Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya yang seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
"PAPA! JANGAN PUKUL MAMA LAGI! TOLOOONG!"
Teriakan yang keras dan penuh ketakutan di tengah rumah
Gelsya, gadis kecil yang masih berusia enam tahun itu, menangis histeris sekuat tenaga. Tubuh mungilnya gemetar hebat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya sendiri.
Ayahnya, Rinto, seorang pria bertubuh besar dan bau alkohol, terus saja memukuli ibunya tanpa ampun.
"Ughhhh... ahhh..."
Rintihan pedih keluar dari mulut Ghaizka. Tubuhnya sudah tak kuat menahan hantaman pukulan itu.
Ia berusaha merangkak, berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ada, tangannya terulur ke arah anaknya seolah ingin melindungi, namun kakinya terasa lemas tak berdaya.
"Gelsya... Nak... pergi... menjauh lah... cepat lari..." desis Ghaizka dengan suara parau dan terbata-bata, air mata bercampur darah mulai mengalir di pipinya.
Namun rasa sayang seorang anak membuat Gelsya tak mau pergi. Ia ingin memeluk ibunya, ingin menahan tangan ayahnya yang kejam itu.
Tapi Rinto tak punya hati. Melihat istrinya masih bergerak, amarahnya justru semakin memuncak.
BAK! BUK! BAK! BUK!
Pukulan-pukulan itu mendarat bertubi-tubi dengan keras dan kejam. Kali ini tidak hanya di badan, tapi satu tendangan keras tepat mengenai wajah Ghaizka.
Tubuh kurus itu langsung ambruk terhempas ke lantai.
Darah segar mengalir deras dari pelipis dan kening Ghaizka yang membasahi lantai dan rambutnya.
Matanya sayup, napasnya tersengal lemah, dan akhirnya... ia kehilangan kesadaran. Tubuhnya terkulai lemas tak bergerak sama sekali.
"MAMA! MAMA BANGUN!!"
Gelsya berteriak sekencang-kencangnya. Ia langsung menjatuhkan diri dan memeluk tubuh ibunya yang sudah tak sadarkan diri itu.
Ia mengguncang-guncang bahu ibunya dengan tangan kecilnya, menangis sejadi-jadinya.
"Mama... jangan tinggalkan Gelsya... Mamaaa..." isaknya memilukan.
Namun, apa yang dilakukan Rinto justru di luar akal sehat manusia.
Pria itu sama sekali tidak tergerak hatinya melihat istrinya berlumuran darah dan pingsan.
Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa kasihan, apalagi rasa bersalah. Wajahnya justru terlihat kesal dan jijik.
"HEY! BANGUN KAU! JANGAN PURA-PURA MATI SANA!" teriak Rinto garang.
JEDAG!
Ia menendang perut Ghaizka dengan kuat seolah menendang sekarung sampah.
"Cepat bangun! Sana buatkan aku kopi! Aku haus!" perintahnya dengan nada tinggi dan kasar.
"PAPA! JANGAN! JANGAN PUKUL MAMA LAGI! Mama sakit Pa! Mama terluka! Lihat ini darahnya banyak sekali! Mama pingsan!" teriak Gelsya mencoba melindungi tubuh ibunya dengan badannya sendiri.
Gadis kecil itu menunjuk darah yang mulai menggenang di lantai, berharap ayahnya sadar dan berhenti.
Tapi Rinto hanya mendengus sinis, wajahnya penuh kekejaman.
"Hah! Cuma gitu aja pingsan! Ibu kamu itu cuma pandai akting dan pura-pura mati supaya tidak disuruh kerja!" katanya dingin.
Ia kembali menendang kaki istrinya yang tak berdaya itu sekali lagi.
"Cepat kau suruh dia bangun! Suruh dia buat kopi panas sekarang juga sebelum aku marah besar!"
Rinto meninggalkan mereka berdua di lantai yang berlumuran darah, duduk di sofa dengan santai seolah apa yang terjadi bukanlah apa-apa,
Ia meninggalkan Gelsya yang menangis tersedu-sedu di samping ibunya yang sudah tewas.
******
Perlahan-lahan, kelopak mata yang berat itu mulai terbuka.
Cahaya yang terlalu terang membuat penglihatannya sedikit buram. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Suasana di sekelilingnya terasa sangat berbeda, modern, dan dingin.
"Di... di mana ini?" gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan lemah.
"Mama! Mama akhirnya bangun!"
Tiba-tiba sebuah tubuh mungil memeluk lehernya dengan erat.
Seorang gadis kecil yang cantik tapi sangat menyedihkan, matanya bengkak merah karena menangis seharian, menangis tersedu-sedu di dada sang ibu.
Ia menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki, lalu bertanya dengan nada dan datar.
"Kamu siapa?"
"Mama tidak ingat aku?" tanya Gelsya menaikan alisnya.
Wanita itu mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia sangat yakin, beberapa saat yang lalu ia sedang berada di Zaman Kuno, di puncak menara tertinggi, sedang meramu Pil Naga Suci untuk mencapai keabadian.
Namun, pengkhianatan datang dari orang yang paling ia percaya, kekasihnya sendiri. Ia ingat jelas pedang yang menembus dadanya, darah yang membanjir, dan kegelapan yang menyelimuti.
Ia seharusnya sudah mati!
Lalu kenapa ia bangun di tempat aneh ini? Kenapa pakaian yang ia kenakan berbeda? Kenapa bentuk dan suasana di sekitarnya terlihat begitu asing?
Perlahan ia mencoba duduk bersandar di kepala ranjang. Saat ia melihat gadis kecil itu kembali menangis, tiba-tiba...
DUG!
"ARRRGGHH!!"
Sakit kepala yang luar biasa menyerang otaknya seolah hendak meledak. Gambar-gambar, suara-suara, dan ingatan berputar kacau di dalam benaknya.
Ingatan Pertama:
Ia adalah Mei Yu, seorang tabib wanita terkuat di Zaman Kuno. Cantik dan sangat dihormati.
Ia memiliki kekuatan bela diri tertinggi. Tapi Ia tewas dibunuh oleh kekasihnya yang iri akan kesaktiannya saat sedang menyelesaikan ramuan kehidupan abadi.
Ingatan Kedua:
Ia adalah Ghaizka biasa, seorang wanita lemah dan penakut di Dunia Modern ini. Ia menikah dengan pria brengsek bernama Rinto. Hidupnya penuh siksaan, dipukuli, dihina, suaminya penjudi dan pemabuk. Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Gelsya. Dan terakhir, ia mati karena dipukuli hingga berdarah oleh suaminya sendiri.
Semua ingatan itu menyatu dalam sekejap.
"Kenapa... kenapa ada dua ingatan yang berbeda di kepalaku?!" batinnya kebingungan.
Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu selalu memegang pedang dan ramuan obat, kini terlihat putih, kurus, dan penuh memar.
Tiba-tiba sebuah kesadaran menyadarkannya, membuat napasnya tercekat.
"Jangan bilang... aku... aku berpindah tubuh?!"
Ia terbelalak tak percaya.
"Ratu Tabib yang gagah dan tak terkalahkan... ternyata terlahir kembali ke dalam tubuh wanita lemah yang sering disiksa suaminya sendiri?! Di dunia yang aneh ini?!"
"Mama... mama lupa dengn Gelsya ya? Gelsya sedih banget, Gelsya akan melakukan apa saja asalkan Mama bisa ingat Gelsya," kata Gelsya terlihat sedih melihat ibunya melupakan dirinya.
Mei Yu yang kini telah menjadi Ghaizka menatap Gelsya. "Ternyata setelah berpindah tubuh, aku memiliki seorang anak yang cantik," kata Ghaizka memegang pipi Gelsya.
"Baiklah, karena aku sudah berpindah ke tubuh ini, aku akan membalas semua perbuatan suami brengsek itu kepada pemilik tubuh asli ini!" Janji Ghaizka mengepalkan tangannya.