Lana Croft, seorang mahasiswi biasa, tiba-tiba terbangun sebagai tokoh antagonis kaya raya dalam novel zombie apokaliptik yang baru dibacanya. Tak hanya mewarisi kekayaan dan wajah "Campus Goddess" yang mencolok, ia juga mewarisi takdir kematian mengerikan: dilempar ke gerombolan zombie oleh pemeran utama pria.
Karena itu dia membuat rencana menjauhi tokoh dalam novel. Namun, takdir mempermainkannya. Saat kabut virus menyelimuti dunia, Lana justru terjebak satu atap dengan pemeran utama pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YukiLuffy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Kael berlutut di tanah, memeluk Lana, mencarinya dengan panik. Tubuh Lana yang seharusnya ada di sana, di tempat ia terjatuh, kini kosong. Yang tersisa hanyalah Pedang Taktis yang Lana pegang dan beberapa tetes darah di tanah.
Kael berbalik, wajahnya yang berlumuran keringat dan debu kini dipenuhi kengerian yang tak terbayangkan. Ia melihat Lucas, yang baru saja bangkit setelah terbebas dari cengkeraman pohon.
Kael menerjang, meraih kerah Lucas, dan mengangkat Wakil Kaptennya itu dengan kekuatan brutal.
"Di mana dia?! Kau bilang kau akan melindunginya! DI MANA LANA?!" Suara Kael parau, dipenuhi kesedihan yang membakar.
Lucas menatap mata Kael, yang kini memancarkan petir yang mengancam. Ia tidak membela diri. Rasa bersalah dan kegagalan yang pahit menenggelamkannya.
"Maafkan aku, Kapten," bisik Lucas, air mata mengalir di pipinya. "Saat pohon itu menyerang, dia... dia menghilang. Kami hanya menemukan pedangnya."
Kata-kata Lucas seperti palu yang menghancurkan semua harapan Kael. Kael melepaskan Lucas, terhuyung mundur. Pikiran Kael dipenuhi dengan gambaran Lana yang diseret, dimakan perlahan oleh zombie.
Sementara itu, Chloe dan anggota tim lainnya (termasuk Lilith yang ketakutan) menyaksikan pemandangan itu.
Kael berbalik, matanya yang merah dan liar tertuju pada Lilith, yang masih gemetar karena serangan petir sebelumnya.
Kael berjalan mendekat.
"Kau," desis Kael, suaranya seperti bilah es yang tajam. "Kau yang mendorongnya. Aku melihatnya."
Lilith, yang sudah mencapai batas kewarasannya, tertawa histeris. Wajahnya yang pucat dipenuhi kegilaan.
"Ya! Aku yang melakukannya! Dia pantas mati! Dia tidak pantas mendapatkanmu! Sekarang dia pergi! Dia tidak akan mengganggumu lagi!" teriak Lilith, kegilaannya membuatnya bangga atas pengkhianatannya.
Kael mengabaikan teriakan itu. Ia tidak peduli dengan pembalasan yang cepat. Rasa sakit kehilangan Lana jauh lebih besar daripada kepuasan membunuh.
"Kau tidak akan mati dengan mudah," Kael berbisik, matanya berkaca-kaca. "Aku akan memastikan kau hidup cukup lama untuk merasakan seribu kali rasa sakit yang kuterima saat ini."
Rasa sakit mental dan fisik akibat penggunaan kekuatan yang berlebihan, ditambah dengan rasa sakit psikis yang membakar dari hilangnya Lana, akhirnya membuat Kael ambruk. Pria perkasa itu jatuh tak sadarkan diri di tanah yang hangus.
"Kael!" Lucas dan Riley bergegas mendekat.
Lana terbangun. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa, seolah ia mengambang di kolam air hangat. Ia membuka mata dan menemukan dirinya di dalam kabin kayu mewah ruang dimensinya.
"Duh..." Lana merasakan sensasi keanehan di tubuhnya. Ia ingat didorong dan jatuh ke zombie. Ia ingat goresan di lengannya.
Ia mengangkat tangan kirinya. Tidak ada goresan. Tidak ada luka. Bahkan tidak ada bekas luka.
Ia panik. Ia segera mengiris ujung jarinya dengan pisau kecil. Darah merah pekat segera menetes. Ia menatapnya.
Lana memfokuskan pikirannya, dan tiba-tiba, sebuah cahaya putih hangat dan lembut muncul dari telapak tangannya. Penyembuhan Bercahaya. Ia mengarahkan cahaya itu ke jarinya yang terluka. Dalam sekejap mata, luka itu menutup, rasa sakitnya hilang.
"Aku... Aku punya kekuatan Penyembuh?" Lana terkejut. Ini kekuatan yang tidak ada dalam novel!
Ia telah menghilang selama seminggu. Tubuhnya bereaksi terhadap gigitan itu, dan dimensi yang merupakan ruang stasis dan penyembuhan telah membangkitkan kemampuan yang paling langka.
Lana bergegas keluar dari ruang dimensinya. Ia kembali berdiri di lantai delapan Menara Riset Bio-Dome. Langit sudah mulai gelap, dan tempat itu kosong. Tidak ada tim, tidak ada mayat, hanya kehancuran.
"Kael..."
Lana segera menyadari apa yang Kael pikirkan. Dia tidak tahu Lana punya ruang yang bisa dimasuki. Kael pasti mengira Lana jatuh ke zombie dan dimakan habis. Dia pasti mengira Lana sudah tiada.
Melihat kehancuran di sekitar Menara Riset, Lana tahu Kael pasti sangat marah dan putus asa.
"Aku harus kembali. Aku harus segera kembali ke Enklave," gumam Lana, air mata penyesalan menggenang. Ia mengambil ransel yang ia simpan di dimensi, matanya kini dipenuhi tekad.
Kini ia memiliki kekuatan, dan ia memiliki misi baru: Kembali ke Enklave, tunjukkan pada Kael bahwa ia masih hidup, dan lindungi pria yang telah mempertaruhkan segalanya untuknya.