Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan mertua
Nawalisya
Aku pulang dengan menyeret kakiku perlahan. Entah mengapa, kali ini aku merasa tak enak. Ingin segera sampai dirumah dan di sambut ocehan ringan Kenan, namun kakiku sangat lelah dan tak mampu untuk sekedar berlari agar segera sampai di rumah.
Pikiranku berkelana jauh, mengingat kembali momen dua Minggu yang lalu saat mas Fandy menemuiku. Seminggu lalu, dia berpamitan pulang ke Banyuwangi. Mila juga bersikap biasa padaku. Memang, apa yang aku harapkan? Bukankah mereka memang pasangan suami istri? Aku menghembuskan nafas dengan kasar.
"Jegeg, baru pulang?", Bli Sukma membuyarkan lamunanku seketika. Dia tetangga dekat rumahku. "Mana boleh jalan sambil melamun geg?".
"Eh iya bli, sepertinya, saya kelelahan", sahutku dengan lembut.
"Apa perlu diantar pulang?",
"Tidak usah bli, terima kasih. Ini juga sudah hampir sampai", sahutku cepat sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah cepat sana pulang. Keluarga dari Banyuwangi sudah menunggu", katanya sambil tersenyum lembut. Sontak aku melotot mendengarnya.
"Apa? Banyuwangi?".
"Iya",
Aku pun berlari kencang tanpa berbicara lagi pada bli Sukma. Pikiran ku tertuju pada mas Fandy. Ya. Mas Fandy pasti datang dengan keluarga, seperti kata bli Sukma tadi. Tak ku hiraukan lelah, yang kuinginkan hanya segera sampai untuk tau siapa yang datang.
Tubuhku terpaku saat kudapati Kenan berada dalam pangkuan ibu mertuaku, Ibu mertua ku yang sedang terduduk di kursi roda. Tenggorokanku tercekat. Hingga sepersekian detik, sampai mereka semua menyadari kedatanganku.
"Na, Kamu baru pulang?", Mas Fandy menyapa ku untuk pertama kali setelah dua Minggu lalu.
"I iya mas", Jawabku pelan. Perlahan aku berjalan mendekat, mencium punggung tangan ayah dan ibu mertua. Sampai aku mencoba menjabat tangan lelaki yang masih berstatus suamiku ini, Aku bingung apa aku harus mencium punggung tangannya? Entahlah, aku dalam dilema.
Dengan canggung, Aku meraih dan mencium punggung tangannya. Mas Fandy terpaku. Sedang Mila, dia tersenyum saat menjabat tanganku.
"Nduk, kamu apa kabar? ibu kangeeen sekali sama kamu". Kini, ibuk membuka suara.
"Nawal baik buk", Aku seketika tidak kuat lagi untuk menahan. Aku pun berhambur memeluk ibu mertuaku dan menangis, memohon ampun karna sudah memisahkan nenek-kakek dari cucunya. "Maafkan Nawal buk, maaf.... Maaf karna sudah pergi tanpa pamit sama ayah ibu".
"Enggak nak, ibu nggak marah sama kamu. Justru ibuk mau minta maaf karna sudah menjadi orang tua yang gagal. Ibuk sama ayah sudah gagal mendidik putra ibuk", Ibu menangis tersedu. Aku mengurai pelukan dan beralih pada ayah.
"Ayah, ayah sehat?", aku meraih tangan ayah lagi dan mengecup punggung tangannya.
"Ayah sehat nak. Ayah seneng, akhirnya ayah bisa ketemu denganmu. Menantu kesayangan keluarga Mahardhika". Kata ayah yang tentu saja itu kata yang cukup menampar keras hati maduku.
"Tentu saja Nawal menantu kesayangan, karna sudah melahirkan cucu yang sangat tampan, lucu, dan gembul tentunya...", ucap ibu dengan di sertai kekehan ringan. Aku, tentu saja tidak enak hati pada mas Fandy dan Mila.
Kenan turun dari pangkuan neneknya. Kemudian beralih pada ayah dan bergelayut manja pada kakeknya.
"Nawal pamit ke belakang dulu ya yah, ibuk. Nawal gerah, pengen mandi". Aku pun berlalu ke belakang setelah ayah ibu mengangguk.
Tidak ada sapaan untuk maduku itu. Entahlah, aku merasa muak dengannya, juga mas Fandy.
🌃🌃🌃
Fandyka
Waktu makan malam pun sudah tiba. Aku duduk berleseh dengan keluargaku. Menikmati makan dengan sambal tempong sebagai primadonanya.
Seseorang yang bernama kak Jihan ini, orangnya sangat baik. Dia bahkan menyambut kedatangan keluargaku siang tadi. Setelah banyak bercerita, ternyata dia lah yang sudah banyak menolong Nawal selama ini.
Setelah makan, Aku menemani Kenan bermain hingga ia ketiduran. Aku membopongnya ke kamarnya, menyelimutinya dan menutup pintunya perlahan. Saat aku berjalan menuju ruang tengah untuk menghampiri ayah dan ibu, aku berpapasan dengan Nawal.
"Mas, Kenan udah tidur?", Aku mengangguk.
"Ya, sepertinya dia kelelahan". aku tersenyum kecil.
"Oh, ya sudah. Aku pamit mau istirahat dulu di kamar Kenan. Tempat tidur kamu sama Mila di sebelah ini ya, ayah sama ibuk biar tidur di rumah kak Jihan. Di sebelah rumah ini. Maaf, karna rumah ini sempit dengan tempat tidur yang ala kadarnya", katanya panjang lebar dengan senyum lembut khas nya.
"Na,", aku memanggilnya dengan ragu-ragu. Ia berbalik dan menoleh ke arahku.
"Ya, mas?".
"Bisa kita bicara sebentar? Ini secara pribadi sih. Tapi aku ingin bicara denganmu.... dan di depan orang tuaku." Ucapku dengan hati-hati. Aku menaruh harapan pada Nawal agar ia memberiku kesempatan. Tapi jika ia menolak, aku pun harus berbesar hati menerimanya.
"Baiklah. Ayo".
Dan, di sinilah kami berada. Di ruang tamu rumah Nawal. Aku sengaja meminta semua keluargaku berkumpul disini, untuk membicarakan tentangku dan Nawal.
"Na, aku ada yang mau di bicarakan sama kamu". Aku membuka percakapan dengan hati-hati.
"Tentang?".
"Pernikahan kita".
"lalu?".
"Aku ingin kita kembali bersama lagi na". ucapku dengan nada penuh permohonan. Nawal terlihat menghembuskan nafasnya pelan. Sedang ku lirik, Mila tengah menahan air matanya.
"Tapi aku mau kita cerai mas".
"Tapi na..."
"Untuk apa kita bertahan? pernikahan kita sudah gagal total dengan banyak carut marut di dalamnya. Apa menurut kamu ini masih bisa di selamatkan? Tidak mas".
"Tapi Kenan ber.....".
"Jangan menjadikan Kenan sebagai alasan utama mu mempertahankan pernikahan kita yang sudah jelas amburadul mas. Jika kamu mempertahankan hubungan kita karna Kenan, maaf karna Kenan bisa hidup tanpa kamu selama ini. Aku mampu menghidupinya tanpa tanggung jawab kamu. Aku hanya tidak mau di madu mas. tidak mau. Aku ingin menjalani pernikahan layaknya suami istri dengan penuh cinta kasih mas, sesuatu yang selama ini tidak aku dapatkan dari kamu".
Jawaban Nawal line benar-benar memukulku telak. Tapi sungguh, jauh di dasar hati ku, aku sangat mencintai Nawal.
"Mbak...". kini Mila yang bersuara. Kedua orang tuaku diam tanpa ikut andil dalam percakapan panas ini.
"Ya", jawab Nawal datar. Aku tau, dia menyimpan banyak kebencian pada Mila. aku tau itu. Tapi Nawal sukses menyembunyikannya dan menguncinya rapat.
"Aku yang akan mundur mbak. Tolong jangan tolak mas Fandy lagi. Di sini, aku lah yang bersalah. Tolong, beri mas Fandy kesempatan. Tolong pertimbangkan lagi, untuk kenan. Kenan nggak bersalah mbak, dia butuh kasih sayang dan sosok ayah". ucapnya lirih.
"Kamu jangan khawatir masalah itu mil. Kenan anakku. Aku yang lebih tau yang terbaik dan yang di butuhkan Kenan. Kamu memang istri mas Fandy, tapi kamu nggak punya hak untuk mencampuri urusanku dalam mengurus kenan". Kini, Nawal yang selalu lembut, nyatanya saat ini ia lebih berani berkata dengan intonasi meninggi. Akupun tercengang di buatnya.
"Maaf mbak, Tapi...".
"Kamu boleh merampas mas Fandy dariku. Tapi jangan pernah membantah keputusanku. Kalau maksud mu Kenan butuh sosok ayah, kamu jangan khawatir. Setelah perceraian ku dan mas Fandy resmi dan aku melewati masa Iddah ku, maka Aku akan menikah dengan seorang pria baik hati dan bisa menerima Kenan apa adanya". Sontak semua kaget mendengarnya, termasuk ayah dan ibu juga. Aku tercekat hingga tanpa terasa rahangku mendadak mengeras.
"Nawalisya nasyirah. Kamu berani berkta akan menikah lagi, sementara kita masih sah berstatus sebagai suami istri?".
"Iya, kenapa? kamu nggak terima? Harusnya kamu berkaca dengan dirimu. Saat dulu rumah tangga kita baik-baik saja, kamu bukan hanya berani berkata ingin menikahi Mila. Kamu bahkan terang-terangan menikahi Mila saat kamu sah sebagai suamiku. Bisa bayangkan bagaimana hancurnya perasaanku? Bayangkan mil jika kamu jadi aku, Dan kamu mas Fandy, rasakan lah apa yang dulu aku rasakan." Ucap Nawal degan nafas yang tersengal karna emosi. Aku pun bungkam tak bisa membantah nawal, karna apa yang di ucapkan ya memanglah kebenaran.
Ku lirik, ibu mulai menangis dan aku khawatir akan hal itu.
"Maaf ayah, ibu. Seharusnya kalian tidak mendengar hal ini dari mulut kotorku. Nawal hanya lelah dengan semua ini Bu. Nawal juga ingin bahagia." Katanya menunduk, setelah itu ia berlalu pergi ke kamar Kenan denagn air mata yang kembali mengalir.
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel