Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang Menakutkan
Malam itu, hujan turun tanpa jeda. Langit seperti sedang menumpahkan seluruh amarahnya ke bumi, seolah ikut menjadi saksi atas takdir yang tak diinginkan oleh seorang gadis, yang bernama Alya Maheswari.
Gaun putih yang dikenakannya terasa berat, bukan karena bahan mahal yang membungkus tubuhnya, tapi karena makna di baliknya.
Pernikahan ini bukan pilihan, ini sebuah hukuman dan perjanjian. Dan pria yang akan menjadi suaminya adalah, seseorang yang bahkan belum pernah ia kenal.
***
Pintu besar aula pernikahan terbuka perlahan, semua mata langsung tertuju pada satu sosok pria, yang berdiri di ujung altar.
Arkan Virello.
Nama itu berbisik dari satu tamu ke tamu lainnya, penuh hormat, sekaligus ketakutan. Alya bisa merasakannya bahkan dari jarak puluhan langkah.
Aura pria itu berbeda, dingin, tajam, dan berbahaya. Langkah Alya terhenti sejenak, dadanya terasa sesak. Tangannya yang menggenggam buket kini mulai bergetar.
“Jangan berhenti.”
Suara rendah dari pria di sampingnya seolah terdengar menekan, yang tak lain pamannya sendiri. Alya menelan ludah, ia tahu tidak ada jalan untuk mundur. Dengan napas yang tertahan, ia kembali melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dan semakin dekat, semakin jelas sosok pria itu. Arkan Virello berdiri tegak dengan setelan jam hitam, yang terlihat sempurna. Rambutnya tertara rapi, wajahnya tampan, tapi tanpa kehangatan sedikit pun.
Tatapannya lurus, dingin seperti es. Seolah tidak melihat seorang wanita yang akan menjadi istrinya, melainkan hanya sebuah objek.
Ketika mata mereka akhirnya bertemu, Alya langsung membeku. Ada sesuatu dalam tatapan itu, sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tidak normal. Bukan karena gugup, tapi karena takut.
Pria itu tidak tersenyum, tidak menunjukkan sebuah emosi. Hanya menatap, seolah membaca seluruh isi dirinya dalam satu detik.
Alya menunduk cepat, ia tidak sanggup menahan tatapan itu lebih lama.
Upacara berlangsung dengan cepat, bahkan terlalu cepat. Seolah semua orang ingin segera menyelesaikan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Alya bahkan hampir tidak mendengar ucapan penghulu. Yang ia dengar hanyalah detak jantungnya sendiri. Dan suara itu semakin menjadi, saat Arkan mengucapkan ijab kabul dengan suara tenang, tanpa keraguan sedikit pun.
Seakan ini bukan pernikahan, melainkan sebuah transaksi. Dan saat itu juga, hidup Alya berubah selamanya.
“Sekarang, pengantin pria dipersilahkan untuk memasangkan cincin.”
Alya mengangkat wajahnya perlahan, Arkan melangkah mendekat, bahkan terlalu dekat. Alya bisa mencium aroma parfum maskulin yang kuat, bercampur dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Tangannya terulur, jari-jarinya dingin saat menyentuh tangan Alya. Sentuhan pertama mereka, dan entah kenapa, Alya ingin menarik tangannya. Tapi tidak bisa, Arkan menggenggam tangannya sedikit lebih kuat, seakan sedang memberi pesan tanpa kata.
Cincin itu terpasang, dan terlihat pas di jari Alya. Seperti borgol yang tak terlihat.
“Sekarang, giliran pengantin wanita.”
Tangannya gemetar saat mengambil cincin itu, ia mencoba fokus. Tapi tatapan Arkan kembali membuatnya takut, kali ini lebih tajam, dan lebih dalam.
Dengan susah payah, Alya memasangkan cincin itu, begitu selesa Arkan tidak melepaskan tangannya. Ia malah menarik sedikit lebih dekat, dan itu cukup untuk membuat Alya terkejut.
Dalam jarak yang hanya beberapa inci, Arkan akhirnya berbicara. “Jangan pernah mencoba untuk lari dariku,” ucapnya datar.
Tapi justru itulah yang membuatnya mengerikan, Alya langsung menegang, matanya membesar. Namun sebelum ia sempat merespon, Arkan sudah melepaskan tangannya. Seperti tidak pernah mengatakan apa pun.
Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, semua orang tersenyum dan terlihat bahagia. Pernikahan sempurna, pasangan yang sempurna. Tapi tanda ada yang tahu, bahwa pengantin wanita di sana, merasa seperti baru saja dijatuhkan ke dalam jurang.
Acara resepsi berlangsung mewah, lampu kristal berkilau. Musik klasik mengalun, tamu-tamu penting berdatangan, memberi ucapan selamat. Tersenyum dan memuji. Namun bagi Alya, semuanya terasa jauh dan tidak nyata.
Ia berdiri di samping Arkan, tersenyum tipis, menunduk dengan sopan setiap kali seseorang menyapanya. Peran seorang istri, yang belum pernah ia pahami.
“Cantik sekali, Nyonya Virello.”
Alya hanya mengangguk kecil, dalam hati ia ingin tertawa pahit.
Nyonya Virello.
Nama itu terasa asing, karena Alya merasa nama itu bukanlah miliknya.
“Alya.”
Suara itu membuatnya tersentak, ia menoleh. Arkan berdiri di sampingnya lebih dekat dari sebelumnya.
“Cobalah untuk tersenyum.”
Alya langsung merubah ekspresinya, senyum palsu. Tapi cukup untuk orang lain, Arkan menatapnya beberap detik. Lalu ia sedikit mendekat, dan berbisik pelan.
“Bagus, ternyata kau cepat belajar,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Alya mengepalkan tangannya di balik gaun, ada sesuatu dalam nada suara itu. Bukan pujian, tapi lebih seperti penilaian terhadap sesuatu yang ia miliki.
Seorang wanita tiba-tiba datang, terlihat elegan dan cantik. Dengan aura percaya diri yang tinggi.
“Aku tidak menyangka, bahwa kau benar-benar menikah.”
Suara wanita itu terdengar ringan, tapi ada nada tajam yang tersembunyi di dalamnya. Alya menoleh, sedangkan Arkan tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah, tapi Alya cukup peka untuk menyadarinya.
“Selena, jangan coba-coba untuk membuat masalah.”
Wanita yang di panggil Selena itu tersenyum tipis, tapi matanya tidak. Matanya langsung beralih pada Alya, mengamati dari atas sampai bawah.
“Oh, jadi ini pilihanmu?” ucapnya dengan suara yang begitu halus, tapi cukup untuk merendahkan Alya.
Arkan tidak menjawab, ia hanya merangkul pinggang Alya secara tiba-tiba. Gerakan itu membuat Alya terasa kaku.
“Iya, dia istriku,” ucap Arkan datar, dan tegas.
Dan itu cukup untuk membuat Selena terdiam sesaat, bahkan senyumnya sedikit memudar. “Oh...” Selena tertawa kecil. “Cukup menarik.”
Tatapanya kembali pada Alya, tapi kali ini lebih tajam lagi.
“Hati-hati saja,” lanjutnya.
Alya mengernyit heran, “Apa yang kamu maksud?”
Selena tersenyum tipis,“Hati-hati, karena dunia pria ini... tidak cocok untuk gadis seperti kamu.”
Arkan tidak menghentikannya, tidak juga membela ataupun menyangkalnya. Ia hanya diam, dan itu justru lebih menakutkan bagi Alya.
Setelah berkata seperti itu, Selena akhirnya pergi. Alya menatap ke depan, tapi pikirannya masih mengingat apa yang di katakan Selena tadi.
“Dunia pria ini, tidak cocok untuk gadis seperti kamu.”
Apa maksudnya?
Dunia apa yang Alya masuki sekarang?
Perlahan Alya menoleh pada Arkan, “Apa kamu tidak akan menjelaskan, tentang apa yang terjadi barusan?”
Arkan hanya menatap lurus ke depan, “Tidak sekarang.”
Jawaban singkat seperti biasanya, tapi kesabaran Alya mulai retak.
“Aku berhak tahu, apa maksud...”
“Tidak,” balas Arkan, yang langsung menoleh pada Alya. “Kamu hanya perlu menjalankan peranmu saja.”
Alya terdiam, dadanya terasa panas. Marah, tapi juga tidak bisa berbuat apapun.
“Peran sebagai apa?”ucapnya lebih pelan.
Arkan mendekat, cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka terasa menghilang.
“Peran sebagai istriku.”
Dua kata itu terdengar sederhana, tapi makna di baliknya seperti sebuah rantai.
***
Malam semakin larut, tamu mulai berkurang. Dan saat akhirnya acara selesai, Alya berdiri di depan mobil hitam panjang, yang akan membawanya ke tempat baru. Tempat yang akan menjadi rumahnya, atau mungkin sebuah penjara bagi Alya.
Arkan membuka pintu mobil,“Masuk.”
Tidak ada kelembutan atau perhatian, yang ada hanya sebuah perintah. Alya menatap mobil itu beberapa detik, lalu tanpa berkata apa-apa ia langsung masuk.
Pintu tertutup, dan saat mobil mulai melaju, Alya menatap keluar jendela. Lampu kota perlahan menjauh, meninggalkan satu hal yang pasti, yaitu ia tidak bisa kembali.
Di dalam mobil terasa begitu sunyi, hanya ada suara hujan yang menerpa kaca mobil. Alya mengenggam gaunnya, pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan dan ketakutan.
Dan satu kesadaran yang mulai muncul, pria di sampingnya bukan hanya asing, tapi dia berbahaya, bahkan sangat berbahaya.
Dan entah kenapa, Alya merasa ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
Di sisi lain, Arkan menatap lurus ke depan. Tapi sesekali matanya melirik ke arah Alya. Diam-diam ia mengamati, seolah sedang menilai sesuatu yang baru saja menjadi miliknya.
Dan di sudut bibirnya, ada segurat senyum tipis yang hampir tidak terlihat. Bukan karena bahagia, tapi karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya.