NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengusiran Di Hari Berduka

Langit Jakarta sore itu tidak menangis, ia justru membakar. Matahari meredup di balik polusi yang menggantung rendah, memberikan rona oranye yang sakit, seolah semesta pun enggan memberikan simpati pada gundukan tanah merah yang masih basah itu. Di sana, di atas pusara yang dipenuhi bunga melati dan mawar yang mulai layu, Helen Kusuma bersimpuh.

Usianya baru dua puluh delapan tahun, namun dalam tiga hari terakhir, wajahnya menua sepuluh tahun. Gaun hitam sutra yang melekat di tubuhnya tampak terlalu besar, membungkus siluetnya yang kian ringkih. Matanya sembab, bukan lagi merah, melainkan ungu gelap akibat kelelahan dan duka yang menghunjam tanpa jeda.

Di hadapannya, tertulis nama yang menjadi dunianya selama ini: Aditya Kusuma (70 Tahun).

"Papa..." bisiknya, suaranya parau, hampir hilang ditelan deru angin makam yang kering. "Bagaimana mungkin perjalanan bisnis itu menjadi perjalanan terakhirmu? Kamu berjanji akan membawakanku cokelat dari Swiss, Pa. Bukan membawa dirimu pulang dalam peti kayu."

Kematian Aditya tragis. Sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol pasca kepulangannya dari luar kota. Mobil mewahnya ringsek, hancur berkeping-keping, membawa pergi nyawa sang raja tekstil Indonesia itu dalam sekejap mata.

Tiba-tiba, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi gundukan tanah itu. Bau parfum Chanel No. 5 yang menyengat dan dingin menusuk penciuman Helen. Ia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang berdiri di sana.

Beatrix van Amgard.

Wanita Belanda berusia enam puluh sembilan tahun itu berdiri tegak layaknya patung marmer di tengah katedral tua. Rambut pirang platinumnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang mencuat, tersembunyi di balik topi fascinator hitam transparan yang elegan. Wajahnya, meski sudah digerogoti usia, tetap menunjukkan sisa-sisa kecantikan aristokrat yang dingin dan tajam.

"Cukup dramanya, Helen," suara Beatrix dingin, sekeras es yang membeku di kanal Amsterdam. "Tanah ini sudah kenyang memakan air matamu. Berdirilah. Kau memalukan garis keturunan Kusuma dengan meratap seperti budak di depan umum."

Helen mendongak, matanya yang basah menatap tajam ibu tirinya. "Papa baru saja dikubur satu jam yang lalu, Tante Beatrix. Bagaimana bisa kau bicara soal harga diri saat suamimu sendiri bahkan belum dingin di dalam sana?"

Beatrix tidak menjawab. Ia hanya memutar tubuhnya dengan anggun, tumit sepatu stiletto-nya menancap dalam di tanah makam yang empuk. "Pulanglah. Ada hal yang harus kita selesaikan."

****

Rumah besar di kawasan Menteng itu biasanya terasa hangat, namun sore ini, aroma bunga duka cita memenuhi setiap sudut ruangan, membuatnya terasa seperti mausoleum raksasa. Foto besar Aditya Kusuma yang tersenyum lebar di ruang tengah seolah menjadi saksi bisu atas apa yang akan terjadi.

Helen baru saja melangkah masuk ke lobi utama ketika ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di tengah ruangan, empat orang pelayan sedang mengemasi barang-barang ke dalam kardus. Dan itu bukan barang sembarangan. Itu adalah pakaian-pakaiannya, koleksi bukunya, bahkan potret ibunya yang sudah lama meninggal.

"Apa-apaan ini?!" teriak Helen, suaranya menggema di langit-langit rumah yang tinggi. "Siapa yang menyuruh kalian menyentuh barang-barku?"

Para pelayan itu tertunduk diam, ketakutan. Dari arah tangga melingkar yang megah, Beatrix turun dengan perlahan. Ia tidak lagi mengenakan topi hitamnya. Wajahnya kini terlihat lebih garang, dengan bibir yang dipulas lipstik merah darah yang kontras dengan kulit pucatnya.

"Aku yang menyuruh mereka," ucap Beatrix datar.

"Atas dasar apa?" Helen maju mendekat, amarah mulai membakar sisa-sisa dukanya. "Ini rumahku! Rumah Papaku!"

Beatrix berhenti di anak tangga terakhir, menatap Helen dari atas ke bawah dengan tatapan jijik yang tak ditutup-tutupi. Ia menarik napas panjang, lalu mulai berbicara dalam bahasa asalnya, bahasa Belanda—bahasa yang selalu ia gunakan jika ia ingin menegaskan dominasi dan kekuasaannya yang tak tertandingi.

"Luister goed, jij kleine rat," (Dengar baik-baik, tikus kecil,) suara Beatrix rendah namun menggelegar. "Dit huis is niet meer van jou. Je vader was dom genoeg om alles op mijn naam te zetten in zijn laatste testament. Jij bent hier niets meer." (Rumah ini bukan milikmu lagi. Ayahmu cukup bodoh untuk menyerahkan segalanya atas namaku di wasiat terakhirnya. Kau bukan apa-apa di sini.)

Helen tertegun. Meskipun ia tidak fasih, ia mengerti kata testament dan niets. "Wasiat? Papa tidak mungkin meninggalkan apa pun untukmu tanpa memikirkanku! Kamu berbohong!"

Beatrix tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas piring kaca. Ia mengeluarkan selembar amplop cokelat dari balik jubah hitamnya dan melemparkannya ke lantai, tepat di depan kaki Helen.

"Pak het op, slaaf!" (Ambil itu, budak!) bentak Beatrix. "Ga weg uit mijn huis! Nu!" (Pergi dari rumahku! Sekarang!)

****

Darah Helen mendidih. Ia memungut amplop itu, namun sebelum ia sempat membacanya, Beatrix memberi isyarat kepada dua pria berbadan besar yang ternyata adalah penjaga keamanan baru yang tidak dikenal Helen.

"Seret dia keluar," perintah Beatrix, kini kembali ke bahasa Indonesia agar semua pelayan mendengar kehinaan Helen. "Dia tidak punya hak lagi menginjakkan kaki di lantai marmer ini."

"Lepaskan aku! Tante Beatrix, kau wanita ular! Papa baru saja meninggal dan kau melakukan ini?" Helen meronta saat kedua pria itu mencengkeram lengannya dengan kasar.

Beatrix berjalan mendekat, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Helen. Bau tembakau mahal dan parfum bunga bangkai menyeruak.

"Je bent net als je moeder, Helen," bisik Beatrix dalam bahasa Belanda, matanya berkilat penuh dendam lama yang terpendam. "Een waardeloze indringer. Ik heb dertig jaar gewacht om dit onkruid uit mijn tuin te trekken." (Kau persis ibumu, Helen. Penyusup tak berguna. Aku sudah menunggu tiga puluh tahun untuk mencabut rumput liar ini dari tamanku.)

"Aku bukan rumput liar! Aku putri pemilik rumah ini!" jerit Helen.

Namun, teriakannya tidak berarti apa-apa. Para pelayan yang biasanya memuja Helen kini hanya bisa menunduk, tak berani melawan sang nyonya besar yang baru saja mengukuhkan kekuasaannya. Helen diseret melewati pintu jati besar yang selama dua puluh delapan tahun ini selalu terbuka hangat menyambutnya.

Braakk!

Tubuh Helen terjerembap di atas aspal jalanan depan gerbang rumahnya. Dua kardus berisi barang-barangnya dilemparkan begitu saja ke sampingnya, salah satunya pecah, memperlihatkan bingkai foto Aditya Kusuma yang kini retak kacanya.

****

Hujan tiba-tiba turun. Bukan hujan yang menyegarkan, melainkan hujan deras yang turun dengan amarah, seketika membasahi gaun sutranya dan menghancurkan martabat yang tersisa.

Beatrix berdiri di balik gerbang besi tinggi yang perlahan menutup. Ia menatap Helen yang terduduk lemas di aspal dengan tatapan seorang ratu yang baru saja memenangkan perang suksesi.

"Geniet van de straat, meid," (Nikmati jalanan itu, gadis kecil,) ucap Beatrix pelan sebelum gerbang itu terkunci rapat dengan denting besi yang memilukan.

Helen terpaku. Di bawah guyuran hujan yang kian menderu, ia memeluk bingkai foto ayahnya yang retak. Air matanya bercampur dengan air hujan, membasahi tanah Menteng yang kini terasa asing baginya.

Tiga hari lalu, ia adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis terbesar di negeri ini.

Hari ini, ia hanyalah seorang yatim piatu yang terusir, berdiri di pinggir jalan tanpa arah.

Namun, di tengah isak tangisnya, jemari Helen meremas kuat pinggiran bingkai foto itu hingga kukunya memutih. Matanya yang sembab kini menatap ke arah jendela kamar utama di lantai dua, tempat Beatrix mungkin sedang merayakan kemenangannya.

"Ini belum berakhir, Tante Beatrix," bisik Helen di tengah suara petir yang menggelegar. "Demi Papa... aku akan mengambil kembali setiap jengkal tanah yang kau curi dariku."

Dendam itu lahir di bawah hujan. Sebuah janji yang lebih tajam dari sembilu, tertanam dalam di hati Helen Kusuma yang hancur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!