrinya ke dalam kamar.

"Kami ga usah tanya-tanya kerjaan kakak apa. Kamu urusin hidup kamu sendiri aja, man." Ucapnya sebelum menutup pintu dan meninggalkan ku sendirian di kursi depan televisi.

Tentu aku bingung. Tapi apa boleh buat, aku tidak berhak bertanya lebih kepada kakakku sendiri. Yang terpenting kan sekarang dia jadi tidak kepikiran soal tunggakan kakaknya yang harus dibayar.

Walaupun dia sudah lepas tangan tapi sebenarnya dia juga ikutan kepikiran. Takut tunggakan tidak terbayar dan sertifikat rumahnya yang dibuat untuk jaminan pinjaman di bank disita. Rumah ini kan satu-satunya peninggalan ayah yang masih ada. Kebun yang dulunya ayah kerjakan sudah habis terjual untuk kebutuhan sekolah dan hidup

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!