“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tenggelam ke dalam kegelapan
Di samping puisi yang menyayat hati itu, Lu Ming mulai melukis dengan telapak tangannya.
Menggunakan sisa darah dari para kultivator tadi yang kini mulai mengental, ia melukis sosok wanita yang anggun, duduk memegang setangkai bunga lili perak.
Namun, bunga itu tidak memiliki kelopak yang indah, hanya duri-duri tajam yang panjang, yang terlihat menusuk telapak tangan sang wanita hingga darah melukis gaunnya.
Wajah wanita itu tertutup cadar, namun matanya memancarkan keangkuhan yang dingin.
"Indah sekali... sebuah mahakarya yang jujur," gumam Lu Ming sambil menatap karyanya dengan pandangan mengagumi.
Wajahnya yang bersimbah darah tampak berseri-seri penuh kepuasan seorang seniman, namun matanya tetap mati, kosong tanpa secercah cahaya kehidupan.
"Berhenti, Iblis Terkutuk!"
Suara derap kaki kuda dan denting zirah logam memecah kesunyian gang.
Sepasukan penjaga kota Ibukota, sekitar tiga puluh orang bersenjata lengkap yang dipimpin oleh seorang perwira Ranah Arus Qi tingkat tinggi, mengepung jalanan.
Mereka menghentikan kuda mereka dengan sentakan kasar, mata mereka melebar melihat pemandangan mengerikan di depan mereka: seorang pemuda dengan wajah bersimbah darah sedang berdiri mengagumi lukisan darah yang mengerikan di tembok.
"Kau telah melakukan pembantaian massal di wilayah hukum Ibukota Kekaisaran! Menyerahlah sekarang juga atau kami akan mengeksekusimu di tempat tanpa pengadilan!" teriak sang perwira dengan suara menggelegar, pedangnya sudah terhunus ke arah Lu Ming.
Lu Ming menoleh perlahan. Ia menatap perwira itu, lalu tersenyum tipis, senyum yang sangat sopan dan ramah, namun senyum itu membuat sang perwira, yang merupakan seorang petarung berpengalaman, tanpa sadar mundur satu langkah penuh ketakutan.
"Maafkan saya mengganggu patroli malam Anda, Tuan-tuan yang terhormat," ucap Lu Ming dengan nada suara yang sangat halus dan tulus, bertolak belakang dengan penampilannya yang mengerikan. "Saya sedang dalam proses menyelesaikan mahakarya terbesar dalam hidup saya. Namun, saya kekurangan warna. Bisakah kalian menjadi donor sukarela untuk warna merah yang lebih cerah? Darah para kultivator jalanan tadi sedikit terlalu gelap dan kusam, tidak cocok untuk latar belakang awan di lukisan saya."
"Dasar Gila! Serang! Eksekusi dia!" perintah perwira itu, suaranya bergetar karena amarah dan kengerian yang bercampur aduk.
Pertempuran itu menjadi sebuah pembantaian yang puitis dan mengerikan. Lu Ming melesat ke tengah barisan prajurit penjaga kota.
Pedangnya bukan lagi sekadar senjata besi untuk membunuh; itu adalah kuas maut yang menari di atas kanvas malam.
Setiap kali pedangnya menyentuh daging lawan, Lu Ming memastikan darah yang keluar menyemprot ke arah tembok putih atau jalanan, membentuk pola-pola aneh yang artistik.
Ia bergerak dengan keanggunan seorang penari, menghindari tombak dan pedang dengan gerakan minimal yang efisien.
Ia mematahkan tombak lawan dengan tendangan, lalu menggunakan patahan kayu yang tajam itu untuk menusuk mata prajurit lain, lalu meminta maaf dengan nada suara yang paling sopan dan tulus.
"Maaf, posisi tubuhmu salah saat jatuh. Kau merusak komposisi simetri lukisanku."
Slash!
"Permisi, bisakah kau mati sedikit lebih ke kiri? Cahaya bulan di sudut sana sangat bagus untuk menyoroti luka robek di lehermu. Terima kasih atas kerja samanya."
Satu demi satu, pasukan penjaga kota itu tumbang dalam genangan darah mereka sendiri.
Lu Ming adalah malaikat maut, ia tidak membunuh pedagang kaki lima yang meringkuk ketakutan di bawah gerobak mereka, ia bahkan melompati seorang anak kecil yang terpaku ketakutan di tengah jalan tanpa menyakitinya seujung rambut pun.
Targetnya hanyalah mereka yang menghunuskan senjata dan memiliki "niat membunuh" yang aktif.
Setelah perwira terakhir jatuh dengan jantung tertembus, Lu Ming berdiri kembali di depan tembok gudang gandum tadi.
Seluruh tembok putih besar itu kini telah berubah menjadi kanvas merah yang luar biasa megah sekaligus mengerikan.
Lukisan seorang ibu yang membuang anaknya ke sungai darah, dengan puisi pengkhianatan yang terukir di atasnya dalam kaligrafi darah yang sempurna.
Lu Ming menyarungkan pedangnya yang kini sudah bersih, karena ia telah menyeka darahnya pada jubah sutra milik perwira tadi sebelum prajurit itu menghembuskan napas terakhir.
Ia membungkuk hormat pada lukisannya sendiri dengan sangat khidmat, sebuah penghormatan seorang seniman pada karyanya, lalu berjalan pergi meninggalkan distrik bawah, menyeret langkahnya kembali ke dalam kegelapan gang-gang sempit Ibukota.
Esok paginya, seluruh Ibukota Kekaisaran akan gempar total. Kabar tentang "Puisi Darah" di dinding distrik bawah akan menyebar seperti wabah, memicu ketakutan dan rasa ingin tahu yang masif.
Sebuah karya seni yang begitu indah dalam penderitaannya, namun begitu terkutuk, yang menceritakan tentang pengkhianatan seorang ibu bangsawan dan hancurnya seorang anak yang malang.
Nama "Sarjana Berdarah" kini bukan lagi sekadar julukan di desa terpencil atau distrik pasar, melainkan sebuah teror nyata yang menghantui mimpi-mimpi para bangsawan di Kota Giok Surgawi.
Dan jauh di dalam Kediaman Agung Jenderal Perbatasan, An Rou akan terbangun dengan perasaan cemas yang tak bisa dijelaskan, merasakan bahwa bayang-bayang dari masa lalu yang ia buang kini sedang merayap mendekat, bersiap untuk menelan dunianya yang megah dalam lautan darah.