Hai All, ini adalah karya keduaku.
Sesuai sama judul di atas kali ini aku akan membuat karya tentang dunia permantanan.
Willo, gadis pendiam dan terkesan cuek dan aromantis terkejut saat dia tau ternyata bos di tempatnya bekerja adalah Mantan "Pacarnya" yang super ngeselin.
Willo ingin menghindar dan resign dari tempatnya bekerja namun dirinya tak bisa lepas dari jeratan mantan.
So this is it , Willo story : Hi, Ex - Boyfriend ! 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(NEXT) L4
Ini adalah kelanjutan dari 4L.
💕💕💕💕💕💕
Pesawat yang kami tumpangi telah mendarat di Bandara Adisucipto Jogjakarta.
Mama dan Papa merasa senang seperti mendapatkan hanimun kedua. Sedang aku dan Kakak Sandra hanya bisa meledek mereka berdua.
Kami sampai di hotel dan beristirahat sejenak. Aku dan Kak Sandra masih semangat meledek kemesraan Papa Dan Mama.
"Pah, Willo pengen adek nih." Aku merengek seperti anak kecil yang meminta mainan.
Papa dan Mama malah tertawa.
"Iya nih Pa, kali aja ntar Sandra punya adek laki-laki." Kakakku menimpali dengan mengelus rambut bergelombangnya yang panjang dan wangi.
"Itu, adek kamu Willo kan udah kayak anak laki-laki." Mama malah meledekku dengan tawanya.
"Seharusnya kalian udah ngasih Mama sama Papa cucu."
Waduh, Papa nyinggung soal ini. Bukan enggak mungkin Papa juga akan membongkar kedokku yang punya hubungan dengan Kai. Walaupun itu palsu tapi kan Papa nganggepnya beneran. Pinter banget Kai memanipulasi Papa.
Sandra langsung sibuk menata baju ketika Papa berata soal cucu. Aku yakin Sandra masih jomblo, sama denganku.
"Harusnya Sandra dulu kan Pa yang nikah baru Willo.."
Mama menyelonjorkan Kaki di sofa.
"Iya, Sandra kamu udah punya pacar belum??" Papa bertanya dengan menatap Sandra lekat.
"Pacar?? Sandra belum mikirin itu Pa..." Jawab Kakakku kikuk dan dia hanya menunduk.
"Cepat cari calon Suami. Kasihan adek kamu kalau nunggu kelamaan."
Aku dan Sandra kompak membelalakkan mata ke arah Papa. Aku melempar isyarat mata ke Papa agar tak menyinggung soal Kai.
"Willo punya pacar Pa??" Mata Sandra bergiliran menatapku dan Papa. Sedangkan Mama hanya ternganga dari sofa tempat dia duduk.
Aku menggeleng pelan.
"Aku enggak punya pacar..." Kedua tanganku bergerak memberi tanda tidak.
"Kamu harus segera cari calon suami Sandra. Ada Dokter Chandra yang terang-terangan suka sama kamu. Kenapa kamu enggak buka hati??" Papa berkata lembut pada Kak Sandra. Sedangkan kakakku itu hanya menunduk. Jika menyangkut jodoh, entah kenapa itu topik yang tabu bagi kakakku.
"Mama doakan kamu sama adik kamu menemukan pria yang baik ya Nak." Mama pun mendoakan kami. Kami berbarengan mengucap amin.
Kemudian Papa melirikku dan aku tersenyum karena Papa tak keceplosan tentang Kai.
.
.
.
.
Aku, Sandra, Mama , Papa berselfie ria di deretan kursi yang ada di jalan Malioboro. Sudah 3 hari kami keliling Jogja menikmati liburan yang sangat jarang kita lakukan bersama.
Kak Sandra berkali-kali di telpon pihak rumah sakit karena ada pasien yang harus di tangani. Hatinya yang baik dan mudah iba membuat dia ingin segera pulang ke Bogor. Tapi teman Sandar yaitu Dokter Chandra sudah menghandle semuanya agar Sandra menikmati liburannya.
Temanku juga ramai-ramai di grup chat meminta oleh-oleh.
Apa sih yang enggak buat kaliann?????
Tapi Kai?? Apa dia suka di kasih oleh-oleh?? Aku melihat pengrajin gelang yang menggelar dagangannya di sisi pasar. Aku memesan dua gelang berornamen kayu dan menuliskan nama KAISANG dan WILLONA.
Gelang manik-manik pemberian Kai sudah aku buang saat kami berdebat di lift. Kini aku memesan gelang lagi mengganti gelang yang aku hilangkan itu.
Mama, Papa dan Kak Sandra pamit ke hotel lebih dulu karena mereka semua lelah . Aku masih menunggu di sini sampai gelang pesananku selesai di buat.
Setelah gelang pesananku selesai dan aku membayar, aku segera mencari angkutan untuk balik ke hotel. Lagipula langit tampak mendung pasti sebentar lagi hujan.
Aku segera berlari berteduh saat hujan mulai turun. Segera aku ambil ponsel untuk menelpon keluarga ku jika aku masih berteduh di emper toko.
Angin cukup kencang dan tubuhku bertambah kedinginan. Kedua tanganku bersedekap untuk menahan hawa dingin itu. Meskipun aku memakai jaket jeansku hawanya masih terasa dingin.
Aku melihat ada seorang nenek sendirian kedinginan duduk tak jauh dariku. Wajah nenek itu pucat dan bibirnya menggigil.
"Nek... apa nenek sendirian???" Tanyaku iba ketika aku menhampiri nenek itu. Diapun mengangguk pelan menatapku sayu.
Segera aku lepas jaket dan kupakaikan ke tubuh sang nenek.
"Nenek pakai jaket saya saja ya, nenek kedinginan." Aku mendekap nenek itu dan dia tampak pasrah kudekap. Mungkin karena dia sangat kedinginan.
"Rumah nenek mana???" Tanyaku lirih melirik ke nenek.
"Di sana nduk..." Matanya menunjuk ke salah satu jalan.
Kebetulan sekali ada penjual kopi keliling yang juga berteduh dan aku memesan 2 gelas untukku dan si nenek.
"Nenek minum ini ya, biar hangat..."
"Makasih nduk, nama kamu siapa?"
"Willona nek..." Jawabku lirih kemudian menyesap kopi yang aku pesan.
Hujan telah reda. Aku berniat mengantar nenek itu pulang.
"Nek, saya anterin pulang ya?" Tawarku. Aku paham di saat usianya sudah lansia begini bisa saja si nenek kesasar atau lupa jalan pulang. Keluarganya juga pasti kebingungan mencari nenek. Nenek ini berpakaian layak dan bahkan bisa di bilang bagus. Dia bukan gelandangan atau pengemis.
"Ndak usah nduk," Ucapnya lirih.
"Nanti keluarga nenek pasti nyariin nenek" Aku mengusap lembut bahu sang nenek.
"Enggak akan ada yang peduli sama nenek" Aku tergelak. Nenek berwajah murung ketika aku menyinggung tentang keluarganya.
"Buk, saya cariin kemana-mana taunya Ibu kesini..." Seorang wanita seusia Mama terkejut mendapati sang Nenek yang mungkin nenek ini adalah ibunya.
"Ayo kita pulang..." Ibu itu menatapku sebentar lalu memapah sang nenek berjalan masuk ke mobil.
Sudah aku duga kan nenek itu bukan orang sembarangan. Jemputannya saja seperti mobil punya Kaisang.
Ah, Kaisang lagi....
Aku naik becak menuju hotel tempatku menginap. Di sepanjang jalan Kai tiba-tiba menghubungiku via telpon.
"Gimana kabar lo??"
"Gue baik....." Balasku seraya memandang sekeliling. Ada rona sedih di wajahku. Aku akui, aku sangat merindukannya.
"Liburan lo gimana??"
"Aman terkendali." Aku menunduk.
"Hati-hati ya....."
Aku tersenyum simpul.
"Iya, lo juga ya Bang..."
Sambungan telpon terputus. Aku tak menanyakan kapan dia pulang. Kalau sudah waktunya pulang, dia juga bakalan pulang.
💕💕💕💕💕
Kami berempat berselisih pendapat saat akan mengunjungi objek wisata. Antara ke museum atau ke Keraton. Aku dan Papa ingin ke Museum kereta Kencana tapi Mama sama Sandra ingin ke Keraton. Akhirnya Papa mengambil jalan tengah kalau kita di bagi menjadi 2. Aku dan Papa ke Museum, Mama dan Kak Sandra ke Keraton.
Oke, jalan sama Papa juga menyenangkan. Kami berjalan kaki di trotoar menuju ke Museum. Sebenarnya enak naik becak sih, tapi Papa pengen jalan-jalan aja, nanti kalau ada barang yang menarik minat Papa bisa langsung mampir dan di beli.
Sampailah kami ke Museum, aku dan Papa berkeliling melihat-lihat kereta jaman dulu. Semua kereta di namain KYAI sebagai nama depannya.
Saat kami melihat kereta yang biasanya di pakai untuk pengantin, ada suara sapaan halus yang menyapaku dan Papa. Aku bergidik ngeri, enggak mungkin kan dia yang menyapaku? Apa karena aku sering memikirkan nya aku jadi halu?? Enggak mungkin.
"Loh Kai, kamu juga ada disini?? Kebetulan sekali ya???" Papa sama terkejutnya Denganku. Kalau ini Jakarta aku masih maklum, kemungkinan untuk bertemu masih Ada. Ini JOGJAKARTA, dan Kai ada di sini !!
Papa menyambut jabat tangan Kai yang mencium punggung tangan Papa seperti pria yang sopan. Apa dia pencitraan di depan Papaku???
"Lo kok ada disini Bang??" Aku masih tak percaya dengan mencubit lengan Kai, ini Kai kan? Bukan jelmaan setan?? Museum ini dingin dan lembab kali aja aku halusinasi.
"Kamu kok nyubit Kai sih??" Papa malah menowel lenganku.
"Kamu ada di sini janjian sama Willo??" Tanya Papa.
"Enggak Om, saya kesini ada urusan pekerjaan" Kai malu-malu. Hadeuuhh, sok sopan banget Bang Kai.
"Kamu masih lama di sini?? Besok kami pulang..." Menurut jadwal kami besok memang harus pulang.
.
.
.
Papa berjalan lagi mengelilingi museum. Aku Dan Kai ngekor di belakang Papa.
"Ngapain lo kesini?? Lo buntutin gue???" Aku berbisik dengan menatap horor Kai.
"Enak aja, gue kesini ada acara hajatan. Sepupu gue nikah"
"Kebetulan banget. Jangan-jangan lo masang GPS di tas gue !!" Aku masih curiga kenapa Kai selalu menemukan ku bahkan saat di Jogja sekalipun.
"Kapan lo pulang??"
"Pas gue telpon elo kemarin" Kami masih berbisik seperti ibu-ibu yang sedang bergosip.
"Ngaku aja lo ngikutin gue. Lo kangen gue kan?" Aku menyeringai menggodanya.
"Yeee !! Enak aja !!" Dia menoyor dahiku dan aku tersenyum. Senyumku kali ini lebih ke senyum bahagia karena Kai yang aku rindukan ada disini.
"Om takjub nih sama kereta ini... "
Bla. bla bla , kami mengobrol dan Papa mendominasi. Aku dan Kai sesekali tertawa menanggapi obrolan Papa.
"Papa lo asik juga ternyata". Dia berbisik lagi setelah kami sampai di Kereta paling akhir yang kami lihat.
"Iya dong. Papa gue meskipun SIREGAR, tapi beliau orang yang hangat..." Balasku.
"Kai, apa kamu mau ikut ke Keraton juga? Soalnya Tante ada di sana. Om sama Willo mau nyusul." Papa berpamitan pada Kai sekalian menawarkan diri mengajak Kai untuk bertemu Mama juga. Tapi ini bukan ide yang baik. Belum saatnya Kai ketemu Mama.
Aku yang berdiri di belakang Papa menggeleng kecil memberi isyarat Kai agar jangan mau menerima ajakan Papa.
"Maaf Om, lain kali saja. Saya ada urusan dengan keluarga saya disini" Penolakan Kai membuatku bernafas lega. Papa masih menganggap wajar anaknya punya pacar. Tapi tidak dengan Mama, Mama akan heboh sendiri lalu memaksa Sandra untuk punya pasangan juga. Aku tak mau membebani kakakku itu.
"Ya sudah Nak. Om sama Willo ke Keraton dulu ya." Papa menepuk pundak Kai seperti ke anaknya sendiri.
Kai tersenyum lalu menjabat tangan Papa seperti yang di lakukan tadi saat mereka bertemu.
Kami akan pergi lalu Kai memanggil Papa.
"Om, kalau boleh saya minta ijin mau ngajak Willo ke Magelang." Kai menyunggingkan senyum tulusnya ke Papa untuk meminta ijin. Papa memandang ku sebentar, aku hanya menatap Papa akan menurut semua perintah Papa.
Aku sangat ingin ikut Kai, hanya dengan ijin Papa.
"Ok, kalian boleh pergi. Tapi Wil, Papa besok pulang duluan ke Bogor. Kamu pulang bareng Kai ya. Jangan molor cutinya. Nanti bos kamu marah dan kamu di tugasin ke perbatasan lagi." Aku sebenarnya menahan tawa mendengar omongan Papa. Bosku kan ada do hadapan Papa.
"Iya Pa, kalau bos Willo masih aja suka ngerjain Willo, dengan senang Hati Willo bakalan resign kok." Aku tersenyum lebar dan menyindir Kai dan melirik tajam pada Kai.
Kai yang aku sindir tak mungkin bereaksi karena bakal hancur pencitraan Kai yang di tampakkan selama ini.
"Ya sudah kami pergi ya Kai" Papa menarikku pergi dari hadapan Kai. Aku sempat menoleh untuk meledek Kai dengan menjulurkan lidahku. Dan Kai menghentakkan kakinya sebal.
💕💕💕💕💕💕
tadi diawal juga ada. situasinya lagi tegang/kaget tp tiba tiba ada kata tergelak.
sejauh ini sukaa😍 semangat kakk